kepentok Cinta Pak Guru

kepentok Cinta Pak Guru
Calon mantu cadangan



Di saat Mom Ell tengah mengoceh di dalam rumah, Bintang yang di tunggu Zura akhirnya datang juga. Merekapun segera meluncur ke TTM, tempat tujuan mereka. Begitu sampai di sana, Zura terlihat sangat senang. Terbukti dia langsung turun dan meninggalkan Bintang begitu saja, dia masuk dalam kerumunan tanpa memperdulikan Bintang yang terus memanggilnya.


"Wah! Banyak permainan. Banyak jajanan juga!" ucap Zura heboh dengan mata yang berbinar.


"Aaa! Aci bulet!" pekiknya kala melihat tukang cilok, makanan yang sangat ia sukai.


Zura segera berlari menghampiri tukang cilok itu tanpa peduli jika saat ini dia sudah terpisah dari Bintang.


"Abang beli aci buletnya ya," ucap Zura pada si abang penjual.


"Mau berapa, Neng?" tanya Si Abang tukang cilok.


"Berapa ya?" Zura terlihat berpikir.


"Aha! 100 ribu aja, Bang," ujar Zur.


Terkagetlah si abang tukang cilok, namun sedetik kemudian dia tersenyum bahagia.


"Siap, Neng," sahut si Abang kang cilok.


Beberapa saat kemudian, si abang sudah membungkus cilok itu menjadi beberapa pelastik bening dengan berbagai parian rasa, ada yang pedas, sedang, ada juga yang hanya kecap saja dan juga di polos. Semuanya di satuin dalam satu keresek mini hitam.


"Ini, Bang. Uangnya, makasih." Zura menyodorkan satu lembar uang berwarna merah, setelah itu dia pun berlalu pergi.


"Eh, si Bintang di langit nggak nyusulin gue? Apa dia kehilangan jejak gue? Au ah! Mending gue makan aci bulat aja," selorohnya kemudian dia mencari tempat untuk duduk.


Saat dirinya mencari tempat duduk, dia melihat seseorang yang sangat ia kenali. Dengan riang, dia menghampiri orang itu, duduk di sampingnya tanpa minta izin.


"Astaga kamu!" pekik orang di sebelah Zura kaget.


"Hai Camicaku, ngapain di sini?" tanpa malu Zura bertanya seraya tersenyum manis.


"Bukan urusan kamu," ketusnya.


"Terus apa dong yang harus aku urusin? Bapak guru tampan begitu?" Zura menaik turunkan alisnya.


"Serah," sahutnya yang masih ketus.


"Bapak guru jangan ketus-ketus dong sama Ara yang cantik ini, masa udah cetar, imut begini masih di ketusin," ucap Zura cemberut.


Arkan terlihat menarik napas panjang saat mendengar ocehan jelemaan beo cantik. Memang Arkan akui, Zura itu cantik. Bahkan kecantikannya di atas rata-rata, namun sayang gadis itu sangat berisik. Lebih berisik dari ibu-ibu yang berebut sembako.


"Bapak guru sama siapa kesini?" tanya Zura yang sudah tidak lagi cemberut. Ekspresi wajahnya mudah sekali berubah-ubah seperti bunglon.


"Sendiri," jawab Arkan jujur.


Dia memang datang kesini sendiri, tujuannya untuk menghilangkan penat. Namun dia tidak menyangka akan bertemu jelemaan beo cantik yang selalu membuatnya darah tinggi jika di sekolah.


"Kamu sendiri?" Entah kesambet apa? Arkan tiba-tiba balik bertanya.


"Sama Bintang, tapi Bintang nya ketinggalan," jawab Zura yang membuat kening Arkan mengerenyit.


"Bintang di atas?" Arkan menunjuk langit yang tidak ada Bintang sama sekali.


"Ih bukan dong, Bapak guruku yang tampan tapi sayang judes. Bintang itu nama orang," jelas Zura dan Arkan pun mengangguk pertanda mengerti.


"Bapak guru tampan," panggil Zura dengan wajah imutnya.


"Hm."


