Miss Arrogant

Miss Arrogant
Bab 3: Malu



Di tempat fitting baju, mereka mencoba untuk memilih gaun dan jas yang cocok untuk pernikahan mereka nanti. banyak busana model terbaru yang akan dicoba oleh Rania.


"Ambilkan semua yang paling baru dan terbaik disini," kata Riana.


"Baik, Nona. Ohya, apa calon suami anda tidak ikut untuk memilih?" tanya pelayan itu.


Rania menggeratkan giginya, malas menjawab.


"Saya calon suaminya." Anjung Tara yang ada dibelakang Riana.


"Oh"


Pelayan itu nampak kejut. Ia mungkin berpikir kalau laki-laki yang ada dibelakang Rania adalah sang adik.


"Cepat, Mbak. Saya nggak bisa nunggu." Dengus Riana.


Lalu setelahnya, pelayan itu pergi mengambilkan beberapa pasang gaun mode terbaru.


"Tuan dan Nona bisa mencobanya diruang ganti."


Riana dengan cepat pergi ke ruang ganti begitu pun Tara yang ingin mencoba juga.


Tidak lama Riana keluar dan memperlihatkan gaun yang ia pakai kepada Tara yang masih bercermin.


Tara berbalik, "Wow, itu bagus." Puji Tara.


Riana mendengus, "Aku kurang suka desainnya," ucap Riana dan memilih kembali pakaian yang sudah di persiapkan.


Ia kembali mencobanya di ruang ganti dan kembali memperlihatkan Tara.


"Desainnya bagus, buat kamu cantik?" Tara memberikan senyumnya.


"CK, aku nggak suka. Terlalu polos!" kesalnya dan kembali memilih.


Sudah kesekian kalinya Riana mencoba gaun demi gaun dan Tara menyukainya namun Riana malah sebaliknya. Padahal Tara harus pergi ke kampus sekarang.


"Bagaimana dengan ini?" tanyanya lagi.


Tara yang sudah bosan nampak tercengang saat gaun yang di pakai Riana terlihat tidak senonoh. Sedikit transparan dan akan sangat menonjol bila digunakan oleh Riana yang memiliki lekuk tubuh yang proporsional.


"Aku nggak setuju. Jangan pakai itu."


"Okey. Aku pilih ini." Final Riana yang mengejutkan Tara.


"Nggak, pilih yang lain dengan dress yang lebih panjang. Riana." kata Tara.


"No, aku jelas-jelas suka ini. Dari tadi desainnya semuanya sama. Aku ingin mencolok di pesta pernikahan aku sendiri." jelas Riana membuat Tara menghela nafas yang panjang.


"Kamu pergi kuliah aja sana!" sebal Riana yang sibuk melihat dirinya di cermin.


"Aku udah telat. Aku antar Kamu pulang."


Riana berbalik kearahnya.


"Aku akan naik taksi karena aku harus pergi ke tempat lain."


"Kemana?"


"Privasi."


Huh....


lagi-lagi Tara menghela nafasnya dan membiarkan Riana sibuk untuk berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian, Riana keluar dan tidak mendapati Tara disana lagi. Ia tidak peduli dan memilih pergi dari butik.


Riana pergi ke Apartemennya untuk membersihkan barang-barang Alex yang masih ada di ruangannya. Sejak mereka pacaran, Alex sering mengunjunginya dan sering menginap. Rania sudah menyiapkan trash bag untuk memasukkan semua barang Alex.


"Riana!!!"


"Riana!!"


Seseorang memanggil membuat Riana kejut bukan main. Suara tersebut sangat ia kenal- Alex.


Bagaimana bisa Alex bisa masuk ke Apartemennya?


"CK" Riana berdecak dan merutuki dirinya sendiri karena lupa mengganti password apartnya.


Riana keluar dari kamar. Sementara Alex langsung memeluknya dengan erat.


"Alex, lepasin!!" Riana mencoba mendorong Alex namun tubuh laki-laki itu amat kuat dan besar.


"Maafin aku, Riana. Maafin aku. Kasih aku kesempatan kedua, aku janji bakal perbaiki semuanya." kata Alex yang terus memohon pada Riana untuk balikan.


Riana menggeliat, "Nggak ada kesempatan kedua!! I hate you!! Just hate!!!" cecar Riana.


Alex melepaskan Riana dan berlutut.


"Tolong, Riana. Maafin aku, aku salah, aku emang bodoh karena ngehianatin kamu. Riana, Please, maafin aku." Alex terdengar tulus namun Riana masih kesal dan marah.


