MOONLIGHT

MOONLIGHT
Siapa Charlotte!!



Ding...


dong.....


Ding... dong.....


Sebuah bunyi dentingan seperti milik jam analog kuno terdengar sangat jelas. Bahkan suaranya begitu nyaring. Seolah seperti sebuah jam analog kuno yang sangat besar dengan lonceng rasaksa.


Sungguh demi apapun, itu sangat menggangguku!


Karena dentingan keras itu, aku pun mulai tersadar. Mencoba untuk membuka tirai mataku dengan cara yang sangat Perlahan.


Dentingan itu menunjukkan jam 12 malam. Itu karena saat ini ruangan yang aku lihat gelap, layaknya malam hari.


Ya! Aku sudah berhasil membuka tirai mataku yang cantik dan lentik itu.


Pemandangan Pertama yang aku dapatkan adalah sebuah Pemandangan langit-langit kamar dengan ukiran artistik yang sangat unik. Sebuah ukiran seperti Istana EroPa Pada zaman Pertengahan.


Meski mataku sudah terbuka dengan sempurna, tetapi untuk beberapa detik aku hanya terdiam dan membeku seketika. Hingga akhirnya aku pun sadar sepenuhnya.


"Huh... akhirnya aku bebas dari santet itu," desisku


sembari langsung bangun dari tidurku untuk duduk.


Aku juga memegangi kepalaku seketika. Entah kenap, tetapi sedikit ada Pusing yang melanda. "Sialan! Aku benar-benar akan membunuh Penyantet itu! Ck! Benar-benar menyebalkan."


Aku mengumpati siapapun orang yang mengirim santet itu! Hingga akhirnya aku mulai mengedarkan Pandanganku ke sekeliling. Seketika dahiku berkerut dengan sangat jelas.


"Ini ... aku di mana?" gumamku.


Sungguh demi Dewa Neptunus! Ini bukan ruanganku! Bukan kamarku!


Kamarku adalah sebuah bangungan dengan design modern Penuh teknologi canggih. Tentu saja semua interior kamarku sangatlah mahal dan mewah.


Tetapi... tempat yang aku tempati ini jelas-jelas berbeda dengan kamarku yang megah dan mewah itu.


Bangunan ini nampak jelas seperti sebuah castil kerajaan dengan ukiran ukiran Eropa yang austetik. Begitu detall dan berseni tinggi. Pun juga dengan berbagal furniture Pendukung yang membuat kamar ini kental dengan budaya Eropa zaman Pertengahan.


Bahkan kasurnya Ini Pun juga, Sebuah kasur berwarna merah kesukaanku, tetapi yang membedakan adalah kalau ranjang ini ada tiang yang menjulang tinggi seperti Pilar di setiap sudut ranjang. Lalu tersampir sebuah tirai Putih transparan yang menutupi setiap sisi ranjang ini.


Tirai Putih itu sedikit berkibaran dengan gemulai akibat ulah sang angin malam yang menerobos masuk begitu saja, Karena jendela bergaya victoria klasik yang menjulang sangat tinggi, yang mana ada di salah satu sisi kamar, terbuka cukup lebar.


Sebuah kamar yang sangat luas dan megah.Bukan hanya karena rasa terpukauku, tetapi juga asa Penasaranku.


Aku Pun mulai bersingkut untuk turun dari ranjang ini. Aku juga sedikit kaget dengan apa yang aku kenakan. Sebuah gaun tidur sutra warna Putih. Sangat lembut dan juga elegan.


Yeah... aku memang memiliki banyak gaun tidur yang berbahan sutra, tetapi untuk gaun ini aku tidak memilikinya. Aku sangat ingat semua barang-barang yang aku Punyai atau yang tidak.


Ok, lupakan tentang gaun ini! Mungkin saja Arta yang memakaikanku dan mengganti gaun tidurku, bukan?


Dengan segera aku pun melupakan Permasalahan gaun itu. Kini langkah kakiku menyusuri setiap sudut ruangan ini, Hingga langkahku tertuju Pada sebuah balkon kamar yang mana Pintu jendelanya itu sedang terbuka.


