
di depan Gerbang Ibukota
Prajurit menatap Li Mei yang mengenakan Pakaian Aneh menurutnya
" Siapa Kau?"
Li Mei menatap Prajurit tersebut dengan Polos
" hummm Aku ingin masuk untuk Bekerja." ujar Li Mei dengan Sauara imutnya.
Prajurit tersebut membukakan Jalannya kepada Li Mei karena berpikir tak mungkin Gadis Seimut dan Sepolos didepannya adalah Iblis
Li Mei pun masuk kedalam dengan mudah tanpa hambatan
di dalam Pasar yang Ramai
Li Mei menatap sekeliling dan menatap para Warga memakai Taeil untuk membeli sesuatu dan mempunyai Kultivasi berbeda-beda
Li Mei memakai Masker yang ia bawa untuk menutupi Wajahnya saat sedang berjalan di Pasar karena tak mungkin jika dirinya menggunakan Masker di hadapan Prajurit bisa dicurigai nanti
Li Mei berjalan kearah Pedagang dan bertanya
" Permisi, Aku ingin bertanya ini Ibukota apa yah?"
" Ibukota Kultivasi." ujar Pedagang tersebut.
" mengapa bernama seperti itu??"
" karena Kita mempunyai Kultivasi sehingga dinamakan Ibukota Kultivasi." jelas Pedagang tersebut.
Ohhh
" Eh Nona sepertinya dari Luar Ibukota, dari Pakaiannya berbeda dengan Kami." ujar Pedagang tersebut.
" Iya, Aku bukan dari Ibukota oleh sebab itu Aku lagi mencari Pekerjaan."
ujar Li Mei.
Pedagang tersebut hanya mengangguk
" Terima kasih atas infonya." ucap Li Mei dan melanjutkan berjalannya.
Li Mei yang sedang berjalan Tak sengaja melihat Pria Tampan yang Kelaparan
Pria tersebut Serba Hitam dan memakai Jubah hitam Namun keadaannya Lemas dan banyak Luka di tubuhnya
Li Mei segera berjalan kearahnya
" Hey." sapa Li Mei kepada Pria tersebut.
Pria tersebut menatap Li Mei yang memakai Masker/Cadar
Li Mei duduk di samping Pria tersebut tanpa meminta Izin dahulu
" kenalkan Aku Li Mei seorang
Gadis Imut." ujar Li Mei.
" namamu Siapa?"
" Kau tak perlu Tahu." ujar Pria tersebut dengan Dingin.
" Kau jangan main Rahasia-rahasiaan denganku." ujar Li Mei yang tersenyum dibalik Maskernya.
" Apa itu Rahasia?"
" Itu tak penting, Aku punya Cemilan enak mau Tidak." tanya Li Mei Lalu membuka Tasnya.
Li Mei mengambil sebuah Roti di dalamnya
" Ini untukmu." kasih Li Mei.
" Makanan Apa itu???"
" ini namanya Roti. Teksturnya yang Empuk seperti bantal enak dimakannya." ujar Li Mei.
" Bantal? Tidak mau." tolak Pria tersebut dengan Cepat.
" Apa yang salah dengan Bantal? bukankah Teksturnya Empuk untuk ditidurin." Bingung Li Mei.
" Kau akan tahu nanti, Baiklah sini Saya sudah Lapar." Mengambilnya dan memakan Roti dengan perlahan.
1 Gigitan sudah masuk kedalam mulut Pria tersebut
Mata Pria tersebut melebar saat memakannya
2 Gigitan
3 Gigitan
Pria tersebut memakannya hingga Habis membuat Li Mei terkekeh
" Makanamu cukup enak." puji Pria tersebut.
" Cukup, Tapi dihabiskan." Goda Li Mei.
" itu artinya Saya menghargai Makanan." elak Pria tersebut.
" Aku lihat Kau menyukai Warna Hitam. Aku juga suka warna Hitam, Merah,
dan Putih." ujar Li Mei.
" Mengapa Kau menyukai warna Putih?"
Pria tersebut melihat Li Mei dengan wajah Serius
" menurutku Putih itu terlihat bersih
dan Suci." jawab Li Mei.
" benar Suci yah." Tersenyum masam.
" Apa Hitam semuanya Jahat?"
" Hitam menurutku Keren Walaupun
tidak Suci. Orang yang menyukai Hitam tak semuanya Jahat karena Warnanya yang gelap, Buktinya Aku menyukai warna Hitam dan tidak Jahat tuh. malah Imut." ujar Li Mei.
