
Rania berjalan dengan angkuhnya sambil membawa bekal yang berada ditanganya.
Suara Sorakan terdengar riuh di sepanjang koridor kampus. mereka menyambut kedatangan Ratu kampus paling menggelegar. bagaimana tidak penampilanya begitu wah bak seorang model/selebriti. jangan lupakan riasan dan pakaian yang ia miliki merupakan branded ternama.
Rania dengan percaya dirinya masuk kekelas Angga, Pria yang menjadi incaranya dan harus ia dapatkan bagaimanapun caranya. tentu saja Angga tidak mungkin menolak cewek secantik Rania yang menjadi idaman kaum adam. tapi itu semua hanya dipikiran Rania saja, nyatanya Angga sama sekali tidak menyukainya. dan bahkan selalu menghindar padanya.
semua mahasiswa/siswi yang ada dikelas tertuju kepada Rania. kelas menjadi ricuh dengan kedatangan Rania dikelas mereka. penampilanya membuat Pasang mata tertuju padanya.
"Ka Angga!"teriak Rania melambaikan tanganya. ia tak menghiraukan sorakan seniornya.
Sementara yang dituju sedang asik mengobrol dengan seorang Wanita. Angga menghela nafas kasar dengan ekpresi datarnya. ia sudah tau suara cempreng Rania yang memanggil namanya saat ini. dengan malas pria itu menoleh kebelakang.
Rania meletakkan kotak bekalnya dimeja Angga "Oppa, yuk temenin Rania makan"bujuk Rania memegang lengan Angga. Pria itu segera menjauhkan tangan Rania dari lenganya.
Gadis yang diajak mengobrol oleh Angga memasang raut wajah kesal. ini bukan pertama kali Rania selalu menganggu jika mereka sedang berdua. pernah Rania datang saat mereka hampir berciuman ditaman. tanpa tau malu Rania duduk ditengah, bisa dibayangin kan?Jadinya Mereka sama-sama mencium pipi Rania.
Gue pergi. pacar lo udah datang!"ucapnyaa menekan perkataannya dan berlalu pergi tanpa menghiraukan Angga yang meneriaki namanya.
"Airin !"
"Rania! bukan Airin oppa" Rania langsung duduk ditempat Airin duduki tadi.
Pria yang disamping Angga megumpat tawanya mendengar panggilan Rania untuk Angga.
"Gue ngak bicara sama lo! ."tegasnya dingin. Angga hendak berdiri menyusul Airin. namun tanganya ditahan oleh Rania.
"Apalagi ?"Ucapnya malas.
"Ngak Baik Lo ditawarin Makan malah pergi"Rania membuka isi bekalnya.
"Makan aja Lo sendiri!"cetus Angga kasar.
"Cie yang dibawain bekal sama yayangnya"ejek pria yang bernama Bagas. sahabat sekaligus teman sebangku Angga.
"Diam lo !"kesal Angga pada sahabatnya itu.
Rania masih tetap kukuh menyuapkan sandwich kedalam mulut Angga. namun belum sempat ia mendekatkannya kemulut Angga, pria itu menatapnya tajam. nyali Rania menciut menerima tatapan tersebut. hingga tanganya mengantung keudara menunggu sambutan. Melihat hal itu Bagas tanpa tau malu menerima suapan Rania, sontak membuat Rania berteriak keras.
"KENAPA LO YANG MAKAN ?!"
"Gue laper,"Bagas berujar enteng. sambil mengunyah sandwich yang sudah berada dimulutnya.
Angga mengosok telinganya. merasa terusik dengan teriakan Rania."Bisa diam ngak lo ?"ucap Angga dengan nada kesal.
"Mangkanya oppa makan dulu! Rania capek lo bikinya. "kata Rania mengeluh.
"Aku cuman mau makan sama Oppa doang, apa susahnya sih nerima suapan Rania ?"Rania menatap Angga penuh harap. berharap pria itu mau mendengarkanya dan ia cuman ingin Angga mau memakan bekalnya. karena selama ini, bekalnya selalu tak pernah disentuh oleh Angga. Rania tau itu semua, Karena setiap pulang dari kampus. Rania singgah untuk kekelas Angga sekedar memeriksa apa bekalnya dimakan atau tidak. namun percuma saja, bekalnya selalu berakhir ke perut orang lain. jadi sekarang ia harus memastikan Angga memakan bekal buatannya.
"Terus urusanya sama Gue ?"titah Angga dingin.
"Oppa kan pacar Rania, jadi Rania maunya makan bersama biar romantis."Ucap Rania semringah.
Angga mencibir sinis."Halu? Sejak kapan gue jadi pacar lo ?"