"Mau aci bulat nggak?" tanyanya sembari membuka kresek yang dia tenteng.


Arkan melirik kearah Zura, terngangalah mulut Arkan. Dia menatap cilok yang berada dalam kresek. Begitu banyak saling berhimpitan.


"Kamu beli cilok buat sekampung?" tanya Arkan.


"Enggak, ini buat aku aja. Lagian aku nggak tau itu kampung di mana," jawab Zura.


"Cilok sebanyak ini buat sendiri?" Arkan melongo.


"Tadinya sih buat berdua sama, Bintang. Tapi orang nya nggak ada, yaudah. Berdua sama Bapak guru aja, ya," ucap Zura.


"Saya nggak suka cilok," sahut Arkan datar.


"Kenapa? Ini enak loh! Bulat-bulat lagi, seperti cinta aku buat Gagal. Bulat, nggak ada yang penyok apalagi gepeng," seloroh Zura.


"Serah kamu lah."


"Aaaa! Cobain dulu deh, Camicaku yang tampan." Zura menyodorkan satu cilok yang sudah ia colok dengan tusuk sate.


"Nggak!" tolak Arkan.


"Bapak guru camica tau nggak? Tadi itu aku mau mogok makan, tapi nggak jadi. Eh bukan nggak jadi, tapi di pending dulu mogok makan nya. Nanti kalau udah kenyang, aku mogok makan lagi," celoteh Zura.


"Percuma mo---" ucapan Arkan berhenti karena sebuah cilok mendarat di mulutnya dengan selamat.


"Enak 'kan?" tanya Zura tanpa dosa.


"Kamu it----" Arkan hendak berucap setelah cilok tadi ia telan, namun sayang, cilok kembali mendarat di mulutnya sehingga membuat pria itu kembali bungkam.


Dengan tanpa dosanya Zura malah tertawa saat melihat mulut Arkan mengembung karena Zura menyuapinya 3 buah cilok sekaligus. Arkan awalnya ingin marah, namun entah mengapa saat melihat Zura tertawa dengan begitu lepas membuat Arkan ikut tersenyum walau tipis. Rasa marah yang tadinya menyeruak kini berganti dengan rasa bahagia, entahlah. Pria itu merasa bahagia saat melihat Zura tertawa seperti itu.


"Sudah puas ketawanya?" tanya Arkan setelah dia menelan cilok yang berada di mulutnya.


"Sebenarnya belum, tapi wajah bapak guru udah nggak lucu lagi. Jadi aku nggak bisa ketawa," jawab Zura dengan bibir mengerucut.


"Ah maaf, nggak sengaja." Arkan menjadi kikuk saat Zura menatapnya dengan aneh.


"Nggak pa-pa kok, Bapak guru. Aku suka, Pop juga sering gituin aku, abang Zam sama Opa juga," sahut Zura dengan tersenyum manis.


"Mereka 'kan keluarga kamu, sedangkan saya bukan siapa-siapa. Memangnya kamu nggak takut?" tanya Arkan.


"Siapa bilang bapak guru bukan siapa-siapa? Bapak guru itu Camicaku, dan aku juga nggak takut tuh sama bapak. Kalau bapak macam-macam, tinggal aku tonjok aja sampe idung bapak patah," oceh Zura.


"Kayak bisa nonjok aja, tampang kayak gini tu. Buka botol aqua juga nggak akan bisa," ucap Arkan.


"Siapa bilang? Bapak guruku yang tampan. Kalau ngeliat orang tu jangan dari casingnya doang, yang terlihat lemah belum tentu lemah, begitu juga sebaliknya." Zura berucap dengan atensi yang menatap lekat wajah tampan sang guru.


"Emang iya sih, tapi tampang kamu emang nggak meyakinkan," ledek Arkan.


"Dah lah serah bapak guru aja." Zura bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Arkan.


"Pulang," jawab Zura.


"Bukannya kamu baru nyampe? Emang nggak mau naik wahana gitu? Jajan yang lain kan banyak stand makanan," ujar Arkan yang entah mengapa tidak rela membiarkan gadis cerewet itu pergi.