"Aku nggak peduli, Alex! Hubungan kita udah berakhir dan sekarang mendingan kamu kejar wanita-wanita ****** disana! Jangan pernah liatin muka tolol kamu lagi sama aku!"


"Please, Riana. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu!!" tangisnya.


"CK, pergi sebelum aku panggil satpam kesini!!"


"Get Out!!!" pekik Riana karena sudah bosan melihat drama Alex.


Alex pelan-pelan berdiri, ia menatap kemarahan Riana padanya dengan sendu dan berbalik pergi.


"CK"


Riana dipenuhi amarah. Telah banyak masalah akhir-akhir ini yang menimpa dirinya membuat dirinya takut lepas kendali.


***


Ditempat lain, Tara tengah bertemu dengan teman-temannya di kafe dekat kampus.


"Tumben aja, lo, nggak masuk kuliah, men!" kata Rayan- teman kuliah Tara.


"Gue udah bilang, gue mau nikah dan tadi gue pergi fitting baju." Beritahu Tara.


"Ouh ****!! Seriusan, lo. Jadi bener, apa yang Lo bilang kemaren? Ahhh,!!" jelas Rayan kaget saat melihat Tara mengangguk dan menyeringai.


"Nggak nyangka, gue. Terus sama siapa? Sama Indah, Lo?!" Duga Rayan.


"Kenapa Indah?" Tara bingung melirik Rayan.


"Eh, bukannya Lo pacaran sama Indah, kan?!"


"Siapa bilang?! Gue nggak pernah pacaran sama Indah!!" Tegas Tara.


"Hah?!" Rayan semakin bingung.


"Terus kalau bukan Indah, siapa, dong?! Bukannya Lo sama Indah Deket banget, yah, sering ketemu di perpus?" Rayan masih menduga-duga.


"Huh"


"Gue sama Indah sering diskusi bareng dan buat project bareng dari dosen. Itu pun Indah yang mau satu project sama gue."


"Berarti Lo nggak suka sama, Indah?!" Rayan mulai tertarik dengan obrolan mereka menyangkut Indah.


Tara mengangguk. "Iyalah, gue cuma suka sama calon istri gue. Kalau masalah Indah, cuman sebatas teman project doang." jelas Tara.


"Ohhh my good!!! Gue pikir kalian pacaran!! CK!" Tayang terlihat senang. "Syukur deh, jadinya gue bisa deketin Indah sepuasnya!!" jelas Rayan nampak berbunga-bunga.


Tara geleng-geleng kepala karena sahabat konyolnya itu.


"Eh ya, jadi siapa calon istri, Lo?"


"Nanti Lo liat aja."


***


Sementara di apartemennya, Rania yang sudah selesai membuang barang-barang milik Alex memilih untuk pergi ke Bar.


D sana ia hanya minum sendiri. Beberapa pria menggodanya namun ia tidak menggubrisnya. Ia tidak tertarik dengan beberapa pria yang tidak sopan kepadanya apalagi tidak memiliki uang. Para pria-pria itu ia anggap hanya sebagai tontonan saja.


"Riana!" sapa seorang wanita yang baru datang.


"Hei, Carroll!" sapa Riana balik.


"Hei, kau sendiri?" tilik Carrol. "Sebastian, wine!" pesannya pada seorang bertender.


"Yeah, and Im not okay." jawab Riana.


"Ouh, why.... Masalah cinta? or family?" tanya Carrol.


"Dua-duanya..." kata Riana.


"Ouh, pasti berat. Tapi, Riana, kau tau, dunia yang luas ini emang memiliki banyak ruang sempit. Ketika kita punya harapan, disamping itu ada ketidakberdayaan. Sepertinya itu memang hal yang banyak dialami orang-orang sekarang. As i think, Im done with that!"


"Sebenernya aku nggak terlalu peduli tapi setelah dipikir-pikir, ini akan terus menyangkut hidup aku. And, yeah, so annoying!"


Carrol meneguk wine milknya.


"Ahhh, manis." kekeh Carrol membuat Riana tertawa.


Tawa Riana menyembunyikan masalahnya. Pahit dan manis seperti wine yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Carrol, aku harus pergi. Dan terimakasih karena jadi teman minum malam ini."


"Youre welcome...."


Riana berdiri.


"Dan jangan lupa 3 hari lagi, Im getting married."


Byurrr....


Dan setelah itu, Raina berlalu pergi meninggalkan Carrol dengan keterkejutannya.