Love Obsession

Love Obsession
obsesi cinta



Biasakan kalau sudah selesai membaca,tinggalkan jejak kalian dibawah ya 🙏


agar Author dapat inspirasi buat melanjutkan cerita ini ^^


...


"Saat Aku berusaha Untuk bersamamu,kau malah menginginkanku pergi.bukankah cinta ini terlalu menyakitkan untukku ?"


~ Happy Reading ~


(Keesokan paginya)


"Hey Rania."


"Hey Rania."


Sapa kedua temanya didepan gerbang. Saat melihat Rania yang baru keluar dari mobil Ferrari 599 GTO. Semua perhatian tertuju pada Rania yang baru keluar dari mobil mewahnya. Mobil seharga milyaran tersebut menyita perhatian anak-anak kampus yang sedang berlalu lalang di area gerbang masuk.


Rania ngak hanya sendiri dia bersama kedua abang kembarnya. Reyn turun bersamanya, sementara Rayn memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia di kampus mereka khusus mahasiswa yang membawa mobil.


"Rania duluan bang"pamitnya pada Reyn. Reyn menangapinya dengan tersenyum hangat, seraya mengelus lembut rambut rania.


"Semangat belajarnya!" Kata Reyn lalu belok kearah perpustaskaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam di perpus.


Rania hanya mengangguk dan tersenyum tipis. suasana dipagi harinya begitu buruk, apalgi soal kejadian semalam. dia dalam posisi dilema.


Rania tunggu ! "teriak salah satu temanya yang bernama sisil dan disahut oleh satu temanya lagi yang bernama sarah .


"iya tunggu ih, cepat banget Lo jalannya" Protes Sarah.


"Iya mangkanya kalian cepat jalannya !"Ucap Rania berhenti sebentar. lalu kembali berjalan lebih cepat. meninggalkan kedua temanya. sarah dan sisil pun mengejarnya.


"Rania tunggu !"


......................


"Rania kemana ya ?tanya Bagas. "ngak biasanya dia ngak datang"lanjutnya lagi melihat kedepan pintu kelas.


"Iya, biasa ngk pernah absen wkwk"sahut Agil yang baru masuk kuliah lagi, kemarin dia ambil cuti beberapa hari, karena ada masalah keluarga.


"Ga"panggil Bagas pelan. Angga yang sedang duduk disamping Airin menoleh pandanganya ke Bagas. lewat tatapan matanya seoalah mengatakan kenapa


"ngak papa, cuman pengen manggil doang"jawab Bagas dengan cengiran.


"Sialan Lo" bukan Angga yang menjawab malah Agil yang menimpali. Angga tidak perduli ke gajean teman-temanya ia sibuk mengajari Airin yang kurang mengerti mata kuliah yang dijelaskan dosen kemarin.


"Rin, makin cantik aja nih"goda Agil terkekeh. Airin membalas senyuman Agil dengan canggung. melihat hal itu, dengan cepat Angga memegang pipi Airin agar tak melihat Agil. Wajah Airin dan Angga jadi sangat dekat. menciptakan suasana yang tiba-tiba menjadi canggung.


Situasi yang canggung terjadi dikelas dan mendapat sorakan mahasiswa/siswi dikelas yang tidak sengaja melihatnya. mereka sampai tidak menyadari Kehadiran Rania yang berdiri tanpa bergeming dari tempatnya beranjak. setelah Bagas menangkap kehadiran Rania barulah Angga melepas peganganya dipipi Airin yang mulai tersipu karena malu disorakin satu kelas.


"Hey Ran, Gue kira lo ngak bakal datang"ucap Bagas menghampiri, pria itu langsung mengambil bekal yang berada ditangan Rania."ini buat Angga ya ?"tanya Bagas namun Rania tetap diam. arah matanya bertemu dengan tatapan Angga yang datar dan dingin.


Agil Sempat menyesali perbuatannya tadi, andai saja dia tidak menggoda Airin, semua ini tidak akan terjadi. dia menjadi iba dengan Rania, wanita itu pasti sedih.


"Kenapa semuanya diam ?"tegur Airin memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara mereka. Rania yang tersadar dari lamunanya buru-buru menghampiri Angga. ia melupakan Bekalnya yang bersama Bagas.


