Immortal Idol

Immortal Idol
BAB 6 Dinner



Rencanaku untuk pulang setelah makan siang gagal total karena Justin mendadak menjadwalkan meeting dengan beberapa investor.


Sekarang jam empat sore dan aku masih berada di restoran salah satu hotel bintang lima untuk meeting dengan salah satu investor reeyes.


Dan disana, duduk di hadapanku seorang pria blasteran korea Amerika, tn. jeffrey kim. Tebakanku dia berusia awal tiga puluhan, tak bisa dipungkiri dia pria yang tampan, sangat tampan malah.


Dari informasi yang diberikan Justin, jeffrey adalah pewaris tunggal dari Kim coorporation, Salah satu perusahaan terbesar di korea. Kim CO mempunyai banyak anak perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, real estat, media cetak dan elektronik, serta memiliki beberapa hotel. WOW!


Sebagai catatan jeffrey adalah lajang paling dicari di korea.


Bagaimana tidak, dia tampan dan kaya, memiliki senyum yang sangat manis, dan dia juga humoris.


Sejak kami duduk, semua wanita di restoran ini mulai kehilangan fokus.


"Wah..." ucapku sambil menatap jeffrey kagum.


Jeffrey mengangkat kepalanya yang sejak tadi fokus pada laptop dan menaikkan sebelah alisnya "Kenapa?" lanjutnya


"tidakkah kau lihat sekitar?"


"ada apa dengan sekitar?" Jeffrey melihat sekeliling.


"kau membuat orang-orang kehilangan fokus."


Pria itu tersenyum tipis, dan menampilkan lesung pipi di kedua pipinya, "tapi sepertinya tidak berpengaruh apa-apa padamu." lanjutnya


"tunggu sebentar, kau sedang menggodaku atau apa?"


"tergantung darimana perspektifmu nona ree a," dia tersenyum lagi.


"Kumohon berhentilah tersenyum, aku tidak ingin terkena diabetes di usia muda." godaku.


Dan dia pun terkekeh mendengar gurauanku. "apa kau ada acara besok malam nona ree a?" lanjutnya.


"ehm... sepertinya tidak ada, kenapa?" aku curiga dengan manusia satu ini.


"aku ingin mengajakmu makan malam jika berkenan." lanjutnya malu.


Binggo! Apa kubilang. "wah... Sebuah kehormatan untukku."


"jadi?" dia melirikku dari balik bulu matanya.


"ya... Tentu saja." aku harus menarik nafas panjang sebelum menjawab.


"oke. Dimana aku harus menjemputmu besok?" lihat dia begitu bersemangat sekarang.


"besok kita bertemu di sini saja." usulku.


"di sini? Di hotel ini?" tanyanya


"ya...?" jawabku ragu.


"sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam di hotelku."


"baiklah, besok kau kirim saja alamatnya." aku melihat jam tangan."sepertinya aku harus pamit undur diri, aku ada acara setelah ini." aku berdiri dan dia pun ikut berdiri.


"oh ya... Tentu saja, sampai ketemu besok ree a." dia mengulurkan tangan.


Aku menyambut tangannya "sampai ketemu besok tn. Jeffrey."


"jeffrey, panggil saja jeffrey." dia meremas tanganku pelan.


"baiklah jeffrey, see you." aku menarik tanganku dan berlalu dari hadapannya.


Aku sampai di rumah sekitar pukul 18.00 wib, sedikit lebih lama karena mampir ke mall untuk membeli beberapa botol wine.


"mooom..." teriakku ketika memasuki rumah.


"di sini sayang." jawab ibuku dari dapur, dia sudah cantik dengan dress bahan broklat selutut berwarna biru laut.


"dimana daddy?" jawabku begitu sampai dapur, meletakkan paperbag berisi wine diatas meja dapur lalu mencomot sepotong semangka yang telah dipotong-potong ibuku.


"dia sedang bersiap-siap diatas." ibuku melirikku yang menarik kursi untuk duduk, "ya... Park ree a, kau juga harus mandi dan bersiap-siap."


"Kenapa harus?" jawabku tak acuh sambil mengubah semangka.


"kau mau ku hajar atau bagaimana? Tentu saja untuk menghormati tamu!" teriak ibuku.


"iya mom, ya tuhan... Gak sabaran banget sih jadi orang." jawabku sambil menenteng tas ke kamarku.


Aku memilih dres hitam panjang, bermotif polkadot putih besar tanpa lengan dengan potongan leher v line dan punggung terbuka, aku melengkapi tampilanku dengan memakai jas berwarna krem yang hanya aku sampirkan di bahu yang sekaligus menutupi punggungku yang terekspos.


Lalu memakai riasan dan aksesori sederhana, aku mengikat rambutku membentuk messy bun dengan anakan rambut jatuh di sisi-sisi wajahku.


"ree a tolong bukakan pintu." teriak ibuku dari dapur


"iya mom." jawabku sembari menyeret kakiku ke pintu.


"noona..." teriak hansol begitu pintu terbuka. Memberiku boneka beruang cokelat besar lalu menghambur ke dalam rumah.


Dibelakang menyusul ji hyun dengan bucket bunga mawar Pink yang sangat cantik "ini..." ucapnya sambil memberikan bunga itu untukku.


Aku sedang kuwalahan membawa boneka dan bunga, lalu gyungso datang mengambil bonekanya "biar aku bawakan." ucapnya, aku lihat dia membawa paperbag di tangan kirinya.


Dan yang terakhir adalah juwoon "selamat malam riri." sapanya sambil tersenyum. Dan lagi aku lupa cara bernafas. "kau tidak mau mempersilahkan aku untuk masuk?" tanyanya.


