Love Obsession

Love Obsession
Perkelahian Angga&Rayn



"Abang laki-laki akan berdiri paling depan,jika adik perempuannya Tersakiti."


"PERGI ! "


"Ma--mmaaf"


"Jangan sampai Gue berbuat kasar sama lo !"


"Maaf oppa"sesal Rania. Ia mencoba untuk melihat keadaan kaki Angga, namun pria itu segera menepisnya dengan kasar.


"Pergi ! "


"Kaki oppa diobatin dulu"Rania menatap Angga khawatir.


"Gue bilang pergi !"Tegas Angga dingin.


"maaf oppa Rania terpaksa injak kaki oppa, soalnya Rania hampir kehabisan nafas tadi"Kata Rania penuh sesal.


"tadi oppa kencang banget nutup mulut Rania."Rania menundukan kepalanya.


Angga sempat terdiam sesaat. lalu kembali menatap Rania dingin.


"berhenti nganggu gue !"Ucap Angga dingin. Rania mendongakakan kepalanya.


"Rania ngak nganggu kok."


"apa namanya kalau bukan nganggu ? tiap saat lo ngikutin gue terus !"sindir Angga keras.


Rania menggeleng pelan.


Angga berjalan lebih dekat, menyungingkan sebelah bibirnya. melihat hal itu Rania mundur kebelakang hingga lagi-lagi menabrak dinding.


Angga menatap tajam Rania"Lo inget ini baik-baik, Mau sampai kapanpun Lo mencari perhatian Gue. Gak akan pernah Gue suka sama cewek manja dan keras kepala kaya lo!"Angga mengantungkan kalimatnya, menarik sudut bibirnya keatas saat melihat lawan bicaranya terdiam menatapnya.


"Gue sukanya cuman sama Airin. jadi, Lo ngak akan pernah bisa masuk"


Desakan pilu itu mengikis hati Rania. hingga ia terdiam mematung. mencerna semua yang dikatakan angga.


"Apa sedikitpun tidak ada ?"


Setelah mengatakan kata-kata yang menyakitkan. Angga berbalik hendak pergi meninggalkan Rania. namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Rania.


"Aku gak perduli, seberapa banyak kaka menyukai kak Airin, tapi Aku akan mencoba menghapuskan rasa suka kaka sama Airin dan hanya melihatku saja"


"silahkan, karena hari itu tidak akan pernah terjadi" ujar Angga lalu pergi meninggalkan Rania. Setelah Angga benar-benar pergi, Rania terkulai lemas. Rania sebenarnya menahan gejolak sakit perut yang terus berputar kuat menembus jantungnya, hingga membuat gadis itu banyak mengeluarkan keringat. Ia juga tidak bermaksud menginjak kaki Angga namun sakit diperutnya membuatnya harus melakukan hal itu agar Angga segera pergi.


"AHHHH"Jerit Rania meremas kuat perutnya yang sakit. rasanya sangat menyakitkan, Rania lupa kalau Ia mengidap sakit


mag, harusnya ia jangan sampai telat makan. apalagi perutnya seharian tidak terisi. gadis itu meringkuk dilantai, ia tidak perduli kotornya lantai itu. rasa sakitnya lebih mendominan daripada rasa malunya.


"RANIA !"


Samar-samar Rania mendengar seseorang memanggil namanya. gadis Itu sempat tersenyum ditengah rasa sakitnya. lalu setelahnya penglihatanya gelap. Rania tergeletak tak sadarkan diri.


......................


Rania masih terbaring lemah di kasur Ruang kesehatan. Bagas menunggu dari luar, membiarkan dokter pribadinya yang ia telpon tadi untuk memeriksa keadaan Rania.


"Bagaimana keadaan Rania Pak?"tanyanya cemas. begitu dokter Frans sudah selesai memeriksa.


"Pasien baik-baik saja, mungkin sebentar lagi akan siuman."Dr.Frans memberikan resep obat pada bagas."untuk obatnya jangan Lupa dibeli dan pastikan pasien makanya teratur"jawabnya sambil tersenyum.


Bagas tesenyum senang."Terimakasih Pak.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu"pamitnya bergegas pulang.


Setelah dokter itu pergi, Bagas segera masuk menemui Rania yang masih belum sadarkan diri.


Bagas perlahan berjalan mendekati Rania yang masih memejamkan Matanya."baguslah kalau lo baik-baik aja"bagas tersenyum, mengusap lembut rambut Rania.


"Bagaimana keadaan Rania ? Apa dia baik baik saja ? "Rayn yang baru datang menghampiri Bagas. ekpresi pria itu terlihat khawatir.


"hmm, mungkin akan segera siuman"jawab Bagas sambil tersenyum.


"Thank, sudah nolongin adek gue,"Ucap Rayn.


Bagas mengangguk. sambil kembali menatap Rania. Cantik hal itulah yang muncul dikepalanya saat mengamati lekukan wajah Rania.


"Kejadiannya tadi seperti apa ?"tanya Rayn secara tiba-tiba. membuat Bagas tersadar dari lamunan singkatnya.


Bagas menceritakan dengan detail kejadianya, ia juga menceritakan Saat Rania mengikuti Angga saat latihan basket. pikiran Rayn bahwa Angga yang membuat adiknya jatuh pingsan. hingga dia kelalap akan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Rayn bergegas keluar untuk mencari Angga. Ia bahkan tidak mendengar panggilan Bagas.


