
"Tar," Panggil Indah pada Tara yang sedang membaca buku. Mereka sekarang tengah di Perpustakaan.
Tara yang merasa terpanggil menegakkan pandangannya.
Indah menautkan kedua alisnya, "Masalah project dari dekan tentang seminar itu, apa kamu udah dapet ide mengenai tema-nya dan siapa jadi pembicara nya?" tanya Indah.
"Kamu tenang aja, kalau masalah tema, aku udah ada dan mengenai pembicara... aku masih cari-cari..." jawab Tara.
"Bagaimana kalau pembicaranya Pak Devan dari perusahaan property, kayaknya bagus kalau kita minta dia jadi pembicara di seminar nanti..."
Tara nampak berfikir sejenak, "Bagus juga. Kamu bisa urus dan kalau masalah tema, nanti detailnya aku kirimin lewat email."
Indah menyunggingkan senyumnya serta jempol yang diberikan langsung pada Tara. "Siap."
Tara yang tersenyum kembali membaca. Namun Indah nampak malu ketika gerak - geriknya seolah ingin mengatakan sesuatu yang memalukan.
"Tara...!" Indah kembali memanggil membuat Tara lagi lagi melihatnya.
"Mmmm.. kamu nanti malem ada acara nggak?" tanya Indah ragu.
Mengingat ia sudah menikah dan ingin menghabiskan tiap malam dengan Riana, Tara akhirnya mengangguk.
Indah nampak kecewa. "Aku pikir kamu nggak sibuk." ucap Indah dengan membuang pandangannya ke arah lain.
"Maaf, Ndah. Gimana kalau kamu ajak, Rayan aja." kata Tara.
"Ah," Indah terkesiap. "Nggak, nggak papa, aku bisa sendiri."
Tara terdiam dan kembali menundukkan kepalanya. Ia tau Indah memiliki perasaan padanya namun ia bisa apa kalau hatinya hanya untuk Riana saja. Bahkan sekarang ia merindukan Riana, apalagi mengingat tadi malam yang tidak terduga...
Sementara di kantor, Riana masih berkutat dengan komputer serta berkas-berkas yang sangat membuatnya pusing akhir-akhir ini.
Apa yang bisa ia lakukan sekarang untuk menutupi hutang perusahaan, tidak ada yang membantu dan ia akan meminta bantuan ke siapa?
Arghhhh...
Ia benar-benar tidak bisa berfikir baik.
Drttt... Drttt...
Suara ponsel berdering, Riana dengan malas mengangkatnya.
"Ya," jawab Riana malas. "Siapa ini?" tanya Riana karena tidak tahu siapa pemilik nomor yang menghubunginya sekarang.
"Alex?! CK," decak Riana karena tidak suka Alex menghubunginya.
"Aku nggak butuh bantuan apapun dari kamu."
Tut...
Riana langsung menutup panggilan dari Alex karena malas berhubungan lagi, apalagi harus melihat pria yang mengkhianatinya.
Sejenak terlintas dipikirannya mengenai Tara yang menjadi pewaris perusahaan milik mendiang ayahnya. Dan terbilang sangat kaya dengan hotel dimana-mana, pertambangan di Kalimantan serta perusahaan textil yang sangat maju. Namun, apa bisa Tara membantunya? Apa harus ia coba?
Karena keputus asaan dirinya, Riana akhirnya mencoba untuk meminta bantuan pada Tara. Ia pulang dengan cepat saat petang, Ia tahu Tara pasti sudah dirumah. Ia pun bergegas pulang.
Sesampainya dirumah Riana mencari keberadaan Tara dikamarnya namun tak ada.
"Riana?"
Panggilan dari belakang membuat Riana terkejut. Tara pun terperangah.
"Kamu cari aku?" tanya Tara karena Riana baru saja menutup pintu kamarnya.
Huh...
Riana meredakan keterkejutannya.
"Aku ingin bicara," Jelas Riana.
Riana pun berlalu ke ruang tamu diikuti oleh Tara dan duduk disana untuk membicarakan masalah yang ingin Riana bicarakan.
Nampak jelas Riana ragu sekaligus bimbang mengatakannya, apakah ia harus menghilangkan harga dirinya pada Tara?
"Riana, kamu kenapa? Apa yang ingin kamu katakan sama aku?" tanya Tara penasaran. Karena ini pertama kalinya Riana ingin berbicara padanya.
