
"Ekhemm!" Suara deheman keras membuat Zura tersadar dari lamunannya, dia segera bangkit kemudian berdiri dengan tegak.
"Maaf, Bang, Pak, Mas. Eh sapa sih manggil nya jadi bingung," ucap Zura cengengesan.
"Bodo lah masalah panggilan ya, yang jelas aku tuh tersepona sama ketampanan, Bapak. Iya Bapak ajalah, sepertinya bapak lebih tua dari aku. Bapak cakep banget dah yaampun! Mirip jongkok," oceh Zura heboh.
Pria di hadapan Zura hanya bisa menghembuskan napas kasar, baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini sudah di sambut beo yang terus mengoceh dan membuatnya jengah
"Saya memang tampan, tapi saya belum tua. Dan apa tadi kamu bilang? Mirip jongkok? Maksudnya saya mirip toilet jongkok gitu?" dengus Pria itu kesal.
"Etdah si bapak, bukan toilet jongkok, Pak. Lagian toilet kagak punya kaki. Mana bisa jongkok," sahut Zura
"Saya--"
"Stop, Pak! Jangan ngomong dulu, aku lupa! Kalo aku itu lagi kebelet tadi. Bapak sih ngoceh mulu, akunya jadi kelupaan 'kan!" teriaknya seraya berlari ke dalam toilet.
"Sejak kapan kebelet bisa kelupaan? Dan apa tadi? Gue yang ngoceh katanya? Perasaan yang ngoceh dia sendiri deh. Ada-ada aja tu bocah." Pria itu tersenyum kecil kemudian berlalu pergi.
Setelah selesai urusannya di toilet, Zura segera keluar. Cukup lama dia berada di sana, entah apa yang di lakukan gadis itu.
"Si bapak tampan tadi kemana?" Zura celingukan sedetik kemudian dia berteriak.
"Astaga gue telat masuk, pasti si Bulat ngamuk ini," pekiknya seraya berlalu dengan terburu-buru.
Sesampainya di depan kelas, tepatnya di ambang pintu. Lagi-lagi Zura terpesona oleh ketampanan pria yang tadi menolongnya saat hendak terjatuh. Tetapi tunggu! Mengapa pria tampan itu ada di kelasnya bersama Bu Latifah.
"Loh, Bapak tampan kok ada di sini." Dengan santainya Zura masuk ke dalam kelas.
"Zura! Yang sopan kamu. Dia guru baru di sini," tegur Bu Latifah dengan mata yang melotot tajam.
"Iya Bu, biasa aja kali matanya. Nggak usah di plototin gitu, entar copot terus ngegelinding gimana? 'Kan nggak lucu, Bulat nggak punya mata, eh Bu Latifah maksudnya," ucap Zura tanpa dosa.
"Zura! Kenapa kamu selalu saja membuat saya darah tinggi," pekik Bu Latifah emosi.
"Bagus itu, Bu. Jadi kan ibu bisa donorin darah ke PMI, sodakoh, Bu. Buat amalan ibu pas pulang ke alam baka nanti," oceh Zura.
"Sudahlah saya pusing, Pak Arkan. Tolong urus siswi ini, saya udah nggak kuat ngajar di kelas ini," ucap Bu Latifah seraya berlalu pergi dengan meminta pelipisnya yang mendadak pening.
"Duduk! Atau saya hukum!" ucapnya kepada Zura yang masih cengengesan.
"Iya, Bapak guru tampan. Aku duduk." Zura melangkah menuju kursinya.
"Baiklah anak-anak, perkenalkan. Nama saya Arkana Sbastian Wijaya. Saya guru baru kalian yang akan membimbing kalian mulai saat ini," ucapnya memperkenalkan diri.
Mereka pun bersorak karena bisa bebas dari Bu Latifah yang super galak itu, terutama para siswi, mereka berteriak histeris karena tak bisa di pungkiri. Pesona guru baru itu mampu membuat semua siswi klepek-klepek, bahkan Gala dan Zam yang merupakan Moswanted di sana pun menjadi terlupakan semenjak kedatangan sang guru baru yang tampannya tiada tara.
Sepanjang pelajaran berlangsung, Zura menyimak rangkaian pelajaran dengan baik. Jika biasanya gadis itu akan bermain ponsel atau tidur, kali ini dia sangat serius mengikuti pembelajaran. Wajah tampan sang guru pun tak luput ia perhatikan, pahatan sempurna wajah sang guru mampu membuat dirinya tak melirik Gala lagi yang biasanya selalu ia tatap.
Saat waktunya jam istirahat, Zura dan Ranti segera beranjak menuju ke kantin. Cacing di perut Zura sudah meronta-ronta meminta di isi karena memang tadi pagi dia tidak sarapan. Bahkan gadis itu melupakan jika dirinya sedang mogok segalanya termasuk mogok makan.
