
Aku memang tidak mengenal sangat tentang dunia ini.
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, atau bahkan yang akan terjadi kepadaku. Aku benar-benar buta tentang hal ini.
Hanya beberapa hal saja yang kau ketahui, Salah satunya adalah saat ini aku sedang berjalan untuk menemui malaikat maut sialan itu! Sang Putra mahkota Aldric Knightley.
Tunangan sekaligus target untuk aku jinakkan!
Dengan Penuh Percaya diri, aku pun langsung mengulurkan tanganku untuk membuka Pintu besar di ruang tunggu ini-ruangan yang mana di dalamnya sudah ada malaikat mau untukku.
Krieeett....
Pintu itu, Pun terbuka, Dan yap!
Seketika aku langsung melihat satu sosok yang sedang duduk dengan angkuh dan Penuh wibawa. Duduk dengan Pakaian ala kerajaan, layaknya seorang putra mahkota, Duduk menyilangkan kakinya, dan sedang menikmati teh yang sudah disediakan.
Rambut emas dengan mata birunya. Pun juga rahang serta lengan yang kokoh itu, Bahunya juga lebar dengan tubuh yang ramping dan berotot.
Dia... sangat tamPan!
"Astaga... dia benar-benar malaikat maut yang sangat tamPan!' gumamku sejenak. 'Sialan! Bisa-bisanya si Miss, A-Z itu menciptakan makhluk setampan ini!'
Aku Pun langsung tersadar akan kebengonganku. Lalu dengan langkah yang anggun, aku melakukan curtsy dengan sangat sempurna. Membungkuk dengan melebarkan sedikit rok ku.
"Salam terhadap cahaya rembulan kerajaan, Putra mahkota Aldric Knightley" ucapku dengan anggun,SemPurna!
Ck! Aku benar-benar sangat jenius dan Penuh bakat. Meski duniaku dulu sangat modern dan tak ada tradisi kaku seperti, tetap saja aku cukup mahir beradaptasi.
"Bangunlah!" titahnya.
Seketika aku kembali menegakkan badanku. Mengangkat kepala dan menatap sang Pangeran sialan yang tampan itu. Pun mata kami bertemu.
TataPannya... sangat sangat dingin dan tajam.
Seolah aku langsung akan tertusuk sesuatu saat menatap tatapan itu.
'Dia... menbenciku!' simpulku dengan Pasti.
"Kenapa kau tetap berdiri di sana? Duduklah! Bukankah ini adalah kediamanmu?" tanya tanpa nada berarti apapun.
Cih!
Dia benar-benar lebih brengsek dari yang aku kira.
Well... baiklah! Turuti saja apa maunya. Aku pun juga langsung mengambil tempat duduk tepat di depan nya Itu. Meja yang kami tempat ini hanya ada dua kursi, dan aku berada tepat di depannya.
Hening.
Tak ada Percakapan apapun lagi. Tentu saja aku bisa merasakan kalau hawa di sekitar sini seolah semakin turun. Aku pun sedikit melirik ke arah Levius itu. Dia masih sibuk dengan dunianya sendiri.
Melihatnya yang begitu dingin saat ini, entah kenapa aku jadi mengepalkan kedua tangannya yang ada di bawah meja, Seolah sedang menguatkan sebuah tekad.
'Ya! Laki-laki ini... aku tidak bisa menghindarinya lagi! Lagipula Charlotte sudah bertunangan dengannya, jadi cepat atau lambat kami Pasti akan bertemu!
'Maka dari itu.... misi ini telah dimulai!" batinku dengan tegas.
"Kau sudah bangun dari tidurmu Itu-" Suara laki-laki itu kembali terdengar. Lalu matanya terangkat dan menatapku dengan tajam. "-aku dengar kau hilang ingatan, apakah Itu betul?"
Ah... benar!
