Love Obsession

Love Obsession
gadis aneh 2



"Baper ngak ?"


"B aja "


"Kalau Aku cium gimana ?"kata Rania lagi lebih bersemangat.


"Apaan ini cium-cium ?"


Baik Rania atau Angga keduanya sama-sama menoleh kearah sumber suara.


"Itu ---"


"Kalian ngapain disini ? "


"Diam"sahut Angga datar.


Rania menyenggol lengan Angga."Oppa jangan gitu sama abang Reyn"Angga mendelik malas pada Rania


"Terus Gue harus jawab apa ? jungkir balik kita disini ? "Ucap Angga mulai kesal. entah sampai kapan penderitaanya berakhir. diikutin Rania kemanapun bahkan kekamar mandipun Rania juga ikut, kalau saja semua pria yang ada di Wc tidak mengusir Rania keluar.


"ish ngak gitu juga."omel Rania dengan memukul pelan lengan Angga. pria itu hanya diam dengan ekpresi datarnya.


"Ran kamu udh sarapan kan ?"tanya Reyn pada adek perempuanya itu.


"Iya sudah kok bang, tadi sama kak Angga."Ucap Rania berbohong. dahi Angga berkerut. maksud ? sejak kapan Rania makan denganya ? ingin bilang tidak malas memperpanjang urusan. hingga akhirya pria itu hanya mengangguk pasrah.


"Baguslah, kalau begitu abang kekelas dulu." Reyn memicingkan matanya kesudut ruang Basket. "Si Rayn jangan lupa suruh kekelas."ucapnya lagi.


"siap Bos!"ucap Rania penuh semangat. lalu mengusir abangnya seperti anak kucing.


"hust hust hust sana pergi"


"Ran !" panggil Reyn melotot. Rania bukanya takut malah nyengir pada abangnya.


"Hehe"


Reyn menggelengkan pelan kepalanya. lalu pergi meninggalkan mereka.


"Abang Aku ganteng banget ya, dari belakang jalanya itu kaya model. Airin pasti suka sama modelan kaya gitu,"ucap Rania memanasi. Ia sengaja ngomong seperti itu, soalnya ia tahu Angga sedang cemburu. lihat saja tatapan pria itu ngak berhenti kearah Reyn dan Airin.


"Kalau Rania sih. sukanya sama Oppa aja."Rania ingin memegang tangan Angga, tapi pria itu lebih dulu meninggalkanya.


"yaaa! tinggal aja terus sampai dora punya mata sipit"omel Rania berdecak kesal.


......................


Beginilah keadaan dikelas Rania, sangat tenang saat dosen killer masuk memberikan penjelasan mata kuliah. semuanya seakan fokus dengan penjelasan yang diberikan. beda cerita sama Rania saat semua memilih diam dan mendengarkan dengan baik penjelasan dosen killer. Rania justru memainkan ponselnya, entah apa yang gadis itu ketik sampai ia cekikian sendiri dibangkunya.


"Kalau lagi kelas Saya . jangan ada yang main HP !"


perhatian langsung tertuju pada Rania. yang dituju malah tidak merasakan apa-apa, ia seakan hanyut dalam dunianya sendiri bersama ponsel genggamnya. sarah & sisil yang berada dibelakang Rania sudah menegurnya daritadi, tapi dasarnya Rania yang memang tidak dengar hingga akhirnya,..


"Ran,Bu dini liatin lo tuh !"tegur sarah menoyor belakang Rania. gadis itu mendegus dongkol.


"Yaaa ! Gue lagi chatingan sama Ka Angga ! nganggu aja Lo." ucapnya kesal. sarah langsung menunduk, sebenarnya bukan takut akan kemarahan Rania. tapi sang guru killer berada didepan Rania dengan tatapan melototnya.


"lagi chatingan ya ?"


"hay ibu cantik."ucap Rania mengagaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu sedikit mundur kebelakang membisikan sesuatu kepada sarah dan sisil.


"kenapa ngak bilang daritadi.?!"pekiknya tertahan.


"Udah daritadi kali."ucap sisil balas berbisik.


"siniin hp kamu !"


"Ya bu jangan diambil dong, kalau ibu mau bisa beli sendiri."


"Rania !"


"Iya iya"Rania memberikan Hpnya dengan berat hati.


Bu dini mengambil Hp Rania lalu membaca pesan yang Rania tertawakan daritadi, hingga tak fokus pada penjelasanya.


"hay ka Angga"


"udah makan belum ?"


"Oppa, Aku lagi ada matkul nih, gurunya killer malas banget liatinya. mending liatin kamu"


"Angga Oppa piuw piuw bales dong."


"Oppa ngak punya keyboard ya ? daritadi pesan Rania dibaca mulu."


"Oppa, Rania laper. nanti jam istirahat makan bareng ya ? "


"Yuhuu~ apa yang disana masih hdup ?"


Seisi kelas dibuat tertawa dengan yang dibacakan Bu dini. bagaimana tidak isi chat Rania dengan Angga sangat mengelikan perut mereka. sampai-sampai Bu dini juga ingin ketawa, namun ia tahan, takutnya nanti mereka tidak segan padanya.


Rania sendiri jadi malu, aduh bisa-bisanya ia seperti ini. kadang cinta memang bisa bikin orang jadi gila. alasan ia cekikikan tadi, karena dapat balasan dari Angga dan jawabanya hanya "Y"


"Ini yang kamu maksud chatingan ?"Bu Dini menjukan isi Chatingan Rania. "chatingan itu saling membalas pesan bukan kaya wartawan,"ucap Bu dini diikuti gelak tawa orang-orang yang ada dikelas.


"Intinya kan Ka Angga jawab Y. barusan Lo bu dia membalas pesan Rania. Kan sebuah keajaiban dunia melihat Angga menjawab pesan"jelas Rania dengan bangganya.


