Love Obsession

Love Obsession
Awal



"ABANGGGGG !"


Lengkingan teriakan Seorang gadis Menggelegar mengisi keributan suasana pagi yang tentram dirumah yang besar dan megah itu. Rumah itu terdiri dari 2 lantai dan Wanita yang sedang berteriak tersebut berada dilantai Atas.


Namanya Rania Clarita Ayunda, gadis berusia 19 tahun. Mahasiswi dari University Kencana. ia baru memasuki semester 2 tahun ini. Rania tinggal bersama kedua Abang kembarnya dan mereka juga masih kuliah ditempat yang sama dan sudah memasuki semester akhir.


Sementara di lantai bawah Ruang Makan, Suara Rania terdengar sampai meja makan. keadaan rumah menjadi berisik di pagi hari. pelayan yang sedang lalu lalang mengerjakan pekerjaan mereka di pagi hari hanya bisa mengelus dada. beginilah setiap paginya, suasana Rumah begitu berisik hanya karena satu nama didalamnya yaitu Rania.


Kedua anak kembar yang sedang menikmati sarapan pagi mereka, merasa terganggu oleh teriakan adik perempuan mereka satu-satunya.


"Kenapa lagi tuh anak ?"ujar Rayn dongkol. pria itu meletakkan sendoknya begitu saja sambil menatap ke lantai atas.


"Biar gue cek dulu keatas"Reyn hendak berdiri menyusul Rania diatas. tapi suara Rayn menghentikan niatnya.


"Usahakan jangan terlalu manjain dia.


lama lama makin ngelunjak"sindir Rayn sinis. ia tak suka jika Reyn selalu menuruti segala keinginan yang diminta Rania.


Rayn adalah kaka tertua dikeluarga tersebut walau hanya berbeda 5 menit dari Reyn. walaupun kembar, tetapi ada sedikit perbedaan dari mereka. Rayn memililki rahang yang lebih panjang dari Reyn namun Rahang Reyn terlihat lebih tegas sedangkan milik Rayn lebih halus. dalam bentuk bibir Reyn memililiki bibir yang lebih tebal sedangkan Reyn lebih tipis. model rambut mereka walaupun warnanya sama tapi rambut Rayn dominan lebih terang daripada Reyn. selain itu, poni Rayn akan mengarah kekiri sedangkan Reyn kekanan. Perbedaan watak mereka berbanding terbalik dengan wajah mereka. memang Rayn memiliki tekstur wajah yang lebih kalem dibanding Reyn. tapi untuk urusan mengurus adik perempuan mereka, Rayn lebih keras mendidiknya ketimbang Reyn yang penuh pengertian.


Reyn menarik nafas panjang sebelum memulai berbicara dengan Rayn yang sedang menatap kearahnya.


"Bagaimanapun juga Rania itu adek kandung kita. jadi sudh sewajarnya kita menjaganya"


Rayn tersenyum remeh dan mengangkat tangan kanannya keatas seakan sudah muak dengan kalimat Reyn yang selalu memberi fakta jika Rania adalah adik kandung mereka.


"Terserah"ucap Rayn singkat. lalu kembali melahap sarapanya yang sempat tertunda.


"Gue keatas dulu"pamit Reyn lalu menaiki anak tangga menuju kamar Rania yang terletak di lantai atas.


"ABAAAAAANG"


"iya iya sebentar"Balas Reyn sambil belari kecil menaiki anak tangga.


......................


Reyn dibuat terpengagah saat memasuki kamar adik perempuannya itu, ia melihat dimana terdapat barang yang berserakan dan tidak sesuai tempatnya. isi kamar sudah seperti kapal pecah.


"RANIA!"bentak Reyn geram. yang ditatapin bukanya takut malah merengek dihadapan Reyn. membuat pria itu tidak tega memarahinya. dan Rania sudah tau titik terlemah abangnya adalah melihatnya menangis.


"Abang ... Sepatu Rania yang baru Rania beli di paris hilang."rengek Rania. ia mendatangi Reyn yang masih berdiri di dekat pintu.


"Abang liat gak?"Rania menarik pelan lengan Reyn. dan menatap bola mata abangnya itu dengan tatapan memelas, sehingga Rayn yang menatap bola mata Rania sedikit menghela nafasnya perlahan.


