KHABI NA KEHNA ALVIDA

KHABI NA KEHNA ALVIDA
BAB 2 . SALAH MEMAHAMI CINTA



Pasti nya kita sering mendengar kata CINTA namun adakah yang memahami apa sesungguh nya arti kata tersebut, Bila kita bertanya kepada seseorang Ayah pasti mengatakan cinta kepada anak-anak nya dan istri nya dengan cara membahagia kan dan memberikan semua apa yang ia ingin kan dan bila kita bertanya kepada sepasang kekasih apa itu cinta pasti jawab nya pun tidak jauh berbeda bukan lain adalah memberikan kebahagiaan kepada kelasih nya sesuai dengan apa yang ia ingin kan.


Namun sesungguh nya yang mereka berikan adalah sebuah cinta buta yang mengikat orang yang menerima pemberian tersebut, Sedang kan cinta sesungguh nya berasal dari kasih sayang dan tidak mengikat siapa pun yang menerima nya, Lalu saat ini cinta yang seperti apa yang di jalani oleh Alfida dan Aji ... Apakah mereka sedang menjalani cinta buta atau cinta yang sesungguh nya, Mari kita ikuti kisah mereka kali ini.


Membangun sebuah rumah tangga itu memang sulit sebab harus menyatukan sudut pandang yang berbeda namun yang lebih sulit lagi adalah menjaga keharmonisan dalam rumah tangga saat melalui masa-masa di mana ego dari kedua belah pihak mulai timbul dan hal itu bagaikan percikan api yang cukup kecil namun mampu melenyapkan ikatan suci pernikahan.


Sama hal nya dengan yang sedang di alami oleh Alfida Chopra dan Aji Dev Ghan dalam rumah tangga nya, Kali ini seperti nya kesabaran Aji Dev Ghan benar-benar di uji oleh istri nya sendiri bukan lain Alfida Chopra yang kali ini sedang menghadiri sebuah acara makan malam yang di adakan oleh klien Aji Dhev Ghan.


" Sayang ... Apakah kamu sudah siap?"


Tanya Aji sambil sesekali melihat ke arah istri nya yang duduk di depan meja rias.


" Sebentar lagi sayang ... Apakah kamu akan turun terlebih dahulu sayang?"


Jawab Alfida dengan tatapan fokus ke kaca dan berbalik bertanya kepada suami nya.


" Baik lah kalau begitu aku tunggu di bawah ... Jangan terlalu lama sebab aku selalu ingin di dekat mu sayang emuach ...."


Ucap Aji Dev Ghan sambil mencium kening istri nya dengan lembut dan diiringi senyum simpul.


Saat itu Alfida pun hanya membalas dengan senyuman bahagia memiliki suami seperti Aji Dhev Ghan yang sangat mencintai dan menyayangi diri nya namun sampai detik ini Alfida selalu di bayang-bayangi rasa ketakutan yang cukup kuat mengenai kebaikan suami nya yang sering di salah arti kan oleh kaum hawa.


Tidak lama kemudian Alfida pun keluar dari kamar nya dan berjalan menghampiri suami nya yang sedang sibuk menerima telefon dari rekan kerja nya berdiri tepat di depan perapian, Saat itu Alfida segera memeluk tubuh Aji yang membelakangi nya dan memeluk nya dengan penuh kasih sayang.


" Apakah kita bisa pergi sekarang sayang?"


Tanya Alfida sambil memeluk tubuh suami nya dari belakang.


" Tentu ... Mari sayang kita berangkat dan semoga kita belum terlambat setiba nya di sana."


Jawab Aji diiringi senyum simpul dan sesekali melirik ke arah istri nya yang cukup cantik malam itu.


Kemedian mereka berdua pun berjalan bersama menuju garasi dan segera masuk kedalam mobil, Sungguh pasangan yang sempurna bila orang melihat mereka berdua dan pasti nya begitu banyak pasangan yang akan merasa iri melihat ke mesraan mereka berdua di setiap saat, Sekitar 45 menit kemudian mereka tiba lah di tempat yang di tuju.


" Sayang ingat jaga pandangan mu dan bersikap lah sewajar nya ok ...."


Ucap Alfida sesaat akan turun dari mobil.


" Iya sayang dan pasti nya pandangan ku hanya tertuju kepada mu istri ku yang cantik,"


Jawab Aji diiringi senyum simpul sambil memegang dagu istri nya yang duduk di samping nya.


