Immortal Idol

Immortal Idol
BAB 5 Kantor



Aku menatap tanpa minat kepada orang tuaku yang heboh mempersiapkan acara makan malam besok dengan para flower Boys next door.


"ya park ree a, Tidak bisakah kau bantu mama?"


"siapa suruh mama mengundang mereka makan malam?" jawabku tak acuh.


"ya sebagai warga baru, bukankah kita harus berkenalan sayang?" tanya ibuku kepada ayah


"tentu saja sayang." jawab ayahku


Aku memutar bola mataku "sebenarnya makanan mereka itu apa mom?" tanyaku lalu menyandarkan tubuhku di dinding. "maksudku vampir." tentu saja, kalau warewolf aku sudah tahu.


"tentu saja darah riri." ayahku yang menjawab.


"oh ya? Darah apa?" aku langsung mendekat dan duduk di sofa mendengar jawaban ayahku.


"yang jelas bukan darah manusia." jawab ibuku sambil mengotak-atik ipadnya.


"memang kenapa dengan darah manusia?" aku masih penasaran.


"tentu untuk melindungi eksistensi mereka sayang." jawab ayahku sambil melirik ipad ibuku.


"sayang... Bagaimana ini? Darimana kita bisa mendapatkan darah segar?" ibuku merengek pada ayahku.


"kalau darah apa saja tidak apa2, datang saja ke tempat penjagalan hewan, di sana pasti banyak." jawabku sambil berdiri dan menaiki tangga.


"betul juga," ibuku meloncat dari duduknya "anakku memang cerdas." aku hanya memutar bola mataku.


(Keesokan harinya)


Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi ketika aku turun dan tidak melihat ayah atau ibuku dimanapun.


"kemana mereka?" tanyaku sambil berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil jus jeruk, aku menemukan note di pintu pendingin yang mengatakan ayah dan ibuku sedang pergi ke peternakan sapi di busan.


Aku tiba di kantor sekitar pukul 08.00 pagi. Lalu memarkir mobil di lantai basement di tempat parkir khusus direktur.


Ketika aku turun seorang pria muda sudah menungguku "selamat pagi bu direktur." ucapnya sambil membungkuk 90 derajat kepadaku.


"selamat pagi, Eh... bisakah kau bersikap biasa saja kepadaku?" aku melirik tanda pengenal yang menggantung di lehernya "sungwoo si, dan panggil saja aku ree a."


"baiklah direktur, maksudku nona ree a."


"kemana Justin?"


"kepala manager sedang ada tamu nona." jawab sungwoo sambil menekan tombol lift.


Kami tiba di lantai satu, lantai satu adalah butik berisi pakaian, sepatu dan tas, disana ada empat orang karyawan, serta satu orang di kasir. Setelah perkenalan singkat kami naik ke lantai dua.


Lantai dua dan tiga adalah tempat produksi, ada sekitar lima belas karyawan di dua lantai ini, di sini kami hanya memproduksi barang untuk pesanan khusus dan barang limited edition dari reeyes korea,


Sedangkan untuk produksi massal, kami melakukan pemesanan produksi melalui salah satu pabrik garment yang bekerja sama dengan reeyes.


Naik ke lantai empat, dan lantai ini adalah kantor. dilihat dari tatanan meja, lantai ini berisi sekitar delapan orang karyawan. Sungwoo memperkenalkan satu persatu karyawan dengan cekatan. Seperti sebelumnya aku menjelaskan kepada mereka semua dari lantai satu untuk tidak memanggilku direktur.


"dan dilantai terakhir terdapat kantor anda, ruangan meeting, ruang penerimaan tamu VIP dan ruang kerja saya bersama kepala manager." sungwoo menjelaskan ketika kami keluar dari lift.


"bu direktur." sapa Justin ketika keluar dari ruang meeting bersama seorang pria paruh baya yang masih tampan diusianya yang sudah tidak muda.


"nona ree a, beliau tidak suka di panggil direktur." bisik sungwoo kepada Justin, Justin hanya menaikan sebelah alisnya.


"perkenalkan nona ini tn. Mark, beliau adalah..."


"oh... Manager nim!" teriak seseorang dari belakangku, aku menoleh dan mereka berempat berdiri dengan mempesona di dalam lift yang terbuka.


"oh... Noona pen... Maksudku ree a noona, sedang apa noona di sini?" tanya Lee hansol yang menghambur keluar.


"aku sedang bekerja." aku tersenyum "kalian?" tanyaku sambil melirik ju woon dan dia juga sedang melihat ke arahku. Seketika jantungku berdebar kencang, kemudian bibirnya sedikit tertarik ke atas. Ya tuhan dia tersenyum!


"aaah... Kami akan fitting baju untuk acara penghargaan minggu depan." jawaban hansol kembali menarikku.


"owh... Ehm-ehm" aku berdehem karena tenggorokanku mendadak tercekat "Apa semua yang mereka butuhkan sudah siap Justin?" tanyaku pada justin, mencoba kembali fokus.


"tentu saja nona, sebentar lagi akan ada yang mengantar pakaian untuk immortal Boys kesini." sahut Justin.


"wah daebak... Noona direktur di sini?" hansol menatapku kagum


"dan kau idol yang sangat terkenal." aku tersenyum pada hansol.


"ah... Noona bisa saja." hansol tersenyum malu,


dia benar-benar manis, Ah... Aku ingin adik seperti dia.


"nona ree a, perkenalkan saya Mark manager immortal Boys, semoga kedepannya kita bisa bekerja sama untuk waktu yang lama." ucap tn Mark sambil mengulurkan tangan.


"tentu saja tn. Mark." jawabku menjabat tangannya.