Pasti berita tentang aku yang hilang ingatan ini, sudah tersebar ke Penjuru kerajaan. Tentu saja hal ini juga akan terdengar ke telinga Aldric.
Aldric menanyakan itu, Pun juga dengan tatapan yang sangat dalam. Seolah sedang menelisik diriku untuk menggali lebih jauh. Entah apa yang ingin dia ketahui, tapi yang jelas adalah sebuah kebenaran.
Well... kalau begitu aku harus berakting tidak tahu apapun soal dia, bukan? Bahkan juga semua ingatan.
Meskipun aku memang tidak Punya ingatan apapun. "Maafkan saya, Yang Mulia," Aku menundukkan kepalaku sedikit. "Itu ... memang benar."
Hening lagi hanya untuk beberapa detik.
"Hemm...," gumamnya. "Apa kau tahu kalau kita telah bertunangan?" tanyanya lagi. Aku pun mengangguk akan itu, Yah, selain aku tahu dari cerita bukankah tadi keluargaku juga menyinggung akan hal ini?
"Keluarga saya yang memberitahu, Yang Mulla," Jawabku. "Saat Ibu saya menyampaikan kalau Yang Mulla datang menjenguk saya hari ini ... beliau memberitahu kalau saya dan Anda adalah sepasang tunangan,"
Aldric semakin menelisik dalam diamnya.
"Lalu... apakah kau mengingat atau setidaknya mengetahui kejadian tiga bulan yang lalu?" tanya Aldric lagi.
'Kejadian?' batinku bertanya-tanya. 'Tiga bulan yang lalu?'
APa... maksudnya?!
Aku pun langsung menatap lekat laki-laki di depanku itu, Langsung tertuju ke arahnya juga, Pun aku juga sedikit mengerutkan dahiku.
"Memangnya... apa yang sudah terjadi tiga bulan yang lalu, Yang Mulia?" tanyaku.
Jujur, Aku memang benar-benar tidak tahu apapun!
MendaPati Pertanyaanku itu, Aldric semakin menatapku dengan sangat tajam. Bahkan begitu dalam dan sangat menekan. Sebenarnya ... apa-apaan tatapannya itu?!
Seolah aku sedang berakting dan laki-laki itu sedang menyelidikiku saja.
Aldric menaruh secangkir tehnya. Lalu ia kembali menyandarkan tubuhnya ke Punggung kursi. Tentu dia juga tak kunjung memutus Pandangan kami. "Tiga bulan yang lalu adalah ajang Pesta berburu tahunan yang diadakan oleh kerajaan. Tentu semua bangsawan hadir dalam ajang itu, tak terkecuali kamu," ceritanya.
Aku hanya diam dan membiarkan Aldric bercerita.
"Dan di malam terakhir ajang Perburuan itu ... kita bertemu satu sama lain secara diam-diam di sebuah taman belakang camp Penginapan."
Degh!
Benarkah?
Aku sedikit terkejut akan itu. Aku ... dan laki-laki yang membenciku ini sedang bertemu secara diam-diam? Sungguh sangat aneh!
"Benarkah itu, Yang Mulia?" beoku memastikan.
"Hemm," gumam Aldric.
"Tapi... kenapa kita harus bertemu diam-diam di sana, Yang Mulia? Memangnya apa yang sedang kita bicarakan?" tanyaku lagi.
Kali ini aku merasa sangat aneh. Aldric adalah orang yang tidak ingin bertemu dengan Charlotte, apalagi sampai bertemu berdua saja? Bahkan secara diam-diam.
Ck! Sialnya aku tidak tahu kejadian apa yang ia maksud!
Keheningan ini melanda hingga beberapa detik kemudian, Tatapan kami juga masih saling bertemu serta mengunci. Dengan Pandangan dan ekspresi yang berbeda tentunya.
Hingga beberapa saat kemudian. Aldric terkeken untuk sejenak. Lalu ... la pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.