" Baik lah kita lihat nanti di dalam benar kah yang kamu kata kan kepada ku."


Ucap Alfida diiringi lirikan genit kepada suami nya.


Kemudian mereka berdua pun memasuki ruangan yang cukup megah dan luas maka terlihat lah di ujung ruangan seseorang lelaki mengangkat tangan nya seolah memberi isyarat bahwa mereka berdua sudah di nantikan kedatangan nya malam ini, Maka tanpa butuh waktu lama mereka berdua pun bergabung di meja tersebut dengan beberapa orang klien Aji Dhev Ghan.


Acara makan malam pun di mulai sambil mereka saling berbincang mengenai beberapa kasus yang sedang di tangani oleh Aji Dhev Ghan saat itu, Namun seperti nya ketenangan itu tidak berjalan lama saat seorang wanita bernama Sonya datang menghampiri meja di mana mereka sedang makan malam saat itu, Sonya adalah seorang wanita muda yang karier nya cukup bagus dan menaruh rasa kepada Aji sejak bekerja di kantor kejaksaan di wilayah setempat.


" Hallo ... Selamat malam semua nya, Maaf ya saya datang terlambat,"


Ucap Sonya sambil merangkul pendak Aji Dhev Ghan yang sedang menikmati makan malam.


" Oh ... Tidak masalah Nona Sonya, Mari bergabung dengan kami dan awal nya kami berfikir anda tidak bisa datang malam ini,"


Jawab klien Aji diiringi senyum dan mempersilahkan Sonya duduk.


" Saya pasti datang Mr. Malhotra ... Selama Mr. Aji pun datang, Bukan nya begitu Mr. Aji Dhev Ghan?"


Jawab Sonya diiringi senyum menggoda dan tangan kanan nya di lengan Aji.


Saat itu Aji tidak menjawab pertanyaan Sonya yang mampu Aji laku kan hanya mengangguk diiringi senyum simpul sebab Aji cukup paham dengan istri nya yang pecemburu dan selalu berfikir negatif bila ada seorang wanita di dekat Aji dan hal itu membuat Aji merasa tidak nyaman, Sedangkan saat itu kedua mata Alfida sudah terbelalak menyaksikan lengan suami nya di pegang oleh Sonya.


Wanita ini katarak atau memang sengaja melakukan hal itu di hadapan ku, Sungguh membuat ku gerah melihat ulah nya dan lagi suami ku seperti nya cukup menikmati perlakuan wanita itu kepada nya, Di hadapan ku saja dia berani menggoda suami ku lalu bagaimana bila di belakang ku, Tidak bisa ku biar kan wanita ini harus ku beri pelajaran agar tidak selalu menggoda suami ku.


Bergumam lah dalam hati Alfida sambil sesekali melirik ke arah suami nya yang sedang berbincang dengan klien dan Sonya juga saat itu, Namun seperti nya Aji mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiran Alfida saat itu maka Aji pun mohon ijin untuk pergi ke kamar mandi meski sesungguh nya ia tidak sedang ingin membuang air kecil saat itu.


Mengapa harus wanita itu datang juga di acara makan malam ini dan aku cukup yakin hal ini akan berujung pertengkaran ku dengan istri ku untuk yang kesekian kali nya, Entah sampai kapan istri ku terus saja mencurigai ku seperti itu dan sejujur nya aku sudah lelah dengan semua kecemburuan istri ku yang berlebihan tapi bagaimana cara ku meyakinkan istri ku bahwa aku tidak seperti yang ia pikir kan.


Bergumam lah dalam hati Aji sambil berdiri di depan whastafel setelah membasuh wajah nya dan tatapan Aji cukup terlihat lelah dan kesal dengan sikap istri nya yang berlebihan bagi nya, Sedangkan Alfida saat itu segera berpindah tempat duduk dan kini Alfida duduk di mana awal nya tempat duduk Aji.


Tanya Alfida diiringi senyuman setelah berpindah tempat duduk.


" Silahkan Nyonya ... Selama saya bisa menjawab nya pasti saya menjawab nya dengan benar,"


Jawab Sonya dengan tatapan sedikit bingung melihat Alfida yang sudah berpindah tempat duduk di samping nya.


" Apakah anda memiliki gangguan penglihatan Nona Sonya dan apa mungkin anda lupa membawa kaca mata anda malam ini?"


Tanya Alfida diiringi senyum simpul namun dengan tatapan yang cukup sinis.


