Love Obsession

Love Obsession
Masa lalu Rania



"Kamu yang mengenal Cinta, maka akan mendapatkan patah hati. kamu pasti tau itu dan bagaimana rasanya."


Rania mendaratkan bokongnya di sofa ketika sudah sampai dirumah Angga. Agil dan bagas sudah pulang kerumah mereka masing-masing. sementara Kedua orang tua Angga belum pulang dari pekerjaan mereka dan Angga sudah terbiasa pulang kerumah dengan keadaan sepi untung saja ada Bi inah yang menemaninya dirumah.


Rania melepaskan Jacket pria itu dari bahunya dan memberikanya pada Angga saat Pria itu berjalan kearahnya dengan membawa handuk.


"Ganti pakaian lo!? "Perintahnya, melempar handuk dan mengenai wajah Rania.


"Kamu ngak usah khawatir, Aku ngak bakal sakit Kok dengan baju basah kaya gini"ucap Rania pelan, terdengar tengah menggoda Angga.


Angga mendelik malas."bi, tolong antar cewek ini kekamarnya."ucap Angga saat Bi Nina datang menghampirinya.


"Baik Tuan muda."ucap bi nina.


Bi nina pun hendak mengantar Rania kekamarnya sesuai perintah Angga. sementara Angga duduk sambil memainkan ponsel genggamnya. sebelum mengikuti Bi Nina, Rania sempat melihat Angga tersenyum. tanpa sadar dia pun ikut tersenyum, walau dia tau senyuman itu pada layar ponsel bukan kepadanya. Angga mana mau senyum kepadanya.


......................


Rania menyiapkan makan malam untuk keluarga Angga, yang dibantu oleh bi nina


Rania tersenyum senang ketika masakannya telah jadi. tidak sia"usahanya belajar masak bersama dengan bi nina, walau banyak kesalahan yang dia buat, smpai dapur begitu berantakan.


"Aku seperti masak buat suamiku aja ya bi hehehe."Rania melepas celemek yang ia pake tadi, lalu menyerahkanya pada bi nina.


"Mbak Rania sudah seperti menantu idaman dirumah ini?"puji bi Nina, membuat Rania tersipu malu.


"Bibi bisa aja"


"Bener Mbak, selain cantik Mbak Rania juga jago masak"puji Bi Nina melebih-lebihkan dari keadaanya, jago masak darimana. keadaan dapur saja sudah menjelaskan semuanya. Rania tergeleng heran, Rania memang terkenal dengan gadis yang angkuh tapi tidak kepada orang yang berjasa mengurus rumah. karena baginya, tanpa mereka ia tidak bisa hidup. Rania terbiasa berbaur dengan pekerja yang berjasa dirumahnya, seperti tukang kebun, supir, asisten rumah tangga, sampai pak satpam Rania juga sudah dekat.


"mbak Rania sama Tuan mudah Angga ada hubungan apa sebenarnya ?"tanya Bi Nina kepo. tapi Rania tidak merasa keberatan dengan itu, justru ia hanya tertawa menatap mata Bi Nina yang penuh rasa penasaran.


"Cuman temen Bi"akuh Rania Jujur.


Bi Nina tergelak heran."masa sih ? tapi sepertinya tadi Tuan mudah sangat perhatian sama Mbak.


Rania tertawa geli mendengarnya."Bibi bisa bilang itu perhatian dari segi mananya bi ?"tanya Rania heran.


"Dari cara tuan muda memberikan jacket kesayangannya sama Mbak"balas bi Nina langsung. Rania mengeryitkan keningnya seakan lewat ekpresi wajahnya meminta penjelasan lebih lanjut, Bi Nina yang dapat menangkap maksud dari Rania melanjutkan kalimatnya."Selama ini, jacket yang dipinjamkan Tuan muda merupakan jacket yang paling jarang disentuh orang lain"kata Bi Nina serius membuat Rania lebih penasaran.


"Maksud Bibi, karena Angga meminjamkan jacketnya jadi bibi menangkapnya sebagai bentuk perhatian Ka Angga ?"tebak Rania sangat tepat. Bi Nina mengangguk antusias seperti kuis yang berhasil dipecahkan.


"Rania masih tidak mengerti, memangnya selama ini Jacket ini jarang dipengang orang lain, selain Ka Angga sendiri ?"tanya Rania lagi, agar semakin yakin.


"Iya mbak, soalnya setahu Bibi Tuan muda paling tidak mau jacketnya dipinjam orang lain, jangankan dipinjam bibi mau cucikan waktu itu aja Tuan muda malah memarahi bibi. "kata Bi Nina menjelaskan"katanya, biar khusus jacketnya yang ini dia yang cuci sendiri."Rania mengangguk paham. dalam pikirannya ia masih ada harapan untuk mendekati Angga.


