
Seorang gadis cantik berjalan dengan riang sembari bersenandung kecil, masuk ke dalam rumah yang cukup mewah. Senyuman tak pernah pudar dari bibir mungilnya.
"Sepeda! Calon mantu datang!" teriak gadis itu sembari memasuki rumah, dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu karena dia sudah terbiasa keluar masuk rumah itu.
"Berisik!" ucap seorang pemuda tampan dengan nada yang ketus.
"Eh, ada, Ara. Sini, Sayang sarapan bareng kita," ucap Dela dengan tersenyum ramah.
"Dia emang setiap pagi ada di sini, Mam," sahut Gala dengan wajah datarnya.
"Iya dong, Gagal. Ara 'kan mau sarapan di rumah calon suami," ucap Zura dengan senyuman terbaiknya.
"Jangan kebanyakan halu, ntar lo gila!" kata Gala masih dengan wajah datarnya.
"Ara emang udah gila, Gagal. Tergila-gila sama, Gagal," sahut Zura tidak merasa sakit hati.
Azura putri Wardana namanya, gadis nakal, imut dan juga periang. Sejak kecil gadis itu sudah menyukai Gala, putra dari sahabat ibunya namun sayang, perasaannya tak terbalaskan. Gala bahkan sama sekali tidak pernah melirik Zura, pria itu selalu acuh dan tidak peduli pada gadis cerewet yang sering mengintilinya.
"Aku berangkat, Mam, Pah." Gala bangkit kemudian menyalami tangan mamah papahnya.
"Ajak, Ara sekalian," titah Dela.
"Ngajak si kaleng rombeng? Ogah!" Gala berlalu pergi darisana.
"Gala!" teriak Dela yang merasa tidak enak pada Zura, karena gadis itu sudah jauh-jauh kesini menghampiri Gala.
"Nggak pa-pa, Tante Udel. Ara naik angkot aja," ucap Zura.
"Calon mantu pamit menimba ilmu dulu, ya. Papay," lanjutnya berlalu pergi.
Sampai di sekolah, Zura segera berlari memasuki gerbang sekolah. Untung saja dia tidak terlambat.
"Gara-gara kang angkot nih, ngetem mulu dah. Untung nggak telat," gerutu Zura.
"Kang angkot berkali-kali ngetem, nah gue, kapan ngetemnya di hati Gagal ulala coba? Keburu karatan ini gegara kelamaan jomblo. Bukan lama lagi, dari lahir gue jomblo. Bosen bat dah." Zura terus menggerutu hingga sampai di kelas.
Zura langsung masuk dan duduk di kursi tempatnya biasa duduk bersama sang sahabat yaitu Ranti purnamasari.
"Lemes amat lo, Ting." Zura mendudukan tubuhnya di kursi sembari menatap wajah Ranti yang nampak tidak bersemangat.
"Ngantuk gue, Ra. Jangan ganggu gue, mau molor bentar ini," sahut Ranti.
"Elah ni Ranting molor mulu, ntar patah di injek burung baru tau rasa," ucap Zura sembari mendelik.
Namun sang sahabat tidak mendengar karena dia sudah berlalu ke alam mimpi.
"Lo kemana dulu, Ra? Kok datengnya nggak bareng si Gala? Bukannya lo nyamperin tu bocah ke rumahnya?" Zam yang memang satu kelas dengan Zura menghampirinya.
"Biasa, Bang. Adek lu yang imut kek semut ini di tinggal mulu. Ngenes banget si, Bang. Ngejar Gagal ulala tu kayak ngejar pesawat tau nggak. Dia di atas gue di bawah, nggak akan kekejar yang ada malah nyuksruk gue, Bang," adu nya memelas.
"Kalau emang Gala itu seperti pesawat, kenapa lo nggak jadi pesawat juga? Biar bisa ngejar dia." Zam menatap lekat netra sang adik kembarnya.
"Tetep aja, Bang. Meskipun gue jadi pesawat, kita nggak bisa berdampingan. Karena dua pesawat nggak mungkin terbang bersama di satu jalur," keluh Zura.
"Yaudah, kalau gitu jangan di samain sama pesawat. Samain aja sama e*ek kucing dan pasir. Mereka bisa bersatu walau berbeda bangsa, jadilah pasir, nanti e*ek kucing akan datang dengan sendirinya," ujar Zam.
"Ih! Masa Gagal ulala gue di samain sama e*ek kucing. Dah lah, Abang balik ke meja sono, nanti guru datang di marahin karena kelayapan kemari," ucap Zura.
Zam pun berlalu ke mejanya yang tak jauh dari meja Gala. Mereka memang satu kelas namun duduk terpisah dan agak jauh, jadi pembicaraan Zura dan Zam tadi, tidak akan di dengar oleh Gala. Hanya terlihat saja.
Tak lama guru yang mengajar di kelas merekapun datang, wanita paruh baya yang masih nampak cantik. Wajah galaknya jelas sangat terlihat. Namanya Bu Latifah, namanya terkesan anggun namun sipatnya begitu tegas dan juga galak.
