M

M
10



Di tengah kegelapan dini hari, pemuda itu tersenyum puas setelah mengasah tajam pisaunya. Bibirnya tersenyum miring mengerikan, lalu jari telunjuknya menyusuri pisau itu dengan pelan, menghayati rasa dingin stainless steel yang menyapa kulitnya.


"Hahaha..."


Pemuda itu tertawa pelan, lalu menjilat nikmat darahnya yang keluar dari telunjuknya saat ia sengaja menggoreskan jarinya untuk mengetes tajam pisaunya.


"Hmm... gue pengen darah lebih banyak lagi" gumamnya dengan memasukkan jari telunjuknya ke mulut, lalu mengunyahnya pelan.


"Baiklah, sudah waktunya aku menggunakanmu, mari kita cari korban" tangannya bergerak menyarungi pisau, lalu meletakkan di saku dalam jaketnya.


Pemuda itu berjalan dalam keheningan malam dini hari, tidak terusik oleh hawa dingin. Jika manusia normal memilih istirahat bergelung di kasur dengan di selimuti badcover tebal, ia sudah terbiasa melebarkan mata dan menggerakkan badan untuk berkeliling mencari kepuasannya.


Melihat orang tidak berdaya di depannya karena kehilangan banyak darah bahkan organ.


Cowok itu sendirian duduk di kursi panjang halte dengan memainkan ponsel, namun pendengaran telinganya tetap tajam awas mengawasi sekelilingnya. Beberapa mobil melintas lewat, namun feelingnya tidak ingin gegabah membuat rencananya gagal hingga ia pulang tidak membawa apa apa.


Mulutnya tersenyum tipis ketika telinganya menangkap suara deru motor samar, bahkan sangat samar karena jaraknya yang masih jauh. Tetapi karena indranya telah di latih tanggap membuat cowok itu dengan mudah mendengar suara yang samar dengan akurat.


300 meter.


Cowok itu telah mengira ngira jarak pengemudi motor dengan akurat.


150 meter.


Tangannya masuk menyusup jaketnya, mengeluarkan pisau lalu melepas sarung yang membungkus pisaunya.


Motor itu menderu dekat, lalu melewatinya hingga beberapa meter.


Tangannya terulur melempar pisau dengan kecepatan angin, lalu mendarat persis di leher pengendara yang tertutupi jaket, jitu mengenai sasaran hingga memutus urat urat di sana.


Brakk...


Bibirnya menipis tersenyum lebar, lalu berjalan tenang mendekati mangsanya yang terkapar tak berdaya dengan motor yang menindihnya.


"Thanks" gumamnya setelah menjilat darah pengendara itu di lehernya. Lalu dengan tenang, cowok itu mengeluarkan ponselnya dan bermain jari di sana.


"Halte jalan Kartini"


Tut... tut...


Cowok itu berjalan meninggalkan korban dan kendaraannya yang roboh di jalan, membiarkan anak buahnya yang datang dengan sebuah mobil pick up untuk mengurus kendaraan dan pengemudinya yang sedang sekarat.


🍃


Danny melayang mendekat, menghampiri Hannah yang sedang bercermin membenahi kerudungnya.


"Cantik" puji Danny dengan tersenyum, tangannya naik perlahan lahan hendak menyentuh pipi Hannah namun gagal karena Hannah beranjak berdiri lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamar.


"Kamu manusia" sambung Danny dengan suara serak, tersenyum pahit.


"Pagi abang tersayang!!" Hannah mendekat, lalu mencium pipi abangnya.


Danny terdiam, melihat perih pemandangan di depannya. Teringat keluarganya dan tunangan yang ia tinggalkan.


"Dek, udah besar loh... sampe kapan terus nyium abangnya" tegur ayahnya.


"Yah... adek kan sayang sama abang"


"Enggak papa sih, asal jangan di depan temen aja" jawab Jeno acuh tak acuh, lalu melahap sandwichnya.


Danny melayang mendekat, lalu berdiri di samping Hannah.


"Berangkat ayo yah, udah agak siang nih" ucap Hannah di sela sela meminum jus.


"Habisin dulu sarapannya" mamanya setengah berteriak di belakang.


"Iya ini aku bawa" tangannya menyambar satu sandwich.


"Assalamualaikum semua" teriak Hannah berjalan keluar rumah setelah mencium punggung tangan mamanya dan Jeno.


"Berangkat sayang" ayah Hannah mendekati istrinya, lalu memeluk dan mencium keningnya. "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" senyum istrinya manis.


"Waalaikumsalam. Ati ati ya yah"


Danny masih mengekori Hannah, lalu ikut duduk di mobil.


🍃


"Geser dong"


Rian mendongak saat mendengar suara Hannah di sampingnya.


"Eh?" wajah Rian tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


"Kenapa sih?" alis Hannah terangkat satu.


"Ah, emm... enggak papa" Rian menunduk lalu bergeser agar Hannah dapat duduk di tempatnya.