"Kalau begitu, apa Bibi tau selain Rania siapa lagi yang pernah memakai Jacket kesayangan Ka Angga ?"tanya Rania pelan.


Bi Nina tampak berpikir."bentar, Bibi ingat-ingat dulu"


sambil menunggu jawaban Bi Inah, Rania mengambil gelas ia berniat membuat teh hangat untuk Angga.


"Sepertinya tidak ada deh mbak"jawab Bi Nina sedikit ragu dan berhasil membuat senyum Rania tercetak jelas dibibirnya, namun belum lama senyum itu mengembang dibibirnya, Bi Nina kembali melanjutkan kata-katanya hingga bibir yang melengkung berubah lurus.


"Maaf mbak, Bibi Baru ingat. kalau selain mbak Rania ada satu cewek cantik. rambutnya panjang sepinggang, persis seperti rambut Mbak Rania."


Tanpa Bi Nina katakan siapa orangnya, Rania sudah dapat menebak jika orang yang dimaksud adalah Airin. ternyata dia masih harus mengalahkan Airin lebih dulu agar dapat mendapatkan perhatian Angga sepenuhnya. tapi bagaimana caranya ? selama ini Angga selalu memprioritaskan gadis itu, lantas Rania bisa apa ? tapi tidak ada kata menyerah dalam kamus Rania soal itu. iya yakin bahkan sangat yakin, jika nantinya Angga sendirilah yang akan mengemis cintanya untuk Rania.


"Non kenapa bengong."tegur bi nina ketika melihat Rania melamun smpai-sampai gadis itu tidak sadar telah memasukan banyak gula kedalam teh yang dibuatnya.


"Bi Aku keluar dulu mau antar minuman ini buat ka Angga ya"pamitnya terburu-buru tanpa menghiraukan panggilan bi nina.


"Tapi non minumannya?"cegah Bi nina namun Rania sudah pergi.


Bi Nina menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Aduh gimana nih? Kebanyakan gula itu. tuan mudah pasti marah"Bi nina ingin menghampiri tapi melihat dapur berantakan membuatnya mengurungkan niatnya. yang terpenting sekarang, dapur harus segera beres. karena sbentar lagi kedua orang tua Angga akan pulang. pasti mereka akan marah jika dapur berantakan. bi nina pun tak ingin ambil resiko, ia segera membereskan dapur yang berantakan.


Rania mendatangi Angga di sofa ruang tv. ia mendekati Angga yang sedang tertidur di sofa.


"Keliatanya kamu kelelahan."Rania duduk, dan menatap lekat wajah Angga. gadis itu menaruh teh hangat buatanya di meja. ia perlahan membangunkan Angga dengan hati-hati.


"Oppa bangun"Rania memukul pelan pipi Angga. karena merasa terusik Angga mengeliat dlm tidurnya.


Airin ...


Dug


Rania memalingkan wajahnya. bahkan didalam mimpi Angga, Airin selalu ada. Angga sepertinya tak pernah memikirkanya, sekalipun itu didalam mimpi .


"Minumlah, sebelum ini dingin oppa."Rania menguncangkan pelan tubuh Angga.


"Berisik banget sih lo !"sentak Angga ketika merasa tidurnya diganggu.


"Kamu minum dulu teh hangat ini. Aku juga sudah siapkan makan malam untuk kamu dan orang tua kamu."Ucap Rania lembut.


Angga mengerutkan dahinya.


"kamu ? Hahhaha"Angga tertawa meremehkan.


"Sejak kapan jadi aku-kamu ?"lanjutnya lagi.


"Barusan, oppa ngak dengar ?"Rania balik bertanya.


"Lo denger ini baik-baik. gue emang ijinin lo tinggal disini. tapi jangan bertingkah seakan-akan Lo pacar gue" tegas Angga dingin.


"Iya maaf, nanti dulu marahnya. kamu minum dulu nih nanti dingin"Rania mengambil teh hangat yang dibuatnya. menyerahkanya ke Angga."minum dulu, biar hatinya tenang. jadi ngak marah-marah mulu ."rania cengegesan, sementara Angga lagi-lagi memasang wajah dingin.


Sebenarnya ia tidak mau meminumnya, tapi apa salahnya menerima kebaikan orang lain, toh dirinya juga sedang haus. Tangan Angga terulur mengambil teh hangat ditangan Rania. ada sentakan Aneh saat tanganya tanpa sengaja menyentuh tangan Rania. dengan cepat Angga menggelengkan kepalanya.


"Kenapa oppa ?"tanya Rania bingung melihat ekpresi Angga.


"Ngak usah banyak tanya."ketusnya dingin.


Rania tersenyum menanggapinya, angga sendiri sedikit bingung berulang kali ia selalu berkata kasar tapi Rania selalu tersenyum padanya.


"Baru sadar ya kalau Rania itu cantik ?"