Hingga saat tepat berdiri di sampingku, la langsung mengukung diriku. Menatapku dengan tatapan yang sangat rumit.
"Ya-yang mulia... apa yang sedang Anda-"
"Kau tahu apa yang sedang kita bicarakan saat di malam Perburuan itu, Charlotte?" bisiknya.
Tangannya Pun langsung menggaPal rambutku untuk la cium dengan mata yang masih tajam ke arahku. "Yaitu, kau memohon kepadaku bahkan dengan menangis nangis untuk aku tidak membuangmu."
Degh!
What?
Charlotte yang dingin dan kaku itu, memohon-mohon? Dia adalah tokoh antagonis yang tak akan menundukkan kepalanya! Karena dia melabelinya dirinya sebagai seorang ratu!
Lalu Plot gila apa ini?!
"Tapi... sayang sekali, Charlotte" desis Aldric lagi dengan dingin. "Kau tak akan pernah menjadi seorang ratu!"
Hah!
Bajingan sialan!
Dia menekan tunangannya seperti ini, di hari dia menjengkuk tunangannya yang baru saja bangun dari koma? Bahkan dia tidak menanyakan kabarl
Jadi, tak mungkin seorang Charlotte bisa mencintal orang sinting ini!
Melihat tatapan dan Perilaku Aldric yang seperti ini, aku tarik semua Pujian Pujian yang Pernah aku lontarkan! Orang ini bukan malaikat maut, Ck, sebutan malaikat terlalu bagus untuknya meski itu adalah malaikat maut,
Laki-laki sialan ini ... adalah kotoran!
"Hehe..." kekenku kemudian, hal ini membuat Aldric mengerutkan keningnya,
Hah!
Sungguh ini membuatku sangat muak!
Apa katanya tadi? Aku mengemis mengemis cinta ke dirinya? Menangis agar dia juga mencintaiku?
Lalu ... dengan bajiangan dan tak tahu malunya, dia justru menolakku? MENOLAKKU?!
Benar-benar tak masuk akal, bukan?
Well... aku tahu kalau apa yang dimaksud olehnya adalah Charlotte yang asli yang sedang mengemis cinta kepadanya, seperti apa yang dia katakan tadi.
Tetapi menurutku, Charlotte tidak seperti itu. Dia tak akan merendahkan dirinya sendiri dengan mengemis cinta kepada seorang Pangeran dengan cara yang terbuka.
Dia adalah wanita yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Martabatnya begitu tinggi, itulah kepercayaan yang la yakini. Jadi tindakan memalukan yang konyol seperti apa yang diceritakan oleh cecunguk ini, tentu salah besar!
Aku memang tidak mengenal Charlotte. Tetapi aku yakin akan itu.
Bahkan jika apa yang dikatakan oleh Pangeran cecunguk ini adalah benar, maka tidak akan lagi untuk sekarang yang mana aku sudah mengambil alih raga Charlotte Ini.
Aku tak akan menundukkan kepala ke seorang laki-laki hanya untuk mengemis cintai Karena laki-laki lah yang harus tunduk dan berlutut di bawah kakiku hanya untuk menuntut sebuah Perhatian kecil.
Ingat itu!
"Kenapa kau tertawa?" tanya Aldric dengan kerutan dahi yang sangat jelas.
Kami masih dalam kondisi Pandangan yang saling berdekatan, Aldric si sialan ini masih mengukungku dengan lengannya.
Lalu aku pun memudarkan kekehanku itu. Kembali menatap netra biru Aldric secara langsung sekali lagi. Masih ada senyuman yang tipis, serta sebuah tatapan yang begitu Penuh daya tarik. Sebelah tanganku Pun secara Perlahan meraih rahang keras Levius, Aku usap dengan lembut dan aku majukan sedikit wajahku. Hanya sedikit, ingat itu!
"Your majesty," bisikku dengan sangat lirih, Begitu lirih.
