Miss Arrogant

Miss Arrogant
Bab 7: Malam Pertama?



Pernikahan sudah terlaksana dengan lancar. Dan sekarang, Riana dan Tara sudah menempati rumah baru mereka yang dihadiahkan oleh Bu Amba.


Riana dari tadi mendengus sebal karena sudah kelelahan dari pagi hingga malam. Acara yang begitu sederhana namun sangat lama dan membosankan.


Apalagi Sela yang sedari tadi mengejeknya karena melihat tampang Tara yang ia bilang sangat muda dan rupawan. Ia begitu dicerca banyak pertanyaan dan godaan dari wanita single itu.


"Aku tunjukkan kamar kamu, ayo." kata Tara yang membantu Riana membawakan koper besarnya.


Riana yang begitu lelah beranjak dari duduknya dengan malas. Ia lalu mengikuti Tara ke ruangan yang akan menjadi kamarnya.


Setelah sampai, Tara menaruh koper Riana di dekat lemari sementara Riana duduk di bibir ranjang menunggu Tara pergi. Namun nampaknya Tara yang senyum-senyum sendiri melihat Riana hanya diam ditempat dan mulai mendekat.


Riana berdelik, "kamu mau ngaipan?" Tanya Riana dengan dingin.


"MMM, ini kan hari... pertama kita?" mesemnya.


"Terus?"


"Gimana kalau... aku tidur di..."


"Pergi, aku capek." usir Riana ketus.


"Tapi, apa aku boleh tidur disini malam ini? aku nggak bakal lakuin apa..."


"Aku bilang pergi. Kamu nggak inget syaratnya, ha? Udah sana, aku mau tidur!" cecarnya.


Tara nampak kecewa, "Yaudah, deh. Selamat malam." Ucap Tara dengan senyum simetris sebelum keluar.


Pintu ditutup Tara dan langsung saja Riana terkapar di ranjangnya karena pasokan kesabaran sudah habis.


Ditempat lain, Tara yang memasuki kamarnya sendiri langsung terduduk di ranjangnya dan terdiam sejenak memikirkan pernikahannya dengan Riana.


Ia bahagia, sangat bahagia namun tidak dengan pisah kamar. Malam pertamanya sangat suram, tidur sendiri tanpa memeluk sang istri. Bagaimana bisa ia tidur malam ini?


Keesokan paginya, Riana keluar dari kamarnya dengan sangat rapi dan siap untuk pergi bekerja.


"Morning..." sapa Tara yang tiba-tiba mengejutkan Riana dengan celemek biru pada tubuhnya.


Riana mengeryit,


"Ayo, sarapan dulu. Aku udah buatin kamu telur mata sapi, dan susu bervitamin tinggi. Ayo!" kata Tara dengan antusias.


"Aku nggak biasa sarapan terlalu pagi. Aku sarapannya di kantor aja." tolak Riana.


Tara mendekat, "Nggak. Sarapan pada jam segini lebih baik, loh. Ayo..." Tara memegang lengan Riana untuk mengajaknya namun Riana menepisnya.


"Aku udah bilang jangan pernah paksa aku, aku udah bilang aku nggak terbiasa makan jam segini. Aku telat." Ketus Riana dan pergi berlalu meninggalkan Tara yang lagi-lagi nampak kecewa.


Ia pun melepas celemeknya dan membuangnya dan pergi ke kamarnya untuk bersiap ke kampus. Namun di saat ia mengambil handuk, suara ponselnya berbunyi di nakas. Ia lalu mengangkatnya.


"Halo, Mah?"


"Halo, sayang." Sapa Bu Amba. "Gimana malam kalian?" tanya Bu Amba nampak menggoda putranya.


"Baik, Mah." Alibinya. "Mama kenapa nelpon pagi-pagi?" tanya Tara.


"Ouh, Mama ganggu, ya?"


"Nggak,"


"Kalau Mama ganggu, mama tutup, deh."


"Nggak, Mah. Mama ngomong aja, ada apa?" tanya Tara lagi yang tidak mau mendengar godaan Mamanya.


"Mama udah pesankan kamu tiket bulan madu ke Bali. Tiketnya kamu ambil ke rumah Mama ya nanti sore." Beritahunya.


"Mah, kenapa pesan tiket sih, Tara kan belum tanya sama Riana kalau di mau atau nggak."


"Sayang, kenapa cepat, bulan madu kamu seharusnya memang sekarang. Kamu baru nikah, sayang. Kamu seharusnya bulan madu sama Riana." jelasnya. "Riana mana? biar Mama kasi tau dia."


Tara gelisah, Riana sudah pergi kerja sementara dirinya akan kuliah tapi dia tidak bisa mengatakan yang sejujurnya karena nanti Mamanya akan marah.


