
Mentari siang begitu terik, sampai bisa menyilaukan mata telanjang. Pantulan cahayanya bisa membuat fatamorgana yang membuat seorang mengeluh kepanasan. Ketukan sepatu ramping dengan tumit yang lancip membuat langkah seorang sedikit memburu. Ia melangkah keluar dari gedung yang menjulang tinggi menuju mobil sedan silver yang baru saja dinaikinya. Lajuan mobil itu berbalik menuju jalan besar tengah kota.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya java tradisional home yang desain interiornya berukiran rumit disetiap dinding kayu yang terlihat begitu mewah sekaligus menenangkan. Halaman luas yang dirimbuni rerumputan hijau menambah keasrian rumah ini.
Wanita itu mulai menyeret langkahnya memasuki rumah tersebut. Tanpa menunggu seseorang membukakan pintu kayu dua lengan itu, ia mendorongnya. Langkahnya kian memburu di setiap lorong sampai langkahnya terhenti di depan kursi roda yang diduduki oleh seorang laki-laki tua yang masih terlihat segar bugar.
Rambutnya putih mengkilat, namun sedikit menyisakan rambut hitam dibagian batok kepalanya. Baju sweether tebal melekat ditubuhnya serta syal berserat yang melingkar dilehernya. Kepalanya mendongak, menatap seseorang yang baru datang dengan wajah kesal.
Wanita itu menghela nafasnya sesal lalu menatap bola mata laki-laki tua itu. Raut wajahnya datar, terlihat percaya diri nan tegas. Kedua tangannya menyatu padu saling mengait dan sedikit menundukkan kepala.
“Ariana,” ucap laki-laki tua itu lirih, suaranya serak terdegar lemah.
“Apa kali ini, Ayah?” tanya wanita itu yang bernama- Ariana Saksariyoto Djamono. Tatapan itu penuh selidik dari panggilan penuh minat Ayahnya.
“Menikahlah.” Tanpa basa basi ayahnya mengatakan sesuatu hal yang membuat mata belonya membulat, kerutan dikening mulai tercetak jelas. Tatapan itu tidak dipenuhi selidik lagi, tetapi guratan kebingungan yang hampir membuatnya kaget tersentak.
“Apa yang ayah ingin bicarakan sama Riana sebenernya?” tanyanya bingung, heran dengan penuturan mengejutkan itu.
“Ayah hanya ingin memintamu menikah saja, makanya Ibu menghubungimu,” ujar seseorang yang baru menyela pembicaraan keduanya. Seorang wanita tua dengan sanggulan jepit merah dibelakang rambut hitamnya.
Ariana menolehkan lirikan kepalanya pada wanita tua itu- Cantikka Veranita- Ibu dari Ariana.
"Ibu?"
“Menikahlah, kamu sudah tidak lagi muda. Umurmu sudah kepala 3, Rania. Ibu harap tidak ada bantahan, kami sudah memilihkan calon yang tepat buatmu.” Tegas penuturan Ibunya membuatnya mendengus kesah, lalu terkekeh getir menatap Ayahnya.
“Ouh, kalian lagi-lagi nggak pernah menghargai aku.” ucapnya penuh kegetiran.
“Jadilah CEO diperusahanku. Apakah itu lebih menghargaimu, Ana?” balas Ayahnya tajam. Lagi-lagi ia mendengus kesal sekaligus menyeringai.
“Ana. Mengertilah, kami hanya ingin membantu teman kami dengan ini.” tukas ibunya lirih.
“Membantu apa ibu. Ibu sedang membantu siapa sampai menyuruhku menikah segala.” Pekik Riana.
“Ini tentang wasiat sekaligus janji kami, Ana,” kata Cantikka lemah.
“Keluargaku memang selalu melakukan semua hal tanpa mempertimbangkan denganku. Itu sedikit wajar, tapi kali ini tidak lagi. Ini seperti kalian menjadikanku sebagai domba yang bisa diperjualbelikan.” ungkapnya kesal.
“Ana. Fikirkan usiamu sekarang, fikirkan segala hal untuk masa depanmu juga. Kami tidak semata-mata membuat janji yang nantinya akan merugikan kamu. Kami telah berfikir matang dan itu adalah keputusan terbaik untuk kamu,” tutur Ibu Cantikka. Riana menghela nafasnya gusar.
“Riana. Kamu tidak bisa menolak kali ini. persiapkanlah dirimu untuk menemuinya besok. Tidak ada penolakan sekali, pun. Ini adalah janji yang harus kami tepati. Dan kelola perusahaan itu sekaligus kau sebagai pemimpinnya.” Tutur tegas dari sang Ayah.
“Ck, Apa Ayah sudah nggak percaya sama adikku Hanan demi pernikahan ini?” kataku akhirnya.
“Tidak. Aku tau kau lebih kompeten dan serius menjalani perusahan itu. Jadi, terimalah ini dan persiapkan dirimu untuk menerima pernikahan ini.” kata pak Saka lagi. Satu helaan nafas dalam ia keluarkan perlahan menormalkan perasaannya yang campur aduk tak karuan
Cantikka mendekati anak sulungnya itu, “Jangan buat aku mati berdiri, Ana.” Kesahnya. “Sekali saja dengar apa yang Ibumu ini katakan, Ibu akan sangat berjasa seumur hidup kalau kamu menyetujuinya.”
