
Mendengar ucapan orang tua Zura membuat Arkan kikuk, wajahnya memerah menahan malu. Sementara Zura hanya tersenyum tanpa beban.
"Om, Tante. Zura hanya bicara asal saja dia----"
"Jangan gugup gitu, beneran juga nggak pa-pa kok. Tante seneng punya calon mantu kayak kamu, manis, tampan pula. Ya, walau cuma cadangan." Ella memotong ucapan Arkan.
"Nanti aku mau cari camica lagi deh, Mom. Biar camica aku nambah," celetuk Zura.
"Eh, ngapain nambah-nambah. Udah ini aja satu," ucap Ella melotot.
"Ah! Nggak asik satu. Motor aku aja punya banyak ban cadangan," ujar Zura.
"Belgedes! Pasangan kok di samain sama ban." Ray menoyor kening putrinya.
"Dasar Pop luknut, kening anak sendiri di toyor. Aku sumpahin pop jadi popcron baru tau rasa," kesal Zura.
"Bagus tuh, Ra. Kutuk aja, mungpung Mom punya bumbu balado buat popcron. Nanti kita makan sambil nonton drakor," sahut Ella.
"Em, Om, Tante. Saya pamit pulang," ucap Arkan canggung karena berada di situasi seperti ini.
"Ok, Bapak guru tampan. Makasih ya traktiran nya. Kalau bapak mau neraktir lagi, nggak usah sungkan. Hubungi Ara aja, ok. Ara akan dengan senang hati menerima traktiran, Bapak guru." Zura lah yang menyahut.
"Jangan dengerin dia, Bapak guru. Ini anak emang sengklek," sahut Ella.
"Kayak dirinya enggak aja," gumam Zura.
"Iya, Tan. Saya pamit, Om. Pamit." Arkan bangkit dari duduknya.
"Iya, Hati-hati di jalan," ujar Ella dan Ray bersamaan.
"Hati-hati camicaku dan jaga hati, ok," ucap Zura dengan senyuman terbaiknya membuat sang guru meleleh seperti es yang terkena sinar matahari.
"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Arkan.
Dia pun berjalan hendak keluar namun sayang dengkulnya terbentur ujung meja sehingga membuatnya memekik tertahan. Ngilu sih memang tapi malu nya itu yang lebih dominan. Gara-gara si gugup ini, membuat Arkan tidak konsen.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Ray seraya menatap Arkan yang tengah menahan sakit.
"Nggak pa-pa kok, Om." Arkan kembali melangkah dengan gugup, sesekali dia menengok ke arah Zura.
"Anterin kedepan, dia neleng mulu noh. Kayak orang tileng bae," titah Ella.
Brak!
Saat Zura hendak berjalan menyusul Arkan, ternyata pria itu menubruk pintu. Karena pintu rumah Ella ada dua, yang di buka satu tetapi Arkan malah menubruk pintu yang tidak terbuka. Sebab atensinya malah melihat Zura bukan ke arah depan.
"Yaampun bapak guru." Zura segera menghampiri Arkan.
"Sakit nggak? Luka nggak? Berdarah nggak?" Serentetan pertanyaan keluar dari bibir mungil Zura.
"Nggak pa-pa kok, hanya terbentur sedikit," jawab Arkan menahan malu apalagi orang tua Ella tengah menatapnya di sofa. Padahal hidung mancung nya nyut-nyutan gara-gara nyium pintu yang terbuat dari kayu jati.
"Sukur deh, tapi pintunya nggak pa-pa kan?" Zura beralih menatap pintu yang di tabrak Arkan.
"Nggak kok, pintunya nggak pa-pa, nggak sakit, nggak luka dan nggak berdarah," ujar Arkan kemudian berlalu pergi keluar.
"Sukur deh, tadinya gue mau beli plaster buat ni pintu," gumam Zura kemudian menyusul Arkan.
Zura menatap Arkan di teras, pria itu sudah masuk mobil tak lama dia menjalankan mobilnya setelah menatap Zura sekilas. Setelah Arkan pergi, dia pun segera beranjak masuk ke dalam rumah.
.
.
.
Pagi harinya.
Zura sedang sarapan bersama orang tua, oma, opa dan juga adiknya. Gadis itu sudah rapih dengan seragam SMA dan juga tas yang melekat di punggungnya. Jangan lupakan jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya, membuat gadis itu bertambah modis. Apalagi dengan rambut yang di kuncir kuda dengan poni menutupi keningnya, membuat gadis itu semakin manis saja melebihi coklat.
"Kok nasi gorengnya beda, Mam. Nggak kayak biasanya," ujar Ray membuka obrolan.
