
Aku menutup pintu dengan kasar, lalu merosot duduk dilantai.
Aku memegang dadaku mencoba menenangkan jantungku yang berdebar tak karuan, kurasa ada yang tidak beres dengan jantungku.
Aku meloncat kaget karena dering handphoneku. Panggilan masuk dari Serena.
"halo Serena." suaraku agak tercekat.
"riri, are you oke?"
"tentu saja, hanya tenggorokanku agak kering." jawabku berbohong lalu berdehem pelan.
"oh... Baiklah. Kapan kau tiba di Seoul?"
"baru berapa waktu yang lalu ren." aku bangkit dari lantai dan duduk bersila diujung ranjang.
"berarti hari ini belum bisa pergi ke kantor?"
Aku melihat jam di atas nakas disamping ranjang pukul 07.00 pagi, "sepertinya besok baru aku akan ke kantor."
"baiklah, kalo begitu." ucap Serena "aku sudah menyiapkan posisi direktur cabang untukmu dan seorang assisten, namanya Justin, dia yang akan membantumu nanti." lanjutnya.
"oke, bisa kau kirim alamat kantor dan nomer telfon Justin?"
"tentu saja ri," jawab Serena "baiklah aku akan mengirim email untukmu, aku tutup dulu telfonnya." lanjutnya
"see you rena." jawabku.
Aku dan rena ada sahabat sekaligus rekanan bisnis, kami mempunyai brand fashion yang cukup terkenal. Serena berperan sebagai CEO, dia yang menghandle semua pekerjaan didepan layar, sedang peranku selalu dibelakang layar. Kami bersahabat sejak sekolah dasar.
Serena bukan penyihir Sepertiku, tapi dia adalah werewolf perempuan.
Aku bertemu dengannya ketika dia diam-diam mencuri daging mentah dari dapur kantin sekolah dan memakannya di dalam toilet, dia terkejut tentu saja, mengetahui aku tau tentang siapa dirinya. Sejak saat itu kami bersahabat.
Rena dibesarkan seorang diri oleh ayahnya yang saat itu bekerja sebagai buruh serabutan. Ayahnya manusia biasa, dan ibunya seorang werewolf seperti rena, ayahnya tau keadaan rena dan ibunya tentu saja, tapi dia tidak tau kalau keluargaku penyihir, kami masih menyembunyikannya sampai sekarang, saat ini ayah rena sudah menikah lagi dan punya kehidupan normal di Kalimantan Indonesia.
Ibu rena meninggal sesaat setelah melahirkannya, dia tidak tau kenapa dan aku juga tidak tanya lebih lanjut.
Setelah kami bersahabat ayahku mengangkat rena sebagai anak angkat, praktis semua kebutuhan rena dicukupi ayahku, walaupun Rena tetap tinggal dengan ayahnya, kami tak terpisahkan, kami selalu sekolah ditempat yang sama dan mengambil jurusan fashion design pun bersama.
Kami berpisah tiga tahun yang lalu, ketika dia harus pindah ke London untuk mengurus kantor pusat perusahaan.
Aku terdiam beberapa saat, menimang-nimang apa yang harus aku lakukan. Aku berjalan ke dinding kaca yang berhadapan langsung dengan rumah sebelah, menyingkap sedikit pada tirai untuk melihat keluar, lalu membeku ketika melihat dia masih di sana, sekarang dia berdiri diujung balkon rumahnya, dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana. Menatap tajam tepat ke arahku.
Matahari pagi menerpa wajahnya, membuatnya terlihat semakin putih. Dan tampan, kulitnya masih terlihat transparan. Beberapa menit berlalu kami masih saling memandang, dan aku baru sadar jika dia tidak berkedip sama sekali, berdiri bagai patung dan menatapku, matanya terlihat penasaran.
"oppa...!" panggil seorang wanita dari depan pintu gerbang rumahnya, aku melihat gadis itu melambai-lambai kepadanya, dia gadis yang cantik, memiliki badan tinggi semampai seperti model dan membawa tas mahal ditangannya, pakaiannya pun juga dari designer ternama, dan dia adalah manusia.
Aku kembali melirik vampir tampan itu dan dia terlihat jengah. Dia melihatku sekilas sebelum memasuki rumah. Ada sedikit perasaan tidak rela di hatiku ketika dia pergi memasuki rumah.
Aku kembali menutup tirai, menghela nafas dan butuh pengalihan, aku mencari buku sketsaku di segala tempat tapi tidak menemukannya, bahkan setelah aku membaca mantra.
Sepertinya buku itu tertinggal di kantor jakarta.
Aku mengirim pesan kepada rasti assistenku di Jakarta untuk mengirimkan buku itu. Dan untuk saat ini aku harus membeli buku baru, musim gugur akan berakhir dan perusahaan harus segera meluncurkan pakaian untuk musim dingin.
Aku mandi dalam waktu singkat, mengenakan celana jeans hitam dan sweeter biru, menyambar tas kecil dan kunci mobilku.
"mooom, daaad..." panggilku sambil menuruni tangga
"disini sayang." sahut ibuku, mereka sedang
menikmati kopi di kursi santai di samping kolam renang yang terhubung langsung dengan ruang makan.
