M

M
9



Tersenyum, lalu melayang mengikuti cewek itu yang berjalan masuk kamarnya.


Ceklek...


Cewek itu menutup pintu lalu meletakkan ponselnya di atas meja dekat kasurnya. Hantu itu langsung menembus, lalu melayang-layang di belakang Hannah.


"Eh, ikut enggak yah ke kamar mandi?" hantu itu berperang sendiri dengan pikirannya. Sudah biasa hantu berkeliaran meskipun di kamar mandi, apalagi kamar mandi yang kotor. Namun manusia perempuan kali ini berbeda, entah dari mana, Danny kembali menghargai privasi manusia.


Tidak di sadari, wajahnya memerah karena sempat ingin membuntuti Hannah ke kamar mandi.


"Bodoh!!" tepuknya dua kali pelan di jidat.


Akhirnya Danny menunggu Hannah sambil melayang layang, melihat lihat barang yang ada di kamar manusia itu.


"Hannah Islamiyah" ucapnya pelan untuk diri sendiri ketika membaca nama Hannah yang terpampang di buku tugasnya di atas meja.


"Hehe... nama yang cantik"


"thiapa?"


"Hah?"


Kepala Danny memutar 180 derajat, lalu matanya menyipit karena terkekeh saat menemukan hantu kecil yang memandangnya polos dengan mata mengerjap lucu.


"Hai. Siapa namanya?" Danny mendekat, lalu mengacak acak rambut hantu kecil itu.


"AAAAAAAAAAAAAA..........."


Danny terkejut karena hantu itu berteriak sangat keras, dengan aura biru mengelilinginya. Dalam sekejap hantu cilik itu berubah menjadi wujud aslinya, sekeliling matanya menghitam, dengan hidung yang tercuil di sebelah kiri juga darah di mana mana.


"Eh, maafin kakak ya, kakak nggak berniat buat kamu marah" senyum Danny canggung.


"Kakak? lebih cocok di panggil om tau!!" ketus hantu kecil itu dengan memalingkan muka.


"Hahaha... ih... lucunya..." tangan Danny terulur untuk mencubit pipi hantu cilik itu.


"Jangan thentuh akuuu!!"


"Eh, kenapa?"


"Aku enggak mau di thentuh om om athing"


Heh, apa katanya? om om? heleh, bahkan aku mati saja baru berumur 20.


"Emang kenapa kok aku nggak boleh sentuh kamu?"


"Eh, kenapa?" tanya Danny khawatir karena ekspresi hantu cilik itu tiba tiba murung.


"Dulu kata mama aku enggak boleh deket thama olang athing, takut di culik" matanya meneteskan banyak darah, membuat wajahnya semakin penuh darah. Nyaris seperti memakai masker. Sepertinya hantu cilik ini merindukan mamanya.


"Hehehe... kalo sama aku enggak perlu takut, aku orang baik kok" senyumnya tulus. "Mm... maksudku hantu baik" sambungnya dengan pandangan sendu.


"jadi om olang baik ya?!" wajahnya berangsur angsur berubah, menjadi layaknya wajah manusia normal namun kulitnya pucat, nyaris tembus pandang.


"Panggil aku kakak aja ya!!"


"Oke, thiapp both!!"


"Sipp... pinter" tangan Danny terulur mencubit pipinya.


"Eh, yang tadi kakak bicalain thiapa?"


"Emang tadi kakak bicara apa?"


"Nama yang cantik itu loh" wajah Hantu cilik itu tertekuk karena Danny tidak mengerti apa yang di maksud.


"Oh, namanya kakak yang tidur sini"


"Kak Hannah? aku kok enggak tau nama panjang kak Hannah ya?" hantu cilik itu mengetukkan jari telunjuk di dagunya dengan pandangan ke atas.


"Itu ada di bukunya" Danny menggendong hantu cilik itu, lalu melayang mendekati meja belajar Hannah, dan duduk di kursinya.


"Nih, Hannah Islamiyah" tuding Danny pada tulisan nama Hannah di sampul bukunya.


"Aku enggak bitha baca kak..." wajahnya kembali murung.


"Ya udah, kakak ajarin nanti" tangan Danny mengelus rambutnya.


"Nama kakak thiapa?" hantu kecil itu mendongak, menatap lucu Danny.


"Kakak polithi ya? kelen loh... aku pengen jadi polithi, pengen jadi gulu, pengen jadi thopil, pengen jadi pilot, pengen jadi ayah, pokonya themua deh" tangan hantu cilik itu bergerak membuat lingkaran.


