
Tinggal dua hari lagi pernikahan Riana dan Tara akan dilangsungkan dan dua keluarga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan segala urusan.
Sementara itu, Tara dan Riana tengah berbincang berdua mengenai pernikahan mereka nanti. Bukan Riana yang ingin, namun Ibunya memaksanya untuk lebih mendekatkan diri dengan Tara. Tentu hal itu membuatnya malas dan semakin kesal harus berhadapan dengan Tara yang sama sekali bukan tipenya.
"Setelah kita menikah nanti, kita akan pindah ke rumah kita sendiri. Mama udah siapin semuanya." beritahu Tara memulai perbincangan karena nampaknya Riana tidak ingin bicara padanya.
Riana meminum jus strawberry nya dan memutar bola matanya, "Okey, tapi ada syaratnya."
Tara mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Pertama, aku ingin ada privasi diantara kita."
Tara mengernyitkan dahi.
"Itu artinya aku nggak akan peduli pada privasi kamu dan kamu juga jangan ganggu privasi aku."
"Tapi, ak..."
"Kedua." Riana memotong ucapan Tara. "Tidak seranjang."
"Hah?!" Tara makin tercengang. "Nggak. Aku nggak setuju." Tolak Tara.
"Okey, kalau kamu nggak setuju. Kasih tau Mama kamu, kamu nggak mau nikah sama aku. Mudah, kan?" seringai Riana.
Hal ini tentu jelas-jelas membuat Tara sulit memutuskan.
"Kalau begitu, Syarat ketiga. Siapapun nggak boleh tau kalau kita nikah. Terutama teman-teman kamu." Jelasnya final.
Tara masih tercengang dan sangat tidak setuju dengan semua persyaratan dari Riana. Bagaimanapun, Rayan temannya sudah tau kalau dirinya akan menikah. Padahal dia ingin menunjukkan Riana sebagai istrinya dengan bangga.
"Deal?!" Riana menyodorkan tangannya sebagai kesepakatan antara dirinya dan Tara.
Tara masih berpikir keras dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Aku nggak bisa," ucap Tara dengan pikiran yang berkecamuk.
"Kalau gitu pilih, nikah atau berhenti disini." jelasnya.
Lagi-lagi Riana memojokkannya dengan pilihan yang sulit.
"Aku akan bilang sama orang tua kita kalau kamu membatalkan pernikahan ini." ancamnya lagi.
"Riana, apa kamu sebegitu bencinya sama saya?" kesah Tara memandang Riana.
Riana terdiam, menggeratkan wajahnya dan menatap Tara tajam.
"CK, Ini memalukan. Kamu tau, umur kita sangat jauh berbeda, apa yang dikatakan orang nanti." dengusnya.
"Aku yang nikah sama kamu, jadi jangan pikirin kata orang. Aku jelas-jelas..."
"Kenapa kamu bisa berfikir dangkal kayak gini. Tentu yang paling malu aku karena bisa-bisanya nikah sama anak kuliahan kayak kamu. Apa kamu nggak pikirin itu?"
Tara mendesah, ia mengerti dan sangat paham maksud Riana. Ia pun mencoba mengambil tangan Riana untuk digenggam namun Riana menepisnya.
"Riana, aku cinta sama kamu." kesahnya, "Kalau kamu ingin dengar kejujuran, aku akan kasih tau kamu kalau yang menginginkan pernikahan ini adalah aku sendiri bukan karena wasiat atau keinginan orang lain..."
Riana terkejut mendengarnya. Ia cengo.
"Apa kata kamu?" tanyanya masih dengan perasaan yang tidak percaya
"Aku yang menginginkan pernikahan ini bukan wasiat Papa." Jelasnya sekali lagi membuat Riana tercengang.
Plakkk...
Satu tamparan melayang pada pipi Tara yang amat keras. Mungkin akan meninggalkan bekas memerah disana.
Riana berdiri. "Keterlaluan!" cecarnya. Lalu detik selanjutnya, ia pergi dan meninggalkan Tara yang mengejarnya.
"Riana! Riana, denger dulu!"
Riana masuk ke dalam rumah dan melewati orang tuanya yang sedang bercengkrama dengan Bu Amba. Melihat hal itu, mereka bertanya-tanya masalah antara Riana yang pergi dengan Tara yang mengejarnya.
"Riana!" panggil Ibu Cantika.
"Riana!" Tara masih mengejar dan tidak siapapun yang busa menghentikan langkahnya yang terburu dengan kemarahannya.
"Tara!" Bu Amba menghentikan langkah Tara.
"Riana, kenapa?" tanyanya.
"Tara yang salah, Ma. Nanti Tara kasih tau. Tara pergi dulu," kata Tara cepat dan kembali mengejar Riana.
"Ada apa ini sebenarnya?" Pak Saka pun bingung dengan apa yang terjadi.
