
Kini Tara tengah menunggu Riana di halaman depan yang ditemani dengan lampu taman yang temaram. Tara nampak gelisah karena sudah lewat jam 12 malam, Riana belum juga pulang.
Baru saja menikah, Riana sudah membuatnya khawatir.
Dibeberapa menit selanjutnya, mobil Riana terdengar dan masuk menuju halaman. Tara menghampiri Riana dan ternyata orang lain yang menyetir, yaitu Sela.
Sela turun dengan cepat untuk membukakan Riana pintu mobil begitu pun Tara yang membantu.
"Sorry, Riana minum terlalu banyak." kata Sela yang nampak canggung dengan Tara.
"Riana mabuk?" tanya Tara.
Sela mengangguk, "Yah, temen kami ulang tahun, jadi kami ke Bar dan Riana banyak minum hari ini..." beritahu Sela yang kini mulai membantu Riana untuk keluar dari mobil namun Riana sudah tertidur dengan pulas.
"Biar aku aja yang gendong." kata Tara sementara Sela mempersilahkan Tara menggendong Riana.
"Enghhh...." Riana mengerang kecil dan kembali tertidur pulas di gendongan Tara.
"Titip, Riana. Saya pulang dulu." ucap Sela pamit.
"Mmmm, pake apa? Atau saya antar aja setelah menidurkan Riana?" tawar Tara.
"Nggak, nggak. Nggak usah, aku bisa pesen taksi. Kamu bawa aja Riana masuk ke dalam." tolak Sela.
Tara mengangguk sekali, "Yaudah, kalau begitu, hati-hati. Dan terimakasih karena udah nganterin Riana pulang." ucap Tara pada Sela yang tersenyum.
"Sama-sama. Yaudah, bye!"
Tara pun masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Riana untuk menidurkannya.
"Engghhhh..." Riana terus melenguh.
Saat sampai di kamar Riana, Tara langsung menidurkannya. Ia pun melepas sepatu heels Riana yang masih terpasang di kakinya. Setelah itu, Tara menarik selimut tebal untuk menghangatkan istrinya yang jelas sekali terlihat lelah dalam tidurnya.
Tara terdiam beberapa menit untuk mengagumi wajah Riana dan mulai berani mengelusnya, ia pun tanpa ragu mencium dahi Riana yang sama sekali tidak terganggu.
"Enghhh..." Riana melenguh lagi setelah ciuman Tara terlepas.
"Mmmmhhhppp...." Riana nampak mual dan terbangun. "Huekkkk...!!!" langsung saja Riana memuntahkan semua isi yang ada di perutnya ke lantai. Sontak Tara langsung menghindar.
Tara kaget, sementara Riana menidurkan tubuhnya kembali dan terlelap nyaman. Namun Riana terlihat kotor sekali apalagi bibirnya juga masih terdapat sisa-sisa muntahannya.
Tara akhirnya turun tangan dan dengan telaten membersihkan lantai dan juga wajah Riana.
Malam ini benar-benar cukup melelahkan bagi Tara dan Riana yang baru menjadi sepasang suami-isteri.
Keesokan paginya, Riana terbangun dari tidurnya yang cukup berat. Kepalanya masih terasa pusing, mengingat tadi malam ia minum dengan sangat banyak.
Namun saat ia membuka selimut itu, rasanya janggal dan aneh. Riana bingung akan sesuatu yang berbeda darinya. Baju? Bajunya berbeda dari apa yang ia pakai kemarin.
Riana terkejut. Matanya melebar. Bagaimana bajunya bisa berganti sendiri? Ia kan teler dan tidak sadarkan diri.
"Apa jangan-jangan, Tara?" batinnya.
Dengan cepat ia berlari keluar mencari Tara. Namun orang yang dicari sepertinya tidak menunjukkan keberadaannya. Malahan ia menemukan menu sarapan yang tersedia di meja dengan surat kuning yang tertinggal.
Riana mengambil dan membacanya.
"Jangan lupa sarapannya di makan. Dan minum teh hangat juga biar pusing kamu ilang." dan bagian bawah kanan pojok surat diakhiri dengan kata "Dari suami Riana.... Tara." dengan emoji senyum yang membuat Riana berdecak.
Ia sedikit geli membaca kalimat di akhir.
Rania pun melihat teh yang masih mengepul dengan asap, ia mengambilnya lalu meminumnya. Dengan cepat ia menghabiskannya tanpa menyentuh sarapan lain yang dibuat Tara.
Masih teringat dengan masalah pakaiannya yang berbeda, ia menepisnya dan mulai bersiap kerja.
Ditempat lain, Hanan tengah mengunjungi kedua orangtuanya. Ia berniat untuk menceritakan masalah perusahaan dengan sang ayah agar Pak Saka membantu Riana untuk menemukan solusi dari beberapa sahabat ayahnya.
"Hanan!" Ibunya menyambut dengan sangat baik.
Hanan menyalami Bu Cantika serta Ayahnya yang baru saja keluar dari kamarnya dengan kursi roda.
