
Pelangi pov
Mentari akan tetap bersinar meski kadang sinarnya redup oleh kesenduan
Angin akan tetap berhembus meski tak bisa untuk tetap bertahan
Bintang akan tetap terhias meski silau mentari menyisihkannya
Aku sang abu-abu
Kadang tiba-tiba terasa sendu
Aku juga sang jingga
Kadang bahagia dengan sederhana
Aku yang terkurung dalam sangakar
Hingga keluarpun sayapku mulai kaku
Terkurung dalam hati sepinya mengakar
Hingga ku buta seperti apakah sinar itu
Yang ku tahu hanyah kegulitaan
Aku ingin berteriak pada diri yang tuli
Ingin ku caci segala kebisuan ini
Tapi..
Dukaku hanya dalam kebisuan
Lukaku hanya dalam keheningan
Resah gelisah dalam keterdiaman
Bulir bening yang tanpa ku undang telah menetap disudut mata
Bungkam keluh diri ini berseru
Menyeru betapa berharga mengungkapkan segala rasa
Aku sesak hatiku retak
akan kah kamu tahu?
Akan kah kamu mengerti?
Sejak itu
Jiwaku kosong
Hatiku hampa
Kamu yang dulu datang
Ternyata kamu pergi menyisakan luka
Aku di sini
Namun tenggelam dalam kenangan
Aku di sini
Namun tak tergapai karena dinding tinggi yang kamu ciptakan
Mengapa kamu pergi
Mengapa?
Tapi kenapa kamu tetap tinggal dimimpiku
Dihatiku
Aku sesak
Aku sesak
Kenapa kamu datang
Dan lalu menjadi kenangan?
Kenapa kamu beri aku senyuman?
Dan akhirnya membuatku menangis begitu menyesakkan
kenapaaaaa?
Kenapaaa ?
Kenapa?
Bahkan tanyaku kamu campahkan
Baiklah maafkan
Dan berhentilah
Pergilah jangan lagi kamu bersemayam dalam benakku
Jangan !
Rintihan jemariku mungkin telah bosan, sekian kali ku tulis kan rasa ini dan tentang dia.
Buliran air mata ku kini jatuh dan jatuh lagi seakan masa laluku tidak mau beranjak pergi, terus saja menghantui hidupku.
Hatiku sesak ketika mimpi tentang dia mengusik tidurku lagi dan lagi, Tuhan aku juga ingin bahagia.
"Huff" ku menghela napasku kemudian ku tutup buku harianku setelah tercurahkan kesedihanku karena mimpi itu kembali.
"Sampai kapan kamu tetap tinggal heh?" Ku menatap sendu sebuah foto yang tersimpan di dompetku, disana dia tersenyum manis.
"Bahkan dalam mimpipun kamu tetap datang menggangguku" lirihku
Lalu ku dekap foto itu kemudian ku simpan lagi di tempatnya. Ingin rasanya aku membencinya namun hati terlalu cinta hingga rasa benci itupun menguap bahkan tinggalah rasa yang tercampur aduk antara rasa sayang, rasa marah, rindu dan rasa berharap dia akan kembali. Namun mana mungkin ia yang telah pergi kembali lagi sedang dunia ia sudah bukan dimana dunia yang bisa ku gapai, mungkin belum.
Jemariku menyusuri sebuah benda persegi panjang berwarna biru, yang padanya aku tumpahkan segala rasaku rinduku cintaku dan dia.
Sebuah buku yang telah lama menemaniku, jika buku itu hidup mungkin telah lama bosan pada gadis cengeng sepertiku. Karena ketika ku menangis ku datang padanya berharap duka ku sedikit terkikis.
"Terimakasih" lirih ku sambil memeluk erat buku harianku.
Entah mengapa aku lebih memilih berbagi dengan tulisan dari pada membaginya dengan rein. Aku pikir buku tak kan merasa sedih karenaku tapi jika rein pasti dia akan bersedih juga.
'Rein maaf kan aku, maaf aku terlalu pengecut tuk menangis bersama mu. Dan aku terlalu malu tuk terlihat lemah dihadapan mu.'
Aku sedikit lega sesak ku perlahan sirna. Entah datang darimana perlahan aku mulai bangkit senyuman ku mulai terbit. Beginilah aku yang tanpa terduga antara sedih dan senang datang cepat berganti.
Kubuka lagi buku biruku dengan sunggingan dibibir, lalu ku tulis kan lagi kata-kata yang lagi lagi tentang rasaku untuk dia.
Kamu adalah masa lalu
yang tak pernah berakhir
Dengan sebuah kisah yang telah terukir
Yang tidak lah lapuk dan terusir
Mungkin cerita kita telah ending
Namun cerita tentang aku dan kamu tak pernah usang.
Dan kamu disana mungkin tlah bersama bidadari
Disini hanya aku sendiri bersama bayangmu yang tak rela pergi.
Dan yang tak pernah aku sesali
"Aku mencintaimu"
"Aku mencintaimu"
Aku mencintaimu
"Aku masih mencintaimu" batin ku lagi.
Ku dekap buku biru ku lalu membawanya ke alam mimpiku. Semoga hari esok akan lebih indah lagi dan lagi.
Pelangi' pov end
Rein pov
"Ku harap suatu saat kamu bisa benar-benar merelakannya ngi" lirih ku
'Dan kamu bisa tertawa lepas lagi seperti ketika bersama dia'
Ku lirik jam di meja ternyata masih jam 02.00 lebih baik ku tidur lagi. Agar besok tidak kesiangan lagi, aku sudah kapok.
"Selamat malam pelangi, mimpi indah" ku betulkan selimut kami dan kembali tidur.
#Tak akan ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan bukan😉
Tuhan sudah menciptakan segalanya dengan perencanaan yang jauh lebih dari kata sempurna