Idii'Aka Beautiful Journey

Idii'Aka Beautiful Journey
Bab I [Alien] : Chapter 9. "Tempat Tinggal Baru."



Arty yang diseret Run'etl memang pemandangan yang cukup menarik perhatian, namun melihat penampilan Run'etl yang mempunyai ciri-ciri Ras Avelion murni dan simbol militer di pakaiannya membuat banyak mata yang melihat langsung melarikan diri.


Bertemu orang dengan darah Ras Avelion yang murni di Planet Cabang Avelion benar-benar pemandangan yang sangat langka.


Planet Cabang Avelion pada dasarnya adalah tempat tinggal lagi mereka yang mempunyai darah Ras Avelion yang tidak murni atau Ras asing yang mencari suaka tempat tinggal, disini bukanlah tempat bagi golongan elit seperti darah murni.


Tidak salah untuk mengatakan Planet Cabang adalah area kumuh.


Diskriminasi di Alam Semesta sebenarnya sudah lama punah, namun asal dari Ras Avelion sendiri cenderung unik yang membuat mereka harus membagi spesies mereka. Ras Avelion dikatakan berasal dari darah para Dewa, membuat mereka diberkahi bakat dan evolusi yang tinggi, khususnya bagi mereka yang berdarah murni. Sebab semakin murni darah dewa mereka semakin berbakat mereka, ungkapan ini dihormati bagi mereka baik itu yang berdarah campuran dan yang murni.


Karena hal itulah, Peradaban Ras Avelion berhasil bertahan dalam Perang Besar ribuan tahun lalu dan memantapkan dirinya sebagai Peradaban Universal yang kuat.


Merasakan mata yang melihat mereka berkurang secara signifikan, Run'etl hanya mendengus dan membawa Arty ke meja resepsionis.


Seorang Pegawai wanita cantik mirip manusia, namun tingginya hanya 70cm yang sangat cebol menyambut mereka dengan senyum ramah.


"Hallo, Nyonya. Apakah anda sudah memesan kamar atau ingin memesan?" tanya Resepsionis.


Run'etl mengeluarkan token berbentuk koin emas, dia menjawab pada Resepsionis "Kami sudah memesan kamar VIP di lantai tujuh."


Mata Resepsionis cebol itu berbinar saat dia melihat koin emas, namun dia segera menarik kembali kegembiraannya. Dengan tangan kecilnya, dia mengambil koin emas seolah itu harta yang sangat berharga.


"Izinkan saya untuk mengantar kalian secara pribadi," kata Resepsionis itu saat melangkah keluar dari meja resepsionis dengan langkah lebar.


Arty yang kerah pakaiannya masih di genggam Run'etl, melihat sikap sopan Resepsionis cebol yang sangat imut dan dewasa secara bersamaan.


Ini, legal atau illegal? gumam Arty dalam hati.


Jika Resepsionis mendengar apa yang dipikirkan Arty, dia pasti akan sangat marah. Karena isu tinggi badan mereka adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk dibicarakan, apalagi melabelinya sebagai anak-anak tidak cukup umur.


Arty berbisik pada Pyara, "Ras apa mereka?"


Pyara menatap Resepsionis cebol itu sesaat sebelum menjawab, "Ras mereka disebut Layalar, suku dari Peradaban yang sudah lama hancur. Sisa-sisa Layalar sekarang banyak tersebar di seluruh Alam Semesta sebagai pekerja bebas, Resepsionis ini jelas salah satunya."


Arty menatap Resepsionis itu lekat-lekat dan tidak bisa menahan diri untuk tangannya bergerak mengelus rambut Resepsionis tersebut, mengejutkan Run'etl yang sedang bersikap elit.


"Hmm?"


Resepsionis itu tercengang pada tangan yang tiba-tiba muncul untuk mengelus kepalanya.


Elusan tangan itu sendiri sangat lambat, menggelitik tubuh Resepsionis dan membuat tubuhnya bergetar. Tidak siap menerima ini, tubuh Resepsionis itu jatuh saat kakinya melemah. Arty dengan senyum ramahnya, mengelus kepala Resepsionis yang hanya setinggi lututnya dengan gembira.


