
Riana akhirnya memutuskan pulang ke rumah orang tuanya untuk menyelesaikan permasalahan ini.
"Riana. Akhirnya kamu pulang." kata Ibunya nampak khawatir menyambut putri nya pagi-pagi.
Pak Saka datang dengan kursi rodanya.
"Aku ingin bicara." Kata Riana dan pergi ke ruang keluarga.
"Mengenai masalah, Tara. Ibu...."
"Aku akan tetap menikah sama dia," Bu Cantika dan Pak Saka kaget mendengarnya, pasalnya ia kira Riana akan bersikeras menolaknya lagi. "Tapi..." Riana kembali berkata membuat keduanya terdiam.
"Riana ingin kepemilikan penuh atas hak perusahaan. Riana hanya nggak ingin satu cabang perusahaan ayah jadi milik Riana. Tapi, Riana ingin semuanya."
"Gila, kamu Riana. Kamu nggak pikirin adik kamu? Pembagian hak paten untuk semuanya setara, kamu dan adik kamu hanya 20 persen saja." jelas Ibunya.
"Karena itu, Ayah, Riana ingin hak paten atas semuanya. Gimana?"
Pak Saka menimang semuanya. Namun Ibu Cantika merasa kesal dengan kelakuan putrinya.
"Riana, jangan gila. Kenapa kamu jadi rakus seperti ini!" cecarnya.
Riana benar-benar kehilangan akal. Demi kegilaannya dia mengambil semua hak atas harta orang tuanya.
"Baik." kata Pak Saka membuat dirinya menatap kejut.
"Mas!"
"Ayah akan berikan semuanya."
Riana menyeringai, "Ouh, Riana nggak tau ayah sesayang itu sama anak Bu Amba." celetuk Riana.
"Mas, kenapa?" Bu Cantika masih tidak percaya dengan suaminya yang menyetujui keinginan gila anaknya.
"Kalau gitu, Riana sepakat untuk menikah. Tenang aja, Ibu. Riana tau keinginan, Ayah." seringainya dan berdiri menyalami Ayah dan Ibunya lalu pamit.
"Kalau gitu, Riana pergi. Riana akan ketemu sama Tara dan siap-siap untuk pernikahan besok. Ibu dan Ayah juga seharusnya siap, kan?"
Bu Cantika yang masih kesal tidak ingin melihat Riana.
Riana pun pergi setelah pamit. Di dalam mobil ia menghela nafas yang sangat berat. Sangat disayangkan dia harus melakukan ini. Bukannya ia ingin melakukan hal ini tapi ia ingin menutupi sesuatu dan memperbaikinya demi orang lain.
Seperti yang dikatakannya dia akan ke rumah Tara. Ia bertamu dan layani oleh pelayan di sana sambil menunggu kedatangan Tara yang tiba-tiba saja turun dari tangga kaget.
Dengan langkah terburu ia menemui Riana yang sejenak menyeruput teh hijau yang disuguhkan.
"Huh" Tara tampak lega.
Ia duduk. "Riana, masalah kemarin, aku..."
"Aku setuju nikah sama kamu," jelasnya walau wajahnya masih saja dingin. Tara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi, dengan syarat yang sudah saya jelaskan kemarin." imbuhnya.
"Okey, aku nggak masalah." balas Tara.
Riana mendesah lalu menilik mencari calon ibu mertuanya.
"Dimana, Tante?" tanyanya.
"Dia ke kuburan, Papa."
Riana mengangguk. "Kalau begitu aku pulang, dekornya masih belum dirusakkan?"
Tara mengangguk antusias. "Iya. kamu tenang aja. Besok kita jadi nikah."
Riana berdiri. "Besok aku sekeluarga akan siap disana. Aku harap tamu yang kamu undang hanya keluarga kandung kamu, bukan sahabat atau teman kampus." jelasnya.
"Okey, aku tau." ucap Tara, "Terimakasih," ucap Tara dengan senyum yang mengembang dan terlihat tulus.
Tanpa menunggu lama, Riana pun memilih pergi dan menyiapkan dirinya untuk besok. Namun karena masalah yang lebih besar terus mengganggunya membuatnya kesal, ia akhirnya memilih berbalik arah kemudi menuju seorang yang menjadi biang masalah
Dengan langkah terburu dan tak sabaran, Riana mengetuk pintu dan membunyikan lonceng.
Tok tok tok...
"CK"
Dimenit selanjutnya, pintu terbuka menampilkan Hanan yang langsung saja mendapat gamparan telak dari Riana.
