Love Obsession

Love Obsession
Cinta itu membingungkan



Biasakan kalau sudah selesai membaca,tinggalkan jejak kalian dibawah ya 🙏


agar Author dapat inspirasi buat melanjutkan cerita ini ^^


...


previous ..


"Rania ngak bisa jauh dari dia hiks ... "ucap Rania sambil menangis.


"Shutt,tenanglah"


Bagas mencoba menenangkan Rania dengan mengusap belakang Rania dengan lembut.


..."Cinta itu diperjuangkan tapi mereka bilang,cinta itu jangan dikejar karena jika memang dia milik kita ia akan datang dengan sendirinya. lalu bagaimana kita akan mendapatkan Cinta yang kita inginkan ?"...


~ Happy Reading ~


(Ruang makan)


"Selesai makan, Abang mau bicara serius sama kamu,"Rayn berujar dingin, menatap Rania yang hanya mengaduk-adukan makananya.


"Cepet dihabisin ! "Perintahnya geram. melihat Rania hanya mengabaikannya saja.


Rayn dibuat Emosi karena reaksi cuek yang dintunjukan Rania, hingga cowok jangkung itu berdiri dari kursinya dan memukul meja makan dengan keras. membuat Reyn mendogak menatapnya."Lo dengar abang ngak ?!


"Rayn jangan keras-keras"ucap Reyn menasehati. Sementara Rania tetap bersikap tenang dan tidak perduli.


"Kalau ngak dikerasin, nih anak makin ngelunjak !"Emosi Rayn dengan kilatan marahnya.


"Iya Rania dengar kok, kalau mau bicara yah tinggal ngomng aja."Kata Rania sensi."ribet amat" Rania memutar bola matanya kesal.


YANG SOPAN SAMA ABANG LO !


Bentak Rayn dengan rahang mengetat.


"ABANG MAU NYURUH RANIA JAUH DARI KA ANGGA, GITU ? "Rania tak kalah kerasnya dengan suara Rayn.


"Rania, abang ngak pernah ajarin kamu ngak sopan kaya gini."imbuh Reyn merasa kecewa adeknya berbicara keras seperti tadi.


"Maaf"sesal Rania tertunduk, ia mengigit bibir bawahnya. Rania sebenarnya tidak bermaksud melawan abangnya, tapi pikiranya sudah tak karuan. Rania galau dengan kejadian tadi siang.


"Ini adek kebangaan lo."tunjuknya pada Rania. sementara Reyn hanya bisa menghela nafas berat.


"Akibat Lo sering manjain dia, tingkahnya makin kurang ajar sama abangnya."Rayn menatap Rania tajam."harusnya dari kecil, dia dititipin kepanti asuhan aja daripada--"omongan Rayn terhenti.


"RAYN !" potong Reyn membentak saudara kembarnya itu.


"CUKUP !"teriak Rania keras. Rania menatap Rayn dengan pelupuk mata yang memerah.


"Lo berani membentak Abang Lo sendiri?!"ucap Rayn menjeda sebentar kalimatnya sampai akhirnya matanya bertemu dengan tatapan dingin Rania." Lo memang adek yang tidak tau diuntung!" ucap Rayn dengan tatapan tajamnya. Reyn hanya bisa menghela nafas berat. baginya Rania dan Rayn memang tidak pernah Akur, tapi belum pernah ia menemukan mereka sampai bertengkar hebat seperti ini.


"Abang seharusnya ngebuang Rania atau membunuh Rania sekalian saat itu !"Kata Rania dengan emosi mengebu-gebu.


PLAK !


PLAK!


PLAK !


3 tamparan dengan cepat mendarat dipipi mulus Rania. hingga tangan Rayn membekas dipipinya.


sakit ? tentu, tapi lebih sakit dihati Rania. bukan hanya sekali Abangnya itu selalu menyakiti hatinya. ia selalu saja mengungkit-ngungkit masa lalu seakan Rania ini adalah anak pembawa sial.


RAYN !!! "Teriak Reyn tak percaya. memegang bahu Rania yang kini memegangi pipinya yang memerah. sorotan mata Rania penuh luka, Mungkin dari luar orang mengira Rania hanyalah gadis yang manja tapi tidak ada yang tau jika didalam dirinya menyimpan sejuta luka yang bisa saja meledak. seperti bom waktu


"CUKUP ! NGOMNG BAIK-BAIK JANGAN KERAS, PAHAM KAGA LO ?! "lanjut Reyn berdiri dengan rahang yang mengetat.


