In Hearts

In Hearts
*2



"Hujan adalah keberkahan dimana setelahnya sejuk udara membekas dan pelangi dilangit pun berhias, seperti itulah dirimu -Rain-"


Pelangi khairatunnisa


###........###


Pelangi' pov


Hari pertama masa putih abu-abu adalah hal biasa saja ku rasakan tiada sesuatu yang membuat ku antusias tak ada alasan. Sebuah pengalaman yang indah pernah aku ukir di masa lalu bahkan bekasnya lebih menyesakkan dari kenangan buruk itu sendiri.


Lalu entah apa yang akan ku lalui di masa ini yang pasti aku punya Rain yang selalu ada dan dia yang mengisi lembaran kosong putih abu-abuku.


Disana akan ku tulis bagaimana pagiku dimulai dengan rintik hujan dan wajah sendu sang langit menyambutku dihari pertama masa putih abu-abu ini, lalu ku tulis sebuah nama yang hadirnya adalah ramai dalam buih tak lain tak bukan, sahabatku RAIN dengan huruf kapital agar aku ingat betapa hari ini ia berperan penting dalam goresan tinta dalam sejarah ini.


Iya si rain tersayang si bawel yang ngangenin dan betapa sangat menyebalkannya hari ini. Sejak pagi ia sudah kalang-kabut karena kesiangan dan mengomel tanpa henti membuatku malas mendengarnya. Ya begitulah sahabatku, bagiku dia adalah mata yang membuatku bisa melihat dunia, yah dunia penuh warna dan ceria dalam hidupku yang kelabu.


Semenyebalkan apapun hari ini tetap harus dihadapi dengan kepala dingin and positive thingking. Beginilah aku yang seperti rain katakan meski ada sunami di hatiku tetap aku akan tampak tenang, santai kayak di pantai...haha. Ok kembali ke hari menyebalkan ini, kini kami sudah seperti mangsa empuk senior yang sepertinya lapar akan hiburan dan kamilah santapannya.


"Kalian pada gak punya jam? Kalian gak usah manja deh, belagu amat jadi anak baru" omel kakak cantik dengan nada sinisnya.


"Maaf kak tad... " dengan sedikit gugup rain berusaha bersuara, kulirik wajahnya sudah mulai pucat karena kaget akibat suara melengking senior tadi.


"Kalau dengan maaf semua masalah akan beres buat apa peraturan dan disiplin itu ada hah?" Semburnya lagi membuat rain semakin menunduk dalam hatinya pasti ngedimel rain rain ck ck.


"Kakak udah marahnya?" Aku berusaha mempercepat acara marah memarahi ini karena aku udah jengah menjadi artis dadakan.


"Kalau udah silahkan hukum kami masalah beres" lanjutku dengan tenang menjurus ke datar.


"Lo... jadi adek kelas songong banget sih!!" geramnya sambil menunjuk-nunjuk padaku.


"Lo udah salah, lo telat malah loh sek..." lanjutnya.


"Kakak ribet banget sih, buang-buang waktu, kami udah tau kami salah kalau begitu izinkan kami buat menerima hukumannya" semua orang menatap ku dengan beragam ada yang kesal, sinis, takjub dan ada yang tersenyum miring.


"Looo..." teriaknya dengan emosi udah di ubun-ubun.


Dari arah belakang senior cantik itu tengah berjalan seorang laki-laki yang menurut ramalan eh..


maksudnya yang ku prediksi dia juga seorang senior dengan seringainya berjalan menuju kami. Aku menatapnya jengah sedang rain masih lebih tertarik pada sepatu barunya.


"De biar mereka gue yang urus, lo urus yang lain aja " katanya sambil berjalan semakin dekat.


Senior cantik yang baru ku tahu bernama dea pun dengan kesal sambil menghentak-hentakan kakinya berlalu ke siswa baru lainnya. Dengan genitnya pria itu menyapa kami.


"Hai adek manis"


"Haai kak" dengan sok manisnya nih anak membalas sapaan senior itu.


Aku hanya memasang muka datar tanpa berniat membalas sapaannya. Senior itu tersenyum simpul pada rain dan beralih padaku dengan senyuman yang tak terpengaruh terhadapku.


