
Malam semakin larut, dan kini tinggal aku berdua dengan juwoon di rooftop, sedangkan yang lainnya ada di bawah, sepertinya sedang bermain biliard.
"jadi... Sejak kapan kau tahu jika kami bukan manusia?" tanya juwoon
"sejak aku masih di Indonesia." jawabku dan dihadiahi tatapan penasaran juwoon "sebelum kami pindah ke sini, kami tinggal di indonesia." jelasku
"owh... Aku tahu Indonesia, aku pernah beberapa kali pergi ke sana untuk pemotretan, negara yang indah dengan banyak pantai dan gunung." lanjut juwoon
"benarkah? kurasa kau juga banyak fans di sana." aku pernah beberapa kali melihat akun penggemar Immortal Boys di sosmedku, dan kalau boleh jujur aku sering mencari informasi dan foto-foto juwoon di sana.
Dia tersenyum lebar "aku tahu, sebenarnya aku juga ingin mengadakan konser di Indonesia."
"semoga segera terealisasi." aku tersenyum padanya.
"jadi kapan tepatnya kau tahu kami bukan manusia?" tanyanya lagi.
"di tv, di salah satu restoran korea, pertama kali melihat kalian aku langsung tahu jika kalian bukan manusia, dan selanjutnya ketika kau berjemur pagi-pagi di rooftop rumahmu membuatku semakin yakin kau bukan manusia."
"ah... Ketika kau mengataiku vampir gila." dia tertawa ringan.
"maaf..." aku menggigit bibirku "karena mengataimu seperti itu."
"jika boleh tahu, kenapa kau berkata seperti itu?" tanyanya sambil mendekatiku dan duduk di kursi sebelahku.
"heemb... Karena aku terkejut tentu saja, kita baru bertemu tapi tatapanmu seolah tidak suka padaku." aku menjawab malu-malu.
Dia tertawa keras "bukan tidak suka, aku hanya penasaran jenis apa kau ini, karena aromamu berbeda dengan manusia."
"oh ya?" aku mulai mencium tangan dan lenganku
"bukan seperti itu," dia tertawa melihatku "seperti kau tahu, semua indra kami sangat sensitiv, jenis manusia mempunyai wangi berbeda-beda tergantung apa yang mereka konsumsi,"
"benarkah?" tanya ku penasaran.
"begitulah..." jawabnya ragu.
"dan vampir?" aku meliriknya
"jenis kami memiliki wangi seperti akar wangi hampir mirip minyak atsiri, sedang warewolf memiliki wangi segar mirip citrus."
"lalu apa yang membuatku berbeda?
"aku agak asing dengan wangimu, wangimu manis, sedikit seperti aromaterapi, dan sedikit, sangat sedikit mirip wangi dupa." lanjutnya
"cendana." ucapku
"apa itu?" tanya juwoon.
"tanaman yang memiliki pohon berbau wangi yang dipakai sebagai bahan parfum dan bahan membuat dupa, kadang Serena juga mengatakan jika bauku seperti wangi kayu cendana." jawabku
"serena, siapa Serena?"
"ah... Serena adalah sahabatku, dia juga seorang werewolf." aku tersenyum kepada juwoon.
"kau berteman dengan warewolf?"
"iya, apa ada masalah?" aku sedikit tersinggung.
"tidak, bukan begitu, karena ku dengar warewolf wanita lebih garang daripada warewolf laki-laki." ucapnya kemudian.
Aku tertawa mendengar jawaban juwoon "harus kuakui kau seratus persen benar dalam hal ini."
"apa dia ada di Indonesia? Teman werewolfmu."
"tidak, dia sedang berada di Inggris." aku melihat ke dalam mata hijau gelap juwoon.
"Kenapa?" tanyanya.
"tidak apa, aku hanya penasaran tentang vampir." jawabku jujur.
"apa kau punya pertanyaan untukku?"
"banyak." jawabku malu
"tanyakan saja, sebisa mungkin akan kujawab." dia tersenyum padaku, dan untuk kesekian kali untuk malam ini jantungku akan melonjak dari tempatnya.
"aku suka itu." ucap juwoon random.
"apanya?" aku melihat juwon penasaran.
"detak jantungmu." dia tersenyum
"ah... Maaf." aku tidak tahu kenapa aku harus minta maaf, tapi saat ini aku sangat malu.
"Kenapa harus minta maaf? Kau tidak bisa mengontrolnya."
