
"Aku mengejar kamu menjauh. seperti jarum kalau tidak hati-hati akan melukai tanganku."
"Abang harus berapa kali bilang kekamu Rania,Jauhi Angga!"
Rayn memarahi Rania setelah dia melihat luka disiku adek perempuanya tersebut. awalnya Rania menutupinya, tapi Rayn terus mendesaknya hingga Rania mau jujur. sementara Reyn, Ia sibuk mengobati luka adeknya itu, Rania merintih sambil menangis, sebenarnya bukan karena sakit Luka tersebut. melainkan Luka yang ia dapat berasal dari Angga. begitu menyakitkan menusuk hatinya.
"Pria brengsek!"kesal Rayn melihat Rania terus menangis.
"Rania ngak papa bang, Rania juga
yg salah ... "lirih Rania dengan suara bergetar. melihatnya membuat Rayn geram.
"Salah gimana ? Jelas-jelas dia melukaimu."Ucap Rayn kesal.
"itu karena Angga marah sama Rania"Bela Rania terus menangis. dengan pelan Reyn mengobati luka yang ada ditangan Rania.
"Pelan-pelan ngomngnya Rayn."ucap Reyn memperingati.
"Apa dia marah, karena gue menghajarnya?"Kata Rayn emosi."lagian dia emang pantas!"Rayn mengertekan giginya.
Rania menggeleng kuat."Bukan, Rania yang salah"Ucap Rania tertunduk. gadis itu menangis terisak.
kedua abang kembarnya menatap Rania penuh tanya.
"Jadi apa ? ngomng yang jelas!"ucap rayn tak sabaran.
Begitu selesai Reyn mengobati Rania. pria itu langsung memeluk adeknya, menyandarkan kepala Rania dibahunya.
"hiks, Rania telah mengunci Airin digudang bang."isak Rania menyandarkan kepalanya di bahu Reyn.
"Apa !"kaget Rayn tak percaya.
Reyn semakin mempererat pelukanya, Rania semakin terisak dalam pelukannya
"Hiks..hiks maafkan Rania bang"
"Kenapa lo melakukan itu Rania? bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Airin ?"geram Rayn mengacak rambutnya frustasi."
RANIA NGAK SUKA SAMA KA AIRIN. KARENA CEWEK ITU CUMAN MAU MANFAATIN KAK ANGGA DOANG."Rania berteriak kencang, meluapkan rasa kesalnya. ia juga baru tahu jika Airin tidak serius dengan Angga. ia mendengarnya sendiri saat Airin berbicara pada seseorang lewat telpon. karena kesal Angga hanya dimanfaatkan. rania menyuruh kedua temanya untuk mengunci Airin digudang.
"hustt tenanglah"Reyn terus menenangkan Rania yang semakin terisak pilu.
Setelah lama berdiam. Rayn menatap tajam Rania."Jauhi Angga"kata Rayn dingin. baru saja Rania ingin membalas tapi kalimat terakhir Rayn membuatnya terkejut. "atau pergi dari sini !"
"Rayn apa lo gila ? "Tanya Reyn tak percaya.
"Sekarang kamu tinggal pilih Rania."
Reyn menatap Rania yang kini menunduk dengan tangan terkepal kuat. Rania melepaskan pelukan abangnya, gadis itu kini tidak menangis lagi hanya tetesan air mata. lebih tepatnya Rania menangis tanpa suara, Rania menatap Rayn Dengan pelupuk mata yang memerah.
"Rania pergi dari rumah ini !"
"Ran ... " lirih Reyn tak percaya.
"Lo lebih milih pria itu ? Dibanding kedua abang yg merawat lo dari kecil ? Ck"Sinis Rayn.
"Rania gk pernah minta dirawat ! Rania pergi dari rumah ini"Rania hendak pergi, namun Reyn memegang pergelangan tanganya. dengan pelan Rania melepas pegangan tangan Reyn dilenganya.
"maaf bang ..." lirih Rania menatap sendu wajah Reyn. orang yang paling berarti dalam hidupnya.
"Silahkan, lo pergi dari sini, kejar cinta obsesi lo itu."Kata Rayn tegas. "dan ingat jangan pernah menginjak kakimu kesini lagi!