Pandanganku juga aku teduhkan. Netra cantik bak batu safir yang sangat indah dengan binaran mata yang seperti berembun serta Penuh sinar, Seolah sedang menyisir segala sesuatu yang sudah dengan lancang menatapnya.
Di ujung Pelupuk mataku ini, aku bisa melihat dengan sangat jelas. Kalau saat ini bayanganku ada tepat di titik utama netra biru Aldric.
Pangeran sialan ini... dia sudah mulai terbuai?
Ya! Bahkan kini raut wajahnya yang tegang itu sudah memudar. Tak hanya itu, tetapi Pandangan Aldric Pun juga ikut meneduh, Berbeda dengan yang tadi.
Dia sudah tersihir rupanya!
Lalu tak berlangsung lama, wajah Aldric Pun mulai memajukan diri. Lebih dekat dan dekat lagi.
Aku tentu sedikit mendongakkan kepalanya, itu karena Aldric ada di atasku. Sedangkan Aldric.... Pangeran sialan itu menundukkan wajahnya dan mulai memajukan wajah itu.
Semakin dekat, hingga aku bisa merasakan nafasnya yang memberat,
Aku yakin beberapa detik dan senti lagi, bibir kami Pasti akan bersentuhan. Aku akan dapat Merasakan bibir sang Pemeran utama!
Pangeran Putra mahkota Aldric!
Namun sayang sekali, hal itu tak akan aku biarkan terjadi! Well... jangan kecewa jika tak ada adegan Panas seperti yang ada dipikiran kalian!
"Sepertinya ceritamu itu adalah bualan semata, Your Majesty," desisku lirih saat bibir kami hampir bersentuhan.
Degh!
Seketika Aldric Pun langsung terhenti, la tak lagi melanjutkan apa yang akan la lakukan Padaku. Berciuman.
Aku pun langsung menyunggingkan sebuah senyumanku dengan sangat tipis, Ah, tidak... tidak!
Tetapi aku semakin mengembangkan senyumanku dengan simetris.
"Aku tidak mengemis cinta seperti apa yang Anda ceritakan kepadaku, Yang Mulia," ucapku lagi dengan Pandangan yang semakin terfokus.
"Karena jika aku yang mengemis cinta kepada Anda malam itu. Lalu Anda menolak saya dengan sangat kejam. Bukankah seharusnya Anda tidak berniat untuk mencium saya, Yang Mulla?" tanyaku lagi.
Aku pun mulai sedikit mengerutkan dahiku dengan sangat tipis. Tetapi masih tidak memudarkan senyumanku. "Atau ... Anda adalah Pria yang seperti inl, Yang Mulla?"
Degh!
Aldric Pun semakin menatapku dengan lebar lebar dan sangat intens.
Ya! Kau tahu apa maksudku, Aldric.
Di mana kata-kata yang aku keluarkan itu adalah memiliki arti 'Apa Anda adalah Pria yang Plin-Plan? Memiliki seorang tunangan namun juga memiliki kekasih. Tetapi di balik kekasih Anda, Anda justru masih ingin bermain api dengan tunangan Anda, Bukankah Itu sangat bajingan, Yang Mulla?'
Itu maksudku!
Tetapi jika laki-laki brengsek ini menangkapnya sebagai apa, entahlah! Aku juga tak Peduli. Aldric Pun langsung mengeratkan genggamannya terhadap kepala kursi yang aku duduki. Rahangnya cukup mengeras saat ini. Aku bisa merasakannya!
"Kau...!"
"Ya, Yang mulia?" beoku memotong ucapannya, "APa Anda yakin ingin mencium saya? Bagaimana dengan kekasih Anda jika dia mengetahui hal ini?"
Lagi-lagi Aldric Pun terdiam. Tetapi dia tak kunjung memutuskan jarak di antara kita. Dia masih saja begitu dekat dengan wajahku ini. Pun aku juga tidak menghindarinya, Seolah aku sedang menantangnya untuk melakukan lebih,
Sedangkan Aldric... dia sedikit menatapku dengan lebih dalam lagi lalu mengerutkan dahinya.