"ah.. Oh.. Maaf, maksudku silakan masuk." aku salah tingkah dibuatnya.


"kau cantik malam ini." ucapnya sebelum masuk rumah.


Ya tuhan apalagi ini, dia benar-benar membuat jantungku tidak sehat. "terima kasih." jawabku lirih setelah beberapa saat dan dia menoleh lalu tersenyum kepadaku.


Juwoon memberikan paperbag yang dia bawa kepada ibuku, lalu dia duduk di samping ji hyun.


Ibuku mengeluarkan isi dari paperbag yang di bawa Juwoon, lalu dua botol wine cheval blanc di jejer ibuku di atas meja dapur.


Waaaah... Selera artis terkenal memang berbeda. Wine yang aku beli tadi sore seharga dua jutaan rupiah perbotol terasa gak ada harganya sekarang.


Kami memulai makan malam dengan canggung, tapi itu hanya berlangsung sebentar, selanjutnya suasanapun mencair ketika ayahku, hansol dan ji hyun mulai melawak.


Lalu Kami membicarakan hal-hal remeh seperti berita terbaru di dunia para legenda.


Seperti manusia, kaum kami pun memiliki tatanan pemerintahan. Bedanya kami hanya memiliki mahkamah pelindung sebagai wadah penampung aspirasi para makhluk legenda, mereka mengatur hukum dan membuat hukum, mereka juga bekerja merangkap sebagai hakim yang memberi hukuman bagi pelanggar.


Pusat pemerintahan kami berada di iceland karena di sana tempat yang tenang dan damai,


Mahkamah pelindung melindungi semua makhluk legenda, dari warewolf, vampir, penyihir, yeti, ghoul, bigfoot, bahkan kraken. Semua makhluk legenda di bumi dalam perlindungan mahkamah pelindung.


Dan untuk informasi, kakek serta nenek dari kedua orang tuaku adalah salah satu anggota dewan.


"maaf untuk kejadian kemarin, aku benar-benar tidak tahu jika kalian juga salah satu dari kami, karena selama ini kami belum pernah bertemu dengan penyihir." ucap gyungso meminta maaf "ini kali pertama kami bertemu jenis kalian." lanjutnya


"tidak apa-apa kami paham, karena jenis kami memang sangat langka." ucap ibuku "tapi jujur, jenis vampirlah yang membuatku sedikit kaget, aku terakhir bertemu vampir sekitar dua puluh tahun yang lalu dan itupun tidak di korea." ibuku melihat juwoon dan hansol bergantian.


Aku ingat itu, kami bertemu vampir ketika kami berada di abu dhabi untuk menghadiri acara pelantikan kakek dan nenekku sebagai anggota dewan. dan ada salah satu keluarga vampir yang datang. Seingatku mereka sangat menawan dan anggun.


"kami tidak sesedikit yang kalian bayangkan, tapi tidak sebanyak jenis yang lainnya juga, kami hanya tidak bisa seleluasa kalian, pikiran orang-orang tentang vampir yang mengerikan, membuat kami mulai mundur dari peradaban, kami berkamuflase dan hidup dengan tenang." jawab juwoon


"benarkah? Lalu selama ini kalian tinggal di mana?" aku bertanya penasaran.


"sebagian dari kami memilih tinggal di pedesaan dan gunung-gunung, tinggal dengan damai bersama masyarakat di sana." lanjutnya.


"benarkah?" aku sungguh penasaran dengan mereka.


"iya noona, semua keluargaku tinggal di gyeongju dan memiliki peternakan sapi yang besar di sana." ucap hansol bangga.


"waaaah keren." ucapku kagum.


Acara makan malam kami dilanjutkan dengan acara barbeque di rooftop dan minum wine untuk keluargaku, gyungso serta ji hyun, untuk hansol dan juwoon gelas wine mereka berisi darah yang di dapat ibuku dari peternakan sapi tadi pagi.


"jadi noona, sebenarnya penyihir itu seperti apa?" tanya hansol.


"seperti aku tentu saja." godaku.


"noona..." hansol mempoutkan bibir tipisnya.


"hahaha... Baiklah, aku jelaskan secara singkat saja." jawabku sambil memperbaiki posisi duduk "jadi, jika vampir sepertimu dikenal dengan sensitivitas tinggi, kecepatan yang luar biasa, dan warewolf dengan kekuatan serta daya tahan tubuh yang luar biasa juga, maka kami penyihir dikenal dengan kemampuan mengendalikan sekitar termasuk kejadian, objek, orang dan fenomena fisik, melalui mistik, paranormal atau supranatural." lanjutku


"aku kurang paham noona." jawab hansol polos.


"contohnya seperti ini, anak manis." ucap ibuku sambil menggoyangkan jari telunjuk dan merapal mantra, lalu salah satu kursi rotan terbang melayang-layang.


"cukup immo cukup, kau membuatku merinding." hansol merengsek mendekati juwoon, dan di sambut gelak tawa semua orang.


"ya... Lee hansol kau mempermalukan kaum makhluk legenda, jangan bilang kau takut hantu." ucap ibuku sambil tertawa.


"aku hanya tidak suka dengan mereka immo, mereka bukan manusia bukan pula dari jenis kita, hal itu membuatku berfikir mereka mengerikan."


"hansol, mereka sama seperti kita, hanya saja mereka tidak punya raga." jawab ayahku.


"tetap saja ahjushi, karena kadang mereka sangat mengganggu, aku tidak suka." rengek hansol.


Malam semakin larut, tapi obrolan kami semakin seru. Sekali waktu aku mencuri pandang melirik juwoon, tak jarang dia pun juga melirikku dan kami pun tersenyum sendiri karena malu.