Rania mau sepatu itu sekarang!"lanjut Rania lagi. ia menghentakan satu Kakinya kelantai dengan wajah cemberutnya.


Reyn mengusap dada. menahan kesabarannya dalam menghadapi sifat Rania yang keras kepala.


"Abang tidak tau tentang sepatumu, lagipula kamu kan yang menyimpanya"kata Reyn dengan tenang."pake aja yang ada Ran, lagian sepatu kamu masih banyak yang lain."Saran Reyn pada adik perempuanya itu.


"Ngak mau!"tolak Rania bersikeras.


pokoknya Sepatu itu harus ketemu! Rania bakal mogok makan kalau sampai sepatu itu gk ketemu!"ancam Rania membuat Reyn pada akhirnya hanya bisa menurutin keinginan adiknya daripada membiarkan Rania tidak makan. Karena ia tau Rania bukan hanya sekedar mengancam tapi apa yang dikatakannya memang benar akan dia lakukan jika keinginanya itu tidak diturutin. pernah Reyn mencoba mengabaikan keinginan Rania yang ingin menonton konser Artis korea favourite yang diadakan di negeri ginseng tersebut. bukanya Reyn tidak mampu membelikan Rania tiket konser. bahkan transfer yang selalu dikirimin orang tua mereka itu sangat banyak angkahnya dan cukup membeli puluhan tiket kalau perlu. Reyn merasa jika ia membelikan Rania tiket Konser pada saat itu, mungkin Rania tidak akan bisa mendaftar sekolah di SMA ternama. karena bertepatan konser tersebut, Rania juga harus mengikuti ujian test, agar bisa masuk di SMA favourite yang ada di Jakarta. lihat ketika ia mengabaikan keinginan Rania. Rania benar-benar nekat tidak makan selama 3 hari dan berakhir Rania harus segera dilarikan ke rumah sakit dan di diagnosa penyakit maag Akut. saat itu Rania masih berusia 15 tahun.


Reyn pun membantu Rania mencari sepatunya. jujur, Adiknya ini benar-benar menyusahkan. kekampus aja ribet, padahal banyak sepatu yang terpajang di rak sepatunya, tapi kenapa hanya satu sepatu yang membuat Rania harus serusuh ini dipagi hari. Begitulah sifat Rania, jika ia sudah menentukan pilihan barang apa yang akan ia pake, maka harus ada dan tak ingin ada yang mengantikan.


Rania adalah gadis yang keras kepala jika itu berkaitan dengan keinginannya. semua harus ada bagaimanapun caranya. dari kecil keinginan apapun yang ia ingin maka harus segera ia miliki.


"Rania kemarin jelas-jelas taruh barangnya tuh disini,"gerutu Rania. Menunjuk rak sepatunya yang begitu banyak ragamnya.


"Yah sudah coba pake yang lain,"saran Reyn. gadis itu segera menjauh. menyilangkan tanda silang depan dada


"NO ! Rania maunya Sepatu itu,"rengek Rania memajukan bibirnya."


"Terus kalau ngak ada gimana ?"Reyn berkucek pinggang. ia frustasi menghadapi sikap keras kepala Rania.


"Pasti ada. Rania yakin!"Ucap Rania optimis.


"Sepatunya udah gue buang!"


Rania maupun Reyn menoleh bersamaan kearah sumber suara. dan ternyata itu Rayn yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka dengan tatapan datarnya.


Rania memasang ekpresi kesal bercampur marah. ia tidak terima sepatu limited edition yang ia beli di paris dibuang begitu saja.


"Sepatu Rania kenapa dibuang ?"tanya Rania yang sudah berdiri didepan Rayn.


"Gue sakit Mata liat itu Sepatu ,"Jawab Rayn santai.


"Abang kok ngak bilang sama Rania dulu sih ?!"Rania mulai emosi.


"Terus ?"ucap Reyn dengan cuek


"Ya ngak bisa gitu lah bang ..."Rania menggigit bibir bawahnya. menahan air matanya yang ingin jatuh."


"Gue perduli emang ?"sinis Rayn.


Reyn yang melihatnya langsung merangkul Rania yang tertunduk sedih."Tenang sayang. abang Rayn hanya bercanda"ucap Reyn menenangkan Rania sambil mengusap bahu Rania dari samping.