"So karena kalian telat dan sesuai mau lo sekarang kalian harus di hukum" dia mengakhiri katanya dengan kerlingan mata genitnya padaku.


"Lo sekarang ke senior yang lagi di bawah pohon itu dan minta hukuman lo" titahnya pada rein.


Kini beralih padaku ia mulai tersenyum devil dan dengan tak sopannya dia menarik tanganku.


"Dan lo ikut gue"


Aku dan rain pun terpisah harus meneriama hukuman entah apa itu. Sepanjang jalan banyak yang menatap kami dengan raut penasaran, mupeng dan tentunya tatapan sinis dari beberapa senior yang berjenis kelamin perempuan.


"Duh kalok kayak gitu gue mau di hukum juga iiihh"


"Cih. Dasar caper"


Begitulah bisik-bisik tetangga yang mengiringi langkah kami yang masih bisa terdengar oleh ku.


Pelangi'pov end


****


Di belakang gudang inilah akhirnya kedua manusia itu berada. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki tinggi dan tampan itu dengan seringaian ia terus memasang muka juteknya yang sama sekali tidak mampu membuat gadis disebelahnya terpengaruh.


"Kak apa yang harus saya lakukan?" Gadis itu nampak tenang merusak khayalan sang kakak kelasnya.


"Buru-buru banget sih adek manis" dengan genitnya laki-laki itu mencubit pipi gadis itu dengan gemasnya.


'Kampret nih orang, dikira aku nih kue cubit apa' gerutu sang gadis


"Hmmm" gadis itu mendengus atas tingkah seniornya di hadapan nya, apalagi dia paling tidak suka apabila ada yang mencubit pipi, sangat menjengkelkan baginya.


Pria itu tersenyum geli melihat exspresi gadis itu, kemudian laki-laki itu memojokan gadis itu sampai gadis itu merasa salting apalagi dengan tatapan tajam sang senior. Walau bagaimanapun ia tetap seorang gadis yang punya urat malu meskipun penampilannya cuek di permukaan.


Selangkah demi selangkah sang senior maju dan disisi depannya gadis itu semakin mundur dan akhirnya terpojok. Gadis itu tak bisa berkutik, perasaan ngeri pun menjalar di tubuhnya.


"Hukumam lo... gampang.." pria itu tersenyum devil lalu melanjutkan ucapannya.


"Cukup kiss me"


Pelangi'pov


Aku masih diam kaku sejenak, efek hembusan napas dari bisikan syaiton alias seniorku maksudnya entah siapa namanya aku gak perduli membuatku terdiam mencerna ucapannya. Lalu kemudian aku tersadar dan merubah mimik wajahku seperti biasanya.


'Dasar mesum, cowok gila, sinting'


Ku hembuskan napas pelan lalu dengan tenang aku menanggapin senior mesum ini.


"Kakak mau yang hot apa kecupan lembut" aku tersenyum manis.


Kakel genit kemudian kembali memojokanku sambil berbisik-


"Yang hot juga boleh honey"


"Ok" aku menyeringai kemudian aku mendorong mundur sedikit kemudian....


"Plakkkkkk" aku tampar dia dengan kencang hingga pipinya membekas cap lima jariku hahaha


'Rasain'


Lalu aku kabur meninggalkan tempat itu, aku tidak menyia-nyiakan keterbengongannya.


Beberapa langkah kemudian aku menoleh dengan sunggingan di bibir aku katakan padanya-


"HOT kan kak?" Kemudian aku berbalik dan menjauh dari si mesum itu.


Pelangi'pov end


Masih di tempat yang sama pria itu masih tercengang sambil memegang pipinya yang telah menjadi korban gadis itu. Dia belum habis pikir telah menerima perlakuan demikian, padahal semua gadis yang melihatnya akan berteriak histeris dan menatapnya dengan tatapan memuja bahkan sampai kejang kejang.. plakkkkk auto ngayal 😆😆


"Menarik" gumamnya sambil mengelus pipinya sambil tersenyum disudut bibirnya.


"Kita akan ketemu lagi adik manis" seringainya