"CUKUP !"Bentak Reyn keras."KALIAN HARGAI GUE DISINI ATAU TIDAK HAH ?!"Reyn berdiri menatap tajam kearah Rania dan juga Reyn. Rania langsung menunduk. badanya gemetar melihat tatapan dari abang yang sangat dia sayangi itu.
"Dia yg ingin pergi dari sini !"tegas Rayn. menatap balik Saudara kembarnya itu.
"kamu serius mau ninggalin abang ?"Rayn bertanya pada Rania yg kini lagi-lagi menangis terisak.
"Hiks hiks hiks."Rania menangkup wajahnya dengan kedua tanganya.
"Jawab Rania!"desak Reyn mengoyangkan badan Rania yg terus menangkup wajahnya. isakan tangis Rania membuat Reyn terpukul,begitu menyakitkan.
"Hiks Maafkan Rania Abang"Rania terus menangkup wajahnya sendiri.
"Kamu akan pergi dari sini.?"tanya Reyn sekali lagi.
Rania hanya mengangguk tidak sanggup untuk menjawab. Reyn menjauhkan dirinya dari Rania. perasaan kecewa berhasil melukai hatinya, secara perlahan Reyn memundurkan langkahnya.
hatinya teramat pilu mendengar peryataan Rania. ia memandangi Rania dengan pelupuk mata memerah. lalu bergegas pergi tanpa menghiraukan Rania yang memanggil namanya .
"Abang Reyn !"
"Pergi dari sini !"Rayn menarik paksa tangan Rania. membuat gadis itu terseret dilantai.
"Hiks hiks hiks ..."isak Rania."IYA RANIA PERGI !!!"Rania segera berdiri, mengusap kasar air matanya. lalu bergegas menuju kamarnya untuk mengemasi barang"nya.
......................
Sementara ditempat lain, Angga berusaha menenangkan Airin yang tubuhnya gemetar hebat. gadis itu masih trauma dengan kejadian tadi. ia pun memeluk dari samping gadis itu.
Bagas dan agil hanya menjadi penonton, menyaksikan betapa khawatirnya Angga dengan Airin. Bagas sebenarnya tidak terlalu suka dengan Airin yang seperti mengantung temanya. jika dia memang suka dengan Angga, kenapa cintanya Angga selalu ditolak dengan alasan dia ingin fokus kuliah ? ia menduga kalau semua itu hanya alibi Airin saja.
Setelah Airin sudah tenang. Angga mengambil jacketnya dan bergegas untuk mengambil kunci motornya ditangan Agil dia pun mengantar Airin pulang kerumahnya. memang Angga tak langsung membawanya pulang kerumahnya. karena tidak mungkin dia membawa pulang Airin dengan keadaan tak memungkinkan. akan ada pertanyaan lainnya yang akan ditanyakan oleh mamanya Airin nanti.
"Gue cabut, jagain Rumah gue"pamitnya dengan memapah tubuh kecil Airin.
"Aman bos."ucap Agil memberi tanda hormat, Angga pun dengan pelan memapah dengan pelan Airin keluar rumah.
Setelah Angga&Airin sudah tak terlihat lagi, Bagas dan agil saling pandangan. Bagas menendang kaki Agil."biasa aja liatin gue njir."Agil tak terima dia pun menabok kepala Bagas."najis kepedean lo ! gue cuman heran, lo segitunya liatin mereka."
"Gue cuman ngak suka sama Airin."ungkap Bagas jujur.
"Why ?"
"Gue rasa tuh cewek cuman manfaatin Angga doang"Bagas mengambil Jus yang dibuat oleh bi nina, assisten yang bekerja dirumah Angga.
"Iya sih, mereka sudah lama dekat tapi gk jadian juga."Balas Agil dengan dahi berkerut, heran."Angga mau aja gitu digantungin wkwk."ucap Agil tertawa geli sekaligus heran.
"Namanya juga cinta."Celetuk bagas.
"Lo ngak tau men tentang cinta"balas Agil langsung."nih ya kalau lo udh jatuh cinta, lo bisa buta kaya Angga ke Airin atau Rania ke Angga"Kata Agil dengan serius."ngak bisa liat buruknya mereka, cuman liat cintanya doang"
Bagas mencibir pelan"gayaan lo tau tentang cinta, emang ada cewek yang lo seriusin ?