"Eh, ayah?" bingung Danny.


"Iya ayah, kayak ayahku yang hebat" tepuk dadanya bangga. "Zean kangen ayah..." wajahnya kembali murung.


"Eh, anak laki laki harus hebat, kalo terus cemberut nggak bisa jadi polisi loh..."


"Oh gitu... ya udah Zean enggak bakal cembelut lagi deh..." senyumnya lebar.


"Nah gitu dong" tangan Danny mengelus puncak kepala Zean. "Kamu pengen jadi sopir juga?" sambung Danny.


"Heum" angguknya antusias.


"Eh, kenapa?"


"Bisa bawa mobil ganti ganti"


"Hahahaha...."


Suara pintu terbuka membuat keduanya mengalihkan atensi. Terlihat Hannah yang memakai piyama panjang tanpa jilbab, membuat Danny memalingkan wajah entah karena apa.


"Itu kak Hannah" tuding Zean pada Hannah.


"Zean enggak mau tidur?" tanya Danny sedikit gagap, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Hannah yang duduk di tepi ranjang dengan mengotak atik ponselnya.


"Zean thuka tidul di thamping kak Hannah, kayak tidul thama mama"


Setelah itu hantu kecil itu hilang, nge-glitch ke samping Hannah lalu tidur di sampingnya dan mengelus rambut Hannah.


Sepertinya Zean suka ngintil yah... batin Danny dengan tersenyum.


Ngintil, sebutan kebiasaan memegang sesuatu sebelum tidur. Biasanya orang yang suka ngintil tidak akan bisa tidur jika tidak memegang barang kebiasaannya.


Hantu itu terdiam lama, lalu menghampiri Hannah yang terlelap dengan Zean di sampingnya. Tersenyum kecil, lalu mendekat, mencium rambut Hannah yang beraroma melon sepanjang malam.


🍃


"Sayaaaaangg!! kamu dari mana saja tadi malam hah?! kamu tahu kan kemaren malam waktunya kita pergi ke bar? Uh, aku tidak mau tahu, kau harus menggantinya lain kali!! Kemarin malam aku terpaksa menikmati aroma alkohol dengan Revan, bukan dengan kamu!! dan berani beraninya dia mengajakku menari bersama tadi malam. Aku hanya mau menari denganmu, bukan hantu lain!! Uh... aku benci denganmu!!" tangan Olive tidak bisa diam selama dia berbicara panjang lebar, hingga akhirnya tangannya bersedekap di depan dada saat selesai berbicara.


"Maaf"


"HANYA MAAF?!" nada suara Olive semakin meninggi.


"Aku harus apa?" pandangan matanya menatap Olive malas.


"Hehehe... jalan-jalan yuk" dengan kecepatan kedipan mata, kini Olive sudah bergelayut manja di lengan Danny.


"Aku lelah Olive"


"Kamu kok tega sih sama aku?! kemaren malam udah ninggal aku sepanjang malam tanpa kabar, buat Revan yang ganjen itu deketin aku terus"


Bola mata Danny berputar malas.


Kamu yang ganjen tau!!


"Aku tuh nungguin kamu tau!! terus sekarang aku mau ajak kamu jalan kamunya malah bilang capek, kamu bener bener yah, enggak nge-hargain aku sama sekali!! aku udah capek capek berangkat ke sini loh... aku bangun pagi tadi terus dandan cantik buat jalan sama kamu, malah sekarang kamunya kek gini!!" omel Olive panjang lebar, tambah membuat Danny malas.


"Ya udah, kalo mau jalan sekarang jalan sama Revan aja"


"Kan!! huh, aku bener bener sebel deh sama kamu!! Kemaren kamu juga bilang kek gitu sama aku, sekarang kamu juga bilang aku jalan sama Revan aja. Kamu enggak punya perasaan bersalah gitu sama aku?"


Enggak!!


Danny ingin berteriak keras di depan Olive, kalau perlu sampai darah dalam mulutnya keluar muncrat merusak penampilan wajahnya yang bertingkah sok kecantikan. Memang cantik sih


(Pengganti liur jadi darah ya... wkwkwk)


"Oke, aku minta maaf ya. Aku bener cape nih"


"Kamu ngapain aja sih ngilang sepanjang malem kemaren? aku tuh___"


Danny menghilang, menghindari celotehan panjang Olive yang baru saja mulai.


Huh, sampe kapan sih Olive gangguin aku?


"Danny...!!! aku sebel sama kamu!! sebel!!" teriak Olive melengking saat Danny menghilang di hadapannya.