kepentok Cinta Pak Guru

kepentok Cinta Pak Guru
Bentuk apa?



Beberapa saat kemudian Gala dan juga Dimas temanya datang dan Zam juga datang bersama dengan Riki. Zura sempat melihat Gala meliriknya sekilas dan langsung dibalas senyuman manis oleh Zura.


"Lo masih aja ngarepin dia, Ra? Padahal dia nggak pernah ngelirik elo," ucap Rena yang duduk di belakang Zura, dia juga salah satu sahabat Zura namun tak sedekat dengan Ranti.


"Kalo iya kenapa, Ren? Nggak ada salahnya kan ngarep?" Zura menyahut dengan cengiran khasnya.


"Nggak ada salahnya sih, gue cuma nggak mau lo sakit hati aja jika suatu saat nanti Gala milih cewek lain," ujar Rena.


"Nggak akan terlalu sakit kok, Ren. Kan gue punya camica," kata Zura.


"Apa itu camica?" bingung Rena.


Gadis itu belum mengetahui prihal guru baru mereka karena dia beberapa hari ini tidak masuk sekolah.


"Calon suami cadangan, Ren." Ranti yang menjawab.


"What? Serius itu Ra?" Rena menatap Zura tak percaya.


"Hm." Hanya itu sahutan Zura kemudian dia menelungkupkan wajahnya di meja.


"Lo lagi mimpi ya, Ra? Apa tadi? Calon suami cadangan? Nggak usah kebanyakan halu, Ra. Plis deh, Gala aja yang lo gadang-gadang calon suami nggak nganggap lo. Apalagi ini, calon suami cadangan! Stop ngayal terlalu tinggi, Ra. Nanti jatuh sakit," ucap Rena sedikit sinis.


"Lo bisa diem nggak, Ren? Harusnya sebagai temen lo nggak usah ngomong gitu. Lo harusnya nyemangatin, Ara bukannya malah bikin dia down," hardik Ranti tak Terima akan ucapan Rena pada Zura.


"Nggak pa-pa, Ting. Itu emang kenyataannya kok, emang gue terlalu halu, dah kalian jangan berantem ya. Lihat tuh gupan kita udah dateng." Zura menunjuk Arkan yang baru saja memasuki kelas dengan gagah dan juga berwibawa.


Rena dan Ranti pun terdiam, Zura menatap Arkan dengan senyuman tipisnya, bukan Zura namanya jika dia memasukan omongan orang lain kedalam hati apalagi itu adalah omongan sahabatnya sendiri. Zura bodo amat mereka bilang apa yang penting apa yang dia lakukan membuatnya bahagia dan tidak mengganggu ketenangan orang lain.


Rena menatap Arkan tanpa mengedipkan matanya, gadis itu juga sepertinya terpesona akan ketampanan Arkan yang sangat memabukkan itu.


"Selamat pagi," ucap Arkan dingin dan juga tegas.


"Selamat pagi, Pak!" sahut mereka serempak termasuk Zura.


Pembelajaran pun dimulai dengan tenang, aura dingin yang di keluarkan Arkan mampu membuat semua murid terdiam. Padahal biasanya mereka selalu berisik jika masih bu Latifah yang mengajar.


Jam istirahat telah tiba, semua murid berhamburan keluar dari kelas begitu juga dengan Zura dkk dan Gala dkk. Gala dkk, Gala, Zam, Dimas dan juga Riki. Zura dkk, Zura, Ranti, Rena.


"Ra, ke kantin yuk gue laper," ajak Ranti saat mereka sudah keluar dari kelas.


"Gue mau ke perpus dulu, Ting. Lo ke kantin aja duluan sama Rena gih," sahut Zura.


"Nggak seru nggak ada lo, Ra." Ranti mengerucutkan bibirnya.


"Kan ada gue, dijamin lebih seru dari Zura." Rena merangkul bahu Ranti kemudian membawanya berlalu ke kantin dengan sedikit pemaksaan.


Zura hanya tersenyum tipis setelah kedua sahabatnya pergi, kemudian dia berjalan melewati koridor menuju perpustakaan. Banyak sekali murid laki-laki yang menggodanya, dari mulai murid seangkatannya sampai adik kelas. Memang Zura menjadi salah satu mostwanted di sekolah itu selain Rosa anak ips. Kedua gadis itu menjadi incaran para kaum adam karena kecantikan keduanya yang diatas rata-rata.


Zura tidak senang menjadi pusat perhatian para pria disekolah itu, karena pesonanya ternyata tak mampu membuat hati Gala luluh. Darisana dia sadar ternyata cantik itu bukanlah segalanya, meskipun dia cantik tetapi dia tidak bisa membuat pria yang dicintainya mencintai dirinya juga.