Agil tertohok, terdiam beberapa detik sebelum membalas perkataan Bagas."Untuk saat ini belum ada, tapi nanti pas gue sudah Nikah"
Bagas menatap Agil selidik"memangnya ada yang bakal lo nikahin ?"Agil tergelak mendengar pertanyaan Bagas.
"Napa jadi bahas gue bambang !"sewot Agil membuat Bagas terkekeh puas dapat mengerjai Agil.
......................
Setelah Bagas mengantar Airin pulang, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya dan lebih sialnya lagi Angga lupa membawa jas hujan karena tadi terburu-buru mengangantar Airin pulang. Angga melajukan motornya menuju halte bus untuk berteduh yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Angga turun dari motornya dan berlari kecil ke halte bus. dia melihat kedepan berharap Hujan akan reda. Karena merasa lelah berdiri ia pun memilih duduk, saat ini hanya ada dia dan seorang wanita yang terus menundukan kepalanya .
"Hiks hiks hiks ... "
Angga seperti mengenal suara tersebut. Ia pun melihat kesamping dan dia baru menyadari ternyata cewek yang disampingnya daritadi adalah RANIA
Angga ingin segera pergi namun hatinya seperti menahanya untuk terus di halte. entah mengapa ia merasa bersalah saat melihat siku Rania yang diperban dan itu semua karena perbuatanya, telah menyebabkan gadis itu terluka.
Hening ...
diantara mereka tidak ada pembicaraan hanya rintikan hujan yang menjadi suara dibalik kesunyian yang terjadi dan kelihatanya Rania belum menyadari keberadaan Angga dia terus Saja menangis terisak. sambil menundukan kepalanya .
"Ekhem"
Rania menoleh dan terkejut mendapati Angga disebelahnya saat ini. lelaki itu tengah menatapnya tidak hangat, seperti biasa datar tanpa ekpresi tapi sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat. sangat mendebarkan dan menghangatkan untuknya.
"Ka Angga se--sejak Ka--kapan kesini ?"Rania mendadak gagap. dengan cepat ia mengusap air matanya yang sembab.
"Lama"singkat Angga acuh.
Rania tersenyum getir. selalu seperti ini, Angga selalu cuek padanya.
"Maaf ya "
Angga mengernyitkan keningnya. "buat ?"
"Soal tadi ,gara-gara Gue Airin --- "
"Iya, jangan dibahas lagi"potong Angga cepat. ia tidak ingin memulai amarahnya lagi. dia masih sangat kesal dengan Rania.
Rania menatap Jacket Angga, wanita itu berharap Angga akan meminjamkan jacketnya kepadanya, tapi sepertinya tidak mungkin. saat ini cuaca semakin dingin, maka Rania memilih mengosok"kan kedua telapak tanganya.
Suasananya begitu canggung, jika Rania tidak memikirkan masalahnya, Wanita itu pasti menunjukan kegiranganya didepan Angga atau bahkan lebih posesif seperti biasa yang ia lakukan. memeluk lengan Angga tanpa permisi walau selalu ditolak mentah-mentah. Rania merupakan cewek yang agresif jadi untuk pertama kali ini sifat jaim bukanlah gayanya dan Angga sendiri merasa bingung dengan perubahan Rania yang tidak seperti biasanya. ia menoleh pelan kesamping, tatapannya tak berhenti pada Rania, rambut gadis itu sedikit basa ia juga dapat melihat jelas bibir Rania bergetar karena kedinginan, mendadak ia melakukan hal yang mungkin akan ia sesali nantinya.
Rania terkejut saat tiba-tiba Angga berdiri dan yang membuatnya lebih terkejut pria itu memasangkan jacket dibahunya. persis seperti drakor yang pernah ia lihat. dan sekarang ia sendiri yang mengalaminya, ditengah hujan dengan pria yang disukai bukankah sangat romantis ?
"Makasih oppa"ucap Rania pelan.
"Hmm"
Rania terus melihat wajah Angga
Rambut pria itu sedikit basah menambah aura yang semakin tampan saja. Rania menggeser posisi duduknya untuk bisa dekat dengan Angga, agar ia dapat berbagi jacket dengan pria itu. sontak Angga terkejut awalnya Angga ingin menolak tapi Rania menahan tanganya agar lebih dekat lagi padanya.
