
Aku bangun sekitar pukul 09.00, menuruni tangga masih dengan gaun tidur dan rambut seperti sarang burung, kepalaku agak pusing karena kurang tidur semalam. Aku berhasil tidur sekitar pukul 04.30 pagi.
"mom... Apa kau membuat bubur, kepalaku agak pusing." teriakku sambil menuruni tangga lalu menuju dapur.
Aku tidak melihat sekitar, terlalu susah mengumpulkan fokusku, tujuanku hanya lemari es dan sebotol air dingin.
aku membuka pintu lemari pendingin, mengambil air dan meminumnya langsung dari botol, kuhabiskan satu liter air dalam sekali minum.
Dan dikejutkan dengan enam orang yang sedang duduk di meja makan, mereka menatapku tanpa berkedip.
"wah daebak! Noona kau keren sekali, apa perutmu tidak kembung?" ucap hansol dan ku sambut dengan sendawa kecil. Lalu tawa merekapun pecah.
"ree a, kau seperti kudanil saja." ji hyun menimpali di sela tawanya.
"hish kalian ini, mana ada kudanil sekurus ini?" ucap gyungso sambil terkekeh.
"hyung... Noona itu seperti berang-berang yang imut."
"berang-berang itu hanya tinggal di air, bukan banyak minum air." ji hyun membalas hansol
"lalu apa kudanil juga banyak minum air? Setauku mereka hanya tinggal di dekat air." hansol tak mau kalah.
"ya! aku hyung mu." ji hyun tak mau kalah.
"hanya karena aku maknae dan hyung adalah hyungku, lantas hyung tidak pernah salah?" debat hansol.
Lalu kulihat juwoon terkekeh dan semakin terkekeh melihat hansol dan ji hyun berdebat, mendebatkan apakah aku kudanil atau berang-berang, dan relativitasnya antara hyung dengan maknae.
Ya tuhan... Apa yang mereka lakukan pagi-pagi begini di rumah orang?
"mulai hari ini, mereka semua akan ikut sarapan di rumah kita." jawab ibuku seolah tahu isi kepalaku.
"hah?" jawabku, otakku masih blank.
"sayang, kau mau sarapan atau cuci muka dahulu?" tanya ayahku
Ya tuhan, aku lupa keadaanku ketika turun, akupun berlari menuju kamarku untuk cuci muka dan ganti baju. Kenapa aku bodoh sekali.
Sepuluh menit berlalu, setelah cuci muka dan ganti baju aku kembali turun, dan mengatur nafas ketika sampai lantai satu, aku masih mendengar hansol dan ji hyun berdebat ketika berjalan ke meja makan.
"selamat datang kembali noona." ucap hansol riang, dan kusambut dengan cubitan di pipi dinginnya.
"eomaaa..." teriak hansol kepada ibuku. Sejak kapan dia memanggil ibuku eoma.
"ya... Park ree a, kalau kau berani menyentuhnya, kau akan berhadapan denganku." jawab ibuku.
"heol, di sini siapa anakmu mom?" aku mencebik.
"tapi aku lebih muda darimu noona."
"terserah..." akupun kembali mencubit pipi hansol yang dingin dan duduk di sebelahnya. Lalu dia tersenyum kepadaku dan menunjukkan puppy eyesnya, dia sangat menggemaskan, aku benar-benar tidak bisa memarahinya.
Aku memalingkan wajah dari hansol dan melihat sekitar, gyungsoo dan jihyun sedang ngobrol serius dengan ayahku, hansol berkutat dengan handphonenya, dan ibuku sedang membuat kopi.
pandanganku berhenti pada juwoon, dia duduk dihadapanku dengan rambut yang masih sedikit basah, rambutnya sudah hitam sejak semalam, rambut hitam dengan potongan rambut bowl cut yang aneh, tapi terlihat sangat cocok untuknya.
Dia juga sedang melihatku "selamat pagi riri." ucap juwoon.
"ah... oh... Selamat pagi juwoon si." ucapku salah tingkah.
"noona... Wajahmu semerah lobster!" ucap hansol tiba-tiba, aku hanya meliriknya.
"mom... Nanti malam aku akan makan malam di luar, jadi jangan menungguku." ucapku mengalihkan perhatian.
"dengan siapa?" tanya ibuku.
"dengan salah satu relasi bisnisku."
