
"jadi?" tanya ayahku ketika keluar dari pelataran hotel.
"jadi apa?" jawabku malas.
"jadi apa yang terjadi sayang?"
"daddy please."
"apa Jeffrey menyukaimu?"
"daddy..."
"apa? Daddy juga laki-laki sayang, jadi daddy tahu bagaimana rasanya menyukai wanita."
"Yang bilang daddy perempuan siapa, kenapa semua orang begitu menyebalkan hari ini." ketusku.
Tawa ayahku menggema di dalam mobil "lalu apa yang dilakukan juwoon di sana? Sepertinya dia tidak begitu menyukai Jeffrey."
"bagaimana daddy bisa tahu?" aku mulai tertarik, apapun tentang juwoon sepertinya menarik dimataku.
"entahlah, cara juwoon melihat Jeffrey sedikit membuat daddy takut." kulihat ayahku bergidik.
Aku tidak menanggapi ayahku, pikiranku terlalu fokus pada juwoon, kenapa dia terlihat begitu marah.
Aku dan ayahku diam cukup lama.
"daddy." ucapku memecah keheningan.
"ya sayang?"
"aku tidak tahu tentang ini, tapi apa menurut daddy," aku berhenti sejenak "sudah lupakan." aku tidak ingin melanjutkannya.
"apa? Jangan buat daddy penasaran." ayahku mencubit pipiku.
"tidak ada."
"benarkah?"
"tidak ada apa-apa daddy, bukan hal yang penting." Sebenarnya aku penasaran apakah juwoon cemburu kepada Jeffrey? Tapi kupikir tidak, tapi kenapa dia terlihat begitu kesal dengan Jeffrey, entahlah.
"apa kau pikir juwoon cemburu?" kulirik ayahku "sebenarnya daddy juga berfikir begitu." lanjutnya.
"Kenapa daddy berfikir begitu?" bagaimana ayahku bisa tahu isi kepalaku.
"apakah juwoon punya alasan lain untuk merasa tidak nyaman melihat Jeffrey?"
"entahlah daddy, aku juga tidak tahu." kupejamkan mataku.
"jika seandainya mereka berdua menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?" tanya ayahku.
"apa itu mungkin?"
"mungkin saja, mereka laki-laki dan kau perempuan yang menarik, tidak ada alasan untuk tidak menyukaimu." ayahku mencubit hidungku, aku membuka mata dan ayahku melihatku kembali serius memandangi jalanan.
"daddy... Jika mereka benar-benar menyukaiku, siapa yang akan daddy pilih?" aku iseng bertanya kepada ayahku.
"Kenapa jadi daddy yang di beri pertanyaan?" ayahku tertawa.
"jadi?"
"semua tergantung padamu sayang, siapapun pilihanmu dan apapun yang kau lakukan, daddy akan selalu mendukungmu, tapi..."
"tapi apa?"
"ketika pilihanmu jatuh ada Jeffrey kau harus siap, dia manusia dan kau harus menyembunyikan identitasmu, atau setidaknya dia harus menerima dirimu apa adanya, umur manusia juga tidak sepanjang umur kita, karena itu kau juga harus siap untuk kehilangan dia lebih cepat," ayahku melirikku "tapi jika juwoon pilihanmu, setidaknya dia tahu siapa dirimu dan bisa di katakan kalian seimbang."
"itu jika mereka menyukaiku, kurasa pembicaraan kita terlalu jauh daddy."
"yap... Dan kurasa cukup sampai di sini, karena jika dia tahu dia pasti akan lebih heboh dari daddy." kata ayahku merujuk pada ibuku yang sedang mengobrol dengan ji hyun di depan pintu gerbang rumahku.
"itu mereka," teriak ibuku
"Kenapa, ada apa?" ucap ayahku ketika turun dari mobil
"ji hyun bertanya, apakah kita bisa ikut dengan immortal Boys, untuk liburan ke pulau jeju? Dan kubilang aku harus menunggu persetujuan kalian berdua."
"iya ahjushi, sebelum World tour kami dimulai, kami diberikan waktu empat hari untuk rehat." sambung ji hyun.
"bagaimana sayang, kau mau ikut?" tanya ayahku.
"kapan kalian pergi?" jujur aku lebih fokus pada World tour mereka daripada liburan ke jeju, apa itu artinya aku akan lama tidak bertemu mereka?
"pergi kemana tepatnya ree a?" tanya ji hyun.
"ah, e maksudnya kapan berangkat ke jeju?" aku benar-benar harus menyembunyikan perasaanku, kulirik ayahku dan dia tersenyum penuh makna.
"sehari setelah acara awards."
"berarti minggu depan?" jawabku
"iya, apa kalian bisa bergabung?" tanya ji hyun kembali.
"minggu depan ya," ayahku berfikir sejenak "bukankah minggu depan kita akan ke Singapura sayang?" tanya ayahku ada ibuku.
Wait! Apa? Kapan mereka merencanakan kepergian Mereka?
"oh iya... Sepertinya aku dan suamiku tidak bisa ikut ji hyun," jawab ibuku "karena minggu depan salah satu sahabat kami akan menikah, kami sudah berjanji untuk datang dan tidak mungkin kami tidak datang setelah padan akhirnya dia bersedia untuk menikah." lanjut ibuku.
"siapa yang menikah mom?"
