kepentok Cinta Pak Guru

kepentok Cinta Pak Guru
Bukan cami tapi camam



Usai menghampiri Arkan, Zura kembali ke meja tempatnya semula. Dia langsung menyantap bakso yang di pesan oleh Ranti.


"Ting, si Rena kemana? Udah dua hari dia kagak masuk," ucap Zura setelah selesai menyantap baksonya.


Rena adalah sahabatnya yang satu lagi, meski tidak sedekat dengan Ranti.


"Entah, gue nggak tau," jawab Ranti.


"Si Gala tuh," lanjutnya seraya menunjuk Gala yang sedang berjalan bersama Zam ke meja yang biasa mereka tempati.


"Gue mau nyamperin cami dulu dah!" Zura segera bangkit menghampiri Gala.


"Hay cami," sapanya riang.


"Bisa nggak sih lo manggil gue yang bener, Gagal lah, ulala lah. Sekarang cami, besok apa lagi? Cacing?" Kesal Gala dengan memutar bola matanya jengah.


"Ihh, cami itu nggak aneh. Itu singkatan dari calon suami." Zura mendudukan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Gala.


"Gue bukan calon suami lo," ketus Gala.


"Iya deh, bukan cami tapi camam. Calon imam," selorohnya.


"Oh iya, camam mau maem apa? Ara pesenin ya? Spesial pake cinta jadi rasanya berbeda seperti, Camam berada di nusa Kambangan, eh berada di atas awan maksudnya. Jadi, Camam mau mam apa?" tanya Zura mengoceh.


"Gue bisa sendiri." Gala bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi.


"Kenapa, Bang?" Zura menatap Zam yang sedang menatap intens dirinya.


"Nggak," jawab Zam malas.


Sebenarnya pemuda itu tidak mau Zura seperti ini, selalu mengejar Gala yang berujung ke gagalan seperti panggilan nya kepada Gala. Sudah berulang kali Zam menasihati Zura supaya gadis itu tidak terus menerus mengejar Gala, dia ingin Zura membuka hati untuk pria yang lain.


"Gue boleh gabung?" Intonasi berat milik seorang pemuda tampan bertubuh tegap dan juga tinggi membuat mereka berdua menatap kearahnya secara bersamaan.


"Eh, Bintang di langit," seru Zura.


"Hay Ra, hay juga Zam." Pemuda yang bernama bintang itu tersenyum dengan begitu manis.


"Hay juga, sini duduk. Tang," ajak Zura.


Bintang pun duduk di samping Zura, Zam hanya melihat ke arah Bintang sekilas kemudian dia pamit sebentar untuk memesan makanan.


"Ra, nanti malam lo ada acara nggak?" tanya Bintang.


"Bentar deh, acara gue banyak kayaknya, Tang," jawab Zura.


"Banyak banget ya?" tanya Bintang lesu, tadinya pemuda itu hendak mengajak Zura jalan ke pasar malam yang katanya baru buka.


"Heem, ngasih makan ikan ****** gue, terus curhat sama barisan ikan koi. Em, apalagi ya. Ah iya, nanti malam gue ada jadwal ketemu camilu," ujar Zura.


"Hm, tadinya gue mau ngajak lo ke pasar malam yang katanya baru buka," ucap Bintang lesu.


"Pasar malam?" Bintang mengangguk.


"Hayuk lah, gue pending dah acara malam ini ketemu camilu. Gue mau ngikut lo aja, tapi ntar di jajanin si manis ngilang ya," pinta Zura.


"Iya, gue beliin apapun yang lo mau," kata Bintang yang kali ini nampak ceria kembali.


"Ah tetenks, Bintang di langit di kait ngajuralit!" seru Zura riang.


"Lo emang temen terdebest gue dah, kalo lagi baik. Kalo kagak, lo temen ter-luknut gue. Jadi lo kudu baik ya, jangan pelit. Biar kubur lo nggak sempit nanti, sesempit sepatu gue." Zura mengacungkan sebelah kakinya.


"Kesempitan itu pengap, Tang. Tapi kalau di tambah kesempatan wuenak! Kesempatan dalam kesempitan," selorohnya.


"Bisa aja kamu." Bintang hendak mengusak rambut Zura.


"Nggak boleh pegang-pegang, gue bukan dagangan di pegang tapi kagak di beli," cetus Zura.


"Apa lagi di coba kagak di bayar, beuh! Kebangetan," lanjutnya terus mengoceh.


"Ni burung beo belum mingkem dari tadi." Zam datang dengan membawa nampan berisi soto dan juga juice.


"Ara bukan beo abang," ucap Zura cemberut.


"Mana ada kadal di sini, Kadal 'kan di rumah Oma," delik Zura.


"Itu tante kadal, yang ini beda lagi."


