Immortal Idol

Immortal Idol
Bab 4 Perkenalan



 


Aku duduk tak bersemangat di kursi yang disediakan mall di lantai dua, kepalaku menyandar di tralis besi. Melihat dengan tidak semangat Lantai bawah yang masih sangat ramai.


 


Aku mulai hafal satu persatu nama member idol grup dibawah, dua pria berkulit coklat, yang tinggi bernama han ji hyun dan yang pendek Park gyungso, yang berkulit putih agak pendek dan berwajah ceria bernama Lee han sol dan yang satu... Aku selalu menahan nafas jika namanya di sebut, dia Kim ju Won.


Dia masih sesekali melirik kepadaku, dengan dahi yang sedikit berkerut, seolah ada sesuatu yang membebani pikirannya.


Ketika dia melihatku sering kali teman-temannya ikut melihatku, lalu mereka berbisik-bisik.


Si werewolf tinggi han ji hyun bahkan sempat mengerling kepadaku. Otomatis aku membelalakkan mata dan dia tertawa bahagia dengan si vampir ceria.


"halo mom." sapaku setelah mengangkat telfon.


"riri, kenapa kau belum pulang?" sambut ibuku "apa kau tersesat?" lanjutnya panik.


"tidak mom, aku masih di mall, masih ada beberapa hal yang harus aku cari." aku berbohong.


"hubungi mama jika ada masalah"


"tentu mom." aku menutup telfon, melihat jam tangan dan menunjukkan pukul 14.00.


Aku melirik kebawah dan kerumunan sudah berangsur memudar, panggung telah kosong. Aku tidak peduli kemana mereka pergi, yang aku tau aku juga harus bergegas.


Di parkir basement mall aku melihat satu van hitam besar terparkir di sebelah mobilku. Aku tidak peduli dan langsung menuju mobilku.


"hai kau." seseorang memanggil ketika aku berdiri disamping mobil dan hendak membuka pintu, aku menoleh terlihat jendela mobil van telah terbuka lebar dan disana si werewolf han ji hyun sedang melihatku, kepalanya diletakkan diatas kedua tangannya yang ditumpuk.


"kau memanggilku?" tanyaku.


Dia tertawa menggoda "tentu saja, apa kau lihat ada orang lain di sini selain dirimu?"


"oh." jawabku singkat.


"hanya oh? Hanya itu reaksimu terhadapku?" katanya tak percaya.


"lalu kau berharap apa?" jawabku sinis, sungguh dia menderita sindrom narsisme akut.


Terdengar gelak tawa membahana di dalam mobil van. Dia tidak sendiri, aku tau itu. Aku memiringkan kepalaku berniat mengintip isi van tersebut. Dan dia disana, dibelakang werewolf narsis, dia memakai kacamata hitam bibirnya sedikit bergetar karena menahan senyum, aku merasa dia juga sedang melihatku.


Tiba-tiba jendela dibelakang werewolf narsis itu juga terbuka "hai noona." sapa vampir kecil yang duduk di kursi belakang.


"hai vampir manis." jawabku dengan senyum miring.


"apa... Bagaimana kau tau?" dia membelalak kaget Begitu pun si werewolf narsis yang juga terkejut.


"bagaimana kau tau dia vampir?" tanya han ji hyun.


"bukan urusanmu," aku mengibaskan tanganku seolah tak peduli "dan kau... Aku juga tau kau adalah werewolf."


Matanya semakin lebar seolah akan keluar dari rongganya.


Vampir ceria dibelakang menghilang digantikan werewolf yang satunya, Park gyungso "siapa kau?" suaranya dalam dan sedikit menggeram.


Aku mengangkat bahu, seolah tak perduli "hanya orang biasa." ucapku acuh, dia menggeram lagi lalu terdiam ketika manajernya berjalan mendekat "kalau begitu aku permisi." aku membungkuk dan melirik ju woon sekilas, wajahnya kaku seperti batu. Aku memasuki mobilku, menyalakan mesin lalu menancap gas.


Jalanan kota seoul sangat ramai tapi tidak macet seperti Jakarta. Jalanannya lebar dan rapi. Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan agak tinggi, beberapa kali aku mendesah, tak percaya dengan apa yang aku lakukan barusan, kenapa aku sebodoh itu.


Menit selanjutnya aku merasakan perutku keroncongan, "baiklah perut, aku akan memberimu makan." aku mengusap-usap perutku lalu berbelok ke salah satu restoran cepat saji, memesan ayam goreng kolonel sanders melalui drift thru.


Tiba-tiba perasaanku tidak enak, aku melirik kaca spion dan benar saja van hitam besar itu sudah ada di belakang mobilku. Aku menahan diri untuk tidak berteriak karena aku tahu, vampir --ah tidak, mereka maksudku-- pasti akan mendengar sekalipun manusia normal bahkan tidak akan tau aku sedang berteriak.