Rasanya cukup enak, tunggu!


Resepsionis itu linglung, lalu tiba-tiba mengamuk karena elusan ini mirip apa yang yang diterima oleh anak-anak, bukan wanita dewasa sepertinya!


Resepsionis menampar tangan Arty menjauh.


Dengan wajah memerah karena kesal, Resepsionis mencari orang yang mengelus kepalanya. Itu adalah remaja Ras Manusia yang belum dewasa, dan dia menjadi lebih kesal karena Ras Manusia adalah musuh bebuyutan Ras Layalar sebab Ras Manusia bisa tumbuh lebih tinggi.


Saat Resepsionis ingin mengusir manusia kurang ajar dan tinggi ini, tiba-tiba dia melihat tangan Run'etl yang mencengkram kerah pakaian mewah Arty.


Resepsionis segera menarik amukannya.


"Nyonya, apakah Manusia ini bersama anda?" tanya Resepsionis dengan senyum canggung.


Run'etl menatap Arty sejenak, seolah tatapannya berisi pertanyaan : 'Bisakah kau menahan tanganmu dan rasa ingin tahu mu sebentar?'


Arty dengan mudah memahami makna tatapan itu, dia dengan malu mengakui tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Dibawah tatapan Resepsionis, Run'etl hanya bisa mengangguk.


"... Dimengerti, tolong ikuti saya." Resepsionis hanya bisa dengan lesu membimbing mereka, sambil menatap Arty dengan mata yang melotot.


Bisnis tetaplah bisnis, dia tidak bisa mengusir teman dari seorang Ras Avelion Berdarah Murni.


Arty tidak merasa terancam oleh tatapan itu, dia hanya melakukan gerakan meminta maaf. Melihat itu, Resepsionis kecil itu semakin marah karena gerakan yang tampak dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak untuk meminta maaf.


Resepsionis segera mengacuhkan keberadaan Arty, saat dia berbasa-basi dengan Run'etl tentang situasi Planet Cabang Starllast08T khususnya situasi tentang pergerakan dunia bawah Starllast08T. Informasi ini seharusnya ditutup rapat, namun koin emas itu tidak hanya sebagai bukti kamar Hotel tapi juga laporan pribadi kepada Pihak Militer.


Run'etl yang mendengarkan tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk sesekali, Arty yang baru di masyarakat Alam Semesta berusaha mengerti informasi ini tapi dia hanya bisa mengingat beberapa poin seputar kondisi hidup Planet Cabang Starllast08T. Sisanya benar-benar terlalu sulit dipahami karena menggunakan banyak kode dan alias sebutan yang tidak dia pahami, kecuali dia sudah tinggal lama di Planet Cabang ini.


Jadi Arty hanya bisa melihat fasilitas dan interior Hotel karena tidak bisa memahami informasi tersebut. Lobi Hotel ini tampak seperti kerangka tulang makhluk besar yang menukik ke bawah menjadi garis spiral, kecuali tulang tersebut sepenuhnya terbuat dari logam dan bahan yang tidak diketahui Arty. Semuanya tampak hebat dan aneh bagi Arty, jadi dia tidak bosan.


Akhirnya, setelah menaiki lift ke atas gedung hotel dan berhenti di lantai tujuh. Resepsionis akhirnya berhenti dengan laporan pribadi dan membimbing mereka ke kamar mereka.


Hanya ada satu kamar.


Arty melihat pintu kayu yang tampak kuno dengan ukiran pohon di pintu kamarnya, tema pintu ini sangat berbanding terbalik dengan suasana peradaban futuristik Sci-fi yang dia harapkan. Namun, pintu kayu itu sendiri memiliki seni dan getaran yang membuat tubuhnya rileks.


Setelah menunjukkan kamar mereka dan memberi mereka kunci yang berbentuk seperti lempengan logam perak, Resepsionis segera pergi dengan senyum ramah pada Run'etl namun memelototi Arty dengan tatapan pembunuh. Namun, melihat tangan Arty yang berusaha mengelus kepalanya lagi, Resepsionis segera melarikan diri.