"Kau bilang kalau kau lupa ingatan, bukan?" tanyanya.
Well... aku tahu apa yang dimaksud oleh Pangeran sialan ini. Yang dia maksud adalah, kenapa aku tahu kalau dia punya kekasih? Maksudnya kenapa aku ingat akan hal itu.
Aku terkekeh akan hal itu. "Yang mulla, meskipun saya kehilangan memori saya tetapi saya tidak buta dan tuli, Bahkan dinding saja bisa berbicara, bukan?" tanyaku balik.
Lagipula kenapa jika aku tidak ingat apapun?!
Bukankah rumor selalu menyebar dengan sangat luas dan juga begitu cepat? Tentu saja berita tentang Pangeran sialan ini dengan Penelope sudah menjadi buah bibir di mana Pun!
Yeah, meski aku tidak mengetahui berita itu dari gosip Para bangsawan di sini. Aku mengetahui hal itu dari gosip Para netizen yang membaca buku ceritanya.
"Aku jadi khawatir akan Perasaan Lady Penelope akan hal ini jika dia tahu. Well ... dinding di rumah ini juga bisa dengan cepat menyebarkan rumor diluar,yang Mulia." imbuhku.
Aldric pun semakin mengeratkan kembali kepalan tangannya dengan mencengkram kepala kursi yang ada di belakang itu.
Lalu tanpa kata lagi. Aldric langsung berdiri masih tidak memutuskan tatapannya yang tajam itu.
"Jika rumor miring tentang kita tersebar dan sampai ditangkap oleh telinga lopyy lalu ia tersakiti akan itu, maka jangan salahkan aku kalau aku akan bertindak di luar batas untuk membungkammu, Lady Charlotte!“ tegas Aldric dengan tajam.
Tanpa berlama lagi, ia pun langsung berbalik badan dan meninggalkan Charlotte begitu saja. Ah, maksudnya adalah meninggalkan aku.
Ck!
Benar-benar brengsek!
Dia ... mengancam? Dan apa tadi? Lopyy...?
Sepertinya mereka sudah sangat dekat saat ini. Dan aku ... aku harus tahu seberapa buruk imageku saat ini!
Sialan!
......................
Benar-benar....! Aldric brengsek!
Bisa-bisanya, dia mengatakan kalau aku mengemis cinta darinya! Sungguh demi apapun, aku sedikit tersinggung Perihal itu!
Well..jangan menghujat ku, Aku lakukan seperti itu, tentu karena semasa aku hidup, aku tak Pernah sekalipun mengemis cinta. Justru merekalah-Para laki-laki saat di duniaku-yang memuja-muja cinta dan memohon untuk menjadikan mereka kekasihku.
Dan lagi... aku tak Percaya akan apa yang dikatakan oleh Aldric kalau Charlotte yang asli sedang mengemis cinta kepadanya dengan mengajak Aldric untuk bertemu secara diam-diam di ajang Pesta berburu tiga bulan yang lalu.
Ck! Lihat saja Aldric... aku akan membuatmu tunduk di bawah kakiku dan kau lah yang akan mengemis cintaku!
Akan aku Pastikan itu!
"Tetapi... kenapa tiba-tiba Pangeran cecunguk itu membahas hal seperti itu kepadaku?" gumamku yang tiba-tiba muncul.
Saat ini aku masih berada di tempat dudukku saat menjamu Aldric. Aku masih menikmati teh di sini, Sembari Pikiran yang melalang buana.
"Aneh sekali, Dia tiba-tiba membahas soal Pesta berburu," gumamku lagi. "Bahkan tidak menanyakan kabarku apakah sudah membaik atau belum, mengingat dia tunanganku! Tetapi malah membicarakan hal itu?"