Pria tersebut Tersenyum karena baru kali ini ada Orang yang bicara seperti ini dan menganggap Hitam tak Jahat
" Li Mei Apa Kau ingin ikut dengan Saya, Saya bisa kasih Tempat untuk Kau beristirahat." tanya Pria tersebut.
" Wah beneran, Aku juga belum punya Tempat tinggal." ujar Li Mei dengan Berbinar.
" Aku merasa sepertinya Kau Memanfaatkan ku, Tapi sudahlah Aku tak permasalahkan anggap Kita impas." ujar Li Mei.
" Ikut Saya." ujar Pria tersebut Lalu terbang.
" Tunggu! Aku... Aku tak bisa terbang." ujar Li Mei dengan Malu.
" Apa Kau tadi Lewat gerbang?"
Li Mei mengangguk
Pria tersebut turun kembali Lalu menggendong Li Mei dan Terbang
Li Mei memegang Tasnya dengan erat
Kyaaaa
" Berhentilah berteriak." ujar Pria tersebut Lalu menatap Li Mei.
Li Mei langsung menutup mulutnya dan melihat balik Pria tersebut
Mata mereka bertatapan sebentar sebelum Li Mei melihat kearah Lain
" Wah indahnya." ujar Li Mei Kagum.
Beberapa saat kemudian Terlihatlah sebuah Rumah
mereka turun kearah Rumah tersebut
" ini adalah Tempat tinggal Saya. Bagus bukan." ujar Pria tersebut.
" Rumah ini bewarna Hitam dan merah. Keren sekali." ujar Li Mei.
" Wah Lihat ini ada Pedang Lalu ada Pisau dan Cambuk. ini mainan kan." ujar Li Mei yang ingin memegangnya.
" itu Asli." ujar Pria tersebut dengan Cepat.
Li Mei yang mendengar itu tak jadi menyentuh nya
" Oh, Apakah kau tak takut menyimpan barang tajam seperti ini di Rumah?"
" Apa itu Rumah?"
" ini dinamakan Paviliun." ujar Pria tersebut.
" Rumah merupakan bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu." jelas Li Mei.
" Saya baru pertama kali mendengarnya, Apakah ada yang memakai nama seperti itu?"
" Tentu ada Tapi sangat jauh dari sini." ujar Li Mei.
" Kau harus merahasiakan Tempat ini dari siapapun jika Kau masih ingin Hidup."
ujar Pria tersebut.
" Kau mengancamku? Jangan begitulah kan Kita Teman." ujar Li Mei menepuk pundak Pria tersebut.
Pria tersebut menatap Tangan Li Mei yang ada di pundaknya dengan Tajam
Li Mei menarik Tangannya Lagi
" dimana Dapur?"
Pergi tersebut pergi kearah Dapur
setelah sampai disana
" Ini yang Kau cari." ujar Pria tersebut menunjuk seisi Dapur itu.
Li Mei melihat Dapur yang Berdebu dan tak terurus
Pria itu menatap Li Mei dan seakan mengerti apa yang dipikirkan Gadis didepannya
Pria itu menjentikkan jarinya dan seketika Dapur bersih
" Hebat." Puji Li Mei.
" Kau bisa memasak?"
" Bisa dong." balas Li Mei.
" Jika begitu Aku carikan bahan Mentah untuk Kau masak." ujar Pria tersebut.
" Tunggu, Kau belum memberitahukan Namamu." ujar Li Mei menghentikan Pria tersebut.
" Li Jiaheng." ujar Pria tersebut memberitahukan Namanya.
Pria tersebut pergi untuk mencari Bahan mentah
Beberapa menit kemudian Li Jiaheng datang dan memberikannya kepada
Li Mei bahan Mentah
" Ikan mentah, Sayuran mentah.
hanya ini?"
Li Jiaheng hanya mengangguk
" Huffft, yaudah sana-sana." usir Li Mei.
Li Jiaheng tersebut keluar dari Dapur
" Aku akan buat Ikan Goreng." ujar Li Mei dan memasak makanannya.
beberapa menit kemudian Li Mei membawa Nampan berisi Ikan Goreng
" Tadaaa. Hum Harum kan." ujar Li Mei dan menaruhnya di Meja.
Li Mei duduk di kursi
Li Jiaheng ingin mengambil Ikannya Tapi ditahan Li Mei
" Tunggu!"
" Apa?"
~Bersambung~
Jangan Lupa Like, Komen, Favorit, Share. Terima Kasih