Aku memasuki area balkon itu, seketika mataku Pun terpana dengan apa yang aku lihat saat ini,


Well... biasanya saat kita ke balkon, mata secara otomatis mata kita akan tertuju Pada atap langit yang sangat luas itu, bukan? Setidaknya itulah yang selalu aku lakukan.


Dan lihatlah!


Sungguh demi apaPun! Demi Dewa Neptunus!


Langit-langit yang gelap, dingin, dan luas itu adalah langit Paling Indah yang Pernah aku temul!


Bulan yang begitu sempurna sedang berada di Puncak tahta tertingginya. Duduk dengan gagah dan agung di sana Penuh wibawa. Mentereng seolah menantang dunia. Begitu dikagumi.


Lalu ada banyak sekali dayang-dayang cantik di sekelilingnya. Sebuah kilauan bintang yang begitu beragam dan sangat banyak! Bahkan ada selaput tiral berwarna salah satu dari warna Pelangi, biru dan hijau. Meski samar, tetapi itu ada.


Sangat Indah!


Seperti berada di sebuah alam yang berbeda.


Selama aku hidup di dunia inil Aku tidak Pernah melihat langit yang se-indah ini! Percayalah!


Aku bahkan sudah membeku di tempat. Berdiri dengan gaun dress yang melambai-lambai akibat alunan angin yang sedikit menerjangku. Jantungku pun berdebar saat bertemu tatap dengan sang langit, Rasanya seperti ada gelora aneh yang tiba-tiba menerjangku.


Untuk kalian tahu saja, aku sangat menyukal yang namanya 'Sky. Langit,


Itu membuatku merasa seperti sedang berada di sebuah tempat yang begitu menenangkan. Damal. Membuat tentram dan nyaman.


Entah sudah berapa lama aku berdiri dengan mengagumi langit yang Paling indah ini, hingga sebuah suara menginterupsiku.


Ada seseorang yang sedang masuk ke kamarkul


Krieeett....


Pintu kamar yang megah itu terbuka.


"Nona, maafkan saya kalau tadi saya lupa mengganti bunga di kamar Anda. Saya akan menggantinya sekarang juga...," ucap seorang wanita yang muncul dari balik Pintu yang terbuka itu.


Suara itu! Itu adalah suara wanita yang tak kuketahui namanya tadi!


Aku Pun langsung berbalik badan dan melihat ke sosok wanita yang sedang berdiri di samping ranjangku untuk mengganti sebuah rangkaian bunga,


Wanita yang sedang mengenakan Pakaian maid warna hitam dan Putih. Rambut coklat tergelung rapi. Aku tak bisa melihat wajahnya karena saat ini dia sedang fokus menaruh rangkaian bunga di atas nakas samping ranjangku.


Aku hanya bisa melihat wajahnya dari samping. Tetapi jelas saja aku tahu siapa wanita itu.....


Dia adalah wanita yang tidak aku kenali! Wanita asing!


"Siapa kamu?" tanyaku kepada wanita yang tidak kuketahui namanya itu.


Dalam sekejap, wanita itu langusng menolehkan wajahnya, yang tadinya fokus ke bunga, kini mengarah ke tempatku berdiri. Aku masih berdiri tegap di teras balkon dengan latar belakang sebuah Pemandangan alam yang luar biasa.


Melihatku yang berdiri tegak dengan sinar bulan yang menerangi, matanya Pun membulat sempurna, Mulutnya menganga. Sedikit ada getaran nanar di setiap sudut wajahnya,


Praanggg......


Vas yang ada di tangannya untuk la ganti itu, Pun terjatuh ke lantai begitu saja beserta bunganya. Berhamburan. Pecah menjadi kepingan-kepingan.


Itu karena saat ini kedua tangan wanita itu sedang menutup mulutnya sembari menatapku. Oh bahkan matanya sudah keluar air bening. Mengucur dengan bebas begitu saja. "Nonaaa...!!!" serunya yang langsung berhambur kePelukanku.