"Seolah ... sedang memeriksa sesuatu," imbuhku lagi yang masih dengan gumaman lirih.
Yal
Itu sangatlah aneh.
Dia datang ke kediaman tunangannya yaitu aku, Charlotte Cleveland-setelah aku sudah terbangun dari tidur Panjangku, Setelah satu minggu aku terbangun, dia baru datang sekarang.
Bukannya menanyakan kabar akan diriku, tetapi justru membahas Perihal Pesta berburu tiga tahun yang lalu. Tak hanya itu, dia juga bercerita kalau Charlotte saat itu sedang mengemis cinta kepadanya di taman belakang.
Apa benar Charlotte mengemis cinta? Rasanya tak mungkin, jika mengingat julid an Para netizen yang mengatakan kalau Charlotte itu adalah wanita yang dingin dan kejam. Jadi sangat tidak mungkin jika dia seperti itu!
"Memangnya apa yang terjadi di ajang itu?" gumamku lagi.
Entahlah! Tetapi seolah ada sesuatu yang tidak aku ketahui saat ini, dan ini mendorongku untuk tahu!
"Tiga bulan yang lalu," gumamku lagi.
"Pesta Perburuan kerajaan."
"Pertemuan rahasia."
Aku pun langsung mengerutkan dahiku untuk sejenak.
"Serta Charlotte yang koma di tiga bulan yang lalu."
Degh!
Seketika aku teringat akan sesuatu.
Aku belum mengetahui apa yang membuat Charlotte yang asli jatuh koma di tiga bulan yang lalu hingga sebelum aku masuk di tubuh ini! Yal Aku tidak tahu kenapa bisa Charlotte tak sadarkan diri!
Bodoh!
Bagaimana bisa aku tidak menanyakan hal ini Pada seseorang? Well... aku juga tidak tahu apakah ini ada di cerita yang asli atau tidak dan bagaimana kisahnya.
'Sial! Aku lupa soal ini!' Pekikku dalam hati yang mana aku langsung berdiri dan bersiap untuk menemui Lucy. Tanpa berpikir Panjang aku langsung menuju ke kamarku berada.
Sebelum itu aku bertemu dengan kepala maid yang ada di mansion ini. Aku meminta Lucy untuk menemuiku di dalam kamar. Pun hingga saat ini aku sudah mondar mandir di depan ranjangku. Ada satu hal yang ingin aku Pastikan. Satu hal yang cukup menggangguku!
Hingga tak lama Lucy Pun sudah tiba di kamarku.
"Nona," salamnya sembari melakukan cursty.
"Kemarilah, Lucy!" titahku segera, Aku Pun juga langsung duduk di sebuah sofa Panjang dengan tubuh yang tegal dan anggun.
Aku silangkan kakiku dengan congkak, serta tatapan mata yang begitu tajam, Menatap Lucy yang mana sudah berdiri tepat di depanku.
"Ya, Nona? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lucy lagi.
Kini tatapan kami sudah saling bertemu. Namun aku tidak sedikitpun mengendurkan tensi tataPanku Padanya.
"Ceritakan Padaku, Lucy!" ucapku dengan tegas.
Lucy sedikit tak mengerti dengan titahku yang gamang. Aku pun kembali menghela napas untuk sejenak. "Lucy, apa yang terjadi di ajang Pesta Perburuan tiga bulan yang lalu?" tanyaku lagi.
Seketika aku bisa melihat sedikit ada getaran dan bulatan di mata Lucy. Dia ... nampak begitu terkejut.
Well... ternyata ada sesuatu, huh?
Sebuah Rahasia.
"Ke-kenapa, Nona, menanyakan akan hal itu?" tanya lucy sedikit Penuh kehati-hatian.
"Ada apa, Lucy? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku balik kini mataku juga semakin menelisik dengan tajam.
"Kau tahu aku tidak mengingat apapun, bukan? Aku hanya ingin tahu akan hal itu. Apa ada yang salah?"
