In Hearts

In Hearts
5# Dia



Pelangi pov


Mentari akan tetap bersinar meski kadang sinarnya redup oleh kesenduan


Angin akan tetap berhembus meski tak bisa untuk tetap bertahan


Bintang akan tetap terhias meski silau mentari menyisihkannya


Aku sang abu-abu


Kadang tiba-tiba terasa sendu


Aku juga sang jingga


Kadang bahagia dengan sederhana


Aku yang terkurung dalam sangakar


Hingga keluarpun sayapku mulai kaku


Terkurung dalam hati sepinya mengakar


Hingga ku buta seperti apakah sinar itu


Yang ku tahu hanyah kegulitaan


Aku ingin berteriak pada diri yang tuli


Ingin ku caci segala kebisuan ini


Tapi..


Dukaku hanya dalam kebisuan


Lukaku hanya dalam keheningan


Resah gelisah dalam keterdiaman


Bulir bening yang tanpa ku undang telah menetap disudut mata


Bungkam keluh diri ini berseru


Menyeru betapa berharga mengungkapkan segala rasa


Aku sesak hatiku retak


akan kah kamu tahu?


Akan kah kamu mengerti?


Sejak itu


Jiwaku kosong


Hatiku hampa


Kamu yang dulu datang


Ternyata kamu pergi menyisakan luka


Aku di sini


Namun tenggelam dalam kenangan


Aku di sini


Namun tak tergapai karena dinding tinggi yang kamu ciptakan


Mengapa kamu pergi


Mengapa?


Tapi kenapa kamu tetap tinggal dimimpiku


Dihatiku


Aku sesak


Aku sesak


Kenapa kamu datang


Dan lalu menjadi kenangan?


Kenapa kamu beri aku senyuman?


Dan akhirnya membuatku menangis begitu menyesakkan


kenapaaaaa?


Kenapaaa ?


Kenapa?


Bahkan tanyaku kamu campahkan


Baiklah maafkan


Dan berhentilah


Pergilah jangan lagi kamu bersemayam dalam benakku


Jangan !


Rintihan jemariku mungkin telah bosan, sekian kali ku tulis kan rasa ini dan tentang dia.


Buliran air mata ku kini jatuh dan jatuh lagi seakan masa laluku tidak mau beranjak pergi, terus saja menghantui hidupku.


Hatiku sesak ketika mimpi tentang dia mengusik tidurku lagi dan lagi, Tuhan aku juga ingin bahagia.


"Huff" ku menghela napasku kemudian ku tutup buku harianku setelah tercurahkan kesedihanku karena mimpi itu kembali.


"Sampai kapan kamu tetap tinggal heh?" Ku menatap sendu sebuah foto yang tersimpan di dompetku, disana dia tersenyum manis.


"Bahkan dalam mimpipun kamu tetap datang menggangguku" lirihku


Lalu ku dekap foto itu kemudian ku simpan lagi di tempatnya. Ingin rasanya aku membencinya namun hati terlalu cinta hingga rasa benci itupun menguap bahkan tinggalah rasa yang tercampur aduk antara rasa sayang, rasa marah, rindu dan rasa berharap dia akan kembali. Namun mana mungkin ia yang telah pergi kembali lagi sedang dunia ia sudah bukan dimana dunia yang bisa ku gapai, mungkin belum.


Jemariku menyusuri sebuah benda persegi panjang berwarna biru, yang padanya aku tumpahkan segala rasaku rinduku cintaku dan dia.


Sebuah buku yang telah lama menemaniku, jika buku itu hidup mungkin telah lama bosan pada gadis cengeng sepertiku. Karena ketika ku menangis ku datang padanya berharap duka ku sedikit terkikis.


"Terimakasih" lirih ku sambil memeluk erat buku harianku.


Entah mengapa aku lebih memilih berbagi dengan tulisan dari pada membaginya dengan rein. Aku pikir buku tak kan merasa sedih karenaku tapi jika rein pasti dia akan bersedih juga.


'Rein maaf kan aku, maaf aku terlalu pengecut tuk menangis bersama mu. Dan aku terlalu malu tuk terlihat lemah dihadapan mu.'


Aku sedikit lega sesak ku perlahan sirna. Entah datang darimana perlahan aku mulai bangkit senyuman ku mulai terbit. Beginilah aku yang tanpa terduga antara sedih dan senang datang cepat berganti.


Kubuka lagi buku biruku dengan sunggingan dibibir, lalu ku tulis kan lagi kata-kata yang lagi lagi tentang rasaku untuk dia.


Kamu adalah masa lalu


yang tak pernah berakhir


Dengan sebuah kisah yang telah terukir


Yang tidak lah lapuk dan terusir


Mungkin cerita kita telah ending


Namun cerita tentang aku dan kamu tak pernah usang.


Dan kamu disana mungkin tlah bersama bidadari


Disini hanya aku sendiri bersama bayangmu yang tak rela pergi.


Dan yang tak pernah aku sesali


"Aku mencintaimu"


"Aku mencintaimu"


Aku mencintaimu


"Aku masih mencintaimu"  batin ku lagi.


Ku dekap buku biru ku lalu membawanya ke alam mimpiku. Semoga hari esok akan lebih indah lagi dan lagi.


Pelangi' pov end


Rein pov


"Ku harap suatu saat kamu bisa benar-benar merelakannya ngi" lirih ku


'Dan kamu bisa tertawa lepas lagi seperti ketika bersama dia'


Ku lirik jam di meja ternyata masih jam 02.00 lebih baik ku tidur lagi. Agar besok tidak kesiangan lagi, aku sudah kapok.


"Selamat malam pelangi, mimpi indah" ku betulkan selimut kami dan kembali tidur.


#Tak akan ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan bukan😉


Tuhan sudah menciptakan segalanya dengan perencanaan yang jauh lebih dari kata sempurna