Mikhayla Chintya Andira Candra Winata

Mikhayla Chintya Andira Candra Winata
taman



''Tapi Milka itu temanku, jadi mau nggak mau, terima atau nggak terima. aku harus tetap jadi obat nyamuknya mereka'' kata Nanda dengan tidak berdaya


''ya ampun, sabar ya'' kata vino sambil mengelus kepala Nanda. dan membuat Nanda sangat kaget.


''kak vino ngapain pegang-pegang'' marah Nanda kemudian menjauhkan tubuhnya hadapan Vino. dan juga membuat vino merasa bersalah.


''maaf ya, aku nggak sengaja'' kata vino lembut, dan menundukkan kepalanya


''yauda la, jangan ulangi lagi'' kata Nanda ketus dan menatap mata Vino


mereka pun saling pandang, tanpa mereka sadari tiba-tiba muncul debaran di hati mereka. tiba-tiba Rangga dan Reza keluar untuk melihat mereka.


''ehm... ehm'' suara Rangga yang seperti orang tersedak, dan membuat vino dan Nanda tersadar


''kamu kenapa ga'' tanya Vino yang menghampiri Rangga. dan dia sangat bersyukur karena kedatangan Rangga kalau tidak entah apa yang akan terjadi antara dia dan juga Nanda


''entahlah tenggorokanku rasanya tidak enak'' jawab Rangga dengan menatap Vino dan juga Nanda


''perlu aku carikan minuman?'' tanya Vino dengan santainya.


''tidak usah, bukan Rangga saja kok yang tenggorokannya tidak enak. tetapi aku juga'' jawab Reza dengan santai dan membuat Vino semakin kebingungan.


''apakah menular?'' tanya Vino dan membuat semuanya kaget.


Reza pun memukul kepala Vino ''kamu ini ya'' Kata Reza dengan geleng-geleng kepala karena melihat tingkat temannya Vino yang membuat mereka sangat geram


''udah-udah Jangan marah-marah za, mending sekarang kita masuk, kasihan Maya dan Milka menunggu kita di dalam'' kata Rangga dengan lembut kemudian terbayang wajah milka di dalam benaknya.


''iya kamu benar'' jawab Reza dengan tegas. kemudian mereka berdua langsung berlari ke dalam untuk menghampiri Maya dan Milka. Vino dan Nanda hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah temannya yaitu Rangga dan juga Reza.


''sepertinya mereka pusing parah'' kata Vino sambil menatap bayangan Rangga dan Reza yang perlahan menghilang


''ya biarlah, Kak Vino sekarang bilangin Kak Rangga dan Kak Reza begitu. nanti kalau Kak Vino yang jadian takutnya Kak Vino yang lebih bucin'' kata Nanda dan membuat Vino semakin memikirkan akankah dia dapat jadian dengan anda wanita yang membuatnya merasakan getaran.


''kak Vino, kak Vino Kenapa tiba-tiba diam?'' tanya Nanda yang memperhatikan Vino tiba-tiba terdiam entah apa yang telah ia pikirkan dan membuat Nanda menjadi penasaran.


''enggak, aku nggak ada mikirin apa-apa kok'' jawabnya dengan santai dan berusaha agar Nanda tidak bertanya-tanya lagi tentang apa yang sedang ia pikirkan.


''oh ya sudah kalau begitu, oh iya, Sekarang kita mau gimana mau lanjut keluar atau ikut masuk ke dalam?'' tanya Nanda yang tidak tahu harus pergi ke mana


''sepertinya kita tidak boleh ikut mereka deh, nanti kita jadi obat nyamuk'' kata vino dengan tampang datarnya


''yah yang Kak Vino bilang benar, tapi kita mau pergi ke mana?'' kata Nanda yang masih kebingungan. Vino malah dengan santainya menarik tangan anda tanpa mengatakan apapun


''eh tunggu dulu kak, kita mau ke mana?'' Tanjung Nanda yang masih dengan rasa kebingungannya. dan jujur ia takut ketika harus berduaan dengan Vino. dia takut kalau jantungnya tidak bisa dikondisikan dan malah membuat mereka jadi sangat canggung.


