
Sebentar lagi masa lajangnya akan tutup buku. Dan hari ini adalah hari dimana sebuah pertemuan akan dilangsungkan dari kedua belah keluarga. Sangat
disayangkan dia akan menjadi seorang yang berstatus sebagai seorang istri. Sungguh hiburan dadakan.
Faktanya sekarang, Riana tengah berbaring dikasur empuknya. Enggan untuk membangunkan diri, tetapi
suara deritan ponselnya sungguh sangat mengusiknya. Perlakuan apatis ia lakukan, tetapi semakin membuatnya menggeram tersiksa.
Terpaksa, ia mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mengangkat benda persegi itu. Wajahnya kusam, rambut pendeknya awut-awutan tak karuan. Ia meraba ponselnya diatas nakas tanpa melihatnya. Ponsel itu langsung ia bawa kearea pendengarannya untuk mendengar seseorang yang telah mengusiknya.
“Halo, siapa?” ucapnya meracau.
“Riana, ini ibu. Kamu masih tidur?” duga seseorang
diseberang telepon. Lenguhan terdengar dari dirinya.
“Iya Bu, aku ngantuk banget. Kenapa ibu nelpon ditengah malam kayak gini, he?” tanyanya yang masih
memejamkan mata.
“Riana! Cepat bangun sekarang. Hari ini adalah hari pertemuanmu dengan calon suamimu.” Pekik Ibu Cantikka.
“Iya Bu, aku tahu. Tetapi ini belum pagi ibu, ak...”
“Ini sudah jam 8 Riana!” sergah ibunya yang membuat Riana tersentak langsung membulatkan mata belonya.
Matanya langsung menatap jam yang ada dinakas kecilnya. Sudah menunjukkan 08:22, ia semakin terkejut dan tanpa sadar langsung membuang bebas ponselnya dikasur itu.
Terdengar helaan nafas dari Cantikka yang tau kelakuan malas putrinya. Tidak lama, Riana mengambil selembar handuk berserat putih dan langsung memasuki kamar mandi.
Tidak terasa ia sudah kehilangan waktu seperti ini, ia lupa memberi peringatan pada dirinya lewat jam weker. Sungguh ceroboh wanita itu kali ini. Hal itu terjadi karna fikiran yang entah membawanya berfikir keras sepanjang malam.
Tidak lama, ia telah keluar dengan blazer biru dongker dengan rok ketat selutut. Rambut pendeknya ia sisiri dengan rapi. Polesan make up semakin mempercantik dirinya. Wajahnya terlihat dewasa, namun tegas danberkarakter.
Sekarang, ia harus cepat pergi menuju tempat pertemuan yang telah dijanjikan. Sedikit menimang siapa laki-laki yang akan ia menikah dengannya. Apakah gagah atau biasa saja? Ia berharap kalau calon suami nya gagah dan tidak memalukan untuk di bawa kemana pun.
Tepat didepan restoran mewah dikawasan Kemang, Jakarta Riana memakirkan mobilnya. Dengan penuh kepercayaan diri, ia akhirnya melangkah dengan wajah diangkat sedikit mendongak, nampak orang yang tidak bisa didekati sembarang.
Ia telah memasuki kawasan dalam restoran, ia menuju staf penjaga untuk membawa diri pada keluarganya yang berada ditempat jamuan khusus.
Riana sudah memasuki tempat pertemuan keluarga itu berlangsung. Sapaan serta senyuman simpul mengarah pada dirinya. Ia menunduk memberikan penghormatan lalu menduduki kursi yang ada disebelah Ayahnya.
“Riana, kenapa kau terlambat?” tanya Ayahnya lirih.
“Ah maaf semuanya. Sedikit kemacetan di kota Jakarta adalah hal wajar. Tidak ada yang bisa menghindarinya.” Jawabnya lugas dengan nada bercanda membuat semua orang yang ada ditempat itu terkekeh.
“Benar nak, Riana, Jakarta memang sumber keterlambatan.” kekeh seorang puan yang ada didepannya.
“Baiklah, kenalkan Amba ini adalah anakku, Riana.” Ucap Pak saka melirik anaknya.
“Salam, Tante.” Salam Riana pada Bu Amba.
“Salam, sayang.” Bu Amba terlihat senang melihat Riana. “Kita sudah pernah bertemu dulu sekali tetapi mungkin Riana tidak mengenalku. Itu sudah lama sekali,” ucapnya lembut.
“Iya, putramu dulu masih kecil waktu itu.”
