
"Dia sangat beruntung dapat melihatmu tersenyum, tidak sepertiku yang hanya melihatmu marah."
Happy Reading ~
BUGH !
BUGH !
BUGH !
"RAYN BERHENTI !"
Mendengar namanya dipanggil. Rayn menoleh kearah sumber suara. tanganya masih memegang kaos Angga.
"Sial"Umpatnya. melepas kasar peganganya pada kaos Angga.
Airin mendatangi Angga yang tersungkur lemas di aspal jalan."Kamu ngak papa ?"tanya Airin khawatir. ia memegangi wajah Angga yang penuh Luka lebam. pria itu hanya tersenyum tipis menatap Airin UA berusaha memberitahukan Airin lewat senyumnya kalau dirinya baik-baik saja.
"Kamu ngapain disini? bukankah kamu sudah pulang ?"tanya Angga pelan.
"Aku ada urusan organisi kampus, mangkanya lama pulang."Ucap Airin pelan"Aku ngak sengaja tadi liatin kamu bertengkar dengan Rayn. mangkanya Aku langsung kesini"lanjut Airin sambil menatap prihatin wajah Angga yang luka lebam.
Rayn berdecak sebal apa-apaan mereka berdua ? memangnya dia patung disini.
"Lo beruntung ada Airin yang
nyelamatin Lo "Ucap Rayn datar.
"Udah Rayn ! kamu udah buat Angga terluka"Sahut Airin menajam. pria itu langsung bungkam. hal itu mengundang kemenangan Angga. ia tersenyum puas pada Rayn. dengan sengaja ia memanas2sin Rayn, dengan mengadu manja pada Airin.
"Aku sakit Rin, sakit banget disini "Angga menunjuk wajahnya.
"Oke, kita keruang kesahatan sekarang ya"Airin memapah Angga ke pundaknya.
"Cih, sialan"kesal Rayn menendang batu tak berdosa, eh malah dia yang sakit sendiri.
"Akh"Jeritnya memegang satu kakinya. sementara Angga dan Airin sudah menuju keruang kesehatan.
......................
Rania menerima suapan dari bagas, gadis itu makan dengan sangat lahap. padahal dimulutnya masih ada tapi dia terus meminta suapan dari Bagas sampai pipinya mengembul. Bagas terkekeh melihat Pipi Rania.
"sangat menggemaskan" batin Bagas. sambil terus menyuapi Rania.
"Ini karena gue Lapar ya, jadi jangan kegeeran"cebik Rania, sambil mengunyah makananya.
"Iya bawel"Ucap Bagas sambil menyuapi Rania.
Rania dan Bagas tidak menyadari kehadiran Angga dan Airin yang baru tiba di Ruang kesehatan. mereka berdiam diri diambang pintu, bukan Airin yang berdiam tentu saja Angga yang kini sedang ia rangkul.
"ck, Katanya cuman gue yang dia suka, terus yang ini apa ? dasar pembual"gumanya sangat pelan. sehingga samar-samar Airin mendengarnya.
"Kenapa ga ?"tanya Airin mengerutkan dahinya.
"ngak papa."jawab Angga cepat. Airin mengangguk singkat, lalu membawa Angga kesofa Ruang kesehatan.
Angga oppa!"panggil Rania menolak suapan terakhir bagas. wanita itu buru-buru berdiri menghampiri Angga. Rania terlihat cemas saat melihat wajah Angga yang babak belur. entah siapa yang tega memukuli wajah tampan Angga .
Bagas mencoba membantu Rania untuk turun dari ranjang."Pelan-pelan Rania."ucap Bagas memegangi bahu Rania.
Berhenti lo disitu ! "Sentak Angga dingin. ia masih kesal dengan perbuatan Rayn diparkiran motor tadi.
Rania duduk dipinggir ranjang dengan perasaan sedih, pdahal ia hanya ingin melihat keadaannya. tapi pria itu malah menghentikanya. gadis itu menunduk, Bagas prihatin melihat Rania. ia pun meletakan mangkuk bubur itu dimeja samping tempat tidur.
Airin mengobati dengan telaten luka lebam Angga. meniup wajah Angga dengan Lembut.
tentu saja membuat Rania terbakar cemburu. Angga begitu lekat menatap Airin. sementara denganya? Angga selalu menatapnya dingin. hati Rania berdenyut sakit kala mengigatnya. dengan senduh ia menatap Airin yang sedang mengobati luka Angga.
"Ssst .."Angga mengerang tertahan saat Airin meletakkan es Batu yang dibaluti kain menyentuh kulitnya.
"Maaf" sesal Airin, mencoba lebih hati-hati.
Badan Rania bergetar melihat adegan didepanya saat ini, tangannya mengepal kuat. ia begitu iri dengan Airin yang bisa dekat dengan Angga, sementara dirinya ? Pria itu justru menolaknya.