Mereka duduk dan Bu Cantika duduk disamping putranya yang sangat ia rindukan.
"Nak, bagaimana kabarmu dan Leyna?" tanya Ibunya.
"Baik, sayang. Ayah lebih sehat dari sebelumnya, dia sudah rajin check up." jawab Ibunya.
Hanan lega mendengarnya dan mulai terdiam sejenak dan menimang kembali apa ia harus menceritakan masalah itu dengan sang ayah atau tidak?
"Apa yang terjadi, Hanan?" Kini Pak Saka bertanya.
Hanan yang menunduk menegakkan pandangannya. "Ayah" ucapnya terdengar kesah. "Hanan ingin bilang, ka... kalau..." Hanan nampak gugup. Ia tidak seharusnya menceritakan ini pada ayahnya sesuai dengan keinginan kakaknya.
"Kenapa, nak?" Bu Cantika menanti ucapan anaknya yang tampak ragu mengatakannya.
"Itu, Ibu. Leyna ingin meminta tonik herbal yang dulu Ibu kasih saat Hanan sering sakit dulu, apa ada, Bu?" kata Hanan akhirnya yang beralasan.
"Leyna sakit apa, sayang?" tanya Bu Cantika yang nampak khawatir.
"Cuma sakit biasa aja, kok, Bu. Jangan terlalu khawatir, Leyna bakal baik setelah minum obat dari Ibu." kata Hanan lagi.
"Kalau gitu, Mama ambilin dulu, ya." Bu Cantika pun pergi ke dalam untuk mengambilkan Hanan obat leluhur mereka.
Hanan nampak tegang saat menghadapi ayahnya yang memang sedari dulu tidak terlalu dekat dengannya kecuali Riana yang memang dekat dengan sang Ayah walau dengan didikan yang keras.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Pak Saka.
"Hanan belum menghubungi Mbak Riana, Ayah." jawab Hanan.
"Kunjungi dia, karena Ibumu masih marah dengannya karena masalah perusahaan. Kamu sudah tau itu?" jelas Pak Saka.
"Tau, Yah."
"Apa kamu marah juga dengan Riana?" tanya Pak Saka lagi.
Hanan terdiam, tatapannya menunduk.
"Ayah tau apa yang terjadi, nak." beritahu Ayahnya membuat Hanan langsung melihat Ayahnya, ia nampak terkejut bukan main.
"Ayah sudah duga ini akan terjadi dan Riana pasti akan melakukannya hal seperti ini."
"Ibu tahu, Yah?" Tanya Hanan khawatir.
Pak Saka menggeleng. "Belum, dia belum tau. Makanya dia menahan diri untuk melihat Riana padahal dia sangat merindukannya." jawab Pak Saka membuat Hanan semakin merasa bersalah.
Karena dirinya, kakaknya harus menikah dengan orang yang tak dicintainya, bertanggung jawab dengan masalah perusahaan bahkan Ibu mereka marah padanya. Kakaknya begitu banyak menanggung beban karena dirinya tapi dia berusaha untuk jujur saja pada kedua orangtuanya malah tidak bisa.
"Hanan! Ini obatnya," ucap Bu Cantika yang baru datang dan memberikan Hanan obat herbal. "Cepat berikan Leyna minum ini, dan semoga dia cepat sembuh." Kata Riana.
"Makasih, Bu."
"Iya, sekarang kamu pergi pulang sana, kasian Leyna sendiri di rumah." kata Bu Cantika yang khawatir.
"Iya, Bu. Kalau gitu, Hanan pergi, ya." Pamit Hanan yang mulai berdiri dan menyalami kedua orangtuanya.
"Hati-hati, Sayang."
Hanan mengangguk, dan mulai berlalu pergi. Namun seakan teringat, ia berbalik. "Bu." Ia memanggil Ibunya.
"Ya, sayang?"
"Mbak Riana ingin dibuatkan opor sama Ibu, apa ibu mau buatin?" kata Hanan membuat sang Ibu terdiam.
"Kalau Ibu nggak mau, nggak papa. Nanti Hanan bilang kalau Ibu nggak bisa dan Hanan bisa beliin Mbak Riana opor di luar sana." Alibi Hanan dengan sedikit drama.
Karena tidak ada jawaban, Hanan memutuskan untuk pergi.
"Ibu mau, nak!" kata Bu Cantika akhirnya dengan cepat. Hanan berbalik.
"Ibu mau buatin mbak Riana opor ayam?" tanya Hanan lagi antusias.
Bu Cantika mengangguk walau kelihatan tak bersemangat.
"Yasudah, besok Hanan jemput Ibu kalau begitu." Kata Hanan yang bahagia mendengarnya.
Ia tahu ibunya tidak akan menolak untuk membuatkan putri kesayangannya makanan kesukaannya. Ia pula tidak ingin Ibunya terus marah dengan kakaknya karena dirinya. Ini sangatlah tidak adil bagi Riana.