"Riana lagi mandi, Mah. Tara tutup dulu, ya. Tara mau mandi juga, byeeeee Mah."


Tut...


Tara dengan cepat mematikannya dan mendesah kasar.


Setelah mandi dan bersiap, Tara bersiap untuk pergi ke kampus.


Sementara itu di kantor, Riana tengah mendapat telepon dari Sela.


"Halo, Ya, Sel?"


"Uhuy, yang udah nikah, nih. Maaf ganggu..." goda Sela membuat Riana berdecak malas.


"Ada apa?" tanya Riana malas.


Riana mendengus, "Aku dateng!" jelas Riana.


"Bulan madu dulu kali, RI. Aku rekomendasiin tempat honeymoon mau? banyak, nih!"


"Aku sibuk di kantor, bego!" cecar Riana.


"Ha?! Kamu di kantor, RI?!" terdengar jelas suara Sela yang kejut.


"Heem..."


"Kok bisa, seharusnya kamu persiapan bulan madu. Kenapa malah kerja, padahal enak, loh, bulan madu sama suami kamu yang muda dan ganteng. Seha..."


Tut...


Karena tidak ingin mendengar celotehan sahabat nya, Riana langsung mematikannya. Ia tau pasti Sela sedang memakinya sekarang.


Masalah kantor masih sangat membebaninya, apalagi ia harus melakukan PHK terhadap beberapa karyawannya di setiap cabang. Hampir saja perusahaan nya yang telah di dirikan oleh kakek dan neneknya bangkrut karena Hanan- adiknya yang tidak kompeten mengelola setiap sektor pemasaran. Malah kelilit hutang dan berdampak pada hukum.


Sementara itu di Kampus, seorang perempuan berlari dan memanggil nama Tara di lorong kampus.


Tara berhenti dan berbalik, "Indah?"


Huh huh...


Indah melonggarkan urat nadinya setelah berlari.


"Sorry," jelasnya dengan nafas yang masih terengah-engah.


Tara mengeryitkan dahi, "Ada apa, Indah?" tanya Tara.


"Pak Danu cari kamu katanya nyuruh kamu ke ruangannya, dan desusnya kalau dia bakal minta kamu jadi Asisten dia." beritahu Indah.


"Serius, Ndah?" Tara nampak senang.


"Iya, semoga aja, ya. Kamu bakal lebih sibuk dari ini," kekeh Indah yang turut senang melihat Tara senang.


"Makasih, ya, Ndah. Kalau gitu, aku kesana. Bye!"


"Nanti ketemu di perpus, ya." ucap Indah sebelum Tara pergi.


"Okey!"


...****************...


Huuuuu....


Suasana dalam Bar nampak sangat ramai. Musik dari DJ dengan lampu disko yang turut bergoyang kelap-kelip menambah kegilaan para pendatang yang berjoget ria.


Riana yang baru datang menelusuri tempat itu mencari teman-temannya yang sedang duduk bersama dan bersenang bersama.


Sela yang sadar akan kedatangan Riana langsung menyambutnya, begitupun teman-temannya yang bersorak.


"Riana!! "


"Riana!! Aku nggak nyangka kamu jadi dateng." bisik Sela pada Riana yang tidak memperdulikannya.


"Wow, Riana. Yang udah nikah tapi nggak ngundang-ngundang!" kata Bagus yang kini tengah merangkul Briana.


"Nggak penting," balas Riana.


"Sekali lagi congrats, Riana. Yah, walaupun menyembunyikan wajah suaminya dari kita, hahahha...!!" kata Daniah.


"Udah, deh. Jangan ganggu, Riana. Mending sekarang, kita rayain birthday nya, Briana...! Okey!!" kata Sela agar Riana tidak dicecar masalah pernikahannya.


"Happy birthday, Ana. Sorry, kadonya besok aja, ya." kata Riana yang memeluk Briana yang bersiap untuk meniup lilin yang di siapkan oleh Bagus.


"ITS okey, RI. Yang penting kamu dateng." balas Briana.


"Ouh, soosweettt...!" goda Dion membuat semuanya tertawa.


"Okey, semuanya sekarang, Briana tiup lilinnya."


Huh....


Briana meniup lilin tanpa iringan lagu. "Dan, ambil gelas kalian!" kata Sela lagi.


Semuanya mengambil minuman itu dan mengacungkannya bersama-sama ke atas.


"Sebelum minum, gue mau doa dulu," ucap Sela. "To Briana, Happy birthday dan tahun ini gue bisa jadi Rich Onty!!" kata Sela yang membuat semuanya bersorak.


"Yuhuuuuu...!!!"


Semuanya pun minum bersama dan Riana melupakan seseorang yang tengah menunggu dengan khawatir di rumah.