Angga tergelak dan langsung mencibir kasar.


"Najis!"


"Hahah santai dong oppa, gitu amat mukanya."Rania menyalakan televisi untuk mengusir rasa gugupnya. Sesekali melirik kearah Angga yang kini mencoba meminum teh buatanya. Rania tersenyum senang, setidaknya Angga masih mau meminumnya.


Perlahan tapi pasti dia yakin jika nanti Angga akan luluh padanya. tinggal menunggu waktunya, maka Rania harus bersabar mendapatkan cinta dari Angga.


"Huekkkkk"Angga memuntahkan kembali teh yang dibikin Rania. Rania merasa heran, kenapa Angga memuntahkan teh buatanya ? dengan cekatan Rania mengambil tisu didekatnya. ia berniat membersihkan baju Angga yang sedikit basah akibat muntahanya sendiri.


Rania terpelonjak,kaget."kenapa oppa ? "Tanya Rania kebingugan.


"Lo mau bunuh gue ?!"Bentak Angga mengenggam keras gelas itu.


"Rania ngak kasih racun oppa"ucap Rania ketakutan. kepalanya menunduk, Angga lagi-lagi memarahinya. bisa tidak sekali aja Angga tidak membentaknya seperti ini ? rasanya sangat menyakitkan.


"Gula lo kebanyakan anjing !"Angga berdiri, menatap tajam Rania. Rania mengigit bibir bawahnya menahan air matanya yang sialnya ingin jatuh.


"Maaf"


Hanya kata itu yang bisa Rania ucapkan,. Rania merasa setiap yang ia lakukan, tak pernah menyenangkan Angga. selalu saja membuat pria itu Kesal.


"Nyesel gue ajak lo kerumah!"cercah Angga kasar. Rania memilih menunduk dengan tatapan tajam Angga kepadanya. jika mata Angga mengandung pisau, mungkin saja Rania sudah mati saat itu juga.


"sial, bikin emosi aja."umpat Angga memilih pergi meninggalkan Rania yang diam tak bergeming. gadis itu memilih menunduk karena tak ingin Angga melihatnya menangis. ia berusaha untuk menyembunyikan air matanya namun tidak bisa, Rania merasa ia di fase baper apapun perkataan menyakitkan masuk ketelinganya, ia akan sangat mudah menangis padahal ini bukanlah sifatnya yang lemah. setelah Angga benar-benar hilang barulah Rania menjatuhkan dirinya kelantai. ia menangis untuk menumpahkan segala rasa sesaknya yang tertahan. ia butuh pelampiasan setidaknya dengan menangis dapat mengurangi rasa sakit hatinya. Rania memegangi dadanya yang terasa sesak, seperti tidak ada rongga untuknya bernafas. sangat menyakitkan.


"Rania, astaga sejak kapan kamu disini sayang"kedua orang tua Angga baru sampai rumah dan mendapati Rania yang sedang menangis diruang tv.


"Kamu ngak papa sayang.?"Bu Angrit langsung mendekap Rania dari samping. sementara pak Saputra mencoba mengusap pucuk rambut Rania Lembut.


Rania semakin menangis terisak dipelukan Bu Angrit, ya setidaknya ia butuh sandaran seseorang disaat ia sedang terpuruk dan Bu Angrit datang diwaktu yang tepat.


"Apa Angga melukai kamu nak ?"tebak pak saputra. ia menduga jika Angga yang membuat Rania menangis. kedua orang tua Angga sudah menganggap Rania putri mereka, singkat ceritanya, Rania merupakan anak dari sahabat mereka.


Rania menggeleng pelan. ia menatap Bu Angrit dan pak saputra secara bergantian. Air matanya terus berlinang di pipinya.


"Rania ngak papa."ucap Rania lirih, Bu Angrit langsung memeluknya. ia tau ada yang tidak beres dengan semuanya.


"Ayah panggilin Angga sebentar"kata pak saputra menenangkan Rania yang masih terisak dipelukan istrinya.


"Anggaaa!"teriak Pak saputra memanggil putra semata wayangnya itu.


Rania tak sempat mencegahnya. Pak saputra sudah memanggil Angga. ia yakin pasti angga akan dimarahin, padahal alasan dia menangis bukan karena Angga sepenuhnya. tapi lebih tepatnya karena masalah yang sedang ia hadapin sekarang.


"Iya kenapa yah ?"Angga turun dari tangga menghampiri kedua orang tuanya dan sempat melirik Rania yang berlinang air mata. ia smpat kaget. apa gadis itu menangis ?


"Jelaskan ke Bunda sekarang, kenapa Rania bisa nangis tadi ?"tanya bu Angrit yang masih memeluk Rania.


"Emangnya dia nangis ?"heran Angga tak menyangka perkataanya barusan bisa membuat Rania menangis sampai sesegukan.