Resepsionis percaya kalau manusia ini melakukannya lagi, dia mungkin tidak bisa menahan diri meledakkan kepala Manusia ini dengan pistol energi. Resepsionis kecil melarikan diri sambil menyakinkan dirinya kalau dia lari untuk kebaikan Manusia itu, bukan karena dia tidak akan melawan jika kepalanya dielus lagi.


Arty dengan enggan menatap Resepsionis imut ini pergi, Run'etl yang baru saja sudah membuka pintu langsung menyeret Arty dan Pyara masuk.


Mata Arty segera berbinar penuh kekaguman saat dia melihat interior kamar.


Berbeda dengan pintu yang tampak kuno, interior di dalam kamar penuh dengan getaran futuristik yang sangat khas. Ada banyak peralatan logam yang berkilau dengan cahaya biru, dan hologram yang menampilkan banyak gambar gedung dan bangunan yang penting secara real time.


Tempat ini juga anehnya sangat luas, ada tiga lantai dengan setiap lantai setidaknya seluas seratus meter. Lantai yang Arty lihat mirip dengan bagaimana geladak kapal luar angkasa. Jika Arty tidak memastikan tempat ini memang hotel, dia pasti sudah mengira dia sedang berada di kapal luar angkasa.


Arty melihat benda yang tampak seperti tabung kapsul logam dua meter namun dengan banyak pipa aneh terpasang, dia tidak bisa tidak bertanya karena benda ini mirip tabung yang muncul di film-film dan novel yang bertema peneliti gila dan tidak manusiawi.


"Itu mesin cuci, sangat efisien," jawab Pyara.


Arty tidak bisa berkata-kata pada jawaban Pyara.


Arty kemudian menunjuk benda yang berbentuk kaca tipis 5 cm namun dengan banyak simbol di permukaan. Ini tampak seperti karya kerajinan yang dia kenal.


"Lalu ini?"


"Ah, itu Televisi Sihir. Seharusnya merk terbaru," ucap Pyara dengan kekaguman.


Sekali lagi, Arty salah.


Arty tiba-tiba melangkah untuk menunjuk benda yang mirip helm namun dengan sepasang dua tangan di masing-masing sisi.


"Lalu apa ini? Helm?"


Pyara menatap Arty dengan tatapan lucu, dia tertawa saat menjawab.


"Tidak, itu robot pembersih, Tuan! Model itu seharusnya ditugaskan untuk mengurus seluruh peralatan di kamar ini."


Arty hanya bisa terdiam kali ini.


Penggunaan Teknologi ini tidak asing bagi Arty, kecuali robot pembersih yang Arty pernah tonton di TV. Tapi baik Mesin Cuci dan Televisi, baik dari segi bentuk dan desainnya benar-benar terlalu asing bagi Arty. Membuat logika dan nalarnya akan sebuah benda tiba-tiba dipermainkan.


Alis Arty berkerut, dia merasa kejutan budaya dan teknologi di Alam Semesta masih terlalu besar baginya.


Aku benar-benar udik, ejek Arty saat dia menginspeksi dan menyentuh banyak alat dan peralatan yang sangat asing baginya dengan hati-hati.


Menyentuh permukaan logam yang rasanya hangat, Arty mengirup bau alat-alat ini. Menyentuh dan Mencium adalah metode menginspeksi sejak jaman dulu, dan Arty tidak malu untuk melakukannya secara terbuka walau dia terlihat idiot.


Untungnya, ada Pyara yang mengajarinya semua hal ini. Atau dia mungkin akan meledakkan kamarnya sendiri tanpa sadar karena mengaktifkan alat-alat tanpa pengawasan dan instruksi yang tepat.


Pemandangan seorang remaja manusia yang sangat serius mencoba menghidupkan Televisi Sihir sampai lupa berkedip dan Android yang dengan cekikikan membimbingnya, benar-benar pemandangan yang aneh.


"Ahem."


Run'etl tiba-tiba terbatuk, membuat Arty yang sibuk dengan teknologi baru sadar kembali dan menatapnya.


Run'etl meminta kecerdasan buatan kamar menutup pintu dahulu sebelum dia berkata pada Arty.


