Miss Arrogant

Miss Arrogant
Bab 2: Headache



“Ayah, aku tidak habis fikir dengan fikiran Ayah yang ingin menikahkanku dengan seorang pemuda yang baru berumur 20-an tahun, perbedaan umur kita jauh sekali! Arghhh..!” serunya dengan nada kesal pada Ayahnya.


Mereka telah tiba dirumah, dan secara langsung wanita itu meluapkan emosi yang sedari tadi ia tumpukan pada otaknya yang membuatnya sakit kepala.


     “Dia tidak seperti seorang pemuda yang berkeliaran dijalanan, Ana.”


     “Tapi tidakkah Ayah berfikir itu akan buat aku malu. Apa Ayah tidak berfikir sampai kesitu?” seru Riana lagi.


     “Cukup Riana!” sentak Ibunya.


     “Apa Ibu, apa Ibu juga tidak memikirkan aku yang akan diejek karna menikah dengan seorang laki-laki yang lebih muda, Riana malu, Bu!” pekik Riana.


     “Kamu sudah menerimanya, jadi jangan bersikap kekanakan sekarang,” lirih ibunya dan langsung menghampiri suaminya untuk mendorong kursi roda tersebut.


     “Arghhhh…” kesal Riana menggeram.


     “Kalian egois!” pekik Riana.


Dengan cepat ia langsung melenggang pergi dari rumah orang tuanya. Ia telah masuk dalam mobil dengan membanting pintu itu dengan kasar. Ia menggeram kesal, sesekali memukul setir mobil. Ia sangat kesal, lalu cekatan merogoh tasnya mencari benda persegi itu untuk menghubungi seseorang.


***


Disinilah ia sekarang, sebuah rumah yang cukup besar untuk ditinggai seorang diri.


     “Kenapa kali ini, Ri?” tanya Selena yang sedang melihat guratan penuh kemarahan dalam diri Riana.


     “Tadi kami ketemu, Sel, dan ternyata aku akan nikah sama laki-laki kuliahan, sel,” ungkapnya dengan nada tidak tertahan. Selena menganga, terkejut dengan penuturan Riana kali ini.


     “Apa kamu bilang, Ri?” tanya Selena dengan mata yang melebar.


     “I don’t know, why!”  Riana sekarang malah mempermasalahkan pernikahan ini, “Sel, impian nikah sama pria berotot dan berjanggut gak akan kesampean. Hiks hiks” Ucapnya sambil terisak lebay.


     “Yah, orang tua kamu bener-bener tega, deh. Tapi kalau difikirin, pasti mereka udah seleksi laki-laki itu makanya mereka setuju, kan?” Selena mencoba menenangkan.


     “Sel, gimana mereka mau seleksi kalau terjerat wasiat. Apa yang mau diseleksi, ah!” sebal Riana. Lagi-lagi Selena cengo, mata serta mulutnya semakin terbuka lebar.


     “Oh astaga, kalau gitu aku gak ngertilah!” ujarnya putus asa.  “Aku nggk ngerti lagi, sih, hidup kamu selalu diatur dengan keinginan mereka. Untung aja kamu nggak sampai gila, Ri.” Imbuh Selena.


     “Kali ini mungkin aku bisa gila, sih. Aku jadi gila aja kali, ya.” katanya melirik Selena.


     “Eh... jangan macem-macem,deh,” sebal Selena. Riana menghela nafasnya malas.


     “Kepalaku sakit banget, Sel, aku tidur disini,ya?” kata Riana lemah.


     “Ya, boleh. Aku juga gk bakal bikin kamu sendiri dengan keadaan gak karuan kayak gini. Aku takut kamu lompat dikali ciliwung!” ejek Selena.


     “Eh... tapi mungkin aja, sih, hahaa” kekehnya.


     “Tua-tua saraf. Oh iya, mendingan sebelum nikah kita pergi meni pedi biar kerutan dimuka ilang, gimana?!” ujar Selena memberi saran.


     “Boleh juga, badan rasanya remuk, pengen dipijet” ucapnya lemah.


     “Aku penasaran, sih, sama calon suami kamu, Ri, ganteng, gak?” sentil Selena.


     “NO!!! Big no! Dia jauh banget dari Alex, dia bukan tipe aku banget, dia kurus, bahkan ototnya nggak keliatan.” Ujarnya tegas.


     “Ouhh,” Selana mendengus, “mendingan sekarang kamu tidur, jangan dipikirin lagi.” ucapnya sambil menguap.


Mereka akhirnya berlalu ke arah tangga dan masuk kedalam sebuah kamar yang berwarna biru laut. Dalam kasur Selena banyak ditumpuki boneka teddy bear yang besar besar.