Riana mencoba menghilangkan egonya demi perusahaan yang sudah di ujung tanduk.
"Riana, bilang aja." Ucap Tara.
Tara yang ada di depannya merasa lega karena Riana akhirnya meminta bantuan padanya. Ia tersenyum untuk menghilangkan ketegangan pada istrinya.
"Kamu nggak usah mikirin masalah hutang, RI. Aku bakal lunasin itu dan kamu nggak perlu ganti. Ini udah tugas aku bantuin istri sendiri, jadi kamu jangan sedih lagi, ya..." ucap Tara dengan lembut.
Riana cengo. Ia tidak mengira Tara akan mengatakan hal seperti itu. Ia tidak bisa mengatakan apapun selain diam. Ia tidak bisa berekspresi berlebihan karena itu bukan dirinya, apalagi di depan Tara yang sering kali ia sinisi.
"Nanti aku suruh Paman An yang akan urus semuanya, kamu tenang aja." senyuman dan perkataan Tara membuat jantung Riana tanpa sebab berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Apakah ini karena masalahnya akan segera berakhir, atau sebab lain yang tidak ia mengerti? Hanya tuhan yang tau saat ini.
Setelah malam itu, Riana menjadi tidak biasa keesokan paginya. Ia merasa kaku untuk sekedar melihat Tara.
"Pagi!" Tara seperti biasa menyambut Riana dengan celemek birunya.
"Pagi." Riana balik menyapa dengan enggan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ayo sarapan dulu, hari ini aku masak telor ceplok sama roti bakar. Nggak papa, kan?" tanya Tara.
"Its okey," jawab Riana dan pergi menuju meja makan. Karena Tara telah membantunya, ia setidaknya harus menghargai sarapan yang dibuat olehnya. Walah sebenarnya hal ini sangat membuat Riana tidak nyaman.
Riana mengambil roti bakar dan dilapisi oleh telor goreng yang dibuat Tara.
"Mama akan datang siang ini," beritahu Tara. "Nanti kalau kamu ditanya mengenai masalah honeymoon, kamu tolak aja." imbuh Tara.
Riana mendengarkan, "emangnya kenapa?" tanya Riana sebelum menggigit roti nya.
"Karena aku tau kamu pasti nggak setuju. Sebenarnya, Mama udah nyuruh aku bilang sama kamu masalah ini tapi aku nggak mau ganggu kamu." jelas Tara.
"Aku mau, kok. Anggap aja kita kesana liburan tanpa melakukan apapun." kata Riana membuat Tara terkejut.
"Kamu serius?" tanya Tara yang diangguki Riana.
Riana melakukan ini semata-mata karena bantuan Tara dan keluarganya. Ia tidak ingin mengecewakan Bu Amba.
"Kalau gitu, nanti aku akan cepat pulang dari kampus. Kamu mau aku jemput?" tanya Tara.
"Nggak usah, aku bawa mobil sendiri." jelas Riana.
"Oke."
Senang sekali rasanya mendengar jawaban istrinya yang mau pergi honeymoon dengannya walau tampaknya tidak akan terjadi apa-apa disana, tetapi ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
...****************...
Tok tok tok...
"Masuk."
Suara ketukan pintu ruangan kantor mengganggu aktivitas Riana.
Ceklek...
Pintu terbuka dan membuat Riana terperangah, bagaimana tidak Hanan dan ibunya datang menemui dirinya. Ia tidak menyangka karena Ibunya masih belum memaafkannya dan sekarang menemui secara langsung dan sepertinya membawakannya sesuatu.
"Hai, Mbak." sapa Hanan.
"Hanan, Ibu?"
Riana berdiri dan keluar dari tempat kursinya dan menyambut Ibunya dan salam. Mereka duduk di meja dan menaruh rantang di meja.
"Mbak, mbak tau, Ibu bawain mbak opor ayam."
Riana terkejut sambil melihat rantang itu.
"Makasih, Bu." ucap Riana melihat Ibunya yang belum mau melihatnya.
"Bu." Hanan mencoba membuat Ibunya tidak mengabaikan Riana.
Heh...
Satu helaan nafas Bu Cantika keluarkan dengan kesah lalu membawa pandangannya pada Riana.
"Ini opor tanpa bawang goreng. Sisakan suamimu juga." ucap Bu Cantika akhirnya.
Riana tersenyum lega. "Iya, Bu." Riana lega mendengarnya. Ia akhirnya berbicara dengan Ibunya.