
Bugh!
Zura menendang tiga preman yang sedang mengeroyok Roy adiknya dengan keras. Tiga preman itu langsung terhuyung secara bersamaan.
"Beraninya keroyokan! Dasar Panci," ledek Zura dengan berkacak pinggang.
"Sialan! Beraninya kau ikut campur bocah ingusan!" teriak salah satu sari mereka sembari bangkit dengan cepat.
"Kak, jangan di ladenin. Mereka berbahaya," ucap Roy pelan karena perutnya sakit akibat kena jontos tiga preman itu.
"Terus harus di gimanain, Riyko? Di biarin mukulin elo sampe isdeat gitu? Emang lo mau mati muda, hah? Mana belum kawin pula, gue mah ogah!" Zura melotot ke arah sang adik yang masih mengenakan seragam SMP, entah darimana adiknya itu jam segini baru pulang.
"Jangan banyak bacot kamu, Bocah!" Preman itu berlari hendak menerjang Zura.
Bruk!
Bruk!
Bruk!
Terlambat, kaki cekatan Zura telah terlebih dahulu mendarat di perut ketiga pria itu. Ya, Zura menendang mereka secara bersamaan dengan cara memutarkan tubuhnya.
Setelah mereka tergeletak, Zura dengan segera memukuli ketiganya dengan tangan kosong sampai mereka babak belur.
"Pergi atau kalian akan mati," ucap Zura dingin.
Dengan sempoyongan mereka segera bangkit kemudian berlari dengan sekencang mungkin. Roy yang melihat kakaknya begitu mengerikan terlihat heran. Ini memang bukan pertama kalinya Roy melihat Zura baku hantam namun tidak sampai lawannya babak belur seperti ini.
"Kak, sebenarnya, Kakak belajar beladiri di mana sih? Roy mau ikut dong, Roy kan pengen jago kayak, Kakak," tanya Roy seraya menghampiri Zura.
"Udah gue bilang berkali-kali, kalau gue itu kagak pernah yang namanya belajar beladiri. Lagian mana mungkin Mimom, Pipop ngizinin. Gue 'kan cewek. Masa iya, cewek demen berantem." Zura terkekeh.
"Nah itu tadi? Kakak jago banget berantemnya, bisa darimana?" heran Roy.
"Gue cuma niruin film action yang sering gue tonton itu," jawabnya enteng.
"Bisa gitu ya? Nonton film action langsung jago berantem. Kalau gitu, Roy mau nonton film action juga, ah. Biar jago berantem kayak, Kakak," ujar bocah SMP itu.
"Gue juga heran, Royko. Kenapa bisa gitu ya, jiwa pisiko gue meronta-ronta saat melihat flm action," ucap Zura.
"Dah ah, yok kita pulang. Lo nggak pa-pa 'kan? Masih bisa bawa motor?"
"Bisa kok, Kak."
"Lo utang penjelasan sama gue, kenapa tu permen bisa ngeroyokin elo. Ntar di rumah bayar ampe lunas ya."
"Iya, Kak. Nanti di bayar lunas sekalian sama kembangnya!"
Singkat waktu mereka telah sampai di rumah, keduanya langsung di hadiahi tatapan tajam sang Pipop. Pasalnya ini sudah sore dan mereka berdua baru sampai di rumah, apa lagi Roy masih mengenakan seragam.
"Darimana kalian?" Pop Ray menatap keduanya tajam.
"Aku abis dari rumah calon imam, Pop," jawab Zura dengan tersenyum manis, saking manisnya garam aja kalah.
"Ara, udah Pipop bilang. Kamu itu perempuan, nggak pantes terus-terusan nyamperin laki-laki," ucap Ray penuh penekanan.
"A, elah. Namanya juga usaha, Pop. Makannya kawinin dong Ara sama Gagal. Biar Ara cantik ini nggak ngenes, Pop," ucapnya memelas.
"Kawin! Kawin! Di pikir kucing apa? Udah tau Gala nggak suka sama kamu. Masih aja di pepet. " Ray menghela napas kasar.
"Dengerin, Pipop. Kamu itu cantik, banyak yang suka sama kamu di luaran sana. Jangan terus-terusan ngejar, Gala yang jelas-jelas nggak suka sama kamu. Nggak cape apa ngejar tu bocah mulu dari orok?" ujar Ray sembari menatap wajah imut sang putri.
"Nggak, Pop. Ara nggak cape kok. Siapa tau suatu saat nanti, Gagal ulala suka juga sama, Ara. Mengejar Gala itu ibarat mengejar layangan. Penuh dengan perjuangan, kadang juga sampe terluka, jatuh, tertusuk duri. Tapi kalau udah dapet, bahagianya tiada tara," tutur Zura.
"Mending kalau dapet, kalau di embat orang gimana? Udah capek-capek ngejar sampe terluka, taunya yang dapetin orang lain," sahut Ray yang sedang duduk di sofa.
"Okelah kalau begitu," ucap Zura.
"Nggak bakal ngejar, Gala lagi?" tanya Mom Ella menimbrung.
"Iya," jawab Zura.
"Bagus itu, capek tau ngejar orang yang nggak pernah ngelirik kita," ucap Ella.
