
Arty dengan langkah kaki pelan segera menyelinap pergi keluar dari ruangan, dengan Pyara yang antuasias mengikuti di belakangnya.
Tindakan Arty yang mencurigakan membuat rekan-rekan Run'etl yang mengawasi ragu-ragu sejenak apakah harus memberitahu Run'etl, namun mereka akhirnya membiarkan Arty untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Mereka hanya akan menghentikannya jika dia menunjukkan tanda-tanda keluar dari Hotel atau berinteraksi dengan individu mencurigakan.
Planet Cabang Starllast08T tidak sepenuhnya aman. Kekuatan bawah tanah disini adalah salah satu cabang kekuatan bawah tanah banyak Organisasi dan Sindikat berbahaya. Terlepas dari penampilan Planet yang makmur, planet ini sudah menerapkan perdagangan budak antar spesies dan senjata Illegal untuk waktu yang lama dimulai sejak pembentukannya.
Tentara bayaran tidak bermoral, pembunuh berdarah dingin, pedagang yang dibutakan uang. Semua ada ditempat ini.
Sebagai salah satu cabang planet mereka, Ras Avelion bagaimanapun tidak tertarik untuk membersihkan tempat ini. Setidaknya semua operasi pembersihan hanya akting untuk menarik opini publik. Lagipula, ada ribuan planet Cabang mereka yang kondisinya sama, jadi membersihkan satu tidak akan mengubah apapun.
Bagaimanapun, Planet Cabang ini bisa digunakan sebagai tempat yang bagus untuk bersembunyi dari mata mereka yang penasaran. Menghindari gejolak dan arus deras politik.
Alasan untuk membawa Subyek Penelitian Kesayangan Shadow Void di Planet Cabang juga untuk menyembunyikannya dari pihak-pihak yang memiliki motif tersembunyi.
Seperti yang diharapkan, selalu ada 'mata' yang mengawasi ku dari suatu tempat yang aku tidak bisa lihat.. gumam Arty dalam hati saat dia berjalan di koridor Hotel.
Benar-benar tidak nyaman diawasi seperti tahanan, namun Arty hanya bisa membiarkan mereka melakukannya karena tampaknya mereka tidak memiliki motif berbahaya. Mereka mungkin bawahan atau rekan Run'etl, jadi mereka sendiri mungkin Individu Supers yang kuat juga.
Arty yang berjalan di koridor, ditemani Pyara menolak untuk turun menggunakan lift dan mencari jalan lain untuk turun. Menggunakan lift akan sangat sia-sia karena dia akhirnya bisa melihat masyarakat Alien dengan mata kepalanya sendiri. Pyara memberitahunya kalau ada koridor utama yang sangat panjang di hotel, menghubungkan lantai tertinggi yaitu 12 hingga lantai dasar lobi Hotel.
Dengan Pyara, Android super cerdas membimbing Arty jalan menuju koridor. Dia akhirnya memahami apa yang dimaksud koridor utama yang sangat panjang.
"Daripada koridor, bukankah ini lebih mirip lorong yang menanjak?" tanya Arty saat kakinya sedikit menggigil.
"Banyak orang berkata koridor ini punya pemandangan yang bagus, Tuan!" ucap Pyara dengan senyum lebar.
Pemandangan yang bagus? Itu memang benar, tapi..
Arty melihat lorong kolosal didepannya yang sepenuhnya terbuat dari bahan transparan seperti kaca, mengingatkannya pada jembatan kaca di Bumi. Tapi yang satu ini tampak lebih ekstrim dimatanya. Lorong ini memanjang ke atas dari bawah dengan bentuk melengkung spiral yang khas, namun beberapa Kapal Luar Angkasa yang melaju melewati bawah lorong kaca dengan gelombang getaran udara dari mesinnya cukup membuat Arty khawatir kalau kaca ini rapuh dan akan pecah saat dia berjalan diatasnya.
Pyara menatap Arty sambil cekikikan, tangannya mengelus kepala Arty seolah dia sedang menenangkan anak yang penakut.
"Tenang saja~ Bahan Koridor ini mungkin terlihat rapuh dari luar tapi itu cukup kuat untuk menerima beberapa serangan langsung dari meriam energi Kapal luar angkasa tingkat menengah!"
Arty tidak tersinggung pada Pyara yang memperlakukannya seperti anak-anak, sebab dia telah melakukan hal yang sama dengan Resepsionis cilik tertentu dan membuat dirinya diam-diam ada dalam buku hitam Hotel.
Dia tidak takut, hanya saja, kecepatan berpergian Kapal Luar Angkasa yang tak beraturan dan ramai di sekeliling Hotel dan orang yang berkendara tidak teratur membuat dia sebagai penggemar pejalan kaki dari Planet Bumi merasa dalam bahaya besar yang tersembunyi.