Rayn tersenyum sinis."liat adek lo, adek yang lo banggain, sudah berani meneriaki abangnya"Rayn beralih menatap Rania yang mengepalkan kedua tanganya."nih ya, cewek ngejar cwok kesanya murahan!"ucap Rayn memandang remeh.


"Jaga bicaramu RAYN ! "bentak Reyn menatap tajam saudara kembarnya itu.


"Rania cuman pengen dapatin cwok yang Rania suka. memangnya ada yang salah ?"ungkap Rania dengan suara yang bergetar.


"Ini bukan barang bego ! kilah Rayn cepat.


"Kalau lo ingin tinggal beli. liat Angga apa dia suka sama lo? enga kan ? jangan paksain obsesi lo buat miliki dia"timpal Rayn penuh emosi.


"Rania yakin kok, suatu saat Ka Angga bakal suka Rania, sama kaya pengen punya uang banyak, bukankah kita nabung dulu. sama halnya dengan mencintai seseorang, Rania harus berusaha dulu untuk bisa memilikinya"Ucap Rania Dengan sangat yakin. mendengarnya membuat Rayn tertawa keras, entah apa yang lucu dari kalimat Rania hingga dia tertawa.


"Darimana lo belajar omongan kaya gitu ? Lo disekolahin supaya pinter. sudah kuliah bukanya ilmu bertambah, malah makin goblok,"tekan Rayn kembali memasang wajah dinginya.


Reyn yang daritadi menyimak tak bisa bersuara lagi. memang ada benarnya yang dibilang Rayn, tapi mungkin caranya yang menyampaikan salah. pria itu hanya bisa menenangkan Rania, agar lebih tenang.


"Abang sendiri suka sama kak Airin, terus berusaha deketin dia juga kan ? Apa bedanya sama Rania !"Telak Rania membuat Rayn terdiam dngan kepalan tangan yang menguat."Seharusnya Abang dukung Rania, dengan begitu kita bisa misahin mereka. karena tujuan kita tertuju sama satu orang. abang sama kak Airin, kalau Rania sama Ka Angga."Lanjut Rania lagi.


"Rania dengerin abang, cinta itu ngak bisa dipaksa. "Reyn menimpali dengan pelan dan penuh pengertian dan Rania berbalik menatapnya."jika dia memang menyukaimu tanpa kamu kejarpun dia akhirnya akan memilihmu."bola mata Rania bergerak untuk mengigat bagaimana selama ini sikap Angga padanya. mengigatnya saja membuat mata gadis itu berkaca-kaca "Tapi kamu liat sekarang, Apa Angga selama ini memilihmu ? atau paling tidak dia mau bicara baik-baik sama kamu selama ini."


Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya berhasil lolos membasahi pipinya, Rania menatap Reyn dengan mata yang berlinang. memang apa yang dikatakan Reyn berhasil membuatnya menerima kenyataan pahit itu. Angga bahkan tak pernah sekalipun bersikap lembut padanya. tapi bagi Rania itu hanya proses, butuh waktu sampai nantinya Angga mau memilihnya.


"katanya cinta itu harus diperjuangkan, terus kalau kita cuman diam, cinta kita ngak bakal datang. kalau kita pendam rasanya itu sesak bang"Rania memegangi dadanya yang berdenyut perih.


"Kodratnya lo itu cewek, cewek itu dikejar bukan mengejar!"bentak Rayn dingin. Rania beralih menatap cepat kearah Rayn.


RANIA ! "Bentak Rayn dengan ekpresi geram.


"Maaf bang, Rania bisa aja ikhlas abang buang sepatu Rania tadi pagi. tapi kalau abang nyuruh Rania jauhin Ka Angga ? Maaf Rania ngak bisa"tekan Rania tak terbantahkan. gadis itu memilih meninggalkan meja makan. tak mengindahkan teriakan kedua abangnya.


"Rania ! "


"Rania"


"seharusnya Lo lebih pelan berbicara denganya" nasehat Reyn sebelum meninggalkan Rayn. Rayn diam tak bergeming. sorotan matanya menajam dengan pelupuk mata yang memerah. berulang kali dia membenturkan tanganya ke meja makan hingga tanganya mengalir darah segar, tanpa ia sadari sedikitpun.


......................


"Selamat malam Angga Oppa"


"Kamu udah tidur belum ?"


"Oppa luka lebamnya gimana ? besok Rania bawain obat pereda nyeri ya ?"


