Love A Girl With A Cold Face

Love A Girl With A Cold Face
menjemput



suara mesin mobil yang terdengar semakin mengeras saat tanjap gas nya semakin di injak oleh rayen.rasa kesalnya belum saja hilang saat mobilnya sudah memasuki level kecepatan tertinggi.ia hanya ingin rasa kesalnya berkurang saat berhantaman dengan angin di jalanan itu.mobilnya berhenti saat kakinya menginjak rem dengan mendadak.


kini ia tengah berada di halaman taman depan rumah vena.keluarlah rayen dari mobilnya itu.ia berjalan melangkah menuju di mana rumah itu memiliki pintu depan.belnya di pencet dua kali saat rayen sampai di depan pintu besar yang berukir karya seniman.


terlihat di tablet kecil yang memberi tahukan siapa orang yang memencet bel bersamaan dengan suara bel yang menggema di seluruh ruang tamu.pak joo melihat itu.ia bergegas menyambut kedatangan rayen.


"selamat siang tuan.mari silahkan masuk"ucap pak joo dengan senyuman yang mengembang di pipinya.


"siang,terimakasih"balas rayen dengan senyuman yang tak kala ramah.


rayen duduk di sofa besar ruang tamu.ia duduk dengan menunggu kedatangan pak joo yang memanggil nenek cho di lantai atas.


tampak suara sandal terdengar di telinga rayen dan memutuskan untuk menoleh dan melihatnya.


"oh,menantuku..!ada apa kemari?katakan?"ucap nenek dengan berjalan mendekat.


"selamat siang nek"sapa rayen dengan senyum manisnya.


"siang ray,"jawab nenek dengan buru-buru duduk di depan rayen.


" aku ke sini untuk menjemput cucu nenek untuk melakukan sesi foto wedding bersama!"ucap rayen secara langsung tampa basa basi.


"kau terlambat ray,dia pagi tadi sudah berangkat bekerja ke kantornya.jika saja kau" lebih pagi datang ke sini maka kau akan bertemu dan mengajaknya untuk melakukan sesi pemotretan."ujar nenek panjang lebar saat mengetahui calon menantunya mencari vena.


"begitu ya nek!."


"ya,"jawab nenek singkat saat ray menjawab penjelasannya. "Oia,di mana ibumu?"tanya nenek dengan melihat rayen yang tak sedang bersama bundanya.


"mama?"tanya ray heran saat mendapati pertanyaan itu dari nenek cho.


"ya,nenek sudah menghubunginya tadi untuk bertemu di rumah ini.tapi kenapa ibumu belum datang!?"


"ray tidak tau nek.rayen datang ke sini atas perintah ayah yang belum ray lakukan tentang persiapan pernikahan.mungkin nenek menelfon mama sesudah ray berangkat ke sini."jelas rayen menatapa nenek.


"mungkin begitu.oh.ya sudah, se karang kau mau menjemput vena bukan?"tanya nenek dengan sedikit menaikkan alisnya.


"ya,"jawab rayen dengan mengangguk lembut.


"vena berada di kantor LQ,dia bekerja di situ."


belum sempat ray menjawab nenek cho,tiba-tiba bel berbunyi menggema di seluruh ruangan utama.hingga pandangan nenek beralih ke tablet kecil yang menempel di dinding.rayen pun mengikuti arah pandangan nenek yang melihat tablet itu.


"ternyata mama." batin rayen berkata sambil melihat isi layar itu.


nenek berdiri berjalan melangkah meninggalkan rayen yang masih duduk.


ia menghentikan pak joo yang ikut maju membukakan pintu. "pak joo,biar saya saja.kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu"tegas nenek cho


"assalamualaikum,ibu cho.."ucap mama ray dari balik pintu yang sudah terbuka lebar.


"wealaikumsalam,sini cepat masuk!leo,kebetulan anak mu juga di sini,senyuman mulai mengembang di pipi nenek saat menjawab salam dari mama ray.


" saya tau kok bu,dia juga baru berangkat.tapi saat rayen berangkat anda menelfon saya."balas mama ray dengan seulas senyum dan berjalan duduk ke sofa di mana ray duduk.pandangannya beralih ke rayen yang mendapati rayen tengah berdiri menjulurkan tangan.


"ma.."


"ray,kenapa masih di sini,!?" tanya mama ray.


"iya ma,nenek bilang.. vena berada di kantor jadi rayen sekalian berangkat.maaf ya ma ngk bisa nemeni sama nenek di sini.nek,rayen pergi dulu"dengan tersenyum,rayen menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


****


sesampainya di depan kantor.rayen keluar dari kendaraannya.ia berjalan melangkah dengan cepat menuju pintu masuk yang ada di pandangannya.rayen melangkah mendekat pada pegawai resepsionis yang sedang melontarkan senyuman pada rayen.


"apa ada yang bisa saya bantu pak?"ucap resepsionis dengan melancarkan tugasnya.


"Oia,saya ingin bertemu dengan karyawan yang bernama Vena amberlia ananta!"ucap rayen yang sontak membuat resepsionis itu terkejut.


"karyawan!?"tanya karyawan tersebut penuh heran.


"ya,"singkat rayen yang mendapati expresi heran. "apa sebelumnya bapak memiliki izin?"ke2kalinya resepsionis itu bertanya dengan penuh selidik.


"izin!?bagaimana bisa hanya karyawan biasa bertemu saja harus punya per izinan!?"balas rayen yang lebih heran dari karyawan tersebut.


namun saat karyawan tersebut ingin mengatakan kalau yang ia cari adalah direkturnya,tiba-tiba mulutnya terbungkam saat mendapati vena tengah berdiri di depan eskalator melihat rayen yang gaduh bertanya.


vena bergegas cepat mendekati karyawan nya penuh debat dengan rayen. "kau?"tanya vena saat manik matanya bertatapan dengan rayen.