Rania langsung menghamburkan dirinya kedalam pelukan Reyn dan menangis terisak didada bidang Reyn. tangan Reyn terulur mengusap pelan belakang Rania agar adiknya itu segera tenang.


"Hiks ... Abang Rayn jahat !"Ucap Rania dengan suara bergetar dalam kemarahan.


"Sudah dramanya ?"Rayn memutar bola matanya jenggah. ia merasa muak dengan sikap manja adik perempuanya.


"RAYN !"bentak Reyn yang akhirnya geram dengan sikap saudara kembar yang lebih tua 5 menit darinya. bukanya menenangkan adiknya. Rayn malah memperkeruh keadaan."


"Terus aja belain adek kebanggan lo"Rayn menunjuk muka Rania yang masih dalam pelukan Reyn."Adek lo ini bisanya cuman nyusahin !"Rayn menjeda bicaranya sebelum melanjutkan kembali apa yang selama ini tersimpan sesak didalam dadanya"papa dan mama milih ninggalin kita pas dia lahir kan ?"ucap Rayn emosi."Dia ini anak pembawa sial !"


"RAYN CUKUP!"


Rayn tak menghiraukan bentakan saudara kembarnya, ia menatap dingin ke arah Rania . merasa dirinya disudutkan Rania dengan pelan melepas pelukannya dari Reyn dan beralih menatap Rayn dengan uraian air mata.


"Jangan pikir Lo bisa seenaknya dirumah ini dan memerintah kita seperti pembantu!"Rayn berujar sinis. Reyn menghela nafas berat dan memilih merangkul Rania yang tidak bergeming.


"Cukup Rayn!"sentak Reyn. Rayn memandang remeh kearah kembaranya itu lalu pergi meninggalkan kamar Rania dengan membanting pintu cukup keras sampai keduanya berjengit kaget.


Setelah Rayn pergi. Rania beralih menatap abangnya dengan linangan air mata yang terus mengalir. ia bisa melihat kepedihan pada adik perempuanya, hatinya terasa nyeri. senyuman Rania adalah kebahagiaanya tapi air mata Rania adalah rasa sakitnya.


"Apa benar Papa dan Mama gak pernah pulang ke rumah karena malas sama Rania ? apa Rania ini anak yang menyusahkan ? apa benar Rania itu anak pembawa sial ?"tanya Rania beruntun. air mata gadis itu sudah mengalir deras di pipi mulusnya.


Tanpa bicara apapun Reyn mendekap erat Rania. menyandarkan kepala Rania didada bidangnya. badan Rania bergetar hebat, menumpahkan kesedihanya atas ucapan Rayn. Rania merasa jika kedua abangnya terbebani karena dirinya.


"Maafkan Rania bang ...  "lirih Rania makin terisak.


Rayn semakin mempererat pelukanya. jujur hatinya begitu sakit kala melihat adik perempuanya itu menangis. Reyn sangat menyayangi Rania. ia merasakan kepedihan yang dirasakan adiknya itu cukup dalam. dari kecil Rania tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tua. perceraian kedua orang tua mereka, saat Rania masih bayi dan berusia 6 bulan.


ia teringat akan masa kecil Rania. Saat itu Rania di ejek oleh teman-teman sebayanya karena tidak memiliki orang tua yang mendampinginya untuk mengambil raport kenaikan kelas. setelah kejadian itu, Rania tidak ingin sekolah, dan hal itu membuat Rania harus homescholling selama masa sd nya. Rania kecil selalu bertanya padanya kenapa ia berbeda dari anak yang lainnya hal itulah yang membuatnya semakin terluka. ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk menjaga Rania dengan penuh kasih sayang.


"Kamu harta yang paling berharga buat Abang"


......................


"Oppa, Aku sudah tiba diparkiran😊"


Rania mengirim pesan singkat kepada seseorang yang begitu spesial dihatinya. kepalanya celingak-celinguk menunggu pujaan hatinya tiba di kampus. sudah hampir 15 menit Rania menunggu, namun pria itu belum menampakkan diri.