"Di dapur kehabisan penyedap, Ray. Jadi mamah cuma pake garem doang, malas ke warung beli penyedap," sahut Wina.
"Pantesan nggak gurih kayak biasanya," ucap Ray.
"Oma kalo males ke warung, pake aja penyedap yang ada di rumah," celetuk Zura.
"Kan Oma udah bilang, penyedapnya abis," kata Wina.
"Bukan penyedap kemasan, tapi penyedap yang ada di samping, Oma." Zura menunjuk sang adik.
"Lah, kenapa jadi gue?" sengit Roy.
"Wah, kurang asem nih, Kara cair!" Roy menatap Kakaknya kesal.
"Nggak pa-pa cair, yang penting kentel. Emangnya elo, serbuk gopean!" ledek Zura.
"Kara tiga rebuan, nggak tahan lama. Di buka dikit besoknya basi," balas Roy.
"Mending gue tiga rebuan, daripada elo. Gopean!"
"Kara cair!"
"Royko serbuk gopean!"
"Stop! Jangan debat! Kita lagi makan. Bukan pemilu!" sentak Ray.
"Dia yang mulai, Pop. Masa Roy di samain sama Royko yang gopean itu." Kesal Roy.
"Royko emang gopean, jadi Terima aja," sahut Zura.
"Ara! Selesaikan sarapan kamu. Terus berangkat nanti kesiangan," hardik Ray.
"Tuh dengerin, Pipop," ejek Roy.
"Kamu juga, Roy!" sentak Ray.
"Iya, Pop."
"Sabar, Pop. Jangan marah-marah mulu, nanti darting. Mom belum siap jadi jendes." Ella mengelus tangan Ray.
"Punya istri bukannya nenangin malah nambah emosi," gerutu Ray pelan. Enak saja istrinya itu nyumpahin dirinya mati.
"Promosi apaan, Pop?" tanya Ella yang samar-samar mendengar gerutuan Ray.
"Au ah gelap," ketus Ray.
"Pop siwer ya? Terang gini di bilang gelap."
"Oh Tuhan, istri sama anak sama saja. Sama-sama menyebalkan, bikin orang darting," keluh Ray lirih.
.
.
.
Ada yang berubah dari Zura, jika biasanya gadis itu setiap pagi akan pergi kerumah Gala tanpa terlewat satu haripun kecuali libur sekolah. Kali ini gadis itu tidak lagi mengunjungi rumah sang calon suami. Dia lebih memilih langsung pergi menuju sekolah, entah apa yang terjadi dengan gadis itu? Mungkinkah dia sudah move on dari Gala? Dan menerima jika Gala tak menginginkannya.
"Tumben pagi buta udah di sekolah aja," ucap Ranti saat Zura sudah memasuki kelas.
"Ada yang salah?" tanya Zura.
"Nggak sih, cuma Herman aja. Atau, pagi ini lo nggak ngunjungin rumah cami lo si Gagal gulali itu ya?" tebak Ranti, karena setaunya sang sahabat tak pernah absen mengunjungi rumah Gala.
"Kok lo tua?" Zura menatap Ranti serius.
"Jadi bener ya? Elo nggak mampir ke rumah cami lo?"
"Heem, capek gue, Ting," keluh Zura.
"Lah, kan lo naik mobil kesononya. Bukan jalan kaki, apalagi ngesot," seloroh Ranti.
"Yang cape bukan badan gue, Ting. Tapi hati gue, belasan taun gue ngejar cinta Gagal, tapi tetep aja gagal. Apa Gagal bukan jodoh gue, Ting?" Zura nampak galau.
"Hm, coba deh lo ubah nama panggilan lo ke si Gala. Jangan Gagal, kan ucapan itu adalah do'a. Mungkin lo gagal mulu gara-gara lo manggil si Gala, gagal," tutur Ranti sok tau.
"Jadi gue harus manggil Gagal, Berhasil gitu? Biar jadi do'a, terus gue bakal berhasil dapetin cinta dia."
"Nggak gitu juga konsepnya, Markonah! Masa iya lo manggil dia, Berhasil, jauh amat dari namanya. Terus pas manggil, Sil. Sil, entar orang ngira nama si Gala, Sisil lagi. Yang lebih parah, pensil," celoteh Ranti.
"Yaudah deh, gue nggak bakal manggil Gala, Gagal lagi," ucap Zura yakin.
"Jadi, lo udah punya panggilan yang tepat buat cami lo?" Zura mengangguk.
"Apa?"
"Berhubung panggilan, Gagal bikin gue jadi gagal mulu dapetin cinta Gala. Jadi gue putusin buat manggil dia. Lala aja."
"Sekalian aja, Tinky, Winky, Dipsy."
"Lala, Po."