"Ra," panggil Bintang anak ips yang satu kelas dengan Rosa tetapi yang dia kejar Zura anak IPA.


"Eh elo, Tang. Kenapa?" Zura berbalik menghadap Bintang.


"Semalam lo kemana? Gue cari-cari nggak ada, lo malah ngilang gitu aja kayak di telan bumi tau nggak," gerutu Bintang menunjukkan kekesalan yang dari semalam dia tahan.


"Gue masuk kedalam, Tang. Gue juga nyari-nyari elo tapi nggak ketemu," kilah Zura padahal dia tidak mencari Bintang sama sekali, dia malah sibuk bermain dengan guru tampangnya yang sudah di kandidat menjadi calon suami cadangannya.


"Kita nggak jadi jalan bareng deh, Ra," keluh Bintang.


"Yaudah jadiin aja sekarang," sahut Zura.


"Sekarang?" Bintang menatap Zura serius.


"Ya sekarang, ayok berdiri disamping gue," ucap Zura membuat Bintang mengernyitkan keningnya pertanda bingung.


"Mau jalan bareng 'kan?" Zura menatap Bintang yang masih terdiam dan pria itupun mengangguk.


"Yaudah cepet berdiri disamping gue," perintah Zura yang di angguki oleh Bintang, dia pun pindah posisi yang semula di depan Zura menjadi di samping Zura.


"Terus?" Bintang menaikan kedua alisnya.


"Terus kita jalan lah, Tang." Zura menatap Bintang dengan terkekeh.


"Yuk jalan."


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke perpus, sesampainya disana Bintang langsung protes katanya mau jalan bareng kok malah ke perpus?


"Kita darisana kesini gimana tadi?" tanya Zura.


"Jalan," jawab Bintang.


"Jalannya bareng gue 'kan?" tanya Zura sekali lagi.


"Iya, bahkan langkah kaki pun sama." Bintang tersenyum kecut karena dia pikir jalan bareng itu pergi jalan-jalan keluar bukan jalan kaki bareng dengan langkah yang selaras.


"Tang, di panggil pak Ridwan tuh," ucap Rosa pada Bintang.


"Oh, thanks," sahut Bintang.


"Ra, gue duluan ya. Next kita jalan bareng beneran ya, bukan jalan kaki yang beriringan," ucap Bintang dengan senyuman tipisnya sebelum dia berlalu pergi.


"Hm."


Setelah Bintang pergi, Rosa belum beranjak darisana. Dia masih menatap Zura dengan tatapan tak suka, karena Zura, dirinya tidak lagi menjadi murid terpopuler nomor 1 yang diincar para pria. Karena Zura pamornya kalah dan lebih banyak pria yang menyukai Zura kecuali Gala.


"Ngapa dah ngeliatin mulu? Naksir ya?" ledek Zura.


"Ihh! Gue masih normal kali," sengit Rosa.


"Ya terus kenapa ngeliatin mulu dah? Ada jelek ya dimata gue atau?" tanya Zura serius.


"Gue cuma heran aja, lo itu nggak cantik, lo itu jelek, cupu terus lo juga nggak menarik. Gue jauh lebih segala-galanya di banding lo, tapi gue heran kenapa lo bisa menarik perhatian cowok-cowok disini? Lo pake pelet ya?" tuduh Rosa.


"Etdah! Sekate-kate aja lo kalau ngomong! Gue nggak pake pelet ya. Jurus jarang mandi sama semar ngeden aja gagal buat dapetin hati calon suami gue," sahut Zura tak Terima.


"Mungkin cowok-cowok disini ngeliat gue itu cantik luar dalam kali. Ck! Pede banget ya gue," cengir Zura.


"Karena lo itu cantiknya luar doang, dalemnya busuk kayak sampah sampe baunya kecium keluar, makannya cowok-cowok ogah deketin lo takut mual! Mending kalo mual biasa, kalo mual ngidam bagimana cobak? Nggak bisa dibayangin kan kalo mereka hamil? Keluarnya dari lobang mana coba? Masa iya dari mulut anak konda?" cerocos Zura membuat Rosa kesal setengah mampus.


"Eh yaampun, kenapa jadi bahas lubang sama anak konda dah? Kayak pernah liat anak konda aja? Bentuknya aja gue nggak tau gimana?" imbuhnya tanpa dia sadari ada seseorang yang tengah berdiri di belakangnya dan mendengar semua ucapannya.


"Bentuk apa?"