Lucy sedikit menelan ludahnya dan mengerjakan bulu matanya. Aku bisa melihat hal itu. Lalu dia menggelengkan kepalanya sejenak, "Tidak, Nona! Saya hanya kaget karena Anda menanyakan Perihal ajang Perburuan itu."
"Saya hanya heran kenapa Anda menanyakan hal itu. Sa- saya kira Anda mengingat sesuatu, Nona," jawab Lucy yang mana sedikit gugup.
"A-apa... Nona mengingat sesuatu saat itu?" tanyanya lagi dengan hati-hati.
Seketika aku menangkap keguguran itu. Mataku Pun menangkap itu dengan jelas. Seketika aku memincing dengan tajam.
Well... well... well...!!
Ada apa ini?
Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Lucy Dan kenapa kau menyembunyikan hal itu?
Hening.
Untuk sesaat hanya ada ketegangan yang aku buat Pun juga yang dirasakan oleh Lucy. Lalu untuk detik berikutnya, aku pun tertawa lirih dengan sedikit kekehan, Pun aku juga langsung mencairkan sedikit Ketegangan ini.
"Tidak, Lucy! Aku tidak mengingatnya," ucapku kemudian.
"Tadi saat aku bertemu dengan Putra mahkota, sedikit ada nostalgia yang la sampaikan kepadaku," ucapku kemudian.
"Nostalgia?"
"Hem ... hem ...," aku mengangguk lirih dengan sedikit senyuman. Tetapi mataku tetap aku tajamkan secara diam-diam untuk menilai Lucy.
"Putra mahkota bilang kalau saat itu aku melakukan Pertemuan rahasia dengannya. Dia bilang aku mencintai yang mulia Putra mahkota," ucapku kemudian. "Lalu katanya aku sedang memohon agar dia tidak meninggalkanku dan memilih Lady Penelope. Hemm ... apakah aku sebegitu mencintainya, Lucy?"
Mendapati hal itu, Lucy semakin membulatkan matanya. "Apa?" Pekikknya yang kaget. Tentu aku mengerutkan keningku akan sikap Lucy saat ini Hanya sekilas.
"Bagaimana bisa jadi seperti itu ceritanya?!" Pekik Lucy lagi yang mana saat ini ia sedikit marah akan hal ini.
"Tidak! Nona tidak Pernah membungkukkan badan ataupun kepala hanya untuk mengemis cinta kepada laki-laki manapun, meskipun itu adalah yang mulia Putra mahkota Aldric!" ucap Lucy lagi.
lucy saat ini sedikit melangkahkan kakinya untuk maju ke depan. Menangkup kedua tangannya sendiri seolah untuk meyakinkan aku. "Nona tidak Pernah merendahkan diri seperti itu! Meskipun memang, Nona, mencintai Putra mahkota tetapi Nona, tetap menjaga martabat Nona!"
Benar!
Sesuai dugaanku!
Charlotte adalah karakter yang seperti itu, Dingin, kejam, Penjahat sejati. Dia tak akan menurunkan kepalanya hanya untuk memohon cinta. Meskipun aku tidak membaca cerita ini, tetapi aku bisa yakin akan hal itu hanya dari mendengar cerita Para netizen tentang sifat-sifat Charlotte.
Aldric ... dia membual!
"Bukan, Nona, yang meminta Putra mahkota untuk bertemu malam itu! Melainkan Putra mahkota itu sendiri!" lanjut Lucy kembali menjelaskan, "Putra mahkota mengirim surat kepada, Nona, untuk bertemu di ujung tebing yang ada di wilayah Perburuan itu!"
"Aku masih ingat Pesan yang dikatakan oleh salah satu Pengawal Putra mahkota kala itu!" imbuhnya lagi.
Degh!
Seketika aku pun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh lucy saat ini.
"What?" desisku yang mana sedang terkejut.
...TBC...