"Hikss... hiks..." Bahkan dia juga menangis tersedu! Aku hanya bisa membeku di tempat. Tentu saja aku Juga syok melihat orang asing yang tiba-tiba memelukku begini,


"Tu-tunggu kenapa kau menangis?" tanyaku.


Wanita itu semakin mengeratkan Pelukannya hingga membuatku terkesiap. "Hiks... tentu saja saya sangat bahagia, Nona! A-anda... sudah tidak bangun selama tiga bulan! Huaaaaa ....“


Oh, ****! Tangisannya makin kencang.


W-wait! Tunggu dulu!


Apa katanya tadi? Tiga bulan?!


"Tu-tunggu... apa maksudmu aku tidak sadarkan diri selama tiga bulan?" beoku memastikan.


Wanita itu mengangguk dalam isakan tangisnya.


Jalas, aku sangat tercengang mendengar itu! Bagaimana bisa aku tidak sadarkan diri selama tiga bulan?!


Sungguh tak masuk akal!


Aku sangat ingat, kalau aku harus saja memejamkan mataku tiga menit lamanya. Lalu tiba-tiba saja aku merasa seperti disentet dan tidak bisa bangun.


Ok, lupakan itu dulu!


"Okey... but, bisakah kau melepaskanku terlebih


dahulu?" Pintaku.


"Ah...." Masih dengan isakan tangis yang tersisa, dia Pun mulai melepaskan Pelukannya dan berdiri tega? menatapku takjub.


Aku menatap wajah wanita yang tak kuketahui namanya itu lekat-lekat. Seolah aku sedang menelisik sangat dalam. Mencoba mengenali siapa dia.


"Tetapi siapa kamu?" tanyaku kemudian.


Pertanyaanku itu seketika langsung mengubah raut takjub dan haru yang dimiliki wanita itu, berubah menjadi tatapan Penuh keterkejutan. Dia juga kembali menutup mulutnya.


"No-nona... tidak mengenaliku?" desisnya lirih dengan nada yang Penuh getar.


Aku masih terdiam dan bahkan sudah mengangkat alisku sebelah.


"Nona Charlotte! Anda benar-benar tidak mengenaliku?!" serunya lagi.


What?


"Siapa nona Charlotte? Apa maksudmu?!"


...----------------...


Aku kini sudah duduk di sebuah sofa Panjang yang ada di tengah-tengah ruangan. Ruangan kamar asing


tempat aku terbangun ini. Duduk dengan selamPiran selimut yang membungkus Pundakku, Pun juga dengan secangkir ten hangat untuk menghangatkan dalam tubuhku.


Aku duduk termenung, di depan sebuah Perapian. Menatap kosong kobaran api yang dengan tenang hidup. Begitu tenang dan menghangatkan seolah tak ada gejolak amarah di sana, Namun yang ada hanyalah sebuah zona waktu yang terasa seperti sedang terhenti,


Aku duduk dengan tenang. Meski sekarang di kamar ini mulai lebih ramai dan bising di banding saat Pertama kali aku bangun, namun aku benar-benar menulikan diriku sendiri. Aku mengabaikan semua dan tinggal di zona waktu yang terhenti seorang diri.


Aku bingung!


Syok!


Ba-bagaimana bisa ini semua terjadi?!


Sungguh tak masuk akal!


"Apa yang terjadi, dok? Ada apa dengan Putriku?"tanya seseorang wanita Paruh baya yang terlihat gusar dan sedikit ada getaran di suaranya.


"Kenapa dia bisa tidak mengingat apapun?" sela seorang laki-laki Paruh baya. Suaranya sedikit tegar dan tegas.


"Tuan, Nyonya, setelah saya tadi memeriksa nona Charlotte, maka hanya ada satu kesimpulan yang bisa menjadi diagnosa saya untuk saat ini," jawab seorang wanita yang lain-yang tak lain adalah seorang dokter.