“Ah, iya. Nak, Riana, apa kamu yang mengelola perusahaan ayahmu?” Tanya Amba pada Riana.
ayahnya.
“Cantikka, anakmu sangatlah cantik dan sopan. Aku jadi lebih setuju dengan pernikahan ini.” imbuh Bu Amba.
“Terimakasih, Amba. Tetapi dimana calon pengantin pria kita?” tanya Bu Cantikka.
“Tunggulah sebentar saja. Katanya dia akan segera sampai.” jawabnya lembut.
“Baiklah, sambil menunggu bagaimana kalau kita mencari tanggal yang pas untuk anak kita.” Ujar Ibu Amba antusias.
“Ah ya, benar yah. Sebaiknya kita cari tanggal yang baik untuk mereka.” tambah Bu Cantikka.
Pak Saka hanya mengangguk dan Riana hanya tersenyum tipis. Rasanya sudah tidak nyaman dengan pertemuan ini. Ingin rasanya ia pergi ke kantor dan kerja sepanjang hari. Itu lebih baik daripada harus memulai drama seperti ini. Ia juga kesal dengan keterlambatan calon suaminya yang tak kunjung datang.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka membuat seluruh mata menoleh kearah sumber suara. Riana menatap lekat laki-laki itu, pakaiannya sangat kasual. Antara balutan jaket kulit hitam dengan celana levis biru. Mata Riana mengerjap tak percaya, badan yang kini tegap berwibawa menjadi ciut seketika.
Ia menghela nafasnya segan, masih belum percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Semua orang menyambutnya penuh antusias dengan senyuman merekah.
“Akhirnya, kamu datang juga, nak,” kata Ibu Amba tersenyum lebar.
“Hai,Tara,” sapa kedua orang tua Riana. Pemuda itu membungkukkan badannya tanda hormat kepada orang tua Riana didepannya.
Riana masih belum percaya dengan situasi ini. Ia masih menatap laki-laki itu dari kepala sampai ujung sepatu. Bagaimana bisa keluarganya berfikir untuk menikahkannya dengan seorang pemuda yang terlihat baru berumur 20-an tahun. Bermimpi pun tidak pernah ia alami, sampai kajadian nyata itu pun berlangsung padanya. Ia meneguk salivanya dengan susah payah. Fikirannya kacau sekarang seperti tengah dipermainkan.
“Duduklah,Tara, kami baru saja mencari tanggal yang tepat untuk pernikahanmu.” Kata Ibu Cantikka.
Tara telah duduk disamping Ibunya- Amba. Sekilas ia melirik Riana yang terlihat memandang meja dengan keadaan bingung.
“Ah ya, Tara, ini anak, Om. Riana. Kamu dulu pernah kerumah saat kecil dulu, mungkin kamu sudah tidak ingat.” Ujar Pak Saka memperkenalkan Riana. Tara mengangguk dan tersenyum tipis sambil melirik wajah wanita dewasa itu.
“Mmm,” Tara mencoba mengingatnya. “Udah lama banget, Om,” kata Tara.
“Riana,” panggil Pak Saka lirih.
“Riana?!” imbuh Pak Saka lagi membuat Riana terkesiap.
“Ah ya,Yah? Kenapa?” ucapnya terkejut.
“Ini, Tara Hariman Jaya. Calon suamimu,” Riana akhirnya melirik seseorang yang ditunjuk Ayahnya. Ia tersenyum tipis dan masih menunjukkan kegelisahan. Ia kikuk, sedikit linglung.
“Saya, Riana,” ucap Riana akhirnya. Tara hanya melihat dan memberikan senyuman simetris padanya.
“Nak, Riana.” Bu Amba melirik Riana dan menyodorkannya sebuah kado lalu memberikannya. “Tante tau, pasti rasanya kamu akan bingung mengenai perjodohan ini, tetapi tante hanya ingin berterimakasih sekali karena sudah bersedia untuk menikah dengan Tara. Semoga Papanya Tara bisa senang karena keinginannya akan terwujud.”
Riana mendengarkan dan menerima kadonya namun tidak dengan pernikahan yang dipaksakan ini. apalagi
harus menikah dengan laki-laki yang umurnya beda 11 tahun dengannya.
“Nggak papa, Tante. Riana terima.”
Bu Amba sangat lega mendengarnya. “Terimakasih, sayang.” Katanya.
“Baiklah. Karna semuanya telah berkumpul, mari kita mulai saja penentuan tanggal pertunangan serta pernikahan mereka.” Kata Bu Cantikka.