"Yaampun, Ting! Pak Arkan cakep banget sumpah!" Heboh Zura begitu mereka sampai di kantin.
"Cakepan mana sama si Gala?" tanya Ranti memancing, karena biasanya Zura tidak pernah melirik atau memuji pria manapun selain Gala.
"Dua-duanya tampan, tapi kadar ketampanan mereka beda," sahut Zura.
"Lo mesen sana,,Ting. Gue laper ini," lanjutnya.
"Apa ya? Em, gue mau bakso jumbo ajalah sama minumnya juice alpukat," jawab Zura.
"Wokeh!" Ranti berlalu pergi memesan.
"Itu 'kan, Pak Arkan." Atensi Zura menangkap seseorang yang tengah menyeruput secangkir kopi panas seorang diri.
Dengan berbinar, Zura segera menghampiri pria itu. Zura menatap wajah pria itu dengan lekat, senyuman terpancar dari bibir mungil yang selalu mengoceh itu kemudian tanpa di persilahkan, dia langsung duduk di hadapan Arkan yang mana membuat netra pria itu membulat penuh.
"Kamu." Arkan menatap jengah gadis yang sudah duduk di hadapannya itu.
"Halo Pak guru tampan," sapa Zura dengan senyuman terbaiknya.
"Ngapain kamu ke meja saya?" tanya Arkan ketus.
"Wah! Ngaku-ngaku nih, Pak guru. Ini tu bukan meja bapak tapi mejanya bu kantin," ucap Zura.
"Ya, ya ya, ngapain kamu kesini?" Arkan mengulangi pertanyaannya.
"Nyamperin, Pak guru tampan dong. Masa iya mau nyuci," jawabnya
"Mau ngapain nyamperin saya?"
"Mau ngapain ya? Aku juga nggak tau mau ngapain." Zura terlihat berpikir.
"Aneh," lirih Arkan namun masih terdengar oleh Zura.
"Ya, memang aneh, Pak guru. Aneh banget, kenapa ya? Pesona bapak guru mengalihkan duniaku." Zura menyangga dagunya dengan kedua tangan yang tertumpu di meja.
Atensinya menatap dalam pria yang sedang menatap ke arahnya juga, pandangan mereka saling bertemu. Zura langsung tersenyum saat tau Arkan menatapnya juga. Lain dengan Arkan, pria itu merasakan jantungnya berdegub lebih kecang. Buru-buru pria itu menarik pandangannya sebelum jantungnya melompat.
"Bapak guru, tampan banget sih. Wajah bapak tuh sempurna kaya opa, opa Korea. Boleh cubit nggak sih tu pipi?" ucap Zura yang mana langsung membuat Arkan salah tingkah di buatnya.
"Sana kembali ke meja kamu," ucap Arkan cepat, malu sekali bila ada yang tau dia salting karena di gombalin muridnya sendiri.
"Aku mau nemenin, Pak guru di sini aja. Kasian masa bapak guru tampan mempesona ini, makan sendirian. Ayam aja makannya rame-rame, masa bapak kalah sama ayam," ujar Zura.
Huh!
Arkan hanya bisa menghela napas panjang, gadis di hadapannya ini membuat perasaannya menjadi seperti loler coster. Baru juga sehari bertemu perasaannya sudah tak karuan campur aduk, apalagi jika setiap hari bertemu.
"Bapak, udah punya pacar belum?" tanya Zura tanpa malu.
"Ngapain tanya-tanya? Mau daftar?" Entah mengapa kata itu yang malah keluar dari mulut sang bapak guru tampan.
"Bapak emang tampan, aku suka. Suka banget malah, tapi sayang. Aku udah punya Gagal sebagai calon imam aku, jadi aku nggak mau daftar." Zura berucap dengan atensi yang masih menatap lekat sang guru.
"Tapi, boleh deh aku jadiin pak guru tampan sebagai calon suami cadangan. Jaga-jaga aja, takut akunya di tolak lagi sama Gagal," lanjutnya.
"Ra! Baso lo nih. Ngapain pula kelayapan kesitu? Ganjen bener lo!" teriak Ranti dari meja yang semula Zura duduki.
"Iya bentar! Dasar ranting bawel," umpat Zura.
"Dadah, Camica. Alias calon suami cadangan." Zura berlalu pergi sembari berdadah ria, untung saja di kantin tidak terlalu ramai dan di dekat Arkan tidak ada orang. Bisa turun reputasi Arkan jika mereka tau sang guru baru itu di gombalin muridnya sendiri.
Hay guys. Jangan lupa like, komen. And Vote supaya author semangat melanjutkan cerita ini.