"Zura!" geram Pipop Ray.
"Kenapa, Pop? Ara pinter 'kan? Iya dong pinter banget dah anak kesayangan Pop ini. Dah lah, nanti Ara mau melet Gagal pake jurus jarang mandi aja."
"Ra!" Kali ini Ella yang memplototi gadis itu.
"Emang Ara bener Mom, kalo tidak berhasil pake jurus yang kedua gemar ngeden namanya jarang mandi jodohnya." Zura malah berjoget heboh.
"Anak ini." Ray memijit pelan plipisnya.
"Ayolah, Pop. Jodohin ngapa Ara sama Gagal, Ara janji bakal jadi istri yang baik. Plis Pop." Kali ini gadis itu duduk di pangkuan sang Pipop.
"Nggak! Sekali enggak ya tetep enggak!" tegas Ray.
"Punya Pipop jahat bener ih, Pipop durjana emang. Kagak tau apa anaknya udah tergila-gila sama Gagal ulala yang pengejaran nya gagal mulu, Pop nggak sayang ya sama, Ara," ketus Zura.
"Justru, Pop ngelakuin ini karena sayang sama kamu. Coba bayangin kalau kamu menikah dengan Gala karena di jodohkan, di sini kamu akan mencintai seseorang diri. Mencintai tanpa di cintai itu sakit, Ra." Ray mengelus pelan kepala putrinya sayang.
"Bodo! Pokonya Pop jahat! Pop nggak sayang Ara! Pop nggak ngerti perasaan Ara. Udah lebih baik Pop jadi popcorn aja sana." Zura bangkit kemudian melangkah pergi menuju kamarnya dengan cemberut, sementara Roy sudah pergi ke kamar saat kakaknya di ceramahi. Karena bibirnya agak lebam, dia takut di ceramahi juga karena itu.
"Sabar." Ella mengelus lembut pundak sang suami.
"Hm."
Keesokan harinya Zura bangun begitu pagi, dia sudah mengenakan seragam dan juga menggendong tas miliknya. Zura berjalan tergesa-gesa menuruni tangga.
"Sarapan dulu, Sayang," panggil Ray karena melihat Zura nyelonong begitu saja melewati mereka.
"Aku nggak mau sarapan sampai, Pop ngasih Gala ke aku," ketua Zura.
"Emangnya Gala itu mainan pake acara di kasih segala?" Ray geleng-geleng kepala, ternyata putrinya masih ngambek karena masalah dirinya tidak mau menjodohkan dia dengan Gala.
"Ok, kalau Pop nggak mau ngasih Gala. Mulai saat ini aku mau mogok makan, mogok mandi, mogok bicara. Pokonya mogok segalanya," ucapnya seraya berlalu pergi.
"Gimana ini, Pop? Apa kita jodohkan aja mereka? Toh kita juga bahagia meskipun dari hasil perjodohan," lirih Ella.
"Aku takut, Ara nggak akan bahagia, Sayang." Ray menghembuskan napasnya kasar, bingung menghadapi sikap sang putri yang keras kepala.
.
.
.
Saat ini Zura sudah berada di sekolah. Dia berjalan sembari menggerutu kesal, wajahnya di tekuk namun sedetik kemudian wajah itu tersenyum kembali kala atensinya menatap sosok Gala yang tengah berjalan bersama sang abang.
"My baby Gala-Gala," teriaknya seraya berlari menghampiri sosok yang di cintainya itu.
"Bisa nggak sih lo sehari aja jangan gangguin gue?" Gala terlihat kesal dengan kehadiran Zura.
"Nggak bisa, Gagal. Hidup Ara terasa hampa tanpa Gagal." Gadis itu menampilkan deretan giginya.
"Tapi hidup gue sengsara karena kehadiran lo, mending lo pergi jauh-jauh sono dari hidup gue! Biar hidup gue tenang!" ujar Gala emosi.
"Tapi Ara bahagia, gimana dong, Gagal ulala yang unyu-unyu badai." Zura meraih sebelah tangan Gala yang langsung di hempaskan oleh si empunya.
"La, lo bisa nggak sih nggak usah kasar gitu sama adek gue?" ucap Zam tak Terima.
"Salahin tuh adek lo yang kegatelan!" Gala berlalu pergi begitu saja.
"Ra, plis. Abang mohon, jangan ngejar Gala lagi, kamu nggak sakit hati apa di gituin terus?" ucap Zam lembut.
"Abang kayak nggak tau aja, kalau orang lagi jatuh cinta, ta*i kucing aja berasa coklat."
"Jatuh cinta nggak gitu juga kali, Dek. Nyungseb baru tau rasa. Ayok ke kelas," ajak Zam.
"Ntar lah, mau ke toilet dulu. Kebelet." Zura berlalu pergi dari hadapan Zam.
Zura pergi dengan berlari, gadis itu tak memperdulikan orang di sekitar. Sampai tiba di dekat toilet, gadis itu terpeleset dan hedak jatuh namun sebuah tangan kekar menyangga tubuhnya.
'Eh buju buset, ni orang apa malaikat? Cakep bener dah,' gumam Zura dalam hati dengan mata yang menatap pria di hadapannya dengan intens.