"Kamu fokus lagi belajarnya"ucap Angga pelan. Rania merasakan sesak yang luar biasa, perkataan abangnya semalam memutari isi kepalanya, kenyataanya Angga tak pernah sedikitpun bicara pelan padanya atau paling tidak membalas senyumnya. justru sebaliknya pria itu selalu cetus dan dingin kepadanya.


"Bisa kita bicara sebentar ?"


Agil dan Bagas saling liatan berdua, dan lewat gerakan matanya menyuruh anak-anak dikelas untuk keluar kelas, membiarkan Rania berbicara dengan Angga. Airin yang masih dikelas ditarik paksa lengangnya oleh Agil, awalnya Airin tidak ingin ikut namun melihat tatapan lembut Angga dan isyarat mata Angga yang menyuruhnya untuk mengikuti Agil.


......................


Keadaan dikelas menjadi sunyi karena semuanya keluar meninggalkan Angga dan Rania. mereka seakan tau situasinya jika Rania ingin bicara penting, dan Angga yang tidak mau menuruti kenginan Rania untuk ikut bersamanya dan berakhir mereka berdua didalam kelas. tadinya Angga menahan Airin agar tidak ikut pergi keluar kelas tapi cewek itu malah menyuruhnya untuk tetap berada dikelas menemani Rania yang ingin berbicara penting padanya. liat betapa baiknya Airin, satu hal yang membuat Angga kagum pada Airin Karena wanita itu selalu mengalah untuk orang lain.


Rania menatap ragu kearah Angga yang tidak bergeming sedikitpun dari bangkunya. bibirnya mendadak keluh dan otaknya mendadak blank jika situasinya mencekam seperti ini, tapi ia harus memberanikan diri. dengan perasaan gugup + takut Rania duduk disamping Angga, lelaki itu sempat tergelak saat Rania sudah berada disampingnya. lalu kembali ia diam tanpa bergeming sedikitpun.


"Aku minta maaf soal kejadian kemarin"Rania membuka pembicaraan duluan, ia memberanikan diri menatap wajah Angga. banyaknya luka lebam di area wajah Angga meliputi rasa bersalah Rania, tak seharusnya Angga babak belur karenanya."Soal perkataan kemarin, Aku harap kamu ngak benar-benar ngomongnya"


"Gue serius soal itu!"potong Angga cepat. Rania tergelak menatap dalam mata Angga. pandangan mereka bertemu, hanya tatapan tapi itu sukses membuat Rania sakit hati, tatapan Angga sangatlah dingin.


"Aku ngak bisa kak, terserah nantinya kaka bakalan marahin Aku, tapi Rania benaran ngak bisa jauhin kaka"lirih Rania nyaris menangis kalau saja dia tidak memaksa senyumnya didepan Angga.


Angga pergi begitu saja membuka pintu kelas yang tertutup dan menatap datar barisan teman-temanya yang sudah pasti menguping pembicaraanya dengan Rania, terlihat bagaimana telinga Agil menempel di pintu kelas.


"Ikut gue" Angga menarik pelan lengan Airin yang belum sempat mencerna semuanya. tanganya tertarik pelan dan mengikuti kemana Angga membawanya.


Rania memilih diam, dan keluar kelas tanpa menyapa Agil dan Bagas di pintu kelas. dirinya juga mengabaikan senyum deretan cowok-cowok yang curi-curi pandang denganya juga mengabaikan bisikan pelan dari kaum cewek yang suka menggosip.


......................


Angga bergegas naik kemotornya mengaitkan helmnya ke leher, ia tersenyum dengan gadis yang tiba tiba saja memeluknya erat dari belakang. Angga tidak menyangka kalau Airin akan bersikap manis seperti ini. selama ia pulang dengan Airin, baru pertama kali Airin mau memeluknya tanpa disuruh terlebih dahulu. seperti biasanya Angga yang selalu menyuruh Airin untuk memeluk pingangnya. alasanya sih supaya Airin ngak jatuh, padahal hanya modus pria itu.


Tanpa menoleh kebelakang, Angga menyalakan mesin motornya dan menjalankan motornya keluar parkiran. Angga tersenyum kecil saat gadis itu menyandarkan kepala dipunggungya. entah kenapa hatinya berdetak sangat kencang tidak seperti biasanya.


pria itu mengeratkan pelukan Airin dipinganggnya. hatinya tak karuan, entahlah ini pertama kalinya ia merasakan hal ini. apa karena Airin memeluknya lebih dulu ?