"Diagnosa saya adalah... nona Charlotte telah mengalami amnesia atau kehilangan ingatan akibat dari koma yang sudah berlangsung tiga bulan lamanya, Benturan keras yang diterima kepalanya kepada batuan besar di danau, saat dia tenggelam tiga bulan lalu," imbuhnya,


"Kejadian ini sangat langka, dan nona Charlotte adalah orang Pertama yang mengalami kelangkaan Ini di kerajaan Ender ini, Tuan, nyonya," jelasnya. "Amnesia atau hilang Ingatan adalah kondisi di mana seseorang tidak bisa mengingat informasi, Pengalaman, atau semua kejadian yang Pernah dia alami sebelumnya."


"Penyebab amnesia juga bisa terjadi karena orang mengalami cedera kepala yang Parah alias gegar otak berat, misalnya karena jatuh dan bagian kepala terbentur oleh sesuatu yang sangat keras. Ketika kepala terbentur sesuatu dengan sangat keras, maka ada kemungkinan dinding otak mengalami cedera berupa retak, Bila Pembuluh darah di sekitar otak mengalami kelainan, misalnya otak kecil cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi."


Wanita Paruh baya yang berprofesi sebagai dokter -yang mana tadi memeriksaku-sedang menjelaskan dengan sangat seksama kepada sepasang suami istri yang terlihat gusar dan khawatir itu.


Sang laki-laki yang memeluk Pundak istrinya untuk bersandar, menatap tajam sang dokter dengan aura yang tajam, Penuh kuasa.


Sedangkan sang wanita Paruh baya, Pasangannya itu hanya bisa menyandarkan dirinya ke Pelukan dirinya saja itu, Menatap nanar sang dokter dengan linangan air mata.


"Jadi maksudmu, Putriku tidak memiliki ingatan apapun tentang kehidupannya selama ini? Bahkan la juga tidak mengenal kami dan jati dirinya?" tanya sang laki-laki.


Dokter itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Menundukkan sedikit kepalanya, "Iya, Tuan,"Jawabnya.


Seketika sang wanita Paruh baya langsung berhambur lebih dalam ke Pelukan laki-laki yang aku yakin itu adalah suaminya. Menangis tersedu dengan Pilu.


"Lalu... apakah tidak ada obat untuk menyembuhkannya?" tanya lagi sang laki-laki Paruh baya itu. Sedikit ada keheningan untuk sesaat.


Lalu terdengar kembali sebuah helaan napas yang sangat samar. Aku yakin itu adalah helaan sang dokter. "Bidang kesehatan sekarang, belum ada obat untuk kelangkaan ini, Tuan, Kami semua masih berusaha dengan keras untuk mengaji kasus ini lebih dalam. Maafkan saya," jawab sang dokter dengan Pasrah,


Isakan tangis sang wanita Paruh baya itu, Pun semakin menjadi jadi. Seolah ini adalah sebuah hal buruk yang sedang terjadi.


Terburuk dari yang terburuk!


"La-lalu... apa yang harus kami lakukan?" tanya lagi sang laki-laki Paruh baya.


"Orang yang mengalami amnesia juga biasanya akan kesulitan mempelajari informasi baru ataupun membentuk ingatan baru. Jadi lebih baik untuk menerima ini. Membantu nona Charlotte hidup dengan nyaman, yang mana saat ini-" dokter itu Pun melirikku yang sedang duduk termenung, "-dia tidak mengetahui siapa akan dirinya,"


"Atas hal ini, justru nona lah yang tertekan dan syok. Akan lebih baik jika Tuan, dan Nyonya, lebih melakukan Pendekatan kepada nona."


Ya! Semua itu adalah Pembicaraan antara tuan dan nyonya rumah ini dengan sang dokter Pribadi keluarga. Mereka membicarakan tentang kesehatanku saat ini, tepat di belakangku!


Aku hanya bisa mendengar samar-samar dengan Pandangan mata yang masih tertuju Pada kobaran api di Perapian itu.