"Emang kadal ada dua?"


"Ada banyak, tapi beda spesies."


Ucapan Zam membuat Zura mengerenyitkan kening pertanda bingung.


"Kadal buntung, kadal tudus, kadal rambal." Semakin bingung lah Zura mendengar kata demi kata abangnya.


"Nggak usah di cerna, otak lo nggak bakal mampu. Ntar meledak, bingung nggak ada ganti. Ada sih, tapi otak kodok. Kalo di ganti pake entu bisa gaswat. Ntar pas si Gagal ulala elu gandeng cewek lain lo bisa lompat ke sungai," celoteh Zam yang mendadak bawel.


"Apa kutub utara mencair?" celetuk Zura.


"Kayaknya sih iya," sahut Bintang.


"Atau nggak, kutub utara udah nggak di tempati beruang kutub lagi. Tapi di tempati barisan para katak, jadi ngoceh terus berisik. Webek! Webek! Webek!" sahut Zura dengan menirukan suara katak.


"Hm, bisa jadi."


"Berisik," cetus Zam kesal.


"Apanya yang bersisik, Bang? Kadalnya ya?" tanya Zura tanpa dosa.


"Dah ah gue mau pindah, kalau di sini terus. Ni soto nggak bakal nyampe-nyampe ke lambung," gerutu Zam seraya berlalu pergi menghampiri Gala yang duduk tak jauh darisana.


"Abang gue kenapa, Tang?"


"Kesambet kadal kali."


"Gue pergi dulu, ya. Ntar malam gue jemput," pamit Bintang.


"Wokeh, jan lupa bawa duit yang banyak. Takutnya pas pulang lo nyeker karena sepatu lo di gadein," ujar Zura.


"Asal jangan hati aja yang di gadein," sahut Bintang seraya berlalu.


Tinggalah Zura seorang diri, dia pun beranjak juga menghampiri Ranti yang masih duduk di meja tadi sembari bermain ponsel. Setelah itu mereka pun berlalu pergi ke kelas.


"Kita ke pasar malam yang baru buka itu yuk, Ra," ajak Ranti.


"Hayuk, gue rencananya emang mau kesana sama si Bintang," sahut Zura.


"Etdah ni bocah, semuanya aja lu jabanin. Si Gala di kejar, si gupan alias guru tampan di himeuk! Sekarang si Bintang lo sikat juga, etdah maemunah bener-bener ya." Ranti geleng-geleng kepala.


"Gini ya, Ting. Gue itu ibarat Wi-Fi, semua ketangkep. Tapi yang terhubung cuma yang paling kuat," ujar Zura.


"Lagian gue juga kagak ada niatan buat nyikat si Bintang. Selain gue kagak bawa sikat, gue juga nggak tega ntar wajah tampan si Bintang jadi datar kalo gue sikat. Idung mancung nya jadi pesek, pipi alus nya jadi kasar. Sekasar parutan emak gue," oceh Zura yang membuat Ranti menepuk jidat.


Tak lama semua murid di sana masuk ke dalam kelas, suasana jadi berisik. Ada yang bergosip, bernyanyi, yang berteriak pun juga ada namun itu hanya sesaat, suasana menjadi hening kembali begitu Arkan memasuki kelas.


Wajah pria itu terlihat lebih fresh, meskipun tidak ada senyuman menghiasi wajahnya namun pria itu tetap saja terlihat sangat tampan. Pesonanya menyihir semua siswi yang tadinya malas sekolah menjadi rajin. Contohnya saja Zura, jika biasanya ia selalu bolos, kini dia benar-benar mengikuti pelajaran. Sepertinya kehadiran Arkan membawa dampak positif bagi murid wanita.


"Damage, Opa. Sarang beo," gumam Zura dengan atensi yang menatap lekat pria yang sedang berdiri di depan sembari menerangkan materi.


"Lo ngomong apaan si?" bisik Ranti yang duduk di samping Zura.


"Nggak tau," jawab Zura.


"Camica gue tampan banget ya, Ting," bisik Zura kemudian.


"Ngapain lu bawa merica?" tanya Ranti karena dia tidak begitu mendengar bisikan Zura.


"Jangan berbisik di jam pelajaran!" Bariton tegas Arkan membuat mereka diam seketika.


"Kalau masih mau lanjut berbisik, silahkan keluar. Jangan mengikuti pelajaran saya," lanjutnya.


"Atuh jangan lah, Pak. Ntar akunya jadi gegana gegara nggak mandangin wajah tampan Bapak yang pake banget itu. Saking bangetnya aku jadi gereget pen nyakuin terus di bawa pulang ke rumah. Mau aku pajang di kolong ranjang," celoteh Zura yang membuat semua pandangan tertuju padanya.