kepentok Cinta Pak Guru

kepentok Cinta Pak Guru
Bab 2. Ayam bejek.



Sampailah gadis itu di rumah, segera beranjak masuk setelah membayar ojek. Kediamannya masih sama seperti dulu, yaitu rumah besar keluarga Wardana.


"Mom!" teriak gadis itu menggelegar.


"Ara, udah Mimom bilang berkali-kali. Kalau masuk rumah itu jangan teriak-teriak," sahut Mimom Ella datang menghampiri putri cantiknya.


"Berkali-kali? Kali mana aja tuh, Mom? Kali ci liwung? Kali ci ulan? Atau kali lobang tutup lobang?" selorohnya.


"Ara! Mom nggak lagi bercanda ya," geram wanita yang usianya sudah tidak muda lagi namun masih terlihat sangat cantik.


"Kamu kok udah pulang? Harusnya kamu kan masih di sekolah. Kamu bolos ya?" Mom Ella menatap Zura penuh selidik.


"Nggak kok, Mom," jawabnya.


"Terus kenapa kamu udah pulang kalau nggak bolos?" Mom Ella kini berkacak pinggang.


"Jadi gini, Mom. Tadi itu 'kan aku di suruh keluar dari kelas sama Bu guru. Yaudah deh, sekalian aja pulang," jelasnya santai.


"Kamu bikin ulah apa lagi, Ara? Mom tu bingung, kamu tu cewek tapi kelakuannya nauzubillah bandelnya nggak ketulungan," ucap Mom Ella menahan emosi.


"Aku nggak bikin ulah, Mom. Dasar gurunya aja lagi sensi. Dah ah, aku mau ke kamar. Panas kuping aku denger, Mom ngoceh mulu," ucapnya seraya berlalu pergi.


"Punya anak cewek satu, gini amat ya. Perasaan, Zam sama Roy nggak gini amat," keluh Mom Ella sembari mendudukan tubuhnya di sopa.


Tak lama terdengar langkah kaki menuruni tangga, ternyata itu Zura yang sudah turun kembali dan juga sudah berganti pakaian. Saat ini Zura mengenakan kaos putih longgar dengan bawahan jeans hitam. Tak lupa jaket kulit coklat yang ia sampirkan di tangan, rambut di kuncir kuda menampilkan leher jenjangnya membuat Zura terlihat keren.


"Ara, kamu mau kemana lagi? Baru juga nyampe," tegur Mom Ella sembari memijat pelipis nya yang mendadak pening.


"Ada urusan bentar, Mom," jawabnya seraya berlalu seperti biasa.


"Yaampun anak itu."


Sampai di garasi, Zura segera mengeluarkan motor sport besarnya yang berwarna merah. Kemudian memakai jaket dan segera berlalu pergi menjalankan motornya dengan cukup kencang.


"Tante Udel," panggil Zura ketika dia sudah memasuki rumah yang tadi pagi di kunjunginya.


"Loh, Ara. Kok kamu udah pulang sekolah?" tanya Dela heran, matanya menelisik gadis yang tengah tersenyum manis di hadapannya itu.


"Aku di suruh keluar sama gurunya, Tante," jawabnya cengengesan


"Lah kok bisa? Kamu buat ulah ya?" tebak Dela.


"Nggak ih. Kenapa sih? Nggak kang ojek nggak Tante Udel, sama aja nuduh aku buat ulah. Padahal aku nggak buat ulah, Tante. Aku nggak bisa, nanti deh belajar dulu buatnya biar bisa buat ulah," sahut gadis itu.


"Serah kamu lah." Dela menghembuskan napasnya kasar.


Menjelang siang, Zura di ajak Dela untuk membantunya di dapur. Menyiapkan makan siang untuk Gala dan juga adiknya Salma. Untuk Galang, kalau makan siang dia tidak menentu, kadang pulang kadang juga tidak.


"Kita bikin apa, Tan?" tanya Zura semangat.


"Bikin ayam geprek kesukaan, Gala sama ayam balado kesukaan Salma," jawab Dela.


Salma Aura Giovani, anak kedua dari Galang dan Dela. Saat ini dia baru duduk di bangku sekolah menengah pertama. Lebih tepatnya kelas satu SMP. Beda satu tahun dengan Roy Alfariza Wardana, adik dari Zura dan Zam. Dia sudah kelas dua SMP saat ini.


Satu jam berlalu, keringat mengucur membasahi kening mulus Zura. Gadis itu nampak senang saat membantu wanita yang di gadang-gadang sebagai calon mertuanya itu.


"Kamu geprek ayamnya, ya. Setelah itu baru di kasih sambel dan di geprek lagi pelan," titah Dela.


"Siap, Tante," sahutnya semangat.


"Tante tinggal mandi sebentar ya, gerah banget. Semuanya udah beres kok, tinggal geprek ayam aja," ujar Dela.