"laki-laki atau perempuan?" ayahku yang bertanya, mendadak meja makan menjadi hening, dan semua mata tertuju padaku.
Ah... Daddy please! Aku melirik juwoon dan dia juga melirikku dari balik bulu matanya "laki-laki." kau puas dad.
"siapa namanya?" ayahku masih mengejar.
"jeffrey Kim." ucapku sebagai.
"wait what?" ayahku kaget.
"jeffrey Kim, dari Kim co daddy." aku melirik juwoon kembali, tapi dia sedang fokus dengan roti bakarnya.
"sejak kapan Kim co tertarik dengan dunia mode?"
"daddy please."
"kau tidak ingin daddy mensponsori perusahaanmu tapi menerima Kim co?"
"daddy, kita sudah membahas ini ribuan kali, aku ingin mandiri dad, oke?"
"oke, terserah kau saja riri, tapi jika ada masalah harus daddy orang pertama yang kau beri tahu, setuju?" tegas ayahku.
"tentu saja dad."
Hening sejenak.
"hari ini kalian tidak ke kantor?" tanya ibuku kepadaku dan ayah memecah keheningan.
"tidak." jawab kami bersamaan.
"Kenapa?"
"malas saja." jawab kami bersamaan kembali dan kamipun terkekeh lalu toss di udara.
"ya!" teriak ibuku "hanya karena kalian berdua direktur jadi seenaknya sendiri, mau jadi apa perusahaan kalian nantinya? Jika direkturnya seperti kalian."
"wah... Eoma keren." ucap hansol sambil menaikkan kedua jempol dan kuhadiahi cubitan di pinggangnya.
"riri, lepaskan dia, habiskan sarapanmu dan segera bersiap ke kantor." teriak ibuku kembali.
"mom... Aku masih hangover." aku beralasan
"tidak ada alasan."
Akupun menghabiskan bubur dengan tanpa minat. "terima kasih untuk makanannya." ucapku dan bersiap ke kamar.
"iya mom."
"aku suka di sini, ramai." wajah hansol berseri-seri.
"Kasihan sekali anak muda ini." dengusku dan di hadiahi lirikan maut ibuku.
"kau boleh sering-sering main ke sini hansol." ucap ibuku tak kalah riangnya.
"dad... Boleh aku berangkat bersamamu?" ucapku dari atas anak tangga paling atas "aku minum obat flu." lanjutku.
"tentu saja." sahut ayahku.
Aku sampai di kantor pukul sepuluh pagi, setelah wawancara singkat Justin dan harus menjelaskan kenapa akhirnya aku tidak jadi ambil libur, akupun berlalu ke ruanganku.
"nona... nona ree a." seseorang membangunkanku "maaf nona karena membangunkan anda." lanjut Justin.
"ah... aku yang minta maaf Justin, tadi aku minum obat flu." ucapku setengah kaget, aku melirik jam tanganku pukul 12.30, aku tidur selama itu?
"maaf nona, tapi anda ada tamu."
"oh ya, kupikir aku tidak ada janji siang ini?"
"apa aku harus pulang ree a?" ucap jeffrey sambil menenteng dua paper bag, dia tersenyum padaku.
"oh, tuan jeffrey, ah maksudku jeffrey." kulirik Justin dan mengijinkan dia keluar.
"silakan duduk." aku mengarahkan jeffrey untuk duduk di sofa depanku.
"apa aku mengganggumu?"
"ah tidak, tentu saja tidak, apa itu?" aku menunjuk paper bag yang di bawa jeffrey.
"ini, sashimi," dia mengeluarkan dua set lunch box dari paper bag pertama dan jus jeruk dari bag kedua "aku ingin makan siang denganmu, dan kebetulan kau belum makan siang kan? " lanjutnya.
"owh..." kebetulan macam apa itu, aku benar-benar curiga dengan manusia satu ini. "bukankah nanti malam kita akan makan malam bersama?"
"iya... Tapi aku sudah tidak sabar bertemu denganmu." mata cokelatnya berbinar-binar "apa kau tidak suka?" mendadak matanya terlihat suram.
"ah... Tidak, tidak juga." aku tersenyum benar-benar tersenyum tulus pada Jeffrey.