"maaf saya tidak bisa lama-lama, saya harus segera kembali ke agensi, bisa saya titip anak-anak nona ree a?"


"tentu saja tuan." aku tersenyum tulus


Mata mereka berbinar-binar dan sepertinya mereka menahan diri untuk tidak histeris melihat empat pria tampan di ruangan ini.


"silakan ikuti saya." ajak sungwoo


Dia memasuki ruangan di sebelah ruang meeting, yang ternyata ruang untuk tamu VIP.


Ada satu set sofa beludru berwarna hitam dan tiga kursi ottoman berwarna senada di tengah ruangan, sisi kanan terdapat kaca besar dan di sisi kiri adalah ruang ganti lalu ada kulkas berisi minuman dingin di sebelah pintu.


Aku duduk di sofa besar lalu hansol menyusul dan duduk di sampingku.


"noona, tolong pilihkan satu baju yang cocok untukku." pinta hansol


"kalau boleh tahu, acara penghargaan seperti apa itu?" tanyaku


"salah satu penghargaan musik paling bergengsi di korea." Park gyungso yang menjawab.


"betul sekali, dan aku ingin tampil menawan di sana, menjadi pusat perhatian." lanjut ji hyun


"ck... Sudah cukup ji hyun." gyungso melirik ji hyun galak.


"tapi hyung..."


"oke, pertama-tama apa yang kalian fikirkan tentang acara itu?"


"noona, sebenarnya kami akan menerima penghargaan sebagai grup boy terfavorit." bisik hansol kepadaku dan mendapat anggukan dari ketiga member yang lain. "jadi bisakah noona memberikan baju yang benar-benar bagus untuk kami?"


"yak... Acara sepenting itu kenapa kalian harus datang di waktu semepet ini?"


"sebenarnya, mereka sudah memesan sejak sebulan yang lalu nona, dan hari ini mereka datang untuk pengepasan saja." Justin menyelaku.


"oh ya? Lalu kau akan memberikan pakaian seperti apa kepada mereka?" tanyaku sambil melipat tangan.


Justin mengambil satu coat hitam panjang dan kemeja putih dan menunjukannya kepadaku.


"apa kau bercanda?" aku menatap Justin garang.


"apa?" tanya Justin kaget


"mereka akan menghadiri acara penghargaan, siapa yang tahu jika mereka akan dapat penghargaan?" aku berhenti sebentar nyaris keceplosan "lalu mereka akan naik ke atas panggung dan akan melewati Red karpet, akan banyak paparazi di sana, lalu kau akan mempermalukan mereka dan reeyes dengan coat ini Justin?" jawabku jengah " beri aku empat lembar kertas dan pensil." lanjutku


"baik nona." Justin keluar dan semenit kemudian masuk dengan barang yang aku minta.


"pertama-tama, ayo buat konsepnya." aku mulai menggambar "aku sedang berfikir untuk membuatkan setelan jaket berwarna hitam dengan kerah berdiri dilengkapi beberapa ornamen di sana, mirip seperti baju pangeran. dengan banyak kancing dan beberapa pin berbentuk rantai di bagian dada dan bahu kiri, lalu di padukan dengan celana kulit." lalu aku fokus dengan gambarku.


"selesai." ucapku setelah satu jam lebih berkutat dengan kertas dan pensil.


"waaah... Daebak! Noona aku suka ini." hansol menatap kagum pada gambarku.


"apa kalian ada pendapat lain?" tanyaku


"selama ini kami hanya memakai apa yang stylist kami pilihkan, berfikir ada yang memikirkan konsep untuk acara penghargaan dengan begitu detail membuatku tersanjung." ucap ji hyun


"oke... Aku suka konsepnya." ucap gyungso, lalu seisi ruangan melihat juwoon. Dan dia hanya mengangguk.


Apa dia bisu? Sejak awal bertemu aku belum pernah mendengar suaranya, apa dia benar-benar bisa menyanyi? Dan sekarang aku benar-benar kesal dengannya.


"oke... Justin, bawa ini ke bagian produksi, jika mereka masih mengerjakan prroyek lain suruh berhenti dan mengerjakan proyek ini dulu. Aku mau dalam tiga hari baju-baju ini sudah jadi, jika perlu suruh Mereka lembur."


"baik nona." Justin pamit undur diri.


"noona... Apa noona ada acara setelah ini?" tanya hansol setelah kepergian Justin.


"tidak ada, aku berencana pulang setelah makan siang. Kenapa?"


"Sebenarnya aku ingin mengajak noona makan siang, tapi ternyata kami ada jadwal siaran di radio." ucap hansol sedih.


"tak apa, bukankah nanti malam kalian di undang ibuku makan malam di rumah, kalian akan datang kan?"


"tentu saja." gyungso yang menjawab


"Terima kasih, kalian datanglah ke sini tiga hari lagi untuk fitting ulang, oke?"


"baiklah noona, kami permisi dulu." ucap hansol lalu keluar diikuti jihyun dan gyungso.


"terima kasih." sebuah suara bariton menyapa telingaku dan itu suara juwoon.


"itu sudah pekerjaanku." aku tersenyum dan dia ikut tersenyum, sejenak aku lupa bernafas ketika melihat senyumnya. Lalu dia terkekeh pelan.


"baiklah, sampai jumpa nanti malam riri." ucapnya diantara kekehan.


"riri?"


"aku suka memanggilmu riri." dia berhenti tertawa "apakah itu mengganggumu?" tanyanya khawatir.


"ah... Tidak, tentu saja tidak." aku tersenyum dan dia Juga tersenyum. Dan dia pun pamit undur diri.