"Lo yakin bakal kuat terus disini ?"tegur bagas yang merasa iba melihat Rania sejak tadi.
Rania mengangguk lemah.
"Makasih Ya,"Ucap Angga tersenyum pada Airin.
"iya"jawab Airin balik tersenyum lalu meletakkan mangkok silver itu di meja.
Entah setan apa yang merasuki Rania, gadis itu nekat untuk berdiri dan menjauhkan badan Airin yang dekat dengan Angga. Bagas belum sempat mencegahnya, Rania sudah lebih dulu menghampiri Airin dan Angga.
"Jangan terlalu dekat dengan pacarku !" ucap Rania duduk ditengah-tengah Angga & Airin. dengan berat hati Airin bergeser tempat duduk.
"Lo ngak denger yang gue bilang tadi ? "ucap Angga dingin.
"kamu ngak papa ? mana yang luka ?"tanya Rania khawatir. gadis itu mengabaikan pertanyaan dingin Angga. ia hendak memegang wajah Angga namun segera ditepis dengan kasar.
"PERGI LO !"bentak Angga keras. Rania terlonjak kaget, begitupun dengan Airin yang disebelahnya.
"Aku kan cuman khawatir sama Oppa" Lirih Rania.
"Berhenti manggil Gue dengan sebutan yang menjijikan !"kata Angga dengan nada ketus.
"Maaf"Rania menunduk menatap sendal jempit yang dipinjam di uks. hatinya sudah berdenyut-denyut. Angga selalu saja membentaknya, padahal Rania hanya khawatir dengan keadaanya.
"Lo ngak seharusnya kasar sama Rania, dia cuman khawatir sama lo ga"bela bagas menghampiri mereka.
"Temen lo disini siapa ? Gue atau cewek ini" tunjuknya pada Rania yang terus menunduk. gadis itu meremas lututnya sendiri.
"Bukan gitu ga, tapi lo ngak kasian sama Rania ? dia lagi sakit sekarang,"Ucap Bagas. ia tidak tega melihat Rania yang selalu saja mendapat perlakuan kasar dari Angga.
"Kayanya lo perduli dengan dia,"meilirik sekilas kearah Rania."suka lo sama dia ?"Lanjut Angga kembali yang membuat Bagas geram.
"Lo emang ngak punya hati ya ga ?"
"sudah Gas, ini bukan salah Ka Angga. tapi Rania, karena Rania ka Angga jadi marah"Rania memaksakan senyumnya. senyum yang terlihat baik tapi amat sakit didalamnya.
Bagas tercengang. Rania masih mau membela Angga, padahal pria itu sudah membentaknya dengan keras.
Angga tersenyum sinis."sadar diri juga lo, mulai sekarang kita jangan dekat-dekat.
lo jangan sekalipun nunjukin
muka lo depan gue, paham ?"ucap Angga dingin.
Rania mendongak, menatap Angga tak percaya. Bagas hanya bisa mengelengkan kepalanya. sementara Airin tak tau harus berbuat apa sehingga ia memiliih untuk diam.
"Tapi Rania ngak bisa jauh dari Oppa, Oppa jangan kaya gini,"Mohon Rania dengan suara bergetar.
"Gara gara lo gue mendapatin pukulan ini, lo liatkan?!"kata Angga emosi. Ia menujukan wajahnya yang lebam kepada Rania. gadis itu ingin memegang luka lebam Angga, namun pria itu menepis dengan sangat kasar.
"Abang lo yang mukulin Gue. jadi sekarang jauhin Gue dan jangan pernah temuin Gue lagi"Lanjut Angga semakin dingin.
"Abang Rayn ?"tebak Rania. karena Rania sangat tau sifat kedua abang kembarnya, tidak mungkin abang Reyn yang melakukanya.
"Iya, sudah jelaskan ? Dia ngak mau kita dekat. jadi lo jauhi gue sekarang, kalau lo ngak mau gue terluka."Angga menatap sinis pada Rania."gue bisa aja melawan tapi ngak ada gunanya juga, gue juga ngak punya perasaan sama lo!"Angga mengatakanya dengan penuh penekanan."Lo itu sama sekali ngak penting"Angga langsung berdiri
Setelah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Angga meninggalkan Rania begitu saja, lalu menarik pelan lengan Airin untuk ikut bersamanya .
Sakit ...
Rasanya menyesakan dada. tulangnya seperti patah,remuk Hancur berantakan. menyisakan tangis pilu yang berhasil lolos membasahi pipinya. Rania menangis terisak,menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bagas yang dari tadi hanya diam. mengangkat badan Rania untuk berdiri. mendekap gadis itu, menyandarkan Kepala Rania didada bidangnya. Rania tak menolaknya karena saat ini ia memang membutuhkan sandaran.
hiks ...
Rania menengelamkan Wajahnya di dada bidang Bagas. menumpahkan semua rasa sakitnya dengan menangis.
"Shutt,tenanglah"