"Oppa balas dong, Rania kan khawatir"


"5 panggilan tak terjawab"


"Oppa kok ngak jawab telepon Rania ?"


"Oppa marah ya sama Rania?"


Rania menatapi sendu ponselnya Angga bahkan tidak men read Chatnya. memang Angga tak pernah balas chat apapun yang ia kirim, terakhir kali ia balas pas tadi pagi yang hanya "Y" tapi malam ini benar-benar parah. Angga bahkan tidak membacanya sama sekali. biasa kalau dirinya menelpon pria itu mengangkat panggilannya saja walaupun ngak bicara sama sekali.


"Ka Angga pasti masih marah."lirih Rania mencoba memejamkan matanya tapi sialnya gk bisa. pkoknya besok dia harus bertemu sama Angga dan bicara baik-baik pada pria itu secara langsung.


Rania pun mematikan lampu kamarnya dan memaksakan dirinya untuk segera tidur walalu sebelumnya dia bertempur dulu dengan bantal dan gulingnya. berputar-putar seperti gasing di atas tempat tdurnya.


Perlahan pintu itu terbuka, menyembulkan Kepala Reyn yang sedang meningintip adek perempuanya yang tertidur. ia berjalan pelan, takut membangunkan tidur Rania. tanganya terulur mengusap rambut Rania.


"Ran, Kamu pantas dicintai bukan mencintai"


......................


Berbeda dengan Rania, Angga Justru berkutat dengan beberapa lembar buku ditanganya. Angga sangat serius mengerjakan tugas kuliah yang akan dikumpulkannya besok. namun begitu ponselnya berdering perhatian Angga teralih. ia berpikir Airin yang mengiriminya pesan, senyum yang sempat tercetak diwajahnya perlahan memudar saat melihat siapa yang mengiriminya pesan.


+62xxx


"Selamat malam Angga Oppa"


"Kamu udah tidur belum ?"


"Oppa luka lebamnya gimana ? besok Rania bawain obat pereda nyeri ya ?"


"Oppa balas dong, Rania kan khawatir"


Angga meletakkan ponselnya asal kesamping meja. ia tidak ingin berurusan dengan Rania lagi. niatnya ingin memblokir nomor Rania namun belum sempat ia menekan tombol blokir Rania sudah lebih dulu menelponya.


Angga memilih tidak perduli dengan panggillan Rania. dan kembali fokus mengerjakan tugasnya, ia membiarkan hpnya itu bergetar.


"5 panggilan tak terjawab"


"Oppa kok ngak jawab telepon Rania ?"


"Oppa marah ya sama Rania?"


"Sekarang kamu makan dulu ga"Bu Angrit tiba-tiba masuk kekamar Angga seperti biasanya, jika Angga sibuk seharian dikamar mengerjakan tugas-tugas kuliahnya sampai pria itu lupa untuk makan, kalau tidak dibawakan makanan oleh ibunya kekamar.


"Taruh aja diatas meja bun"ucap Angga pelan. Bu Anggi mendatangi Anaknya itu dan berdiri disampingnya. tanpa menunggu waktu lama, Angga langsung menyantap ayam goreng masakan ibunya.


"pelan-pelan makanya ga" Ucap bu Angrit mengusap lembut rambut Angga.


Angga mengancungkan kedua jempolnya dan masih mengunyah makananya.


"Rania gimana kabarnya hm"


Pertanyaan Bu Angrit membuat Angga tak berselerah makan. pria itu meletakkan sendok dan garpunya dengan kesal.


"Bun, Aku ini anakmu kenapa malah nanya kabar Rania ?"kata Angga kesal. "harusnya Aku yang ditanya, bukan gadis aneh itu,"


Bu Angrit menoyor pelan kepala Angga."gadis aneh gimana ? kamu yang aneh, anak semanis Rania kok dibilang aneh"


"Bunda liat kan luka diwajah Angga"Angga menunjukan beberapa luka di wajahnya."Ini karena ulah Abang Rania. dia nyalahin Angga sudah buat adeknya itu pingsan"


"Apa ? pingsan ?!" Pekik Bu Angrit.


"iya"jawab Angga malas.


Bu Angrit menatap kesal pada putranya itu.


"Wajar, kalau abangnya itu mukulin kamu. mungkin saja kamu sudah keterlaluan sama Rania."ucap Bu Angrit. ia tau sikap Angga yang selalu dingin pada Rania.


"bun..."


"Bunda pokoknya maunya kamu sama Rania bukan Airin !"


To Be Continued ...