"Tumben kamu peluk pinggang Aku tanpa Aku suruh"teriak Angga sedikit keras, agar Aririn mendengarnya dibelakang.


"Karena Aku suka kamu oppa."


Mendengar suara yang familiar ditelinganya. Angga mematikan mesin motornya. rahangnya mengetat dengan mata menyala tajam, dia tau jelas gadis yang Dibawanya saat ini bukan Airin. sialan gadis yang sangat ingin ia hindari. siapa lagi kalau bukan RANIA cowok itu membencinya karena menganggap gadis itu seperti parasit dihidupnya.


TURUN ! "bentaknya keras.


"oppa Aku---"


"MANA AIRIN ?!"potongnya, menatap nyalang dari balik spion. Rania melihat balik Angga dengan wajah ketakutan.


Angga segera turun dari motornya lalu menarik paksa Rania untuk segera turun. Ia tidak memperdulikan Rania yang menjerit kesakitan, karena Angga menariknya terlalu kasar. hampir saja Rania terjatuh jika ia tak segera mengimbangi tubuhnya.


"Pelan-pelan sakit oppa."Rania memegang pergelangan tanganya yang memerah .


"Dimana Airin ?!"tanyanya yg kali ini lebih pelan, tapi tatapan matanya tetap tajam.


"Kapan sih oppa bakal liatin Rania dengan tatapan cinta ?"ucap Rania mengalihkan. membuat Angga kehilangan kesabaran.


"JANGAN SAMPAI GUE LUPA, KALAU LO ITU CEWEK, RANIA ! "


Angga kali ini benar-benar marah. kesabaranya telah habis dibuat Gadis itu, Rania tertunduk, meremas ujung bajunya dan mengigit bibir bawahnya. gadis itu benar benar takut dengan kemarahan Angga kali ini, apalagi mereka berhenti ditempat yang sepi tidak ada siapapun disana. Rania takut jika Angga akan membunuhnya. tatapan pria itu seakan ingin melenyapkan, sangat menakutkan tapi Rania ngak bisa benci.


"JAWAB !"Angga menarik dagu rania dengan kasar, hingga gadis itu sedikit meringis dan mendogak menatap Angga.


"A--ku ku-kunci" Ucap Rania dengan bibir bergetar.


"BRENGSEK !"Refleks Angga melepas kasar genggamanya didagu Rania. hingga wajah Rania terhuyung kebawah.


"DIMANA LO KUNCI DIA ANJING ?!"teriak Angga tak terkontrol. emosinya memuncak saat tau Rania mengunci Airin. ia sangat tau Airin takut akan kegelapan.


"kenapa Oppa ngak bisa sekali aja ngomng baik-baik sama Rania. apa ngak bisa ?!"pekik Rania dengan matanya yang berlinang."


"Brengsek."Makinya.


"Airin ngak suka sama Oppa, kenapa Oppa terus-terusan bertahan sama Airin?!"


"Oppa, Airin itu cuman manfaatin kamu doang dia itu cewek munafik!"


"DIAM ANJING!"


perasaan Angga sangat kalut, hingga dia mendorong keras tubuh Rania. gadis itu terjatuh tersungkur keaspal jalanan. Rania menatap Angga dengan rasa takut, air mata gadis itu mengucur dengan derasnya. ia takut pikiranya akan menjadi kenyataan. Angga akan membunuhnya saat ini juga. bukankah menyedihkan dibunuh oleh orang yang kita suka ?


"GUE NGAK BUTUH AIR MATA LO, DIMANA LO KUNCI AIRIN?!"


Angga mengepalkan kedua tanganya, tatapanya tak berhenti kegadis itu, ia menunggu jawaban Rania ..


Rania berusaha berdiri,namun ia malah terjatuh lagi. dorongan Angga sangat kuat hingga siku ditanganya terluka cukup parah.


"Hiks ... Aku kunci digudang"Ucap Rania dengan tangisnya.


"sial!"umpat Angga. lalu segera menaiki motornya. meninggalkan Rania yang menangis terisak dijalanan.


"Kenapa rasanya sangat sulit"Lirih Rania memegangi tanganya yang terluka akibat ulah Angga.