"Aku nggak punya uang lagi bapak guru, aku cuma bawa uang cepe. Itu juga abis buat jajan cilok, tadinya mau meres si Bintang di langit, eh taunya kita malah kepisah. Jadi nggak bisa jajan deh," keluh Zura.


"Terus kamu pulang mau naik apa?"


"Naik, ojol aja. Nanti bayar di rumah."


"Yaudah saya anterin, tapi kita naik wahana dulu yuk," ajak Arkan.


"Cius mi apa? Bapak guru ngajakin aku naik wahana. Di traktir 'kan?" Zura langsung berbinar.


"Iya ayok." Arkan turut bangkit.


"Asikkk! Sama jajan juga ya di traktir."


"Iya."


Mereka pun melangkah meninggalkan tempat itu, Arkan mengajak Zura menaiki beberapa wahana. Sehingga membuat gadis itu sangat senang. Tak hanya itu, Arkan juga membelikan Zura beberapa makanan. Dari mulai martabak manis, asin. Kerak telor. Papeda, bakso beranak, bakso bakar, sosis bakar dll. Itu semua adalah permintaan Zura. Satu jam lebih mereka berkeliling sehingga membuat Zura kelelahan, Arkan pun menawarkan untuk mengantar muridnya itu pulang. Dengan senang hati Zura mengangguk, gadis itu senang karena bisa di antar oleh guru tampannya.


"Ini rumah kamu?" tanya Arkan setelah mereka sampai di pelataran rumah keluarga Wardana.


"Iya, yuk mampir dulu bapak guru," ajak Zura.


"Nggak usah, saya langsung pulang aja," tolaknya.


Zura pun mengangguk, kemudian dia turun dari mobil. Karena jajanan yang ia palak dari gurunya itu sangatlah banyak, membuat gadis itu kesusahan membawanya. Dengan terpaksa Arkan turun tangan untuk membantu gadis itu.


"Makasih bapak guru, jadi mampir deh ya kan." Zura tersenyum senang sembari melangkah masuk di ikuti oleh Arkan.


"Sepeda! Zura yang cantik imut cetar membahana pulang. Mana sambutannya nih!" teriak gadis itu menggelegar.


"Asalamualaikum," ucap Arkan yang menyusul di belakang.


"Waalaikumsalam," sahut Ray dan Ella yang datang menghampiri.


"Malem, Om. Tante," sapa Arkan dengan ramah.


"Malam, eh ini siapa?" tanya Ella.


"Saya gurunya Zura, Tante," jawab Arkan.


"Oh guru," sahut Ray dengan manggut-manggut.


"Gurunya tampan banget, yaampun. Kalo, Tante masih muda udah tante gebet kamu tampan," ucap Ella.


"Mom!" Ray menatap istrinya tajam.


"Canda, Pop. Tetep kok Pop yang paling tampan dan juga gagah," rayu Ella.


"Ajak duduk, Ra. Guru kamu," titah Ray.


"Ayok bapak guru camicaku, duduk sini." Zura menarik lengan Arkan ke arah sofa ruang tamu.


"Taruh aja makanannya di meja," lanjutnya menyuruh.


"Ara, nggak sopan nyuruh-nyuruh guru sendiri," tegur Ella.


"Ya mangap, Mom."


"Tadi namanya siapa? Camica? Nama kamu Camica?" tanya Ray yang duduk di sebelah Ella.


"Bukan, Om. Nama saya Arkan," jawabannya.


"Kenapa, Ara manggil Camica tadi?" heran Ray seraya menatap sang putri.


"Camica itu singkatan dari calon suami cadangan, Pop. Bapak guru tampan ini calon suami cadangan aku. Buat jaga-jaga kalo Gagalnya gagal jadi suami aku, jadi akunya udah punya cadangan," jawab Zura yang membuat Arkan malu setengah mampus karena mendapat julukan camica. Itu sama saja dengan simpanan bukan?


Sementara itu, Ray dan Ella hanya saling pandang. Sebelum akhirnya mereka tersenyum kemudian mengatakan.


"Selamat datang calon mantu cadangan," ucap mereka secara bersamaan.


Jejak😘