"aku akan pergi membeli beberapa keperluan." kataku meminta ijin.
"akan daddy antarkan." ayahku bangkit berdiri.
"nanti kau tersasar?" tanya ibuku
"ada GPS mom, dan aku sudah besar."
"hati-hati sayang." jawab ayahku.
"baiklah, aku pergi dulu. " lalu mencium pipi ayah dan ibuku sekilas sebelum berlalu.
Aku memasuki mobil dari pintu yang salah, dan harus keluar lagi untuk masuk ke kursi kemudi, maklum belum terbiasa dengan kemudi di sebelah kiri.
Menekan tombol starter dan menyalakan GPS lalu memasukkan tujuanku. Aku melihat layar di dasbor yang menunjukan tujuanku. Mempelajari rutenya sebentar sebelum menginjak pedal gas.
Aku berkendara sekitar 20 menit, lalu memasuki parkir basement lotte mall, berputar-putar mencari tempat parkir yang sudah lumayan penuh, padahal masih sepagi ini.
Aku melihat ada tiga tempat kosong dua diantaranya ada plang bertuliskan Vip, dan akupun mengambil parkir di tempat kosong tepat sebelahnya.
Lantai satu mall sudah terlihat ramai, aku melihat jam tangan baru pukul 09.00 tapi sudah seramai ini, beberapa toko bahkan belum buka.
Terlihat beberapa orang sedang mempersiapkan panggung kecil diantara elevator, meski begitu jejeran kursi di depannya sudah penuh terisi, lalu banyak perempuan yang berdiri berdesakan di samping kanan, kiri dan belakang kursi. Kebanyakan mereka masih muda dan menenteng kamera mahal serta kado.
Aku mengabaikan mereka, menaiki elevator ke lantai atas untuk mencari toko alat tulis, dan menemukannya di lantai tiga.
Aku berjalan-jalan sebentar sambil memutuskan ingin sarapan apa.
Dan di lantai lima melihat salah satu outlet brand fashionku, berada diantara outlet brand mewah.
Aku memutuskan masuk ke dalam outlet untuk melihat koleksi. "Reeyes" tulisan di atas pintu masuk, itulah nama brand fashion punyaku. Reeyes memiliki beberapa outlet di beberapa mall besar dan kantor di tiga negara, Inggris, Indonesia dan Korea. Meski baru berusia tujuh tahun tapi reeyes tidak bisa dipandang sebelah mata.
"selamat datang." ucap spg cantik dengan senyuman manis di wajahnya, yoora nama gadis itu.
"terima kasih." ucapku
Dia tidak tahu siapa aku, tentu saja. Bahkan karyawan reeyes di kantor juga tidak akan tahu.
Aku sangat jarang, bahkan tidak pernah terlibat langsung dengan urusan perusahaan, memang aku pemilik sekaligus designer utama reeyes tapi aku selalu bekerja dibalik layar.
Apalagi semua aktivitas reeyes berpusat di London dan jakarta. Hanya karyawan reeyes di Jakarta yang tahu tentangku, sedangkan mereka yang di London dan Korea hanya tahu namaku tapi tidak dengan wajahku.
Aku berkeliling outlet sebentar. Setelah itu berjalan keluar dan turun menuju lantai dua.
Ada beberapa restoran di lantai dua, aku masuk salah satu restoran western, memesan satu Apple pie dan satu iced americano.
Aku Menikmati sarapanku sambil memainkan handphone, membuka email dari Justin.
Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi dari pesan yang dia kirim, dapat disimpulkan dia orang yang banyak bicara.
Dia menjelaskan tentang hal yang sedang trending di korea, bahan yang sering digunakan atau model pakaian yang paling digemari. Aku hanya membalas seperlunya.
Jam menunjukkan pukul 11.00 dan di lantai dasar terdengar sangat ramai.
Aku menghabiskan sisa Apple pieku dalam sekali suap, memasukkan handphone ke dalam tas dan berjalan keluar restoran tangan kiriku memegang tralis besi yang mengamankan pinggiran lantai,
sedang tangan kananku memegang iced coffe.
Aku melongok melihat lantai dasar.
Dan benar saja, lantai satu dipenuhi lautan manusia, berpusat pada panggung kecil setinggi satu setengah meter yang menghadap langsung kepadaku.
Empat orang pria terlihat duduk santai disana, dikelilingi lebih dari selusin bodyguard. Dan dia pria itu ada diantara mereka.
Aku melihat banner dibelakang mereka dan membaca dalam hati "immortal Boys fans sign." yang benar saja.
Aku melihat lagi lautan manusia dibawah dan bergidik, membayangkan bagaimana caranya aku turun ke basement? Sedangkan lift mall ini sedang dalam perbaikan.
"bukankah skenario yang sempurna?" Aku mendesah.
Tiba-tiba mata hijau gelap itu menatap ke arahku, dia mengunciku dalam tatapannya.
"ya tuhan, apalagi ini?" bisikku, lalu dia terlihat sedikit menelengkan kepalanya ke kanan dan bibirnya membentuk smirk, seolah dia mendengar ucapanku. Dan tentu saja dia mendengarnya.