"Hey Rania"goda mahasiswa kampus yang terpesona oleh visual Rania. wajah Rania bisa dibilang keinginan semua Wanita, karena ia memiliki wajah oval dengan hidung mancung yang kecil. tak jarang jika mahasiswa di University Kencana terpesona olehnya dan tentu banyak juga mahasiswi lainnya yang iri dengan Rania. Karena kencantikannya itulah ia di tunjuk sebagai Queen Of campus. tidak hanya cantik, namun juga memiliki public speaking yang bagus. tak heran jika Rania selalu mewakilkan kampusnya disebuah acara-acara besar yang diadakan, baik nasional maupun internasional.


Tapi tak lepas dari itu semua, banyak yang beranggapan jika Rania mendapatkan gelar Queen of Campus karena usut punya usut Ayah Rania penyumbang dana terbesar di Kencana University. karena dari banyaknya mahasiswi bukan hanya Rania saja yang cantik atau bahkan mereka lebih pintar dari Rania. diakui dari segi pelajaran Rania memang lemah. tapi untuk segalanya Rania multitalenta dan bisa diandalkan.


Satu yang ngak bisa Rania dapatkan selain memahami pelajaran, Rania juga ngak mampu untuk memahami hati Angga yang selalu bersikap dingin padanya. jika para lelaki terpesona karena hanya kedipan matanya. maka Angga sebaliknya, lelaki itu justru ogah menatapnya dan karena itulah hal yang membuat Rania merasa tertantang. Bagaimana caranya meluluhkan pertahanan Angga yang sangat dingin.


seperti pagi ini ia sengaja datang lebih awal dari anak anak kampus lainnya. gadis itu sangat bersemangat jika itu berkaitan dengan Pria bernama Jidan Arangga saputra atau yang disapa akrab Angga. kaka seniornya dikampus dan juga teman semasa kecilnya. mereka terpisah karena Angga dipindahkan ke korea saat pria itu berusia 14 tahun. lalu pria itu kembali saat berusia 18 tahun dan merupakan kaka kelas Rania saat duduk di bangku SMA, sejak saat itulah takdir mempertemukan mereka berdua. hal yang dulu hanya biasa menjadi sesuatu yang istimewa bagi Rania. jika dulu ia hanya sekedar naksir, tapi sekarang ? sepertinya sudah beda level ketahap mencintai.


Kalau kita naksir sama orang lebih dari 4 bulan itu tandanya kita sudah jatuh cinta


Rania memeriksa ponselnya. ia menghembus nafas pelan."Huft hanya dibaca." Ribuan pesan yang selalu Rania kirim sejak SMA, hanya dibaca oleh Angga. pria itu tak pernah membalasnya. apa ia keyboard di hp angga rusak semua ? jadi ia hanya bisa membaca.


"Minggir !"


Suara berat seorang pria dibelakangnya membuatnya kaget sekaligus kesal. siapa yang membangunkan singa dalam tubuhnya ? sudah jelas-jelas dia lagi menunggu sang pujaan hati.


gadis itu berbalik kebelakang dengan perasaan dongkol.


"Santai aja kal--"bibir Rania mendadak kelu saat dirinya bertatapan langsung dengan seseorang yang daritadi ia tunggu-tunggu.


"Apa ?"


Sial ternyata pria itu Angga. what ANGGA ?! ganteng banget ciptaanmu tuhan.



Rania terpengagah dengan mulut terbuka lebar. ia tidak bisa menyembunyikan kekagumanya pada Angga. ia berdiri didepan Angga, tinggi Rania sebatas dada pria itu.


"Kenapa Lo senyum-senyum sendiri ?" kata Angga dingin. pria itu membuka kacamata hitamnya dan menyangkutkanya di leher baju yang ia kenakan. Rania terpesona dengan tatapan Angga padanya walaupun dingin tanpa ekpresi tapi bisa membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


"Ayok kekelas bareng,"Ucap Rania bersemangat, hendak memegang Lengan Angga namun pria itu dengan cuek melewatinya begitu saja.


Rania tertampar kenyataan bahwa Pria itu batu bukan manusia, jadi harus ditetesin air banyak-banyak kalau perlu segunung biar cepat larutnya.


"Sabar Rania. ingat pepatah mengatakan kalau usaha tak akan mengkhianati hasil."Ucap Rania menyemangati dirinya sendiri. lalu mengejar Angga yang mulai menjauh.


"Oppa tunggu!"