Setelah kepergian jeffrey, aku menjalani sisa hariku dengan banyak pekerjaan, bertemu tiga orang tamu vip, menyelesaikan satu rancangan musim dinginku dan melihat proyek baju immortal Boys yang sudah 80 persen, kebanyakan aku membayangkan juwoon memakai setelan baju pangeran itu, betapa tampannya dia, sudah... ayo sadar riri.
Hotel milik jeffrey sangat luar biasa, hotel bintang lima dengan fasilitas yang juga luar biasa. Terletak di pusat kota, jadi mudah ditemukan.
Aku keluar dari taxi tepat di depan loby dan menuju restoran di lantai dua belas.
Jeffrey sangat luar biasa seperti biasanya, dia duduk di kursi di pinggir jendela kaca yang membentang sepanjang dinding.
"selamat malam ree a." ucap jeffrey sambil berdiri dan menarikkan kursi untukku.
"selamat malam jeffrey dan terima kasih jeffrey." jeffrey terkekeh di belakangku.
"ingin pesan apa?" tanya jeffrey tanpa basa-basi.
"apa rekomendasimu?"
"wagyu steak?"
"boleh." aku tidak suka berdebat masalah makanan, meskipun sebenarnya aku lebih suka memakan sayuran ketimbang daging.
Jeffrey terlihat tampan seperti biasa, dia mengenakan setelan tuksedo abu-abu dan rambutnya di potong pendek dengan di tata sedemikian rupa dengan pomade.
"kau terlihat sangat cantik malam ini," Jeffrey menatapku.
"apa sebelumnya aku tidak cantik?" dia terkekeh mendengar jawabanku.
"kau selalu cantik dimataku, tapi hari ini kau lebih cantik karena sejak tadi siang kulihat pipimu merona."
"terima kasih untuk pujiannya." aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi kepalaku sejak semalam isinya hanya juwoon, juwoon dan juwoon.
Dan dia ada di sana, duduk dengan tn Mark dan gyungsoo, menatap dingin kepadaku. Tunggu dulu, itu benar-benar juwoon! Ya tuhan. Lalu detik selanjutnya gyungsoo dan tn Mark melihatku mengikuti juwoon.
"ah... bukankah mereka anggota immortal boys?" kulirik Jeffrey diapun melihat ke arah kursi juwoon.
"kupikir memang mereka," kembali kulihat juwoon, dia mengenakan kaus longgar berwarna putih polos dipadukan dengan celana kain oversize warna hitam dan bucket hat berwarna senada, matanya masih menatapku dingin.
Lalu kulihat Mark menghampiri kami, "tuan Jeffrey kim?" ucapnya "nona Park ree a." lanjut Mark menyapaku.
"tn Mark." aku tersenyum pada pria paruh baya itu.
"tn Mark, lama tidak bertemu." Jeffrey menyodorkan tangannya.
"sudah setengah tahun sejak peresmian hotel di jeju." Mark menyambut tangan Jeffrey riang.
"kulihat anda bersama beberapa anggota immortal boys." lanjut Jeffrey.
"selamat malam." sebuah suara bariton menyapa, aku tidak ingin mengangkat kepalaku, karena aku sudah tahu suara siapa itu tanpa mengangkatnya.
Yang paling aku benci adalah detak jantungku yang berdetak tak karuan.
"nona riri dan tn Jeffrey." lanjutnya. Mau tak mau aku mengangkat kepalaku dan melihat juwoon dia tersenyum kepadaku lalu melihat Jeffrey dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
"riri?" Jeffrey menatapku penasaran. "siapa riri? Kau kah itu ree a?"
"be... begitulah." jawabku gagap, entah kenapa aku merasa seperti seorang istri yang tertangkap basah berselingkuh.
"tadi pagi kau berangkat dengan ayahmu, nanti ku antar kau pulang riri."
Juwoon benar-benar, "biar saya yang mengantar nona ree a pulang." Jeffrey menyela ketika aku akan menjawab.
"tidak usah repot-repot tn Jeffrey, rumah kami bersebelahan. Jadi biar saya yang memberi tumpangan pada riri."
"Kenapa harus? Saya tidak keberatan mengantar nona ree a pulang." suara Jeffrey terdengar tegas.
"riri akan..."
"aku akan dijemput ayahku." aku menunjukkan layar telfon genggamku kepada dua pria yang berbeda kutub ini.
Perfect time! Ayahku menelfon di saat yang sangat tepat.