"renatta, setelah berbagai drama akhirnya dia menikah dengan Ronald." jawab ibuku.
Tante renatta juga seorang penyihir seperti kami, dia berpenampilan eksentrik, suka berganti-ganti warna rambut dan sedikit tomboy, warna rambutnya yang terakhir aku ingat hijau neon, sangat kontras dengan warna kulitnya yang eksotis, tapi terlihat cocok untuknya.
Sifatnya ini sangat bertolak belakang dengan tunangannya. Om Ronald sedikit konservatif, jadi dia agak sedikit kolot dan kuno, dan om Ronald adalah seorang warewolf.
Sebuah lamborgini merah mendadak berhenti, dari kursi kemudi keluar juwoon dan diikuti gyungsoo dari kursi penumpang.
"ada apa ini?" gyungsoo yang bertanya.
"ah... Aku ingin mengajak keluarga park pergi ke jeju bersama kita." jawab ji hyun
"oh ya, sepertinya akan menyenangkan." gyungsoo tersenyum tulus kepada orang tuaku dan melirikku sekilas.
Aku menarik nafas dalam dan melirik juwoon, dia sedang bersandar di mobilnya dan diam seribu bahasa.
"iya, tapi kami tidak bisa ikut karena kami harus pergi ke singapura hari itu," sesal ibuku "tapi mungkin riri bisa ikut." lanjut ibuku dan semua orang melihat ke arahku termasuk juwoon.
"kumohon ikutlah ree a, hansol pasti akan senang sekali." rayu gyungsoo.
"akan aku pikirkan dulu," aku melirik juwoon lagi, dia sedang menendang-nendang pelan permukaan aspal dengan ujung sepatunya. "aku duluan ya." ucapku sambil lalu, aku tidak tahan dengan atmosfer yang tercipta di sini, entah kenapa aku merasa tidak nyaman dan merasa bersalah.
"pikirkan baik-baik ree a, kuharap kau ikut bergabung dengan kami," ucap ji hyun dan aku hanya tersenyum canggung.
Aku melangkah meninggalkan mereka dan memasuki rumah dengan sedikit tergesa, benar-benar ingin segera sendirian.
Aku menghabiskan waktu lebih lama untuk mandi, berlama-lama berendam dalam bak mandiku.
Hari ini aku merasa benar-benar kacau tanpa sebab.
Aku sedang mematut diri di depan cermin ketika sebuah pesan masuk ke handphoneku.
Juwoon.
Apa kau sudah tidur?
Seketika jantungku melonjak dari tempatnya
me
Belum, kenapa?
Juwoon.
Maaf untuk yang tadi.
Aku Masih menenangkan jantungku ketika pesan darinya kembali masuk.
Juwoon.
Seharusnya aku tidak bersikap menyebalkan seperti itu.
me
Tidak apa-apa, jangan membuat dirimu tidak
Nyaman karena hal itu.
Juwoon.
Iya, tapi tetap saja aku harus meminta maaf padamu. Kau mau memaafkan aku kan?
me
Tentu saja
Juwoon.
Terima kasih, dan kuharap kau bisa ikut dengan kamu ke jeju.
me
Akan aku pikirkan lagi
Juwoon.
Baiklah, selamat malam riri
me
Selamat malam juwoon si
Dia tidak membalas lagi, kuletakkan hapeku disaku piyamaku dan berdiri menuju kulkas kecil di kamarku, aku mengambil sekaleng bir dingin.
Kuseret kakiku menuju balkon, dan duduk bersila di atas kursi rotan.
Kurasakan handphoneku bergetar dan nama juwoon terpampang di sana, aku melihat ke arah rumahnya dan dia ada di sana berdiri di atas balkon seperti pertama kali aku melihatnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku.
"halo." ucapku setelah mengangkat telfon.
"hai." aku bisa mendengar senyumannya. "kau belum tidur?"
"aku belum mengantuk." aku tersenyum, dan melihat juwoon. "aku ingin menanyakan hal yang sama, tapi apakah vampir juga butuh tidur?" tanyaku.
Dia tertawa di ujung telfon, "tentu saja." jawabnya.
"kupikir vampir tidak bisa tidur,"
"berhenti membandingkan aku dengan film-film konyol yang kau tonton riri." dia masih tersenyum. "kau sudah memaafkanku?" ucapnya kemudian.
"tentu saja,"
"terima kasih."
"jangan diulangi lagi," jawabku dan ku dengar dia terkekeh.
"aku tidak janji."
"kau harus, tidak bisa tidak." paksaku
"baiklah," dia menghela nafas "bisakah kau ikut ke jeju."
"aku belum tahu, aku harus menyesuaikan jadwalku dulu." dustaku, jujur aku sangat ingin ikut tapi aku takut. Yang aku tidak tahu takut akan apa.
"ku harap kau bisa ikut riri." pinta juwoon.
"aku anggap itu undangan khusus darimu."jawabku dan dia terkekeh.
Kami bertelfon sekitar satu jam, membahas ini dan itu. Dan menutup telfon dengan janji temu besok di kantorku untuk fitting baju immortal boys.
Aku kembali ke kamar dan merebahkan tubuhku di atas kasur, tubuhku sangat lelah tapi kepalaku dipenuhi pertanyaan yang membuatku pusing, Kim juwoon.