"ah..." hanya kata itu yang keluar dari mulutku, dan dia tertawa, tawa yang begitu indah.
"jadi... Apakah vampir juga memiliki detak jantung?" tanyaku kemudian.
"kami punya, tapi sangat pelan lebih seperti ketukan ringan." dia menerawang jauh "karena itulah darah tidak terpompa dengan baik, dan menjadikan kulit kami cenderung pucat, dan akan terus memucat jika tidak meminum darah." lanjutnya.
"Kenapa begitu?" tanyaku
"karena tubuh kami tidak bisa menghasilkan sel darah sendiri."
Aku hanya mengerutkan alis.
"ketika manusia, werewolf dan jenis lainnya mengkonsumsi makanan sebagian akan disimpan sebagai tenaga, lalu nutrisi di serap tubuh dan membuang sisa makanan," dia menggoyang-goyangkan gelas winenya "maka di tubuhku metabolisme hanya menghasilkan tenaga, tanpa menyerap nutrisi makanan tersebut." lanjutnya.
"ah... Seperti itu, pantas saja kulitmu seputih itu." aku menggosok kedua tanganku "apakah kau punya kriteria khusus, maksudku untuk ini." aku menunjuk, gelas wine berisi darah miliknya..
"darah apa saja tidak masalah, asal jangan darah manusia."
"kenapa memangnya dengan darah manusia?"
"darah manusia adalah racun bagi kami,"
"Kenapa seperti itu?" tanyaku.
"entahlah, belum ada yang tahu alasannya." jawabnya.
"tapi jika disajikan seperti ini, apa kau masih bisa membedakannya?" tanyaku kembali menunjuk gelas winenya.
"aaaah... Begitu rupanya." aku nengangguk mengerti
Aku menyesap wineku "lalu berapa usiamu sekarang?" tanyaku kemudian
"aku berusia tiga puluh tahun, selama limapuluh tahun terakhir ini. Teknisnya kami berhenti menua di usia tiga puluhan."jawabnya
"jadi usiamu delapan puluh tahun sekarang?"
"begitulah... Aku lahir ketika perang dunia ke dua, tepatnya tahun 1940."
"benarkah? Jadi kau juga tidak akan menua?"
"tidak juga, ketika aku tidak meminum ini" dia menggoyangkan gelas wine berisi darahnya "dalam waktu yang lama tubuhku akan menua dengan sendirinya, dan akan kembali muda jika mengkonsumsinya kembali."
"jadi jika kau tidak mengkonsumsi itu dalam waktu yang lama kau akan meninggal pada akhirnya?" aku tidak suka membayangkannya
"begitulah." dia tersenyum miring "jika kami nyaman dengan suatu tempat kami akan membiarkan tubuh kami menua, lalu membuat skenario seolah kami meninggal di usia tua, lalu kami akan datang kembali dengan wajah muda ke tempat tersebut dengan mengaku sebagai anak atau kerabat dari orang yang telah meninggal itu, kami sering menggunakan trik itu untuk membohongi publik."
"ide yang bagus,"
Dia tersenyum lagi "iya, kendati begitu usia kami juga ada batasnya. Aku baru kehilangan ayah dari kakek buyutku sepuluh tahun yang lalu di usianya yang ke lima ratus lima puluh tahun."
"Seperti itu ternyata." aku mengangguk.
"apa kau juga tidak menua riri? Dan berapa usiamu?"
"begitulah, sama sepertimu kamipun berhenti menua, tapi di usia dua puluh lima tahun, kami menggunakan mantra atau ramuan agar bisa menua sesuai umur yang diinginkan, tapi kami hanya perlu menggunakannya setahun sekali" aku tersenyum "untuk usia, aku baru berusia dua puluh tujuh tahun dan belum pernah menggunakan mantra untuk menua." lanjutku.
"apa aku seumuran kakekmu?" tanyanya.
"mungkin saja." timpalku sambil tertawa.
Kemudian dia berubah serius "apa kau tidak suka pria yang jauh lebih tua darimu?"
"eh... Maksudnya?" untuk sesaat jantungku berhenti berdetak.
"sudah lupakan saja." mendadak moodnya berubah.
"usia bukan batasan untukku, aku bisa berteman dengan siapa saja." aku mencoba mencairkan suasana "kadang aku bermain catur dengan teman kakekku, ketika aku berkunjung." lanjutku.
"teman ya, tentu saja." dia terlihat memaksakan senyumnya.