Untung saja ia memiliki kasur yang berukuran king size jadi tidak masalah dengan barang Selena. Mereka langsung melemparkan tubuh dengan bebas. Dan dalam sekejap, layangan mimpi mereka alami dengan dengkuran halus.


Keesokan paginya, Riana pamit untuk pergi kerja.


     “Kalau nanti malem mau nginep lagi, kesini aja. Aku nggak ada lembur di RS.” Kata Selena.


     “Ok, tapi mungkin aku ke Apart aja, Aku mau buang barang-barang bekas Alex.” Kata Riana.


     “Yaudah. Hati-hati.”


Riana pun pergi ke kantor. Disana, ia bertemu dengan Hanan- adiknya untuk membahas masalah urusan pengambil alihan perusahaan. Ia tahu reaksinya adiknya akan kecewa dan kesal namun apa yang bisa dilakukan kalau ego ayahnya yang tak bisa terbantahkan.


     “Jadi, mbak menerima lamaran itu?” Rania mengangguk saat Hanan bertanya.


“Gila.” Cetusnya. “Aku ngerti sekarang kenapa mbak terima lamaran itu.” Hanan tidak habis pikir dengan kakanya yang mau saja di paksa untuk menikah padahal ia tahu sekeras apa Rania.


“Mbak nggak mau ada drama berlebihan. Masalah itu bisa mbak atasin, asal sesuai dengan apa yang mbak inginkan.” Jelas Riana tanpa basa-basi.


“Baguslah. Jadi, aku bisa istirahat sebentar sama Leyna.” Kesah Hanan yang pasrah.


“Leyna? Dia masih jual bunga?” selidik Riana.


Hanan mengangguk, “Bisnis bungan cukup lancar. jadi aku nggak bisa paksa dia berhenti.” Jelas Hanan.


“Ohhh, katakan padanya biar nggak terlalu sibuk dan cepatlah berikan Ayah cucu…” dengus Riana membuat Hanan menghela nafasnya panjang.


“Udahlah, mbak pergi aja, aku ada urusan penting.” Hanan mencoba mengusir Raina karena malas untuk berbicara lebih.


Rania pun berdiri. “Okey, aku pergi. Dan jangan lupa, doakan pernikahan ku…”


Setelah mengatakan itu, Riana pun pergi ke ruangannya. Dan sebelum menyalakan komputer, sebuah deringan ponsel mengganggunya. Ia dengan malas mengangkatnya.


“Iya, Bu?”


“Hari ini kamu fitting baju sama Tara, jangan nolak karena Tara akan jemput kamu di kantor.” Beritahu Ibunya.


Yang jelas raut wajah Riana terlihat tidak baik. “Aku lagi sibuk, Bu. Apa nggak bisa besok aja.” Alasannya.


“Riana, jangan membantah. Pernikahan kamu akan dipercepat jadi fitting baju harus hari ini. jangan menolak, Ibu yakin pasti Tara sudah sampai dikantor kamu. Ibu tutup, ya.”


Tut…


Sekali lagi hidupnya di atur terus-menerus selayaknya robot yang mampu dikendalikan sesuka hati. Tidak heran ia seperti ini karena ego orang tuanya.


“I need an alcohol…” gerutunya.


Di menit kemudian, suara ketukan terdengar 2 kali dan pintu pun terbuka. Ternyata benar, calon suaminya yang datang.


“Hai!” sapa Tara.


Rania menegakkan tubuhnya dan berdiri.


“Fittinng baju, right?” Tanya Riana dingin. Ia bersikap dengan dingin dan seolah ia yang menguasai.


Tara mengangguk. Mereka pun akhirnya pergi ke tempat designer gaun pernikahan terkenal di Jakarta.


di dalam mobil tak ada yang membuka percakapan sampai Tara yang mencoba.


“Aku ada kuliah jam 12, mungkin aku sebentar aja disana. Nggak papa, kan?”


“Yah, its okey.” Mendengar kata kuliah saja sudah menggelikan bagi Rania. Menikah dengan laki-laki yang masih kuliah apa bisa menjadikan Tara sebagai suaminya?  Bahkan untuk saat ini mereka terlihat seperti adik dan kakak.


“Tenang aja, kuliahnya nggak lama, kok. Aku bisa jemput kalau kamu masih lama disana.” Kata Tara lagi.


“Nggak usah, aku bisa cari taksi. Aku nggak suka nunggu.” Jelasnya dengan sikap arogannya.


“Oh, okey. Kalau gitu, aku bisa pergi latihan karate.” Jelasnya.


“Karate?”


“Yah, aku suka karate. Kamu gimana?” lirik Tara pada Rania.


Rania terdiam sejenak. “Membosankan.” Dengusnya.


Tara terkekeh kecil membuat Rania meliriknya yang memegang kemudi.