"Kamu nih bagaimana jadi cowok. cewek kamu buat nangis. Ayah gk pernah ajarin kamu buat kasar sama cwek Angga !"kesal pak Saputra merasa kecewa.


"Tapi tadi Angga sama dia baik baik aja yah."bela Angga tak terima disalahkan.


"Terus kalau bukan kamu, kenapa Rania bisa nangis seperti ini ?"tanya pak saputra geram.


Angga menatap jengkel pada Rania yang masih bersandar di pelukan bundanya.


"Ayah tau sendiri kan ? kalau Rania itu anaknya manja, lagian juga Kalau dia menangis tinggal kasih barang mahal juga paling sudah diam."kata Angga ada nada meremehkan. dan mengusik telinga Rania hingga Rania memilih menyudahi rasa sakitnya dan menekan emosinya. ia berusaha tersenyum didepan Pak saputra dan Bu Angrit.


"Rania ngak papa, cuman rindu aja sama mama&papa"


......................


Saat makan bersama dengan keluarga Angga, Rania merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan saat dirumahnya. makan malamnya sangat tenang dan penuh canda, berbeda dengan dirumahnya. yang ada hanyalah kata-kata menyakitkan tiap yang diucapkan di meja makan atau bahkan kesunyian. selintas perkataan abangnya dulu kembali terdengar jelas ditelinganya.


"*Dasar manja"


"Lo itu cuman petaka buat keluarga"


"harusnya waktu dia lahir, kita titipkan saja ke panti asuhan Reyn"


"Dasar bego, mau jadi apa Lo dengan nilai segini?!"


"Gue benci kehadiran Lo"


"Berhenti buang-buang waktu Rania, kesukaan Lo terhadap Korea gak bakal bisa menjamin lo bisa sukses*"


"Kamu kenapa hanya diam Sayang ?" tanya Bu Angrit menatap gadis itu. Angga ikut memperhatikan Rania namun detik kemudian ia berusaha untuk tetap cuek.


Rania menggeleng pelan."Rania hanya terharu kalian bisa sesayang ini sama Rania. padahal Rania bukan siapa-siapa kalian" Ucap Rania menatap haru Bu Angrit dan juga pak Saputra.


"kamu sudah kita anggap anak sendiri dirumah ini, jadi jangan sungkan ya kalau ada apa-apa cerita aja."terang bu Angrit tersenyum lembut.


Kedua orang tua Angga dan orang tua Rania adalah sahabat sejak SMA. jadi tidak heran jika Bu Angrit dan Pak Saputra menganggap Rania sebagai putri mereka sendiri. bahkan mereka punya keinginan besar untuk menjodohkan Rania dan Angga sejak Rania masih didalam perut. Bu Angrit jadi teringat saat putranya itu antusias menyambut kelahiran Rania.


"Ran, kenapa kamu pergi dari rumah ? apa kedua abang kembar kamu ngak nyariin ?"tanya Pak saputra. ketika ia sudah selesai makan.


"Rania sudah ijin sebelumnya, mau nginep dirumah Ka Angga" Rania menatap Bu Angrit, pak saputra dan juga Angga yang tidak mau menatapnya."apa boleh Rania tinggal disini untuk beberapa hari ?"


"tentu boleh dong sayang"Jawab Bu angrit sangat senang.


"uhuukk"makanan yang Angga telan. nyangkut ditenggorakanya.


dengan cekatan Rania mengambilkan minum untuk Angga. awalnya Angga ragu tapi ia tidak bisa menolak karena ada kedua orang tuanya yang tengah menatapnya serius.


"Pelan-pelan Ka"


......................


Setelah makan malam selesai Angga diperintahkan kedua orang tuanya untuk mengantar Rania ke kamarnya. Kamar yang memang disediakan untuk tamu. Rania menatap Ragu kearah Angga. Pria itu tidak pernah senyum sedikitpun, Angga bukanlah tipe pria yang dingin tapi sikap dinginya hanya berlaku untuk Rania.


"Kamu masih marah ya sama Aku ?"


Angga berhenti. dan tepat didepan pintu kamar. ia menatap Rania dengan tajam.


"maumu ?"


"Maaf"Sesal Rania menunduk.


Angga dapat melihat dengan jelas lengan Rania yang diperban kain kasa. ia mengerang kesal karena perbuatanya Lengan wanita itu terluka.


"Apa lukanya sedalam itu ?"


"hah ?" Rania mendogakakan kepalanya. bingung harus menjawab apa. benarkah Angga bertanya padanya ?


"Nanti minta Bi inah untuk menganti perbanmu."Angga berucap dingin namun terdengar hangat ditelinga Rania. gadis itu tersenyum sangat lebar.


"terima kasih--"perkataan Rania mengantung Angga sudah lebih dulu meninggalkanya.


"terima kasih karena sudah memperhatikanku"