" Apa maksud anda Nyonya ... Saya tidak memiliki gangguan penglihatan selama ini,"


Jawab Sonya dengan tatapan bingung melihat ke arah Alfida.


" Kalau begitu apa niat anda meletak kan lengan anda di bahu suami saya dan juga memegang lengan suami saya, Apakah anda tidak melihat saya sebesar ini?"


Tanya Alfida yang tersulut emosi saat itu.


" Oh masalah itu ... Saya hanya menganggap suami anda Mr . Aji sebatas rekan kerja jadi tolong jangan berfikir yang berlebihan,"


Jawab Sonya diiringi senyum meledek kepada Alfida.


" Sekedar teman bagi anda tapi tidak bagi saya Nona Sonya, Jadi tolong anda tahu batasan!"


Ucap Alfida dengan penuh penekanan dan dengan sengaja menyenggol gelas yang berisi air hingga jatuh dan membasahi gaun yang di kenakan Sonya.


Tidak lama kemudian Aji pun datang menuju meja di mana klien dan istri nya berada namun saat itu kondisi terlihat sudah tidak nyaman dan terlihat Alfida bangkit dari tempat duduk nya untuk segera pergi meninggalkan meja makan, Sedangkan Sonya sedang sibuk membasuh gaun nya yang basah dengan selembar kain putih.


" Sayang ayo kita pulang, Kepala ku terasa sakit melihat orang munafik,"


Ucap Alfida sambil menggandeng lengan Aji yang baru kembali dari kamar mandi.


" Iya ... Tapi itu ...."


Jawab Aji dengan gugup dan tatapan bingung namun lengan nya sudah di tarik oleh Alfida saat itu.


Maka segeralah mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut dengan begitu banyak pertanyaan di dalam benak Aji Dhev Ghan yang silih berganti, Sedangkan Alfida di penuhi dengan rasa kecemburuan yang memuncak dengan ulah Sonya kepada suami nya saat itu, Tidak lama kemudian mereka berdua pun sudah berada di dalam mobil untuk menuju pulang.


" Apa yang terjadi itu tadi saat aku berada di kamar mandi?"


Tanya Aji dengan tegas dan tatapan fokus ke depan sambil mengemudikan mobil nya.


" Tidak terjadi apa-apa dan aku hanya bertanya kepada wanita itu apakah ia sudah katarak mata nya hingga merayu mu di hadapan ku,"


Jawab Alfida dengan nada acuh tak acuh dan tatapan fokus ke jalan.


" Sayang ... Stop dengan semua kecemburuan mu, Dia itu keponakan klien ku dan dia juga tidak merayu ku!"


Ucap Aji dengan mata terbelalak dan nada naik satu oktaf sebab merasa malu dengan klien nya.


" Bila hal seperti itu kamu anggap tidak merayu mu lalu apakah menunggu dia mencium mu di hadapan ku baru aku pantas mengatakan hal itu?"


Tanya Alfida dengan nada yang esmosi kepada Aji.


" Entah bagaimana cara ku untuk memberi penjelasan kepada mu agar tidak overthinking kepada ku,"


Jawab Aji dengan nada kesal dan menahan malu atas sikap istri nya malam itu.


" Aku tidak butuh dengan penjelasan mu sebab aku sudah melihat di depan mata kepala ku sendiri, Bila kamu lebih suka seperti itu lanjut kan saja dan aku akan pergi dari hidup mu."


Ucap Alfida yang sedang tersulut emosi kecemburuan.


Saat itu Aji hanya mampu terdiam dan tidak ingin melanjutkan adu argumen dengan istri nya, Yang mampu Aji lakukan hanya lah meredam rasa emosi nya yang sudah memuncak kali ini kepada kecemburuan istri nya yang semakin parah dan sangat sulit untuk di beri pengertian bahwa sebenar nya Aji bukan lah seorang lelaki yang dengan mudah di rayu oleh wanita.


Lalu apakah yang akan di lakukan Alfida selanjut nya apakah Alfida mampu merubah pola pikir nya mengenai suami nya atau kah ia akan bertahan dengan sikap nya yang over thinking dan mampu kah Aji bertahan hidup dengan Alfida yang tidak pernah mempercayai ketulusan dan kejujuran Aji Dhev Ghan?


Jangan pernah beranjak dari kisah mereka berdua dan temukan jawaban nya hanya di KHABI NA KHENA ALVIDA dan jangan pernah bosan untuk selalu dukung author agar semangat nulis nya.