"Abang Rayn tadi sempat kesini ?"sahut Rania. ia berusaha untuk menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang. Bagas yang melihat Rania sedikit kesulitan, membantu gadis itu untuk bersandar.


Rania tadi sempat mendengar Bagas memanggil nama abangnya mangkanya ia terbangun.


"Iya, tapi barusan pergi"Jawab Bagas melihat Rania.


Rania tersenyum senang mendegarnya, ternyata abangnya itu perduli denganya. meskipun ia tau Rayn kasar padanya. tapi bagaimanapun dia sangat tahu, jika kedua abangnya begitu menyanyanginya. Rania merasa tak pernah menyesali dengan perjalanan hidup yang ia hadapi. baginya meratapi nasib itu tak ada gunanya, yang terpenting bersyukur untuk menikmati hidup.


"Lo melamun ?"tegur Bagas. Ia mengibaskan satu tanganya di wajah Rania yang sedang melamun


Rania mengerucut bibirnya. tanda tak suka"Sibuk aja lo"ucapnya sinis.


"Bukanya bilang makasih."


"Iya makasih Ka Angga, eh bagas"


Sontak Bagas tertawa geli mendengar Rania salah menyebut namanya"Hahaha, lo berharap Angga yg nolongin lo.


"Berisik lo"Sinis Rania sambil mencubit lengan bagas. bukanya merasa sakit, Bagas malah merasa lucu. sangat mengemaskan melihat Rania kesal seperti tadi, imut.


"Sama Angga aja lo panggil Oppa, lo ngak coba manggil gue Oppa gitu ?"Bagas menaikan satu alisnya. menggoda Rania adalah hobinya saat ini.


"Ngak"tolak Rania cepat."lagian kita kan seumuran"


Bagas menggeleng pelan, memang benar mereka seumuran. kenapa Bagas senior daripada Rania? itu karena Bagas masuk sd saat ia berusia 4 tahun. jadi bisa dibilang mereka seumuran walaupun beda semester.


"Kalau begitu panggil mas ?"


"Ngak"tolak Rania cepat.


"Bego lo ya."ucap Rania kesal."Oppa sama mas sama aja. cuman bedanya, oppa itu panggilan korea untuk kaka laki-laki, sementara mas itu panggilan indonesia untuk kaka laki-laki"lanjut Rania lagi sambil menatap Bagas kesal. yang ditatapin malah senyum-senyum ngak jelas.


"dasar cowok menyebalkan."Gerutu Rania kesal.


Bagas mengacak pucuk rambut Rania. dengan cepat Rania menghindar, ia memegangi rambutnya.


"Nanti berantakan tau ! "ketusnya.


"Hahaha, yang Gue tau Oppa itu buat panggilan kakek kalau di indonesia."


"Kan ini di korea Rania bilangnya!"pekik Rania tajam.


bagas mengosok telinganya ."iya iya ampun bang jago"ucapnya yang akhirnya mengalah.


......................


Kemarahan Rayn yang sudah sampai di ubun-ubun membuatnya melangkah cepat untuk mencari pria bernama Angga dan ia mendapat informasi bahwa pria itu sedang berada di Parkiran. beruntung suasana parkiran sedang sepi. dengan langkah tergesa-gesa ia mendatangi Angga yang baru saja akan menaiki motornya.


BUGH !


satu pukulan melayang di wajah Angga yang menyebabkan sudut bibirnya berdarah. pria itu langsung menatap tajam, pada pria yang memukulnya tadi.


"Brengsek!"Umpatnya begitu melihat pria yang menghajarnya barusan adalah Rayn. salah satu pria yang menyebkan Airin marah padanya.


"Lo apain adek gue hah !"bentak Rayn Murkah.


Angga mendorong kuat bahu Rayn hingga pria itu termundur kebelakang."Lo ngomong apa bro ? gue ngak ada apa-apain adek Lo"bela Angga. Rayn balas mendorong bahu Angga lebih kuat hingga pria itu hampir oleng, kalau saja ia tak mengimbangi tubuhnya.


"ADEK GUE PINGSAN, ANJING ! "


Angga sedikit terkejut dengan perkataan Rayn. Ia sendiri tidak tau kalau Rania pingsan, pas ia tinggal tadi gadis itu terlihat baik-baik saja. memang sih, tadi ia sempat melihat wajah Rania yang lemas. walaupun tak menutup kemungkinan ia pikir Rania sengaja memasang wajah memelas, agar Angga mengasihaninya.


Angga menertawakan kemarahan Rayn, tentu saja itu membangun api dalam tubuh Rayn.


"Terus Lo nyalahin gue sebagai penyebabnya ? Lo tanya adek lo sendiri bagaimana kejadianya tadi "Angga menatap remeh pada Rayn. tangan Rayn sudah terkepal sangat kuat.


"Adek sama abangnya sama aja"Lanjut Angga lagi. Api dalam diri Rayn terbakar abis.


Bugh !


Satu pukulan jatuh bertubi tubi diwajah tampan Angga. dengan banyaknya pukulan membuat Angga akhirnya oleng, ia belum sempat membalas. Rayn lebih dulu berada diatas perutnya. menghajar wajah Angga smpai babak belur.


BUGH !


BUGH !


BUGH !


"RAYN BERHENTI !"