Immortal Idol

Immortal Idol
BAB 1 Pindah



 


Udara panas kota Jakarta terasa menampar wajahku. Aku berlari kecil menuju mobil yang terparkir agak jauh dari pintu masuk kedutaan besar korea Selatan untuk Indonesia.


 


Tergesa-gesa aku masuk kedalam mobil sedan milik ayahku, menyalakan mesin mobil lalu memutar tombol pendingin ke temperatur terendah.


Aku baru saja akan memegang tuas rem tangan ketika handphoneku berdering.


"iya mom." ucapku setelah mengangkat handphone.


"ree a..." rengek ibuku, suaranya menggema di seluruh kabin mobil.


"ada apa mom?" aku memutar bola mataku, sudah hafal dengan kebiasaan ibuku.


"aku ingin makan ayam goreng pedas, bisakah kau mampir sebentar ke restoran langganan mama di daerah pantai indah kapuk?" lanjut ibuku.


Aku menghela nafas pelan, apa ibuku tidak tau sejauh apa jarakku dengan tempat itu? "iya mom, akan aku belikan. Ada yang lain?" tanyaku sambil memundurkan mobil dengan perlahan.


"sementara itu dulu." ucapnya "terima kasih sayang." lanjutnya.


"sama-sama mom." aku menutup telfonku.


Empat puluh lima menit berlalu, aku memasuki restoran korea yang dimaksud ibuku, lalu memesan ayam goreng pedas khas korea pesanannya.


Ibuku adalah orang Indonesia sedangkan ayahku asli korea, aku tidak tau kenapa tapi kepribadian mereka seolah tertukar ibuku mencintai apapun yang berbau korea, sedang ayahku mencintai apapun yang berbau Indonesia, sedangkan aku? Mencintai keduanya tentu saja.


 


Aku duduk diujung ruangan dibawah jendela yang menghadap jalan raya sambil memainkan ponselku dan membuka beberapa email pekerjaan yang masuk.


Entah kenapa tiba-tiba perhatianku teralihkan pada tv plasma di dinding restoran yang sedang menayangkan acara musik tv korea.


Disana terlihat empat orang pria muda yang sedang diwawancarai seorang wanita cantik, dari apa yang mereka katakan sepertinya para pria tampan itu sedang mempromosikan album come back mereka.


Immortal Boys, itu nama grup boy mereka.


Tapi yang menarik perhatianku adalah perawakan fisik mereka, dan mereka bukanlah manusia.


Dua diantaranya berkulit sedikit gelap dengan alis tebal dan bibir tebal, bertubuh kekar dan mereka nyaris mirip, kecuali tinggi badan dan ekspresi wajah mereka yang berbeda. Iris mata mereka sama berwarna biru. Kebanyakan orang akan berfikir mereka memakai softlens, tapi aku tau dengan pasti itu warna asli mata mereka.


Yang berbadan agak pendek berwajah serius dan memiliki sorot mata tajam, sedang yang satu memiliki wajah dan mata bisa dibilang agak nakal.


Dua pria yang lainnya memiliki warna kulit sangat putih cenderung pucat, orang awam tidak akan menyadari, tapi aku bisa melihat guratan-guratan vena tipis di wajah dan leher mereka.


Bahkan aku sangat yakin jika mereka tidak mengenakan pakaian berlengan panjang, pasti dilengan mereka juga akan terlihat guratan yang lebih jelas. Mata mereka berwarna hijau gelap nyaris hitam, yang lagi-lagi akan di anggap softlens oleh orang awam.


Bentuk wajah mereka sangat tegas, dengan hidung mancung dan bibir tipis.


Salah satu pria pucat itu memegang mic, dia berwajah ceria sedang yang satunya berdiri agak kebelakang dengan sorot mata tak bisa ditebak.


Mereka semua tampan tentu saja, tapi pria pucat yang berdiri paling belakanglah yang menarik perhatianku.


Satu hal yang dengan jelas aku tau, mereka makhluk legenda sama Sepertiku.


Dua pria berkulit gelap itu adalah werewolf sedang dua lainnya adalah vampir.


Aku memang belum pernah bertatap muka langsung dengan vampir.


Tapi aku sering bertemu dengan jenis werewolf di Indonesia, bahkan bersahabat dengan salah satu dari mereka.


Dan aku sendiri adalah keturunan penyihir.


"nona ree a, silahkan pesanan anda." wanita dibelakang kasir memanggilku.


"oh... iya." ucapku, sekali lagi melihat arah tv dan melihat pria pucat yang berdiri paling dibelakang.


 


Aku sampai dirumah lebih cepat karena jalanan jakarta sedikit lengang hari ini.


Pintu rumah terbuka sendiri ketika aku sampai didepan pintu.


Begitulah rumahku seperti arena bermain para penyihir.


Karena memang semua penghuni rumahku adalah penyihir.


Bahkan sapu terbang biasa berkeliaran dirumah kami, kami sudah jarang menggunakan sapu terbang di luar ruangan karena terlalu banyak cctv dan drone dengan kamera di luar sana.