"Sebentar saja, kumohon."Rania menatap memohon. seketika Angga yang ingin menolak, tidak tega menerima tatapan itu.
Jacket itu pun menghagati tubuh mereka berdua. Rania tak henti-hentinya tersenyum, walaupun masih ada kesedihan dimatanya dan belum bisa ia tutupin, walaupun Angga menemaninya sekalipun.
Angga memperhatikan Rania. tidak seperti biasanya, gadis itu lebih pendiam dan dia baru menyadari Rania membawa koper besar. buat apa ? Apa gadis ini sedang kabur dari rumah ?
"Mau kemana Lo ?"Tanya Angga datar.
"Ngak kemana-mana."Jawab Rania cepat.
"ngapain bawa koper ?"tanya Angga lagi.
Rania tersenyum Pahit"Aku kabur dari rumah. dan sekarang lg bingung mau tinggal dimana."
"Oh"
"Oppa ngak berniat buat ajak Rania tinggal dirumah ?"tanya Rania berpura-pura antusias. padahal siapapun jelas tahu jika dia dalam mood tidak baik-baik saja, jawaban singkat sangatlah tidak menyenangkan tapi Rania memilih menutupinya.
"Ngak"
Rania tertawa hambar ."hahaha bercanda, serius banget sih.
"Oh"
"Mungkin kalau Airin yang seperti ini. oppa akan khawatir ."singgung Rania dengan menatap Angga tapi lelaki itu seakan enggan menatapnya.
"Tentu"
Rasanya sangat memilukan. Rania rasanya ingin menyerah untuk berjuang mendapatkan hati Angga. hati Angga bagaikan jarum ditengah lapangan. sangat mustahil, pria itu semakin didekati bukanya mendekat malah semakin menjauh.
"Kalau begitu Rania duluan ya oppa"Rania berdiri melepaskan jacket Angga"makasih untuk jacketnya"Rania mengangkat kopernya, memilih untuk pergi setelah dia rasa hujan mulai reda.
"Tungguu!"
Rania menghentikan langkahnya, ia berbalik dan memasang senyum sebisa yang ia mampu. Angga berjalan menuju mototrnya. lalu kembali ketempat Rania untuk memberikan Rania helm.
"Untuk sementara Lo tinggal dirumah Gue"ucap Angga datar, lalu berjalan menuju motornya, meninggalkan Rania yang diam mematung dengan ekpresi kebingungan.
Rania tergelak dengan sikap Angga yang terbilang langkah, apa Angga salah makan ? kenapa mendadak Angga menjadi perhatian dengan Angga memberikanya jacket saja itu sudah lebih dari cukup. dan sekarang ? Angga bahkan menawarkanya untuk tinggal dirumahnya.
"Tunggu apa lagi ?"
Rania tersadar dari lamunan singkatnya dan tidak menyadari jika Angga sudah duduk diatas motornya. dan jacket yang ia kasih ke Angga sudah kembali berada dibahunya.
"Makasih oppa"ucap Rania begitu sudah duduk diatas motor Angga.
Angga melepas cepat pelukan Rania."jangan kegeeran, gue begini karena harus bertanggung jawab sama apa yang gue lakuin ke Lo tadi"Kata Angga dingin"Gue juga ngak perduli cerita Lo kaya gimana sampai harus kabur dari rumah."
Rania memaksakan senyumnya, jujur perkataan Angga sangat menyakitkan apa pria itu tidak bisa berbohong untuk menyenangkan hatinya ? dengan bicara lebih lembut mungkin, walau hanya untuk saat ini . moodnya sedang sensitif dan gampang sekali tersinggung jika saja keadaan hatinya normal, Rania pasti tidak baper dengan perkataan kasar Angga, karena dia sudah biasa dengan hal itu.
"Iya, ngak papa kok."sebisa mungkin Rania memaksakan senyumnya, walaupun dengan kata tidak apa-apa sudah membuatnya hampir menangis. dari balik spion Angga melihat Rania yang berusaha untuk tetap tersenyum terlihat dengan mata Rania yg berkaca-kaca ia menepis pikirannya jika merasakan hal aneh dengan Rania dan memilih menyalakan mesin motornya untuk mengalihkan rasa yang tak mungkin ia punya untuk Rania.