Hanan mengaduh kesakitan dan menyentuh pipinya yang memanas bahkan samar-samar terlihat cetakan merah yang sudah membekas pada pipinya.
Mata Hanan tajam, kesal dan bingung atas perlakuan kakaknya yang memang kadang-kadang tidak bisa ia mengerti.
Riana lalu mendorong nya masuk ke dalam rumah.
"Apa ini! Kenapa mbak nampar aku?! Ha!" Kesal Hanan.
Riana memasang wajah lebih tajam dari tatapan Hanan padanya. "Bodoh! Kenapa kamu berhutang sama perusahaan lain dan merusak sistem perusahaan, kalau aku nggak ngambil alih, aku nggak bakal tau sebodoh apa kamu!" setiap katanya ditekan dengan jelas membuat mata Hanan melebar.
Hanan tidak lagi sanggup menatap mata kemarahan kakaknya, pandangannya sekarang menghindar. Riana lalu mencekik kerah baju Hanan agar Hanan melihatnya lagi.
"Tinggal selangkah lagi, perusahaan bakal hancur dan kamu mau andalin istri kamu jualan bunga, ha!! Bodoh!" Riana melepaskan rematannya pada kerah baju Hanan dengan keras.
Ia berbalik, "Sekarang yang perlu kamu lakukan, diam dan jangan ngelakuin apapun. Semua aset kamu, aku yang bakal ambil alih..."
"Apa?!" Hanan terkejut. Lalu Riana berbalik dan kembali menjelaskan.
"Kamu mau Ayah tau apa yang lakuin sama perusahaannya? ha! mendingan jangan lakuin apapun, biar aku yang tanggung. CK" ia menghela nafas yang begitu berat.
Hah...
Hanan mengerti sekarang, saat pembalikan nama menjadi milik kakaknya maka Riana yang bertanggung jawab atas nama perusahaan dan dirinya. Sekarang, ia mulai merasa bersalah.
Pandangan Hanan menjadi penuh penyesalan.
Mata Riana kini mulai berair namun ia menahannya agar tidak terjatuh. Hanan hanya membisu dan melihat punggung kakaknya yang mungkin membencinya sekarang.
Suasana menjadi emosional. Dan tiba-tiba, suara ketukan ujung sepatu masuk ke dalam rumah.
"Oh, mbak Riana?" Leyna- istri Hanan datang.
Hanan dengan Riana menyembunyikan keadaan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Na, kamu udah balik?" tanya Hanan.
"Yah, kata kamu, kamu mau beli jas buat dateng ke pernikahan Mbak Riana, jadi aku tutup toko." Jawab Leyna.
"Ouh, ya. Aku lupa."
"Mbak. Mbak kapan dateng?" tanya Leyna ramah.
"5 menit yang lalu, dan sekarang aku akan balik."
"Cepat sekali, Mbak. Kenapa nggak makan siang dulu disini?"
"Lain kali aja, Leyna. Aku harus bersiap untuk pernikahan besok, bukan?"
"Ah, iya. Kalau gitu, Leyna juga mau temenin Mas Hanan buat beli jas. Mas, siap-siap sana." suruh Leyna pada Hanan yang mengangguk dan berlalu ke ke kamarnya untuk siap-siap keluar.
"Mbak, semoga besok pernikahan nya lancar, ya." kata Leyna dengan penuh ketulusan.
Riana mengangguk sekali. "Besok kamu bisa bawa sebuket bunga melati besar?"
"Iya, Mbak. Leyna juga rencananya bakal bawa bunga yang besar buat mbak, Riana." ucapnya antusias.
Riana tersenyum kecil. Ia tau Leyna sangat baik dan sangat cantik. Ia merasa sangat lega bisa melihatnya menjaga adiknya.
"Terimakasih, Leyna. Kalau gitu, aku pulang, ya. Jangan lupa melati nya."
"Siap, mbak." ucap Leyna dan pamit.
"Hati-hati, mbak."
...****************...
Keesokan paginya,
Akhirnya pernikahan pun terlaksana secara sederhana dengan teman garden dengan konsep outdoor di Villa milik keluarga besar Hariman Jaya.
Tidak ada teman atau pun sahabat yang diundang. Hanya kerabat dan sahabat kerja dari Pak Saka dan Bu Amba. Nampak terlihat, Sela seorang diri yang menghadiri pernikahan Riana karena sahabatnya yang lain tidak diundangnya.
Tega memang tega namun ia tidak ingin semua orang tahu siapa suaminya dan bagaimana wajahnya.
...----------------...