Immortal Idol

Immortal Idol
BAB 2 Pertemuan



 


Tujuh jam duduk dalam pesawat, membuat ibuku tak sabar. Dia terlihat gelisah dikursi sebelah. Sebenarnya tujuanku mengambil penerbangan malam agar ibuku bisa tenang dan tidur. Tapi sepertinya sia-sia, dia begitu antusias akan bertemu ayahku sehingga membuatnya duduk tak tenang. Untung kami berada di bisnis class jadi tidak begitu mengganggu tetangga sebelah kami.


 


"mom... Tenang lah." ujarku akhirnya.


"tapi sayang."


"mom... Kita baru lepas landas, masih ada tujuh jam. Jadi cobalah untuk tidur, oke." diam-diam aku merapal mantra untuk ibuku agar dia tertidur.


Dia melirikku penuh makna lalu menguap "aku tau yang kamu lakukan." ucapnya sebelum jatuh tertidur.


Tentu saja dia tahu, aku tersenyum lalu ikut tidur dengannya.


Kami terbangun setengah jam sebelum pesawat mendarat di bandara incheon kota Seoul.


Diluar masih gelap, tapi lampu kota mulai menunjukan wajah Seoul dari angkasa Aku melirik jam menunjukan pukul 02.45 wib berarti 04.45 di korea. Aku mengubah waktu pada jam tanganku.


Lalu melirik ibuku. Dia sudah bangun dan sedang melakukan peregangan ringan dikursinya."pagi sayang..." ucapnya parau.


"pagi mom." jawabku


Seperti ketika berangkat, ibuku begitu antusias berlari membelah kerumunan di bandara, kepalanya melongok-longok mencari ayahku, setelah bertemu apa yang dicari betapa hebohnya dia.


"sayaaang..." teriaknya, menarik perhatian orang di sekitarnya. Dan ayahku hanya tersenyum sambil merentangkan tangannya.


Park hyung Joon, ayahku. Dia sama pendiamnya seperti aku. Bermata sipit, berkulit putih, rambut hitam, dan sangat tampan. Dia tidak terlalu banyak menggunakan mantra tuanya. Jadi dia terlihat seperti pria berumur awal 40 an.


"ayu... Cintaku." jawabnya.


Dan ya mereka adalah pasangan lebay. Sependiam apapun ayahku, dia tetap akan menjadi bucin ibuku. Aku memutar bola mataku.


"gak usah iri, makanya cari pacar." sindir ayahku seolah mendengar bola mataku yang berputar.


"whatever." jawabku sambil terhuyung-huyung menuju range rover ayahku.


Mereka tertawa terbahak-bahak dibelakangku.


Kami tinggal berpindah-pindah dari Indonesia ke korea Selatan, terakhir kami pindah ke Indonesia saat usiaku 15 tahun sekitar dua belas tahun yang lalu, walaupun beberapa bulan sekali ayah dan ibuku akan ke korea untuk mengurus bisnis mereka, aku hampir tidak pernah ikut, kecuali terpaksa atau dipaksa. Karena Aku tidak begitu suka bepergian jauh.


Tapi kali berbeda, karena kami akan memulai hidup baru dinegara ayahku. Kali ini bisnis ayahku benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Oke... Kami memang penyihir tapi kami juga butuh makan dan fasilitas.


"riri..." panggil ayahku


"iya dad." jawabku tanpa memalingkan wajah dari jendela mobil.


"maafkan daddy, Karena kau harus ikut pindah kali ini." dia melihatku dari kaca spion


"Its oke dad, aku bahagia kok." aku balik menatap lewat spion dan tersenyum.


"daddy menemukan rumah yang bagus, benar-benar bagus. Dulunya milik bintang film tapi dia menjualnya dan pindah ke luar negeri karena karirnya berkembang di sana." ucap ayahku dan aku sama sekali tidak tertarik dengan artis tersebut.


"lingkungannya bagus, dan banyak artis yang tinggal disana." lanjutnya.


"apakah aku akan bertemu Rain di sana?" ibuku bertanya antusias.


