
Setelah kunjungan pertamaku kerumahnya, sekarang aku jauh lebih sering pergi kerumahnya bahkan hanya sekedar untuk mengantarkan makan siang. Dia sudah memutuskan untuk menetap dirumahnya dan tidak kembali ke kantor. Ruangan yang tadinya milik dia sekarang sudah menjadi milik orang lain, Kim Jeong-suk namanya. Sesekali aku bertemu dengannya bahkan dia juga sempat mengantarkan aku pulang kerumah dan berkenalan dengan Kak Hyujin, sepertinya mereka memiliki ketertarikan satu sama lain.
Hari ini aku libur dan tidak melakukan apapun, tapi dia memintaku untuk menemaninya pergi ke Seoul untuk belanja keperluan rumah yang tidak ada di Gimpo. Padahal membelinya secara online jauh lebih praktis.
Sembari menunggu kedatangannya aku mampir sebentar ke toko paman.
"Wah cantik sekali hari ini" kata paman "Benarkah? hehe aku sedikit berdandan hari ini" jawabku. Sebenarnya aku tidak suka berdandan, kerja saja memakai pakaian yang itu itu saja. Tapi hari ini aku ingin berdandan walaupun hanya riasan kecil diwajah.
Aku memilih beberapa roti dan minuman soda untuk sarapan dijalan dan makan bersamanya.
"Paman, aku pergi dulu yah" pamitku
"Oh yah, hati hati nak", aku melambaikan tangan kepadanya
Aku menunggu di halte bus, sekarang sudah menunjukan pukul satu siang tapi dia masih belum terlihat. Sepuluh menit kemudian ada mobil hitam datang, dia membuka pintu dari dalam.
"Maaf,,, saya sedikit terlambat"
"Oh tidak apa-apa, aku hanya meunggu sekitar,, emmm,,dua puluh menit disini" aku menunjuk halte dan meledeknya.
"Baiklah, maafkan saya" dia tersenyum.
Kami berdua pergi menuju di Seoul. Sepanjang perjalanan kami berdua berbincang banyak hal, dari mulai makanan, musik, dan tempat. Aku memutar musik dispeaker mobilnya. Moonlight Sonata-Beethoven, lagu itu mulai diputar.
"Selera musik kamu bagus dan unik" dia menatap kearahku sebentar dan kembali menatap jalan didepan.
"Aku suka musik klasik dan ini adalah musik favoritku, saat sedih atau senang aku pasti mendengarkannya".
"Saat sedih? memangnya kamu pernah merasa sedih?" tanyanya.
"Emm tentu,,, saat pendaftaran kuliah aku ditolak beberapa universitas, aku ingin masuk jurusan seni tapi aku juga bukan dari sekolah seni. Lalu setelah lulus sarjana juga banyak perusahaan yang menolakku, tapi ada satu perusahaan di Seoul yang menerimaku tapi aku memilih perusahaan anda karena ada hubungannya dengan seni ya walaupun itu bukan musik atau lukis".
"Lalu? bagaimana dengan kisah cintamu?".
"Ahh, aku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Aku tidak punya teman disekolah atau kampus. Mungkin karena aku tidak terlihat menarik dan beberapa orang mengatakan aku ini lemah. Tapi saat aku pindah ke Gimpo aku menemukan Kak Hyujin, dia adalah teman pertamaku dan sekarang sudah aku anggap sebagai sahabat. Kalau anda bagaimana? kapan anda merasa sedih?" tanyaku tapi dia tidak menjawab hanya menatap jalanan sambil menyetir.
Suasana menjadi canggung, hanya musik dari speaker mobil yang terdengar. Aku membuka kaca mobil setengah, udara kencang dari luar masuk kedalam, dia menatap ke arahku bingung.
Kami tiba di Seoul, dia langsung mengajakku ke tempat furnitur tapi tidak ada yang dibeli olehnya. Setelah berkeliling untuk melihat apa yang ada di sekitar aku mengajaknya ke sebuah taman yang tidak terlalu luas. Kami membeli beberapa cemilan untuk dimakan, matahari juga sudah mulai terbenam.
Kami duduk bersebelahan, aku menghirup udara dengan tenang.
"Eyyy hidupmu seperti terlalu datar" dia hanya membalas dengan senyuman.
"Tidak ada alasan kenapa aku harus sedih" tiba-tiba berbicara dan sepertinya dia melanjutkan percakapan kami di mobil tadi saat menuju ke Seoul.
"Aku tidak menahannya ketika dia ingin pergi dariku, aku pikir itu adalah keputusan yang terbaik untuk kita saat itu. Hari itu juga hari yang terasa sangat singkat bagiku karena esoknya dia sudah pergi dan dijemput oleh rekannya untuk pindah ke Seoul".
"Hehh? maksudmu ada orang ketiga diantara kalian?"
"Iya bisa dibilang seperti itu, tapi aku juga merasakan bahwa itu hanya ke egoisan kami berdua yang sama tidak bisa menyalurkan perasaan".
"Tidak marah?" tanyaku penasaran
"Tidak, jika aku marah pun sepertinya tidak akan merubah keadaan" dia menyibak rambutnya dan menatap kelangit.
Aku merasa iba padanya, seketika aku juga ingin memeluk dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" ucapnya yang membuatku kaget.
Aku menatapnya, tatapannya kosong dan air matanya perlahan jatuh ke pipinya. Aku mencari tisu didalam tasku, dia menahan tanganku.
"Tidak usah, aku baik baik saja" aku tidak peduli apa yang dia ucapkan, aku memberikan tisu padanya.
"Jika kamu masih mencintainya kenapa tidak mencari?" aku sedikit berteriak.
"Aku ingin mencarinya, tapi aku tidak tahu dia dimana sekarang. Terakhir kali aku melihatnya dia ada digedung beberapa hari yang lalu kita kunjungi disini, aku pikir dia masih disana".
"Park Seon-ho ssi! tatap aku" aku menarik lengannya agar bisa menatapku. Aku menatapnya lebih dalam.
"Aku ingin kamu bisa jujur dengan perasaanmu sendiri, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, katakan apapun yang ingin kamu katakan, jangan menahannya. Kamu bilang anggap saja kita sebagai teman, kan? jadi jangan anggap aku sebagai orang yang baru kamu kenal".
Dia hanya menatap ke arahku seolah ingin mengatakan dan meluapkan semua emosinya. Ada rasa dimana aku ingin bisa memeluknya, sekali saja.
Aku membentangkan kedua tanganku mengisyaratkan bahwa dia bisa memelukku, tapi dia hanya diam. Aku perlahan memeluknya, menepuk pundaknya seolah mengatakan bahwa aku selalu ada disini untuknya.
"Jangan biarkan aku menjadi orang asing bagimu" ucapku dan dia hanya diam. Aku melepaskan pelukanku, dia sekali lagi menatapku lalu memalingkan wajahnya.
"Ayo kita pulang, sudah pukul sembilan malam" dia berdiri dan berjalan meninggalkanku sendiri yang masih duduk ditaman.
...****************...