Riana telah melenggang pergi dengan mobilnya. Tara pun mengejar dengan mobilnya.
"CK!" Tara merutuki kesalahannya.
Sementara itu Riana yang amarahnya tidak terkendali melaju dengan sangat cepat.
Brak...
Ia menggebrak dashboard mobil.
Tara yang melihat Riana mengebut di jalanan besar yang cukup ramai pengendara menjadi khawatir. Ia pun semakin menambah kecepatan untuk mendahului Riana dan menghentikannya.
Srekkkk...
Tara menyalip di depan Riana dan me-ngerem mendadak membuat Riana kejut dan mengerem tiba-tiba.
"CK"
Dengan cepat ia keluar dari mobil begitu pun dengan Tara yang berlari padanya.
Plakkk...
Kembali Riana menamparnya bahkan mendorong Tara karena telah melakukan hal gila.
Brukkk...
"Bodoh!" pekiknya. "Kamu mau buat saya mati, Ha!" cecarnya.
Tara membangunkan bokongnya karena terjatuh.
"Riana, maafin aku."
"Jangan ganggu saya!" kesalnya.
"Aku mohon jangan batalin pernikahan kita. Aku akan setujui syarat apapun dari kamu."
"Saya nggak butuh kamu setuju atau nggak. Saya cuma ingin kamu enyah dari sini!" pekiknya tegas.
Riana kembali memasuki mobil namun saat membuka pintu, Tara menghentikannya.
Riana menatap tajam, "Mau kamu apa sebenarnya, saya tidak peduli dengan pernikahan itu lagi. Mending sekarang kamu pergi sebelum saya teriak disini!" ancamnya.
"Ra, denger aku."
"Pergi atau," ancam Riana dengan wajah yang akan memulai teriakannya.
"Ra, tapi"
"Tolong!!!"
"Pergi!!!"
Tara pasrah, Riana benar-benar membencinya. Ia pun berbalik namun masih memandang Riana yang tidak sekalipun menatapnya.
Riana masuk ke mobil dan pergi begitu pun dengan Tara yang kembali pulang.
Sungguh sangat disayangkan Riana mengetahui semuanya dan sekarang Tara tidak tahu harus melakukan apa agar pernikahannya tetap baik-baik saja.
...****************...
Riana kini sedang berada di kantornya. Ia memaksakan diri dan menyuruh karyawannya lembur bersamanya. Tentu hal itu sangat mengesalkan bagi karyawan karena imbas kemarahan Riana lagi.
Ia mengutak-atik laptopnya dan memilih beberapa berkas yang ia tanda tangani.
Drttt....
Drttt...
Sejak tadi, suara ponselnya tetap menyala. Orang tuanya terus menghubunginya namun ia tidak memperdulikan.
"CK"
Karena bosan mendengar ponselnya terus berbunyi, dia langsung memadamkannya.
Ia percaya bahwa orang tuanya tahu masalah ini dan ia yakin mereka semua bersekongkol untuk membuatnya menikah dengan Tara.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu mengganggunya.
"Masuk."
Ceklek...
"Helooow!" Suara Selena.
"Huh... Kamu, Sel."
Selena duduk di depan Riana dan menyodorkannya sebuah makanan ringan yang ia beli di jalan.
"Tumben," sentil Riana pada Selena.
"Yahh, itung-itung kangen kamu, lah," ucap Selena.
"CK. Nggak lembur juga?" tanya Riana sambil membuka makanan itu.
"Lembur, cuman izin." jawabnya. "Sebentar lagi aku balik, kok."
"Jadi, kesini cuman nganterin ini doang?" tunjuk Riana pada makanan itu, "Atau ada hal lain, nggak mungkin kamu kangen malem-malem gini." Riana menelisik dugaannya.
"Okey, karena waktu kerja aku terbatas jadi aku langsung aja, ya. Pulang, disuruh nyokap ma bokap!" jelasnya.
"CK, tuh, kan. Udah aku duga." celetuk Riana. "Udah sana balik!" kesalnya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya tanpa menghiraukan Selena.
"Jangan gitu, Ra. Dari tadi Nyokap sama bokap kamu nyari terus dan mohon-mohon sama aku buat cari kamu. Please, pulang, ya."
Riana terdiam membisu. Dia tidak memperdulikan siapapun saat ini.
"Ri, please pulang. Mereka khawatir, loh."
"Kamu nggak tau apa-apa, Sel. Jadi jangan peduliin aku. Mending kamu pergi dari sini." usirnya.
"Ri, jangan gini, dong. Pulang ya, please atau setidaknya jawab orang tua kamu kalau kamu baik-baik aja. Okey. Aku pergi." final Selena dan berdiri.
Saat sampai di pintu yang ia buka, ia berbalik menatap Riana. "Makanannya di makan, itu burger kesukaan kamu, Ri."
Setelah itu, Selena pergi.