''udah kamu ikut aja, kamu tenang aja aku nggak bakal apa-apain kamu'' jawab Vina dengan santai dan perlahan Nanda pun mulai lunak


mereka berdua pun pergi, ke suatu tempat yang tidak jauh dari rumah Maya. yah di dekat rumah Maya ada sebuah taman yang sangat besar, Vino mengetahui taman itu karena tadi saat berangkat ia melihatnya.


''wah tamannya indah banget, kakak tahu dari mana di sini ada taman?'' tanya Nanda dengan antusias dan menatap sekeliling taman, ia merasa sangat bahagia.


''kebetulan tadi ketika kita menuju ke rumah Maya, aku melihat taman ini'' jawab ini dengan jujur.


''terus kenapa nggak dari tadi Kak Vino ajak aku ke sini, capek tahu berdiri di depan rumah kak Maya'' kata Nanda sambil menatap ke arah dengan ekspresi yang juga menegang.


Nanda yang melihat Vino menarik telinganya, merasa hal itu sangat lucu dan membuatnya tertawa hingga terbahak-bahak


''hahaha''


''kamu kenapa ketawa, perasaan tidak ada yang lucu di sini?'' tanya Vino dengan wajah kebingungan dan melihat ke sekitar Apa yang membuat anda ketawa namun nihil ia tidak menemukan apapun.


''tidak apa, hanya saja aku merasa kak vino sangat lucu ketika menarik telinga kak vino sendiri''


''bagaimana?''


''ya lucu lah, apa lagi kakak seperti anak kecil yang berbuat salah. hehe''


vino yang mendengarnya merasa malu. ''apa yang kamu bilang Nanda?'' tanya nya kemudian mengejar Nanda yang berlari melihat ekspresi Vino


mereka berdua pun berlarian dengan seenaknya tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitar mereka. tanpa sengaja Nanda menabrak anak kecil dan membuat pernyataan jatuh, dan membuat anak itu menangis.


''huhu''


''adek kenapa? kakak minta maaf, Jangan nangis ya'' kata Nanda mencoba menenangkan anak kecil tersebut.


''permen aku jatuh. huhuhu''


''adek jangan nangis, kakak beli permen dulu. Nanda kamu disini dulu ya, jaga Adek ini'' perintah vino kemudian langsung pergi untuk membeli permen


''ok kak, Adek jangan nangis ya, teman kakak lagi beli permen nya.


anak kecil itu hanya mengangguk. ketika vino kembali, anak kecil itu tersenyum melihat vino membawa banyak sekali permen.


''ini buat Adek, Adek suka?'' kata vino dengan senyuman dan memberikan permen kepada anak kecil itu.


''terimakasih kak, aku pergi dulu ya, maaf jadi ganggu kakak pacaran'' kata anak kecil itu dan membuat vino dan Nanda saling melihat. kemudian anak kecil itu pergi meninggalkan mereka.


setelah kepergiannya vino dan Nanda masih saling melihat satu sama lain, dan mereka merasa canggung dengan situasi mereka saat ini. untungnya deringan telepon membuat mereka sadar.


''hallo'' kata Vino


''kalian dimana? kami sudah mau kembali ke asrama'' kata Reza


''ok, kami kembali ke rumah Maya'' kata vino kemudian mematikan telepon.


''siapa yang telepon?'' tanya Nanda yang penasaran


''reza, dia bilang. kita harus kembali cepat, soalnya mereka sudah ingin pulang ke asrama'' kata vino dengan lembut, namun tidak berani menatap mata Nanda.


''ok, kalau begitu ayo, nanti kita di tinggal lagi'' kata Nanda. kemudian mereka langsung berjalan cepat menuju rumah Maya. namun karena langkah Nanda yang kecil vino menggandeng tangan Nanda agar tidak terpisah dengannya.


Nanda menyadari kalau vino menggenggam tangannya. namun, dia tetap diam. karena dia berpikir mereka harus cepat sampai kalau tidak mereka akan di tinggal dan terpaksa harus pulang menggunakan angkutan umum, dan mereka tidak tau harus naik apa.


-


-


Hay teman-teman, Dyaf up ya teman-teman. jangan lupa like, share, komen, vote, hadiah, dan selalu dukung Dyaf ya teman-teman 🙏