Tuan Pemilik kediaman ini, Ernest Cleveland. Bangsawan kelas Earl satu-satunya yang ada di kerajaan Amerald. Di mana menikahi seorang Putri kerajaan yang sangat cantik dari negeri sebrang yang bernama Emma Delaford Putri kerajaan Weyn yang kaya akan Permata cantik.


Kedua orang itu... Ernest Cleveland dan Emma Delaford adalah orang tuaku. Tidak... tidak! Maksudku adalah orang tua dari tubuh yang aku tempati ini.


Ya!


Sebuah kegilaan.


Kegilaan yang lebih gila dari semua kegilaan yang Pernah ada di dunia ini adalah satu hal yang sedang aku alami. Yaitu aku sedang terjebak di tubuh seorang wanita bangsawan dari sebuah kerajaan besar yang bernama kerajaan Ender .


Di tubuh Putri satu-satunya keluarga bangsawan Earl Cleveland di kerajaan Ender.


Charlotte Cleveland.


Itu adalah nama Pemilik tubuh ini, Tubuh yang mana jiwanya adalah aku, Ella Wallace!


Gila, kan? Sangat!


Tidak masuk akal? Tentu saja!


Aku Pun menghembuskan napas Panjangku dengan sedikit kasar. Menaruh cangkir teh hangat yang kuPegang ke atas meja. Lalu dalam sekejap aku langsung berdiri dari dudukku tanpa aba-aba, Hal ini tentu menyita semua Perhatian.


TataPanku masih tertuju Pada api di Perapian itu. Sangat tajam dan dingin. Seolah ingin berperang.


"Sa-sayang-" desis Audrey.


"Aku lelah, Bisakah kalian keluar?" sela ku memotong ucapan sang nyonya besar itu.


Well... lagi pula ini masih tengah malam! Dan aku butuh waktu sendiri untuk berpikir secara waras saat Ini. Karena demi apapun, kondisi ini benar-benar tidak waras!


"Kau benar," ucap Ernest yang berdiri di belakangku. "Ini masih malam dan kamu juga baru saja bangun dari tidur Panjangmu. Kamu ... istirahatlah Putriku. Jangan Pikirkan apapun yang membebanimu, ok?"


Aku terdiam tak ada balasan. Aku juga masih membelakangi semua orang yang ada di ruangan ini.


"Semuanya, keluarlahl" titah Ernest.


Beberapa saat kemudian, baik sang dokter hingga Para maid yang ada, semuanya keluar dari kamar ini, Hingga masih menyisahkan aku dan kedua orang tua dari tubuh ini.


Sedikit ada keheningan untuk sejenak, Aku yakin, sekarang kedua orang itu sedang menatapku Penuh makna dari belakang, dengan tatapan yang nanar. Bahkan isakaan tangis Emma masih terdengar.


Mereka ingin mendekat dan mendekapku, namun semua urung karena aku yang berdiri tanpa suara, Bertindak dengan dingin dan seolah membangun sebuah benteng besar untuk kami. Hal itu membuat mereka berdua Pun dengan Pasrah kaluar tanpa mengucapkan atau bahkan menyentuhku sedikit Pun.


Sekarang hanya aku seorang. Di ruangan yang besar dan megah ini sendiri. Berdiri menatap kosong kobaran api di Perapian itu.


Netra emerald yang cantik dari tubuh ini, seolah hanya terfokus akan kobaran api yang tenang itu.


Meski terlihat tenang, tetapi tidak dengan jiwaku. Dengan diriku sendiri, Ella Wallace.


Karena saat ini rasanya aku mau gila!


"Akhhh...!!" Pekikku lirih dengan menekan rambut dengan kedua tanganku. "Kenapa aku ada di sini?!" desisiku dengan nanar-an mata yang kehilangan arah.


Aku... berada di tubuh manusia lain?


"Apa santet sudah makin canggih? Bahkan bisa mentransfer jiwa!"


"Ini benar-benar gilal"


Sial!


...TBC...