
"Baaaangg..." teriak Hannah serak, masih ada sisa rasa sakit di perutnya.
"Apa sih dek, teriak mulu!!" Jeno membuka pintu kamarnya dengan keras.
"Ke mini market dong bang..." rayu Hannah.
Jeno yang menyadari gelagat adiknya memutar bola mata. "Bilang mama sono!!"
"Ihhh... masa nyuruh orang tua sih, jadi anak durhaka dong aku"
"Ck, kamu sih nyusahin!!" gerutu Jeno lalu kembali masuk kamar.
"Ayolah bang... ya ya?!" mata Hannah berbinar melebar.
"Hem" Jeno menyetujui setengah hati.
"Yeay!! abang baek..." Hannah berjinjit, berpegangan pada pundak Jeno lalu mencium pipinya.
"Beli kaya yang biasanya kan?" tanya Jeno dengan menguyel rambut adiknya.
Seperti biasa, Jeno tau apa yang di inginkan adiknya saat datang bulan. Satu batang cokelat ukuran besar. Bahkan Jeno hafal siklus adiknya, setiap awal bulan.
"Ikut enggak?" tawar Jeno setelah memakai hoodienya.
"Enggak" Hannah berjalan membuntuti Jeno, mengantarnya sampai depan.
"Oh iya, nambah... itu..." Hannah memilin ujung kaosnya canggung.
"Apaan? pembalut atau xx?" (Merk minuman pereda nyeri haid)
Alis Jeno terangkat satu melihat tingkah adiknya yang memilin ujung kaos dengan canggung.
"Pembalut yang 30 cm"
"Bwahaha... gitu aja sok malu kamu" Jeno tertawa dengan memegangi perutnya.
"Ihh... namanya juga cewek bang" tangan Hannah mencubit pelan lengan Jeno.
"Masuk deh, malem nih nanti kedinginan"
"Hmm... ati-ati"
Lalu roda gerbang rumah berderit tertutup.
🍃
"Dua puluh lima ribu mas"
Lalu tangan cowok itu terulur menyerahkan dua lembar uang pas.
Kek pernah liat nih cowok ya? mata Jeno masih menatap lekat cowok di depannya.
"Terima kasih atas kunjungannya" kasir perempuan itu tersenyum. Cowok itu hanya sekedar tersenyum kecil membalasnya lalu berlalu keluar.
"Mas?" kasir cowok itu menegur Jeno.
"Eh, iya ini" Jeno meletakkan pelan belanjaannya.
"Buat pacarnya mas?" kasir cowok itu tersenyum menggoda.
"Buat adik saya" senyum Jeno canggung.
Tuh cowok kan pernah jemput Hannah ya? akhirnya Jeno ingat di mana bertemu cowok itu.
Dia ngerokok ya? teringat saat Kasir memasukkan satu bungkus rokok ke kantong plastik.
Segera, Jeno keluar dengan terburu-buru ingin memastikan cowok itu. Jeno tidak akan membiarkan cowok perokok mendekati adiknya.
Matanya sedikit melebar saat melihat mobil cowok itu yang beruntungnya masih dia ingat. Jeno memutar kepalanya, mencari keberadaan cowok itu namun tidak ada sosok di sana selain pengendara motor yang berlalu lalang. Kakinya melangkah, mendekati jalan sempit di samping mini market.
Jalan itu gelap, dengan lumut yang tumbuh subur di dinding sisi kanan kiri jalan itu, memberi kesan lembab yang tidak nyaman.
Jeno terus berjalan, sampai mentok berada di ujung jalan itu. Di depannya terdapat sebuah bangunan yang nampak seperti gudang penyimpanan.
Matanya memutari sekelilingnya dengan awas, sampai matanya menangkap kantong plastik berlogo mini market yang berjalan karena angin tidak jauh dari kakinya. Kantong plastik itu masih tampak bagus, seperti baru. Keningnya berkerut, berfikir tidak tidak tentang cowok itu.
Astaghfirullah...
Jeno memutuskan berbalik, pergi meninggalkan tempat itu. Tidak sepantasnya ia suudzon pada cowok yang bahkan belum di kenalnya.
🍃
081xxxxxxxxx
Ngapain?
"Dek, bunyi tuh hapenya" Jeno menunjuk ponsel Hannah dengan dagunya.
Jeno sedang duduk di sofa depan televisi bersama Hannah yang tidur di pangkuannya. Sesekali Jeno menyusuri surai lembut adiknya berharap cewek itu segera tidur membiarkan Jeno menyelesaikan tugas dari dosennya. Hannah mengetuk pintu kamarnya tadi, manja minta di temani dengan alasan tidak bisa tidur.
Dasar!! cewek tuh nyusahin emang kerjaannya kalo udah kedatangan tamu. Wkwkwk...