"sepertinya tidak sayang, kita tidak satu komplek dengannya. Tapi sepertinya boygrup yang sedang naik daun akan menjadi tetangga kita." ayahku tampak berfikir "dan sepertinya mereka juga makhluk legenda seperti kita" lanjutnya.


Aku terkesiap "immortal Boys." ucapku lirih.


"kau tau mereka riri?" tanya ayahku.


Aku mengangkat bahu "hanya sekilas di tv."


"Ceritakan tentang mereka." tuntut ibuku.


"aku pikir mereka terdiri dari werewolf dan_"


"vampir." potongku.


"benarkah?" ibuku berseru. "aku pikir jenis vampir sudah punah."


"mereka masih eksis sayang, tapi sepertinya mereka memang menyembunyikan eksistensi mereka."


"daddy sudah bertemu mereka?"


"ya... Kemarin ketika mereka pindahan, daddy melihat mereka sekilas, dan mereka benar-benar tampan, luar biasa tampan."


"benarkah? Dengan hyun bin lebih tampan siapa? Atau Lee min ho?" dan kami hanya tertawa membalas pertanyaan ibuku.


"sudah... Aku dengar vampir sangat peka dengan apapun. Jadi sudah cukup membicarakan mereka karena kita hampir sampai." lanjut ayahku selesai mengatakan itu kami memasuki pintu masuk komplek.


Rumah kami berlantai tiga dan modern, ayahku memasukkan mobil kedalam garasi di basemant.


"itu mobil kamu sayang." kata ayah kepada ibuku menunjuk audi a5 berwarna hitam yang terparkir disisi mobil ayahku


"dan disebelahnya mobil untukmu riri." dia menunjuk mini cooper clubman jcw berwarna hitam dengan garis merah di kap depan dan atap berwarna merah


"wow!" ucapku dan ibuku bersamaan.


"kalian suka?" tanya ayahku penasaran.


"tentu saja..." ucap ibuku sambil memeluk ayahku.


"kau riri, apa kau suka mobilmu? Apa harus daddy tukarkan?" tanya ayahku penasaran.


"tidak usah, aku suka dad... Tapi bukankah itu berlebihan?" tanyaku.


"kau harus lihat mobil mereka yang tinggal disini. Mobilmu tidak ada apa-apanya. Sebenarnya kemarin daddy ingin membelikan mobil seperti kebanyakan artis disini, antara maserati atau porsche tapi daddy yakin kau pasti akan menolak, ya sudah daddy pilihkan itu." lanjutnya


Aku bergidik membayangkan diriku tenggelam dalam kursi kemudi sebuah porsche, sangat bukan diriku.


"terima kasih dad, ini lebih dari cukup." kataku mencium pipinya sekilas lalu bersiap meninggalkan ayah dan ibuku.


"kamarmu di lantai tiga sayang." kata ayahku


"thanks dad." aku menyeret kakiku pelan menaiki tangga.


Ketika di Indonesia, kami menahan diri untuk tidak berlebihan dalam memenuhi gaya hidup kami, sekalipun ayahku salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan elektronik terbesar di asia, kami cenderung hidup sederhana.


Berbeda ketika kami di korea, karena disini sepertinya segalanya bertolok ukur dari apa yang kita pakai dan status sosial. Jadi dimanapun kami, bukankah kami harus mengikuti cara kerjanya?


Keluar dari tangga basement aku sampai didalam rumah, masuk melalui pintu yang terhubung dengan ruang tamu, atau ruang keluarga? Aku diam beberapa saat mempelajari denah rumah.


Tepat dihadapanku terdapat satu set sofa berwarna hitam, dengan meja kopi ditengah, mereka bertengger diatas kerpet Persia mewah, langit-langit dibuat tinggi dengan lampu hias berbentuk indah menjuntai kebawah.


Tepat dibelakangku terdapat lorong pendek menuju pintu keluar, dan disebelahnya -masih dibelakangku- terdapat satu set home teater.