Aku menerima pesananku dan cepat-cepat pergi.


Van besar itu masih dibelakang mobilku, mengikutiku dengan tangkas, harus ku akui sopir mobil itu sangat hebat. Karena bisa membawa mobil sebesar itu dan dapat mengebut dengan baik. Aku menyerah, karena bagaimanapun ju woon sudah tau tempat tinggalku.


Aku mulai mengendarai mobil dengan kecepatan wajar dan van itu tidak menghadang jalanku, berarti mereka hanya ingin tau tempat tinggalku. Apa vampir tampan- ah tidak ju woon tidak memberitahu mereka, jika aku bertetangga dengan mereka?


Mereka masih mengikuti ketika memasuki pintu depan kompleks dan menjadi agak lambat setelah lewat beberapa rumah. Bahkan sekarang jarak kami sekitar dua ratus meter dan van itu menghilang dari pandangan ketika aku berbelok. Mungkin mereka pikir aku adalah stalker, aku tersenyum memikirkannya.


Aku sengaja memarkir mobilku di depan pintu gerbang rumahku lalu berdiri menunggu mobil van tersebut.


"ah... Manusia serigala yang menyetir, pantas saja." ucapku lirih dan dihadiahi tatapan mata tajam Gyungso.


Aku mengacuhkannya dan bersandar di kap depan mobilku. Menunggu.


Lalu ju woon turun diikuti ji hyun dan han sol.


Mereka berempat menatapku, lalu berjalan ke arahku. Oke, jantungku berdegup sangat kencang kali ini, tapi aku mencoba tetap tenang.


"noona..." han sol yang pertama kali menyapa, lalu yang lainnya melirik tajam padanya. Mereka sangat lucu harus ku akui itu.


"kenapa kau terus memanggilku noona, memang berapa umurmu?" tanyaku pada han sol dan mengabaikan yang lain.


"bulan depan usiaku 21 tahun. Dan aku maknae di grup ini." dia tersenyum menampilkan gigi putihnya.


"baiklah, berarti aku memang lebih tua darimu"


"berapa umur noona?"


"han sol, bisakah kau diam sebentar?" bentak gyungso.


"baiklah hyung." jawab han sol sambil mepoutkan bibirnya, imut sekali.


"jangan membentaknya, dia hanya penasaran." aku balik membentak gyungso


"kami juga penasaran." ucap gyungso dingin


"kalian ingin menanyakan apa?"


"siapa ..."


"ree a... Kau kah di luar?" suara ibuku menghentikan pertanyaan gyungso.


"iya mom." aku menjawab


Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, dan ibuku menghambur keluar mengendarai sapu terbangnya "O... O..." hanya itu yang keluar dari mulut ibuku, lalu tersenyum menyesal melihatku dan dengan gerakan perlahan dia turun dari sapu terbangnya. "halo semua." sapa ibuku, dengan wajah malu dan aku hanya memutar bola mataku.


"kalian ini apa?" tanya ji hyun kasar.


"jika kami apa, maka kalian juga apa?" serang ibuku.


"mom..." aku memegang lengan ibuku.


"maaf nyonya." gyungso meminta maaf. "karena kami sangat terkejut." lanjutnya


"tak apa lupakan saja." jawab ibuku, kurasa dia masih jengkel.


"kami tetap harus minta maaf." ucap gyungso sambil menyikut perut ji hyun.


"maafkan kami," ucap jihyun setengah hati.


"well, jadi kalian boyband yang naik daun itu ya?" tanya ibuku "yang terdiri dari vampir dan werewolf." ibuku berbisik pelan. Aku mendengar mereka semua terkesiap.


"maaf nyonya," ucap gyungso dengan alis terangkat.


"kita sama-sama makhkuk legenda, jadi harus saling bersikap baik bukan?" ibuku berbisik lagi dan mereka terlihat makin penasaran. "kami sekeluarga adalah penyihir." ibuku masih berbisik,


oh bagus mom lanjutkan. Kenapa mulut ibuku itu tidak ada filternya.


Aku melihat ju woon yang berdiri paling belakang, dia masih memakai kacamata hitam, jadi aku tidak tahu dia sedang melihatku atau tidak, tapi bibirnya sedikit tertarik ke atas, dia tersenyum. Ya tuhan serius dia tersenyum?


"oke Boys." ibuku berteriak, memaksaku melihatnya


"untuk merayakan kepindahan kami, bagaimana jika


besok kalian semua kami undang makan malam."


mereka saling melirik satu sama lain. "tenang saja, aku tahu makanan kalian." ibuku berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aku menghela nafas dengan dramatis.


Bisakah ini lebih buruk? Pikirku masam.