"HAHAHAHA"


"Diam semua!"gertak Bu dini"


Teriakan menggelegar bu dini membuat kelas seketika hening kembali. walau masih terdengar misuh-misuh yang tertahan.


"Semuanya kembali fokus pada pelajaran!"tegas Bu dini. "dan Rania, hape kamu Ibu sita."kata bu Dini lagi, lalu membawa hp Rania kedepan mejanya. Rania hanya bisa pasrah mau melawanpun yang ada nanti dia malah di skor. bukanya Rania takut akan di skor dari kampus. yang ia takutkan kalau ngak kekampus, nanti ngak ketemu Angga.


Rania dengan malas membuka buku pelajaranya. menatap dongkol guru killer yang didepanya."mirip kaya papan tulis badan ibu, jadi gk keliatan yang dijelaskan."omel Rania dalam hati.


......................


"Kamu udah mulai suka sama Aku ya ? cie pesan Aku udah dibalas"goda Rania menusuk-nusuk pelan otot lengan Angga dengan telunjuknya. saat ini Angga berbaju kaos tanpa lengan. Pria bermata sipit itu, sedang ada latihan basket. Rania menatap dari samping wajah pria yang amat ia puja setiap saat, ia dapat melihat dengan jelas keringat Angga yang mengucur deras dipelipisnya. Rania dengan semangat mengeluarkan sapu tanganya lalu mengelap Wajah Angga yang penuh keringat.


"Bisa jangan nganggu gue dulu ?"Kata Angga dingin. Rania langsung menurunkan sapu tanganya dengan tak bersemangat. ia lalu kembali menatap Angga dengan tatapan manjanya.


"Oppa, Rania lapar. daritadi belum makan tau"melas Rania berkata jujur. ya gadis itu memang sangat lapar, bukanya tadi ngak kekantin. namun waktunya ia habiskan dengan merayu bu Dini agar mau meberikan hpnya yang disita dan hal itu berhasil, bu dini akhirnya luluh. Rania bisa kembali hpnya, tapi cacing diperutnya belum dia beri asupan daritadi.


"Lo bisa ngak, sekali aja diam,"ucap Angga dingin. meremas kuat aqua botolnya yang kosong.


"Ngak bisa!"geleng Rania cepat.


Angga mendelik tajam saat gadis itu Tiba-tiba menempel padanya. bukan karena modus, tapi Rania takut terkena lemparan bola yang menuju kearah mereka. sudahlah dia lapar, kena lemparan bola basket lagi. kan ngak lucu.


"Cie nempel-nempel" Goda Bagas yang ingin mengambil bola basket didekat Rania.


"kalian bisa main basket ngak sih ? kalau gue terkena bola gimana ? terus jadi lupa ingatan ? dan parahnya ngelupain Angga oppa ?oh no! tidak bisa"Rania berucap dramatis. ia mengeratkan pelukanya di lengan Angga. pria itu sudah cukup muak dengan sikap Rania yang selalu nempel padanya.


Bagas daritadi manggut-manggut ngak jelas mendengar penunturan Rania yang panjang kali lebar dan lebar kali tinggi tidak menemukan jalan keluar dari setiap perkataan Rania. alias tak masuk akal.


"pergi sana lo !"usir Rania kejam.


"Gue masukan ke ring basket juga lo."cibir Bagas.


"YAAAA" teriak Rania kesal. Bagas langsung berlari, kembali ketengah lapangan.


Angga dengan kasar melepas pengangan tangan Rania di lenganya. hingga gadis itu otomatis hampir terjatuh karena sepenuhnya ia berpegangan kuat pada Angga dan tiba-tiba dilepaskan gitu aja.


"Pelan-pelan dong Oppa"gerutu Rania kesal.


Angga tak perduli dan memilih pergi, moodnya lagi tidak ada untuk bermain basket, pikirannya sangat kacau karena masalahnya dengan Airin kalau saja mereka ngak marahan, mungkin Airin menemaninya latihan basket. namun gadis itu memarahinya balik karena tidak suka dikekang dengan Angga padahal bukan siapa-siapa.


"Oppa tunggu napa ish ! coba jalan tuh gandengan, jadi ngak kaya acara kejar mengejar. diliatin ngak lucu tau"protes Rania setengah berlari.


Angga berhenti dan berbalik kebelakang dengan kesal. pikiranya sedang kacau. ditambah Rania lagi yang bikin dia geram.


"Lama lama gue jahit mulut Lo" sentaknya dingin.


Rania sudah kebal dengan sikap dingin Angga. hingga gadis itu sudah terbiasa. Rania seakan ngak ada matinya kalau sudah mengejar cintanya.


"kalau bibir Rania dijahit nanti Oppa kangen."


"Ngak akan. malah bagus kalau lo diem seumur hidup"


"Ngak gitu Oppa--"


Belum sempat Rania melanjutkan kalimatnya. Angga menutup mulut Rania, menyenderkan tubuh Rania hingga pungung belakang gadis itu tertahan oleh dinding.


"Mphhhhh."


"Kalau diam gini kan bagus"sesaat Angga sempat terpanah menatap wajah Rania dari dekat. mata yang sangat innocent, bulat bewarna hitam pekat dengan bulu mata yang lentik.


"AHHH"


Namun seketika ambyar saat Rania dengan sengaja menginjak kaki Angga.


"Sinting Lo ya !"murkah Angga tajam. wajahnya sudah merah padam menahan sakit, bayangin aja itu heels yang dipake Rania kalau injak kaki orang rasanya mantap.



"PERGI ! "


"Ma--mmaaf"


"Jangan sampai Gue berbuat kasar sama lo !"