kepentok Cinta Pak Guru

kepentok Cinta Pak Guru
Cuma minta kawin?



Arkana Sebastian Wijaya, pria tampan dengan rahang yang tegas dan juga pahatan wajah yang sempurna. Pria itu baru saja tiba dari luar negri beberapa minggu yang lalu, sempat ber-istirahat sejenak sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk menjadi seorang guru karena itu memang cita-citanya walau tidak sejalan dengan keinginan orang tuanya. Ini kali pertama dirinya mengajar di sekolah Galatama, beruntung dia mempunyai teman orang dalam jadi dia bisa masuk dengan mudah di sekolah itu.


"Hari pertama ngajar udah pening ni pala." Arkan memijat kepalanya pelan sembari bersandar di kursi yang berada di ruangannya.


Dia begini karena seseorang siswi yang selalu membuatnya darah tinggi dengan semua tingkahnya, siapa lagi kalau bukan Zura. Murid ternakal dan juga terkenal berani. Pantas saja Bu Latifah menyerah mengajar di kelas itu, dirinya saja sampai di buat pening seperti ini.


Di pelajaran kedua, Arkan hanya memberi tugas yang harus mereka kerjakan tanpa menunggu di sana. Dia sudah mengatakan kepada salah satu murid supaya mengantarkan tugas yang sudah selesai nanti ke ruangannya.


Selang beberapa menit, terdengar pintu ruangannya di ketuk. Dia pun menyahut dengan menyuruh orang itu masuk.


"Halo Camicaku yang unyu-unyu tampan ulala membahana!" Suara cempreng yang sangat pria itu kenali seketika membuatnya mendongkak.


"Kamu!" Sorot matanya terlihat kesal setelah tau siapa yang memasuki ruangannya.


"Iya aku, Camum, Bapak. Kalau jadi, soalnya bapak cuma camica bukan cami," sahutnya seraya berjalan menghampiri Arkan.


"Mau apa kesini?" tanya Arkan dingin.


"Mau apa ya? Ah iya, aku mau mencuri hatimu camica ku," ucap Zura sembari terkekeh.


"Jangan bercanda, Azura!" ucapnya penuh penekanan.


"Yaampun, Camicaku yang unyu ini tau nama lengkap aku. Oh, sawitnya," seru Zura heboh.


"Keluar!" bentak Arkan yang sudah jengah.


"Galak bener dah camica gue, kudu di taburin merica nih biar kagak galak lagi," gerutu Zura yang masih terdengar oleh Arkan.


"Kamu nggak denger saya bilang apa?" Arkan menatap Zura dengan sorot mata tajam.


"Nggak! Soalnya aku lagi pura-pura nggak denger," sahutnya asal.


Karena sudah geram, Arkan pun bangkit. Dia berjalan menghampiri Zura yang sedang tersenyum tanpa dosa. Bahkan gadis itu tidak terlihat takut sedikitpun saat gurunya sudah berdiri tepat di hadapannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti sehingga napas beraroma mint Arkan sangat terasa menerpa wajah cantik Zura.


"Papan mau apa?" Dengan santainya Zura mendongkak menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya itu, sehingga mata mereka bertemu dan saling bersitatap.


"Bapak mau jadi guru mesum ya? Atau guru ca*bul? Sayang banget pak! Tampan-tanpan kok ca*bul. Nggak lucu dong panggilannya jadi tambul, haha. Tampan ca*bul," ucapnya di iringi dengan gelak tawa.


"Keluar sebelum saya menyeret kamu dengan paksa." Arkan menatap Zura tajam dan menghunus.


"Elah pak, aku kagak takut di tatap begitu. Lagian si Pak Tambul pelit amat sih, baru juga masuk, belum duduk. Udah di usir aja," ocehnya.


"Tapi tanpa di usir, Ara yang cantik ini bakal pergi kok. Tapi Terima ini dulu ya." Zura menyerahkan tumpukan tugas yang sudah selesai ke dada Arkan, dengan refleks pria itu memegang tugas yang berada di dadanya.


"Aku tu cuma mau nganter ini, si Andi yang bapak suruh ke belet kawin, eh ke belet pen ke toilet. Jadi dia nyuruh aku yang cantik dan imut ini," terang Zura.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" ketus Arkan.


"Helow! Bapak guruku yang tampan sejagat raya tapi masih tampan pipop gue, eh aku. Bapak nggak lihat di tangan saya terdapat tugas yang sangat menumpuk ini? Tetapi anda masih bertanya saya mau apa? Sungguh terlalu kau Rika, eh kau Papan. Apa matamu sowak? Atau justru berpindah ke pinggul?" ucap Zura dramatis.


"Sudahlah aku lelah, aku menyerah mendapatkan cintamu, kang mas. Lebih baik aku pergi, selamat datang," lanjutnya seraya berlalu pergi.


"Apa mulutnya nggak pegel ngoceh mulu?" gumamnya kemudian mendudukan tubuhnya di sofa.


"Lagian kenapa gue nggak liat ni tugas di tangannya sih? Apa bener mata gue pindah ke pinggul?" selorohnya.


Saat ini seorang Azura yang cantik membahana sudah berada di kediaman Wardana, gadis cantik itu langsung memasuki rumah dengan bersenandung kecil dan juga riang.


"Sepeda!" teriaknya seperti biasa.