"Mungkin ngak sekarang, tapi nanti"balas Rania tersenyum lebar. sesaat Bagas sempat terpanah oleh senyum manis itu, namun dengan cepat ia mengelengkan pelan kepalanya. tapi senyuman Rania tidak berlaku untuk Angga. pria itu menatap Rania tanpa ekpresi.
"Sampai kapanpun gue ngak akan pernah mau jadi pacar Lo!"sarkas Angga dingin.
"Ngak papa sekarang Oppa ngak suka sama Rania. kita ngak tau kedepanya kaya gimana kan ?" ucap Rania dengan menatap Bola mata Angga. tatapan Angga masih sama, sangat dingin.
Angga tersenyum sinis."kedepanya juga masih sama. sampai kapanpun, gue ngak bakal pernah suka sama cewek manja kaya Lo!"cibir Angga dengan ekpresi datarnya. mungkin jika itu kalian, maka Akan tersinggung dengan perkataan Angga. tapi tidak dengan Rania, wanita itu malah tersenyum disaat orang lain memilih pergi jika dikatain.
"Ngak papa, Bekalnya kita makan berdua aja"sahut bagas. ia menatap Rania dan sengaja menaik turunkan alisnya untuk menggoda Rania. walaupun Rania tersenyum ia tau senyum itu tidak benar-benar tulus lebih tepatnya senyum yang hanya mencegah air matanya untuk tidak jatuh.
"Dihh"Rania membuang muka pada Bagas.
Angga hanya diam mendengar perkataan Bagas, bahkan ia sedikit bergidik ngeri saat Bagas mencoba genit pada Rania. menit berikutnya ia memilih untuk keluar kelas dan tidak ingin terlibat diantara mereka. Rania yang melihat kepergian Angga, buru-buru menutup bekalnya. ia segera berlari kecil untuk menyusul Angga.
"OPPA TUNGGU !"
"Semangat Rania !"Salah satu Mahasiswi bernama tiara menyemangati Rania. diikuti gelak tawa dari seisi kelas yang lainnya. lihatlah tingkah absurd Rania yang mengejar Angga dari belakang. sangat menggelikan dimata mereka. dengan hellsnya yang tinggi, ditambah ia membawa bekal, tentu saja agak kesulitan Rania menyusul Angga dari belakang.
Bagas hanya bisa menggeleng heran melihat tingkah Rania. bagaimana gigihnya seorang Rania untuk mendapatkan perhatian Angga.
......................
Rania masih terus mengejar Angga sambil memegangi bekalnya. Rania yg dibelakang berusaha menyamai langkah kaki Angga yang begitu lebar. Rania sedikit kesulitan dengan hells yang ia pake. harusnya Rania memilh memakai sepatu tadi, tapi kan sepatu yang akan ia pake sudah dibuang abangnya. ya mau ngak mau agar tidak memakan waktu, Rania memakai apa yang ada didekat matanya.
"Oppa ... mari gandengan biar langkah kita sama. kalau kaya gini kan capek."keluh Rania setengah berlari.
BRUKK!
"Yahhh jatuh ... "Rania terlihat sedih melihat bekal yang akan dirinya makan bersama Angga jatuh dan berserakan dilantai.
Angga berbalik kebelakang. melirik sekilas bekal yang sudah jatuh kelantai, lalu menatap datar Rania. ia sama sekali tidak menunjukan ekpresi bersalah sedikitpun.
"Mau lo tuh apa sih sebenarnya ?" Ucap Angga merasa jengah diikutin Rania kemanapun. enggak dirumah,dikampus, Rania selalau saja mengikutinya. kudu ke neraka kali dia, Agar Rania berhenti mengikutinya.
"Rania mau makan sama Oppa aja kok."kata Rania. lalu menatap nanar bekalnya yang sudah berserakan dilantai."Tapi sudah jatuh ... "
Angga menggosok kasar telinganya yang tidak gatal."Stop! Panggil gue dengan sebutan aneh itu"
"Oppa ?"tanya Rania sekali lagi.
Rania memamunyankan bibirnya. terlihat sangat menggemaskan, tapi tidak berlaku untuk Angga."Oppa kan nama kesayangan untuk pacar"jelas Rania dengan wajah polosnya.
"Masalahnya gue bukan pacar lo! paham ?!"ketus Angga geram.
"Mangkanya ditembak dong."Rania mengatakannya dengan malu-malu.
"Sini gue tembak lo"kilah Angga cepat.
"Beneran ?" Rania terlihat sangat senang mendengar respon Angga. ini pertama Kali baginya Angga mau bicara banyak padanya. jadi hal seperti ini tidak boleh ia lewatkan.
"Iya, pake pistol biar lo cepet mati"Angga berucap tanpa ekpresi.