"Biarin aja" sahut Hannah acuh tak acuh, tetap fokus dengan film horror di depannya.
"Siapa nih?" Jeno menunjukkan ponsel adiknya tepat di depan wajah Hannah.
"Ih, ya jangan deket deket dong!!" tangan Hannah mendorong menjauh tangan abangnya dari wajahnya.
"Oh, itu kak Satria"
"Satria siapa?"
"Senior aku. Diem deh, lagi seru serunya nih"
"Heh, dasar adik durhaka kamu. Nggak sopan tau!!" tangan Jeno usil menjambak pelan rambut adiknya. Tidak terima adiknya menyuruhnya diam.
"Ish, diem deh bang" tangan Hannah meraba raba wajah abangnya, lalu mencubit pelan bibir Jeno agar diam.
"Ck, gue ke kamar nih!!" tangan Jeno memegang kepala adiknya, berniat memindahkan Hannah dari pangkuannya.
Kalau Jeno menggunakan gue-elo, berarti kesabarannya berada di ambang batas.
Dengan keras kepala, Hannah menegangkan kepalanya, lalu memegang pergelangan tangan abangnya. "Eh iya iya... jangan tidur dulu dong bang, temenin aku yah... minta maaf deh..." bibirnya manyun lucu, membuat Jeno jadi gemes sendiri dan kembali meletakkan kepala adiknya di pangkuannya.
"Awas yah nggak sopan lagi ama yang tua!!" telunjuk Jeno teracung di depan Hannah.
"Iya iya... maap" kepala Hannah bergerak gerak manja di pangkuan Jeno, mencari posisi ternyaman.
Hannah tuh cewek yang suka film horror, pemberani, bahkan susah banget teriak, nggak ada takutnya ama hantu. Tapi itu kalo ada temannya yah, kalo udah sendirian, suka merinding sendiri. Dasar...
*Siapa tuh Satria? namanya kok terasa asing ya...
Jangan-jangan yang kemaren jemput adek?
Gue juga bodoh amat ya enggak tanya namanya kemaren
Tadi kemana ya tuh cowok? Masa masuk ke gudang itu sih? ngapain coba? ngerokok sembunyi-sembunyi gitu*?
Pikiran Jeno terus melayang layang berkelana, sampai suara Hannah menariknya kembali fokus.
"Bang!!"
"Apaan?"
"Ihh,,, aku tuh dari tadi nanya mana cokelatnya? malah asik ngelamun. Ngelamun apaan sih? cewek yah?!" alis Hannah naik turun menggoda.
"Jangan ngaco kamu!!" wajah Jeno datar.
"Ya udah, ada kan cokelatnya?"
"Di kulkas lah dek" jawab Jeno jengah.
"Ambilin dong bang, mager nih..." manja Hannah.
"Eh, yang mau makan siapa yang ngambil siapa?"
"Hehehe... perut aku masih sakit nih bang..." masih dengan nada manja.
Sabar... untung adek semata wayang
"Ya udah, pinggirin dulu kepalanya"
Jeno berdiri lalu berjalan meninggalkan Hannah yang terkikik pelan.
Hehehe... enak ngerjain abang emang, padahal perut aku udah nggak sakit nih.
"Nih" tangan Jeno memanjang menyodorkan sebatang cokelat di depan adiknya.
"Hehehe... makasih abang sayang" Hannah duduk, lalu mencium pipi abangnya dan berbaring miring lagi.
"Udah makan cokelat malem-malem, sambil tidur lagi. Ntar aku sumpahin jadi sapi gemuk besok bangun tidur"
"Ihh... kejam amat sih bang" bibir Hannah mengerucut samar.
"Makanya, jangan makan sama tiduran dek, kamu tuh udah kaya cewek nggak punya ilmu aja"
"Iya iya bang..." wajah Hannah semakin keruh karena abangnya mengatainya nggak punya ilmu.
"Udah ah" Hannah meletakkan cokelatnya yang belum tersentuh ke meja depannya dengan keras. Moodnya hilang dalam sekejap tidak tersisa.
"Heh, kalo gitu ngapain kamu tadi suruh abang ambil kalo nggak di makan?!" mata Jeno membulat tajam, emosinya muncul samar.
"Abis abang ngatain aku nggak punya ilmu" jawabnya masih dengan wajah keruh.
Hhh... Jeno menghembuskan nafas jengah.
Tangan Jeno mengambil cokelat di meja, lalu membukanya dan menyodorkan di depan mulut adiknya.
"Ya udah abang minta maaf, nih makan"
Jeno tersenyum saat adiknya membuka mulutnya dan menggigit cokelat.
"Senyum dong" tangannya mencubit pipi Hannah.
Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata milik seorang cowok yang melayang di belakang sofa mengawasi mereka dari tadi.