"Udah nggak ngambek lagi nih ceritanya," sindir Mom Ella yang tengah duduk di sofa bersama sang suami.


"Pending dulu, Mom ngambeknya. Ntar Ara lanjutin lagi," gadis itu bersingut mendekati sangat Pipop.


"Gimana, Pop? Jadi jodohin aku 'kan?" Dia bergelayut manja di lengan kekar sang Pipop.


"Nggak, Sayang," jawab Ray lembut supaya putrinya itu tak marah lagi.


"Aelah, Pop pelit amat si. Nggak jadi kawin dong Ara? Huaaa, dah lah. Ngambeknya lanjut aja," ucap Zura cemberut.


"Yaudah nggak pa-pa ngambek aja, tapi Ara makan dulu ya," sahut Mom Ella.


"Nggak mau lah, Mom. Ara juga mau mogok makan," cetus Zura.


"Lah tadi, bukannya lo makan, Dek?" Zam yang memang ada di sana menimbrung.


"Mom, bikin bengkel napa di depan rumah," ucap Zam.


"Buat apaan?" sahut Mom Ell.


"Biar pas ni anak mogok segalanya gampang, tinggal bawa ke bengkel," ucap Zam yang langsung mendapat lemparan tas dari sang adik kembarnya.


"Abang luknut!" umpatnya kesal.


"Kalian semua nggak ada yang bestfriend sama aku. Kalian nggak ngerti perasaan ku yang gegana ini menanti cinta tak terbalas. Padahal aku cuma minta di kawinin itu doang, tapi susahnya minta ampun," keluh Zura.


"Apa katanya? Cuma minta kawin? Di pikir kawin itu kek mana, dasar bocah!" ucap Mom Ell gemas.


"Pokonya aku mau kawin, titik nggak pake koma apalagi spasi," ucapnya memaksa.


"Nggak pake tanda seru dek?" goda Zam.


"Dah lah, aku ngambek. Kalian mentega banget!" Zura melangkah pergi menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya dengan kaki yang di hentakan.


"Anak kamu, Pop. Bener-bener." Ella menggelengkan kepalanya.


"Anak kamu, Mom," sahut Ray.


"Anak kamulah itu, orang nyebelin gitu kayak kamu," ucap Ella lagi.


"Ya jelas anak kamu, Mom. Nggak nyadar siapa dulu yang nyebelin dan selalu membuat aku darting," balas Ray.


"Pokonya anak kamu!"


"Stop! Yang bener tu anak kalian, malah tuding-tudingan. Masa iya anak dazal," cetus Zam seraya berlalu pergi.


Hari sudah mulai gelap, gadis cantik dengan kepercayaan diri yang tinggi kini sedang mematut dirinya di cermin. Dia saat ini mengenakan celana jeans hitam pas body dengan baju putih pendek pas body pula yang dia masukan ke dalam celana. Rambut di kuncir kuda dengan poni rata di atas alis membuatnya terlihat cantik dan juga imut.


"Tungguin Bintangnya di bawah ajalah," selorohnya sembari meraih tas kecil kemudian ia sampirkan di bahu.


Berjalan dengan cepat menuruni tangga kemudian berjalan ke halaman depan rumah. Zura duduk di kursi yang terdapat di teras rumah sembari memandangi langit malam yang terlihat sangat indah dan juga menenangkan.


"Ngapain kamu duduk di luar, Sayang?" tanya Ella yang saat ini berdiri di samping Zura.


"Nungguin Bintang, Mom," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam.


"Buat apa nungguin bintang? Kayaknya nggak ada tanda-tanda bakal ada bintang deh." Mom Ell menengadahkan wajahnya menatap ke arah langit.


"Bintang lagi otw kok, Mom."


"Kata siapa? Sotoy kamu."


"Orang dia yang bilang sendiri, barusan juga ngecat. Katanya dia lagi di jalan."


Mengerutlah kening Mom Ell, dia bingung. Mana ada bintang bisa ngecat? Apalagi bisa bicara. Orang bintang itu jauh, ada di atas langit sana.


"Apa jangan-jangan?" Raut wajah Ella berubah menjadi khawatir. Kemudian dia berlari menuju ke dalam rumah untuk menemui sang suami.


"Mom kenapa sih? Ini juga Bintang nggak dateng-dateng. Katanya udah di jalan." Zura mengerucut kan bibirnya.


Sementara di dalam rumah, Mom Ell tengah berteriak memanggil suaminya.


"Pop! Kamu di mana?" teriak nya menggelegar.


"Aku di sini, Sayang. Kenapa?" Pop Ray menghampiri sang istri yang wajahnya terlihat sangat cemas.


"Sepertinya kita harus menuruti ke inginkan, Ara," jawabnya.


"Maksudnya?"


"Kita harus segera menjodohkan Ara dengan Gala sebelum dia, stres beneran, Pop," ucap Ella dengan menggebu.


"Mana ada, kamu ada-ada aja, Sayang."


"Aku beneran, Ara udah mulai stres. Masa iya dia duduk di teras depan sambil nungguin bintang. Mana katanya bintang udah bilang sama dia mau dateng, udah ngecat juga. Mana mungkin Ara ketemu bintang, orang bintang itu jauh di atas langit sana. Ini fiks Pop. Anak kita stres gara-gara ke inginannya nggak di penuhi," ucap Mom Ell menggebu.


Jejak😘😘