Di sebelah kiri ruang tamu terdapat dinding kaca tinggi yang tembus pandang, tepat disisinya adalah kolam renang, yang berbatasan dengan dinding tembok tinggi dengan tanaman hijau yang merambat,


Tepat diseberang ruang tamu di sekat dengan tanaman hias tinggi mirip pohon bambu yang awalnya kukira plastik yang ternyata tanaman hidup,


Terdapat ruang makan dengan delapan buah kursi saling berhadapan mengelilingi meja oval besar yang terbuat dari kayu bernuansa gelap, lalu disisinya adalah dapur modern yang membuatku ngeri, karena membayangkan ibuku akan bereksperimen disini.


Di sisi kanan dapur ada ruang loundry yang disekat dengan tanaman hias. Keseluruhan dinding dilantai satu dicat dengan warna krem, sangat kontras dengan perabot yang bernuansa gelap.


Sebelah kanan ruang tamu adalah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua.


Di lantai dua, ada dua kamar saling bersisian disisi kanan.


Aku membuka satu persatu pintu kamar. Di pintu pertama terdapat kamar orang tuaku, kamarnya cukup luas dengan nuansa biru.


Lalu mambuka kamar di sebelahnya, kamarnya tidak selebar kamar sebelumnya. Mungkin ini kamar tamu.


Didepan kamar terdapat meja bar dengan tiga kursi tinggi dibagian luar meja, di bagian dalam ada lemari kaca berisi anggur mahal.


Terdapat meja biliard ditengah ruangan dan satu set sofa berwarna krem diseberang ruangan, dinding lantai dua dicat dengan warna hitam bergradasi merah yg sangat menawan.


Naik ke lantai tiga, tepat diujung tangga ada satu sofa hitam panjang yang diapit dua pintu.


Pintu sebelah kanan adalah taman di rooftop, ada beberapa kursi rotan dan alat barbeque di sana. Ada juga ayunan besi dan terdapat banyak pot berisi bunga dan pohon bonsai.


Aku membuka pintu sebelah kiri, ternyata sebuah kamar yang cukup luas, dinding sebelah kiri full kaca dengan tirai berwarna hitam, dinding kamar berwarna ungu muda dengan ranjang ukuran quen di tengah ruangan.


Dan juga terdapat walk in closets terbuka yang memisahkan ranjang dan pintu masuk.


Aku membuka tasku lalu merapal mantra, satu persatu baju, tas dan sepatu tersusun dengan sendirinya dalam lemari.


Aku membuka tirai didepan ranjang dan terdapat pintu kaca ganda menuju balkon.


Ada dua pasang kursi pantai dan meja di sana. Aku duduk dan meluruskan kaki di salah satu kursi, mengedarkan pandangan ke sekeliling lingkungan, semuanya terlihat jelas dari atas sini, lapangan tenis diseberang jalan, dan area taman disisinya.


Lalu mataku secara tak sengaja melihat dia di sana, duduk bagai patung dewa Yunani di kursi balkon rumah sebelah.


Kulitnya yang putih pucat nyaris tembus pandang terpapar sinar matahari pagi. Rambut pirang putihnya, yang aku yakin bukan warna aslinya berkibar ditiup angin, dia terlihat menutup matanya menikmati hangat matahari, jarak kami sekitar 50 meter tapi aku masih bisa melihat bayangan kemerahan dibawah matanya, bibirnya yang berwarna merah muda berkomat-kamit tak jelas, mungkin dia sedang berdoa.


Dua buah kancing kemejanya terbuka mengekspose kulit putihnya, aku menelan ludah.


Aku masih mempelajari struktur wajahnya ketika sekonyong-konyong matanya terbuka dan menatapku.


Seketika aku menahan nafas dan jantungku berdegup tak karuan. Semenit berlalu dan kami masih saling memandang. Dia menatap tak suka kepadaku. Dan berkomat-kamit lagi tak jelas.


"vampir gila." bisikku dalam bahasa korea dan seketika matanya membelalak terkejut melihatku, aku berdiri dan pergi dengan pandangan penasaran darinya.