Hah…
Riana terdiam dan memutar bolanya matanya malas, ia sangat kesal mendengar kata-kata ibunya.
“Okey, Ini semua demi ego kalian dan perusahanmu Ayah. Aku pergi.” Ujar nya dengan penekanan dan amarah yang terkendali.
Ia lalu membawa dirinya pada Ayahnya, menyalami tangan serta mencium punggung tangan keriput itu. Setelah itu, ia berlalu tanpa melihat wajah Ayahnya yang menatapnya gundah.
Ia menghampiri Ibunya dan menyiumi punggung tangan itu. Setelahnya ia langsung melenggang pergi dengan raut wajah kesal yang tak bisa ditepis.
Kekesalan hari ini akhirnya membawa dirinya pada sebuah restoran mewah ditengah kota Jakarta. Suasana sempurna untuk para kalangan elit menyegarkan diri, berbincang ria dengan rekan atau kekasih.
Ia memasuki ruangan restoran tersebut, matanya seperti mencari seseorang. Terdengar seruan kecil dengan lambaian tangan beberapa wanita serta para pria tengah duduk dikursi empuk yang melingkar. Dengan langkah yang anggun serta raut wajah tegas, ia akhirnya berjalan untuk menghampiri mereka.
“Hai, guys,” sapa Riana sambil mengambil tempat duduk disebelah teman wanitanya yang berkulit sawo matang dengan rambut kriting.
“Hai, Riana?” semua temannya menyapanya dengan sunggingan senyum lebar.
Semua teman perempuannya ada tiga orang dan teman laki-lakinya terdiri dari dua orang. mereka semua telah menikah kecuali Riana dan teman yang ada disebelahnya- Selena.
“Ada apa, Riana? tumben sekali kamu menyuruh kami datang kesini, biasanya di Bar.” tukas Daniah akhirnya pada Riana. Semua menatapnya penuh selidik membuatnya menghela nafasnya segan.
“Aku akan menikah.” Ucapnya malas tetapi mampu membuat semua temannya berhasil cengo penuh minat dengan penuturan Riana.
“Oh, astaga. Riana, apa kamu bercanda? Kamu akan ninggalin aku sebagai jomblo terlama, ck,” ungkap Selena tidak terima dengan penuturan Riana yang membuatnya tercengang.
“Serius? sama siapa? Alex?” tanya Briana yang tengah menduga-duga.
“Selamat, Riana. Akhirnya kamu nggak jadi perawan tua. Hahaha” seloroh Bagus- Suami Briana terkekeh mengejek.
“Riana, jawab dong. Sama siapa?” tanya Domani yang tengah dilanda penasaran.
Riana hanya mendengus dan malas berucap.
“I don’t know,” jawabnya malas.
“Au,” mereka berdelik. Bingung sekaligus heran dengan sahabatnya yang terlihat tidak bersemangat seperti ini. Bagai ikan yang berjemur dipadang pasir.
“Riana. Apakah kamu dijodohin?” tanya Daniah menelisik.
Riana menganggukkan kepala kesah. Semua temannya turut menghela nafasnya dengan lemah, mengerti dengan perasaan Riana yang tengah dilanda kegelisahan.
“Ri. Kapan kamu akan ketemu sama dia?” tanya Selena.
“Besok. Dengar, ini cuman pernikahan bisnis doang. Dan demi perusahaan bokap yang akan jadi milikku. Kalian tau, kan, aku nggak percaya sama siapa pun walaupun dengan adik sendiri.” Ucap Riana.
"Wow, its perfect choice.” Kata Domani.
“Yeah, she’s Riana, tidak ada yang perlu dicemaskan, right?” tambah Bagus.
Riana nampaknya tidak terintimidasi dengan pernikahan ini. Rasanya ia benar-benar tidak perduli dengan apapun kecuali dirinya sendiri.
“About Alex, I don’t care abot him anymore, I kicked him. You know, guys, dia itu kayak kodok, suka lompat sana sini. Siapa yang mau nikah sama cowo kayak dia. Never!!!”
Sepertinya semua temannya tidak lagi cemas dengan masalah Riana kali ini, karena mereka tau akan sikap Riana yang dipenuhi dengan ego.
“And for you, Sel. Jangan terlalu pemilih. Virgo emang gitu pemilih, jadi jodohnya pun sulit.” Tukas Domani mengejek.
“Diam, deh, Don.” Pekik Selena.
Mereka hanya terkekeh melihat raut wajah Selena yang kesal seperti itu.
“Ri. Goodluck buat pernikahan kamu nanti.” Ucap Briana tulus.
“Yah. Kepala gue pusing, faktor umur kali, ya. Hahah” kekehnya yang membuat suasana lebih berwarna. Teman-temannya tertawa, memberikan dukungan pada Riana yang apatis.