"Sekarang, bersiaplah. Mulai besok anda akan mulai menjalani pelatihan dan bimbingan. Untuk sekarang kau bisa berkeliaran di Hotel namun tidak boleh pergi keluar dari wilayah Hotel, oke? Pyara akan menemanimu jika anda tiba-tiba menyebabkan masalah karena tidak tahu aturan disini. Ada masalah dengan pengaturan ini?


Arty berpikir sejenak sebelum dia bertanya.


"Nona Run'etl, berapa jam untuk sehari di Planet Cabang ini? Juga, apakah saya diperbolehkan untuk berinteraksi dengan penduduk disini?" tanya Arty sambil mencari kesempatan melirik pemandangan diluar yang masih bisa membuatnya kagum.


Run'etl merasa Arty akan melakukan sesuatu, namun dia bisa menjawab dua pertanyaan tersebut.


"Di Planet Cabang Starllast08T, sehari disini kira-kira memiliki 32 jam. Jadi latihan mu akan sangat panjang. Untuk pertanyaan kedua, anda diijinkan untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal namun Pyara akan mengambil alih percakapan langsung jika kau melakukan sesuatu yang melanggar etika."


"Contohnya?"


Run'etl menatap Arty dengan tatapan serius, "Seperti menyentuh mereka tanpa ijin atau melakukan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman secara mental."


Run'etl benar-benar tidak bisa berkata apa-apa tentang perilaku Arty, perilaku Arty murni sikap keingintahuan yang kuat pada sesuatu yang baru. Hal itu sendiri tidak berbahaya secara fisik, tapi itu mungkin melanggar etika dan menganggu orang lain. Jadi Run'etl tidak bisa menulis detail perilaku buruk ini di laporan pengawasan. Malahan, sikap Arty sebenarnya cukup baik dibandingkan dengan para Peneliti eksentrik dan gila yang pernah Run'etl temui.


Setidaknya Run'etl menemukan kalau sikap Arty cocok dengan bagaimana cara kerja Peradaban Luar Angkasa.


Penuh rasa ingin tahu namun hati-hati.


Setelah melihat Arty merenung, Run'etl pamit pergi ke kamarnya sendiri di lantai dua. Meninggalkan Arty dan Pyara di ruang luas ruangan.


Run'etl yang masuk ke kamarnya segera menerima pesan dari rekan-rekannya.


Itu suara seorang pria yang tampak pemalu.


"Nona Run'etl, anda seharusnya mencoba akrab dengan Subyek Penelitian. Sikap anda sekarang.. sedikit susah didekati," kata suara itu dengan hati-hati.


Run'etl menggelengkan kepalanya, menolak ucapan suara pria itu.


"Jika aku terburu-buru mencoba akrab dengannya, itu akan sangat sulit, Steiner. Anak ini memiliki sikap seperti peneliti dan penjelajah, namun juga cenderung berhati-hati. Jika dia tahu aku mencoba akrab dengannya, saat berikutnya aku harus membiarkan dia untuk memeriksa apa beda Ras Manusia dengan Ras Avelion secara langsung," kata Run'etl dengan tidak terburu-buru.


Suara itu terkejut pada kemungkinan ini, Steiner ragu-ragu saat dia berkata.


"Tidakkah itu hasil pengamatan yang sedikit terlalu berlebihan? Subyek Penelitian ini hanyalah Manusia primitif yang bahkan bukan Supers. Dia tidak bisa mengalahkan anda atau menghipnotis anda.."


Run'etl mendengar keraguan dari Steiner dan tidak mempedulikannya. Dia masuk ke kamarnya dan mulai menyusun rencana pelatihan dan bimbingan.


Pengawasan tidak langsung akan dikerahkan pada Rekan-rekannya yang bekerja di balik layar.


...


Melihat Run'etl yang sudah masuk ke dalam kamarnya, Arty dengan hati-hati mengecilkan suara langkah kakinya dan berjalan kembali ke pintu kayu.


Arty mengikuti contoh Run'etl dan memerintahkan kecerdasan buatan kamar untuk membuka pintu.


Zengg--


Setelah beberapa saat, pintu kayu itu terbuka. Melihat pintu yang terbuka dan masa depan yang tidak diketahui menunggunya.


"Ayo, Pyara! Banyak Ras Alien menungguku untuk memeriksa mereka!"