Tentu saja kami harus melindungi eksistensi kami.


 


"mom..." teriakku ketika masuk rumah.


"i'm comiiiing." seru ibuku meluncur menurunni tangga menggunakan sapu terbangnya.


Jujur Penggambaran penyihir dalam dongeng-dongeng sangat jauh berbeda dengan kami, mereka terlalu berlebihan menurutku.


Jika dalam dongeng digambarkan penyihir itu tua, keriput, jelek, memiliki hidung panjang, memakai gaun compang-camping dan bertopi kerucut peyot.


Maka itu bertolak belakang dengan kami, kami modis, tentu saja.


Kami mengikuti mode dan perkembangan jaman.


Ibuku contohnya, Saat ini dia mengenakan dress bermotif floral tanpa lengan berwarna dasar Gading, rambutnya dicepol tinggi-tinggi. Dan lagi aku adalah seorang fashion designer dan memiliki chloting line sendiri.


Jika membicarakan fisik. Ibuku sangat cantik dan dia adalah wanita keturunan tanah Jawa, ibuku memiliki kulit kuning langsat, hidung kecil yang bangir, bibir tipis, mata lebar dan rambut sehitam jelaga. Sangat cantik.


Dan dari semua itu, yang menurun darinya untukku adalah mata dan hidungnya, selebihnya adalah milik ayahku.


"ini pesananmu mom." aku berjalan kedapur diikuti ibuku dengan wajah sumringah.


"aku merindukan daddymu karena itu aku tiba-tiba ingin makan ayam pedas," kata ibuku tiba-tiba murung.


"oh... Ayolah mom. Belum 24 jam daddy pergi ke korea, bukankah tiga hari lagi kita akan menyusul daddy." kataku sambil memindahkan ayam kedalam mangkok ukuran besar.


"tiga hari terlalu lama riri." rengek ibuku.


"aku tau mom,"


"tidak bisakah kita pergi besok?"


"aku tadi dari kedutaan dan mereka bilang visa kita keluar lusa."


Ibuku menghela nafas, agak dilebih-lebihkan, lalu meluncur turun dari sapu terbangnya lalu duduk dikursi makan dengan wajah sayu.


"mom... Aku juga merindukan daddy. Tapi kita harus sabar sebentar lagi."


"baiklah." ucapnya sambil mengambil sepotong ayam menggigit lalu mengunyah tanpa minat.


"apa kita bisa video call daddymu sekarang?" wajahnya mendadak ceria lagi.


Aku menggeleng pelan "tadi daddy mengirim pesan, dia ada rapat direksi jadi kemungkinan besar pulang larut." ucapku lalu meneguk segelas air.


Wajahnya murung lagi "aku kehilangan minat makan," kendati begitu dia tetap menggigit ayamnya besar-besar aku menggeleng pelan.


Hari berlalu begitu lambat dengan mood swing ibuku yang tak karuan. Mendadak melankolis karena rindu, mendadak antusias karena hari berganti, lalu menjadi uring-uringan tak jelas.


Aku paham, dia pasti sangat merindukan ayahku, dan karena sikap ibuku yang apa adanya dia tidak akan bisa menyembunyikan isi hati dan kepalanya.


Ayahku selalu bilang, ketika ibu melahirkanku dia berusia 15 tahun, masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu dan aku terlahir dengan usia 25 tahun sudah sangat tua untuk menjadi bayi.


karena itulah aku lebih dewasa dari ibuku. Dan usiaku akan selalu lebih tua dari ibuku setiap harinya.


Dan tentu saja ayahku bergurau.


Sebenarnya kami penyihir akan berhenti menua di usia 25 tahun. Dan akan berumur panjang dengan umur dan wajah di usia itu.


Tapi kami perlu berkamuflase, jadi agar terlihat sesuai dengan umur kami di tanda pengenal, kami memakai mantra atau ramuan untuk menyempurnakan penyamaran.


Seperti ibuku, sudah berumur 25 tahun sekitar 30 tahunan dan ayahku 35 tahunan. Sedang aku baru melewati 25 tahunku 2 tahun yang lalu, jadi aku belum butuh mantra atau ramuan apapun.


"ayo sayang..." ucap ibuku antusias membelah lautan manusia dibandara, dia menenteng tas chanel di tangan kanan dan paspor ditangan kiri.


Aku harus setengah berlari mengejar ibuku, dan sedikit menahan nafas ketika melihat kakinya melayang dua centimeter di atas permukaan lantai.


Walaupun sepertinya tidak ada yang memperhatikan.


Aku hanya diam dan mengikuti ibuku, sudah cukup lelah seharian berdebat dengan ibuku yang ingin membaca mantra untuk memasukkan rumah kedalam tasnya.


Setelah penjelasan panjang lebar akhirnya dia mengalah dan hanya memasukkan semua isi rumah kedalam tas ajaibnya.