"Pagi," ucapnya dengan nada tegas.
"Pagi, Bu!" sahut semua serempak.
Bu Latifah hendak melangkah menuju ke mejanya namun atensinya teralihkan pada sosok siswi yang duduk di sebelah Zura. Bu Latifah geleng-geleng kepala, kedua anak itu selalu saja tidur bergantian. Kemarin Zura, sekarang Ranti.
Tuk!
Sebuah spidol mendarat tepat di kepala Ranti yang sedang menelungkup di atas meja.
"Njir! Siapa yang nimpuk gue!" teriak Ranti melengking.
"Bukan, gue kan nggak punya spidol begituan. Yang punya tuh ibu guru, berarti yang nimpuk lo, Bu guru," jawab Zura.
"Ada guru, Ra? Kenapa lo nggak bangunin gue?" Ranti mendadak berbisik.
"Kan tadi lo yang bilang jangan ganggu mau molor," ujar Zura santai.
"Suruh siapa tidur di kelas?" tanya Bu Latifah pelan namun penuh penekanan.
"Ranting tidur di kelas nggak di suruh siapa-siapa kok, Bu. Beneran, tadi dia tidur sendiri. Katanya ngantuk." Bukan Ranti yang menjawab, melainkan Zura.
"Saya tidak bertanya pada kamu, Zura," sentak Bu Latifah.
"Tau kok, Bu. Cuma bantu jawab doang elah, pelit amat si Bu. Inget, Bu. Orang pelit kuburannya sempit," ucap Zura.
"Zura, kamu!" geram Bu Latifah.
"Aku kenapa, Bu? Cantik yah? Semua orang udah tau itu, Bu." Lagi-lagi Zura menyambar.
"Nyamber aja kamu, kayak petir. Itu mulut bisa diam tidak? Lama-lama saya bisa gila ngajar di kelas ini," ucap Bu Latifah dengan wajah yang memerah karena pagi-pagi sudah di buat kesal oleh Zura.
"Bibir aku dari dulu diem kok, Bu nggak lari-lari apa lagi kawin lari."
"Kalian berdua, keluar!" teriak Bu Latifah yang sudah geram sembari menunjuk Ranti dan juga Zura.
"Baik, Bulat. Yuk Ting, kita keluar." Tanpa dosa Zura berlalu pergi ke luar dengan menarik tangan Ranti.
Sementara itu, Zam di ujung sana memijait plipisnya pusing dengan kelakuan sang adik yang tak pernah berubah sedari kecil. Selalu saja membuat masalah. Berbeda dengan Gala, pria itu hanya acuh dan tak peduli dengan yang terjadi di sekitarnya.
"Ting, gue mau balik ah. Bete ngejogrog di mari," ucap Zura yang sedang duduk lesehan di bawah pohon belakang sekolah.
"Lah, emangnya nggak mau masuk di pelajaran ke dua?" tanya Ranti.
"Ogah, males banget. Andai aja gurunya ganti. Pasti gue semangat sekolah," jawab Zura.
"Bener lo ya, kalo gurunya ganti bakal semangat sekolah."
"Beneran, selain semangat. Gue juga bakal rajin."
"Dah ah, gue mau balik. Lo mau ikut nggak?" tanyanya.
"Nggak ah, gue kemarin udah bolos," tolaknya.
"Yaudah gue balik dah. Ntar tas gue kasih aja ke, Abang," ucap Zura.
"Hm, ok."
Zura pun berjalan ke arah tembok belakang sekolah, dengan satu kali lompatan. Dia sudah berhasil naik ke atas tembok yang lumayan tinggi itu. Setelah berda di atas, dia melambai kemudian melompat ke bawah. Ranti sudah biasa melihat Zura melompat seperti itu, karena Zura sering bolos.
"Bang!" panggilnya pada tukang ojek setelah dia berada di luar sekolah.
"Anterin aku pulang ya," ucapnya setelah tukang ojek itu menghampiri.
"Ini 'kan masih jam belajar. Belum waktunya pulang, Neng bolos ya?" tebak kang ojek itu.
"Aku nggak bolos, Bang. Cuma di suruh keluar sama guru, yaudah. Sekalian aja pulang," jawabnya santai.
"Itu sama aja, Neng. Pasti abis buat ulah ya, makannya dai suruh keluar."
"Nggak kok, Bang. Aku kan nggak tau gimana caranya buat ulah. Kau buat donat yang bolong itu baru tau."
"Hais, si eneng ini." Kang ojek tepuk jidat.
Budayakan Like, komen and Vote. Supaya authornya semangat melanjutkan cerita.😘
Buat yang suka cerita Comedy, yuk mampir ke novelku yang ada di apk oren, judulnya Hasrat terlarang istri tak di anggap. Dan juga Suami Culunku Ternyata Tampan. Novel ini akan membuat hati kalian campur aduk, ded deg ser. Baper, greget bahkan tertawa ngakak karena kesomplakab para pemainnya . Cus kepoin.👇