"Hei!!" Danny melayang ke belakang Rian, lalu melambai lambaikan tangannya di depan wajah Rian.


"Kamu bisa lihat aku kan?!" tanyanya kemudian.


"Ck, enggak usah pura pura deh" Danny mulai kesal dengan sikap Rian.


Sudah biasa manusia yang bisa melihat berpura pura tidak melihat makhluk halus sepertinya.


"Eh, tumben kamu ngomong duluan?"


"E-emang enggak boleh?" jawab Rian kaku.


"Nggak boleh!!" ketus Danny.


"Ya, enggak kaya kamu biasanya aja. Kenapa sih?" heran Hannah tidak dapat di sembunyikan.


"Boleh temenin aku ngerjain enggak?"


Eh **** banget gue dah... maen nyembur aja nih mulut.


"Cih, nyari kesempatan tuh!! jangan mau Han!!" Danny mendecih


"Oh, Emm... oke" jawab Hannah pelan masih ragu. Tidak seperti Rian yang biasanya.


"Ya udah, nanti kita kerjain di perpus aja gimana?"


"Terserah"


"Ck, awas kamu ya?!" tuding Danny tajam pada Rian.


Diam, Rian fokus dengan handphonenya dan Hannah fokus dengan novelnya. Mata Rian sekali kali melirik, seperti mengawasi sesuatu. Entah apa.


"Kamu kenapa sih?" Hannah risih melihat gelagat Rian.


"Apanya?" Rian memasang wajah bodoh.


Hhh... cewek itu menghembuskan nafas kasar.


"Enggak papa, enggak jadi" lalu kembali membaca novelnya.


"Ck, heh!!" telunjuk Rian mengarah pada bahu Hannah dengan suara keras, membuat dirinya menjadi pusat perhatian di dalam kelas tanpa dia sadari.


"Napa sih Yan?" ucap Hannah dengan nada tinggi, tidak tahan dengan gelagat aneh Rian sejak tadi.


"Di belakang lo tuh ada hantu!! kurang ajar emang tuh hantu, enak aja maen nyium bahu lo. Gue juga mau!!" sungut Rian masih dengan mata tajamnya menatap Danny.


"Bwahaha..."


"Wkwkwk..."


"Awokawok.."


"Gila bener dah Rian"


"Ck, jujur amat si Rian"


"Hahaha... nyium bahu Hannah"


"Ganteng ganteng gila"


"Imajinasinya ketinggian yah, nyeremin!!"


Dan tanggapan lain teman kelasnya yang hanya di sikapi masa bodoh oleh Rian. Rian hanya terlalu marah saat ini karena hantu sialan yang maen enaknya sendiri mencium bahu Hannah. Rian masih bersabar tadi saat hantu itu mencium kepala Hannah, tapi tidak dengan bahunya. Kalo tiba tiba ke leher gimana coba?


Danny yang memang kepalanya berada di bahu Hannah, refleks melayang mundur agar jauh dari Hannah.


"Kamu bener bisa liat aku?" telunjuk Danny menunjuk dadanya.


"Ya iyalah gue bisa liat lo, lo dari tadi ngikutin Hannah kan?! ngaku deh lo!!" suara Rian semakin menggelegar, tidak bisa di kondisikan.


"Yan, udah!! apaan sih?!" tangan Hannah menyentuh kain seragam Rian, dengan tangan satunya yang mengelus bahunya sendiri. Merinding sendiri dengan ucapan Rian walau Hannah ragu cowok itu bisa lihat makhluk halus.


"Gue enggak bisa diemin nih hantu sialan!! Entar, gue mau minta garem sama ibu ibu kantin. Lo ikut gue biar aman!!" tangan Rian memegang erat tangan Hannah, lalu berjalan hendak keluar kelas.


"Hahaha..."


"Apaan deh Rian, makin ngaco"


Suara penghuni kelas bersahut sahutan.


Tanpa membuang waktu, Danny langsung pergi, entah hilang kemana.


"Eh, gue juga ikut greeny" Dina mengekori mereka.


"Lo jangan bercanda deh Yan!!" Karin menghalangi jalan mereka.


"Mending lo diem!! kalo lo enggak percaya ya udah, gue enggak maksa" tatapan Rian masih menajam.


"Hahaha... makin ngaco deh si Rian"


"Tapi gue kok yakin bener ada hantu ya"


"Ih, merinding gue..."


"Hhiiihh... gue mau minta pindah kelas deh"


Dan tanggapan penghuni kelas lainnya. Sedangkan Bayu terdiam di kursinya, pikirannya masih berkelana. Ia sudah tahu Rian menyembunyikan kemampuannya sejak lama, tapi hanya karena sesosok hantu yang mencium bahu Hannah bisa membuat Rian membongkar rahasianya sendiri.


"Lo percaya Rian tiba-tiba bisa liat hantu?" tanya Bayu pada Erik.


"Enggak tau" jawabnya singkat tapi dengan wajah serius memikirkannya.