"Ok, Tan." Zura mengacungkan jempolnya.


"Di geprek ya? Ok. Siap-siap ya, ayam." Zura mengambil ancang-ancang untuk meng geprek ayam itu.


Dela sudah selesai mandi dan berjalan kembali menghampiri Zura.


"Udah, Tan. Nih." Zura memperlihatkan hasil geprekannya.


"Yaampun, Zura ... Itu bukannya di geprek tapi di tumbuk. Masa ayam geprek hancur begini kaya abon." Dela menarik napasnya kasar.


"Maaf, Tan. Zura kelepasan, hehe," ucapnya cengengesan.


"Yaudah ayok kita bawa ke meja makan."


Makan siang pun tiba, Gala dan Salma sudah pulang dari sekolah. Kebetulan hari ini tidak ada kegiatan tambahan jadi Gala bisa pulang cepet.


"Ini apa, Mam?" Gala menunjuk ayam yang sudah tidak berbentuk itu.


"Ayam bejek." Zura yang menjawab.


"Mam? Nggak salah ngidangin makanan 'kan? Nggak ketuker sama makanan kucing 'kan?" tanya Gala.


"Nggak, Gal. Itu Zura geprek nya kekencengan. Tapi rasanya enak kok, coba aja," jawab Dela.


"Astaga, Ra. Lo bisa nya apasih? Apa cuma buat ulah doang? Geprek ayam aja sampe hancur begini." Gala melirik Zura yang sedang menampilkan deretan giginya.


"Udah, Kak. Makan aja apa susahnya sih? Nantikan sama aja bakal hancur pas di perut walaupun ayamnya utuh," sahut Salma.


"Bener tuh kata, Salam. Emangnya Gagal makan ayamnya nggak di kunyah dulu gitu? Di telenin satu-satu. Makannya nggak mau ayam yang aku bejek ini, padahal 'kan aku baik. Biar kalian nggak cape nguyah," tambah Zura.


"Serah lu dah, Bocah!" Kesal Gala.


"Berarti Gagal juga bocah? Kan umur kita nggak beda jauh," ucap Zura.


"Daripada lo ngoceh begitu kayak burung beo, mending lu makan tuh ayam bejek. Telenin biar nggak cape ngunyah. Sekalian sama piringnya telen juga," kata Gala jengah.


"Gala! Nggak boleh ngomong gitu. Nggak sopan!" ucap Dela memberitahu.


"Lagian tu bocah ngeselinnya minta ampun, Mam. Ngapain sih dia kesini mulu? Bosen tau ngeliat muka tengil dia," ujar Gala.


"Gala!" Dela menatap tajam Gala.


"Makan!' lanjutnya penuh penekanan.


Setelah makan siang selesai, Zura seperti biasa membuntuti Gala. Kali ini dia mengikuti pria itu ke taman belakang rumah.


" Ngapain sih lo ngintilin gue mulu?" Gala berbalik dengan wajah kesal.


"Aku 'kan mau ngikutin calon suami. Emangnya salah?" jawab Zura dengan senyuman termanisnya namun sayang Gala tidak terpesona sama sekali.


"Gue bukan calon suami lo. Gue tegasin ya, gue itu nggak pernah suka sama lo dan nggak akan pernah suka sampai kapanpun itu. Jadi jangan pernah bermimpi untuk jadi istri gue," ucap Gala penuh penekanan.


"Aku nggak mimpi, Gagal. Aku 'kan nggak lagi tidur. Nih kamu liat aku lagi berdiri." Zura menatap lekat wajah tampan Gala yang selalu membuatnya terpesona.


"Pulang sana! Lama-lama gue bisa gila ngadepin cewek kayak lo," usir Gala.


"Nggak pa-pa, asal gilanya karena tergila-gila sama aku, eaaa," goda Zura.


"Pergi atau gue lempar badan cungkring lo itu," emosi Gala sudah di ubun-ubun.


"Iya, iya. Galak amat sih calon laki gue. Amat aja nggak galak-galak banget." Zura melangkah pergi meninggalkan Gala seorang diri.


"Mau kemana, Kak?" tanya Salma yang berpapasan dengan Zura.


"Pulang, bay-bay, Salam, sereh, lenggkuas dan teman-temannya." Zura berlalu pergi meninggalkan rumah Gala.


Zura melajukan motornya dengan begitu kencang, membelah jalanan yang begitu padat pengendara. Di tengah perjalanan menuju ke rumah, dia melihat segerombolan preman tengah mengeroyok siswa berseragam SMP.


"Bukannya itu si Royko. Ah iya, itu Royko kesayangan gue!" pekiknya sembari menghentikan motornya kemudian turun dengan tergesa-gesa dan berlari ke arah kumpulan preman itu.