Wajah Rania yang tadi semringah menjadi senyuman kepahitan. Gadis itu langsung menunduk. Angga sedikit bersalah sudah berbicara kasar. sebenarnya ia tak bermaksud seperti itu, tapi dia sudah terlanjur kesal. spesies seperti Rania membuatnya ilang kesabaran.
Tidak butuh waktu lama, Angga yang tadinya berniat minta maaf buru-buru mengurungkan niatnya. Rania mendogakakan kepalanya kembali menatap Angga dengan wajah cerianya, seolah melupakan perkataan Angga barusan.
"Tapi ngak apa-apa deh, asal matinya ditangan oppa. kan romantis. nanti oppa dekap Rania, nangis histeris gitu, kaya di drama-drama korea."ucap Rania menempelkan kedua tanganya dipipi. ia sangat antusias mengatakanya hingga Angga terpengagah dibuatnya.
Angga tercengang mendengar penuturuan Rania. benar-benar ajaib gadis yang ia hadapi sekarang. pria itu mengusap kasar wajahnya. sudah bingung harus pake cara apa menghadapi Rania agar berhenti mengikutinya.
"Jadi bagaimana ini ?"tanya Rania menatap Angga. Angga acuh tak acuh menanggapinya.
"Kasian kamu sandwich harus jatuh seperti ini"Rania menatap nanar sandwich yang sudah jatuh itu. dengan berat hati, Rania harus merelakanya untuk berbagi dengan lantai. mana Rania belum sempat sarapan, akibat kebanyakan nangis tadi pagi.
Angga memperhatikan Rania sangat datar. sudah seperti patung saja tidak ada ekpresi apapun, bahkan bicarapun tidak. entah apa yang pria itu pikirkan, mungkin saja ia sudah lelah untuk bicara dengan Rania.
......................
"Lagi sendiri ?" tanya Pria berwajah oval tersebut. ia mendatangi Airin yang sedang duduk sendirian di lapangan basket. suasana lapangan basket memang sepi kalau dipagi hari, soalnya anak-anak basket latihan jam 2 siang. karena itu Airin datang ketempat ini karena butuh waktu untuk sendiri.
"Loh Rayn sejak kapan kamu datangnya ?"tanya Airin sedikit terkejut dengan kehadiran Rayn.
ia pikir hanya dirinyalah yang berada diruangan basket.
"Baru saja" jawab Rayn. Airin menyerukan O di bibirnya. benar saja pas ia masuk ke ruang basket, memang tidak ada siapa-siapa dan ternyata memang Rayn baru datang.
Keduanya pun saling mengobrol sangat akrab, bahkan Airin berulang kali tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Rayn. mereka tidak sadar diujung sana seorang pria menatap tak suka. pria itu mengepalkan kuat tanganya. matanya menajam kearah dua sejoli itu.
"Itu urat napa nimbul semua ?"
pertanyaan polos gadis disampingnya membuat pria itu memejamkan matanya frustasi. bisa tidak gadis itu tak menganggunya disaat ia sedang terbakar cemburu ?
Angga sebenarnya sudah meninggalkan Rania yang meratapi kepergian sandwichnya yg jatuh. namun tak disangka gadis itu entah datang darimanya. tau-tau sudah nongol dibelakangnya, persis seperti jelangkung.
Angga menatap geram pada Rania, gadis itu malah membalas tatapanya dengan nyegir kuda. Rania mengambil lengan Angga lalu memeriksa tangan kekar Angga. mengusapnya seperti ia sedang mengusap anak kucing.
"Uratnya tadi jelas banget terbentuk, jangan kaya gitu lagi ya. serem banget liatnya."
pria itu terdiam, mau marah tapi bingung takut nih cewek malah bertingkah dramatis. tapi kalau gk dimarah tingkah Rania makin aneh. perlu dikutuk jadi batu kali ya biar diam.
"Oppa.." Rania menjeda kata-katanya sebelum Angga menatapnya. ketika kedua bola mata itu bertemu, Rania berbisik pelan ketelinga Angga. Rania sedikit menjijit untuk mencapai daun telinga Angga.
"I Love You"
3 Kata yang mampu membuat wajah Rania tersipu. ia merasa konyol pada dirinya sendiri. sementara Angga, Pria itu sedikit terhenyak dengan bisikan lembut itu, namun tidak lama ia kembali berwajah datar.
"Baper ngak ?"
"B aja "
"Kalau Aku cium gimana ?"kata Rania lagi lebih bersemangat.
"Apaan ini cium-cium ?"
Baik Rania atau Angga keduanya sama-sama menoleh kearah sumber suara.
"Itu--"Ucapan Rania mengantung.
"Kalian ngapain disini ? "