"lalu... Di mana orang tuamu?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"mereka ada di timur tengah, menjalankan perusahaan di sana, lalu kakek dan nenekku ada di New zealand." dia melihatku "aku juga punya seorang adik perempuan, namanya Kim Ji yang." lanjutnya kemudian. Sepertinya pengalihanku berhasil.
"benarkah? Lalu dimana dia sekarang?"
"dia suka berkeliling dunia, kabar yang terakhir kuterima dia sedang berada di vancouver."
"wah... Daebak!"
"dia lebih muda tiga puluh tahun dariku."
"apakah vampir juga melahirkan seperti manusia? Maksudku jika di film bukankah untuk membuat vampir harus menggigit dan sebagainya?"
"vampir dapat melahirkan, tapi usia kehamilannya berbeda dengan manusia dan yang lainnya, ibuku hamil ji yang sekitar lima tahunan sebelum ji yang lahir, vampir muda sangat rapuh. Karena mereka tidak bisa berada di suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas, tidak bisa ditempat terlalu lembab atau terlalu kering, karena itulah yang menyebabkan jenis kami menjadi langka."
"ah.... Seperti itu, dan apa gigitanmu juga bisa merubah manusia menjadi vampir?"
"bukan gigitanku, tapi darahku." dia melihatku "tapi bukan mudah mengambilnya, karena tidak ada benda atau seorangpun yang bisa melukai fisik kami, kecuali seseorang yang kami cintai." dia melirikku dari balik bulu matanya.
Aku berdehem membersihkan tenggorokanku yang mendadak kering "apa gigimu juga setajam silet? Seperti di film?"
Dia tertawa keras "kau terlalu banyak menonton film riri." di tertawa lagi "tentu saja gigiku tajam, tapi hanya berlaku untuk manusia dan makananku, sedangkan untuk jenis kita, ini seperti gigi ada umumnya." dia menunjuk giginya.
"ah... Seperti itu."
Kesunyian membentang diantara kami, kami hanya saling malirik, sampai suara pintu terbuka memecah keheningan.
Di sana ji hyun melongokkan kepalanya keluar dan memanggil ju woon "hyung... ayo pulang, hansol minum banyak alkohol dan sekarang dia mabuk. Gyungso hyung menyuruhku memanggilmu untuk mengajak pulang." ajak ji hyun.
"baiklah, kau duluan sebentar lagi aku turun."
"baik hyung, aku duluan ree a." ji hyung pamit dan aku mengangguk padanya.
"boleh aku tanya satu hal lagi?" tanyaku sembari berdiri.
"tentu saja dengan syarat di pertemuan selanjutnya, ganti aku yang akan bertanya padamu."
Aku mengangguk "tentu saja."
"ingin bertanya apa?" tanyanya sambil membuka pintu untukku.
"berapa usia gyungso? Karena sepertinya dia paling tua di antara kalian." aku masuk dan mulai menurunni tangga bersama juwoon.
"dia lebih tua dua tahun dariku." jawabnya "lalu ji hyun, dia berusia sekitar tiga puluh tahun."
"heol! Jangan-jangan hansol lebih tua dariku?" aku sedikit berteriak dan tanpa sadar kami sudah berada di lantai dua.
"noona memanggilku? Noona merindukanku? Noona mau bernyanyi denganku? Aaaahhh noona." ucap hansol, sambil melambai-lambaikan tangannya kepadaku, dia benar-benar sudah mabuk.
"tidak, dia benar-benar berusia dua puluh satu." jawab juwoon sambil mengangkat hansol di punggungnya.
"kalau begitu, kami pamit undur diri dahulu, terima kasih untuk jamuannya," ucap juwoon setelah sampai di depan pintu keluar.
"lain kali ijinkan kami untuk menjamu kalian." lanjut gyungso.
"dengan senang hati." jawab ayahku.
"sekali lagi terima kasih banyak." ucap ji hyun.
"Gomawo... Gomawo... Gomawooo... ree a noona, terima kasih sudah membuat hyungku Tersenyum." teriak hansol kemudian.
Apa? Tadi hansol bilang apa? Kulihat juwoon pun berbalik untuk melihatku lalu menjatuhkan hansol dari gendongannya dan berjalan cepat pulang ke rumahnya.
Malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, otakku memutar kembali pembicaraanku dengan juwoon.
Lalu menampilkan wajah juwoon di balik kelopak mataku, setiap menutup mata, wajah juwoon akan selalu muncul, dilanjutkan teriakan random hansol yang semakin membuatku gelisah karena penasaran.