Siapa yang ingin ditabrak oleh Pengendara Alien yang ugal-ugalan karena mabuk, ejek Arty dalam hati.
Mengetuk lantai kaca dengan jarinya seperti udik desa, Arty akhirnya percaya kalau lantai ini bisa menampung berat badannya. Mengambil beberapa napas, dia akhirnya memberanikan diri untuk mengambil langkah pertama di permukaan kaca transparan.
Itu sangat seram.
Kota Futuristik dibawah, dengan Kapal Luar Angkasa dan segala kendaraan sibuk mondar-mandir dibawah yang seperti ikan di samudera sedikit membuat kaki Arty kaku. Pyara disisi lain dengan sengaja melakukan lompatan di permukaan kaca lorong yang tampak tipis, membuat jantung Arty ikut juga melompat mengikut gerakannya.
Arty merasakan andrenalin ya melonjak naik seperti roket untuk sementara sebelum Pyara akhirnya puas dengan leluconnya. Pyara yang tidak terlihat seperti android tipe tempur, mengendong tubuh Arty dengan satu tangan dan menaruhnya di pundak kecilnya seperti karung beras.
"... Aku bisa sendiri, Pyara."
Pyara tidak setuju.
"Memaksakan diri beradaptasi dalam lingkungan baru terlalu cepat tidak baik untuk kesehatan mental anda, Tuan."
Tindakan Pyara sedikit melukai harga diri kecil Arty. Namun, Pyara tidak menunjukkan tanda-tanda akan menurunkannya segera. Jadi dia pasrah dibawa seperti karung beras di pundak Pyara.
Barulah setelah Pyara menggendongnya ke lantai 3 koridor yang sudah tidak memiliki pemandangan yang terlalu ekstrim, baru dia melepaskan Arty.
Arty berdiri tegak perlahan di permukaan kaca lorong seolah tanah itu bergoyang-goyang. Beberapa orang yang menikmati mendaki koridor kaca menatapnya, melihat mereka semua Alien, baik dari segi penampilan fisik dan budaya, Arty dengan ramah tersenyum pada mereka dan membungkuk hormat.
Merasakan kalau Arty adalah individu yang ramah, gerombolan Alien dari jenis yang sama namun berbeda ukuran yang seperti sebuah keluarga kecil yang sedang berlibur mendekatinya.
Mereka memiliki penampilan humanoid dua meter, dengan ciri-ciri seperti penghuni bawah laut mirip legenda yang ada di Bumi. Mata mereka seperti reptil berdarah dingin. Dengan kulit pucat kebiruan, dengan tangan dan leher ditutupi sirip dan insang seperti ikan. Namun, mereka tidak botak seperti dalam legenda, Alien yang mendekati Arty punya rambut perak panjang yang sangat berkilauan dan rapi.
Alien tua yang tampak pemimpin keluarga, yang memiliki kumis perak yang dipangkas rapi mendekati Arty.
"Salam, Manusia. Apakah kau seorang Penjelajah?" tanya Alien tua itu dengan senyum ringan.
Hmm, kalimat ini tampak sangat familiar di game RPG...
Pikiran itu terlintas sejenak di benak Arty sebelum menghilang, dia tidak tahu apa itu 'Penjelajah' namun untuk sekarang tidak buruk untuk memiliki indentitas. Lagipula, defisini penjelajah seharusnya sama di Peradaban Luar Angkasa ini. Pyara juga tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghentikan Arty.
"Saya tidak tahu apakah saya bisa disebut penjelajah, namun saya memang sudah berpergian jauh dari rumah Planet saya," kata Arty dengan pelan dan jelas sebelum dia sedikit mendudukkan kepala sebagai etiket kesopanan, "Apakah Penatua dan keluarga dibelakang anda membutuhkan sesuatu dari saya?"
Alien tua itu menyukai sikap Arty, tatapannya menjadi lebih ramah pada Arty yang orang yang ditatap sendiri merasa aneh ditatap dengan mata seperti reptil.
Tertawa pada sikap sopan Arty dan melihat betapa mudanya usia manusia ini, dia mengambil botol berwarna biru kristal di pinggangnya yang memiliki cairan hijau berkilau dan memberikannya kepada Arty.
"Kau terlalu rendah hati dan sopan, Penjelajah muda. Namun kami Ras Ramseidon juga terkenal menghargai kesopanan yang diberikan orang lain dan akan membalas itu," Alien tua itu tidak membiarkan Arty menolak dan mengapit botol itu bersama kedua tangan Arty.
Arty merasa aneh saat digenggam dengan permukaan kulit pucat kebiruan, itu lembab dan sedikit lengket namun tidak cukup untuk membuatnya merasa jijik. Selaput kulit dan sirip yang menggenggam tangannya juga mirip bagaimana sensasi saat menyentuh handuk tipis yang baru saja dikeringkan dari mesin cuci. Itu membuat tangannya terasa sangat bersih. Namun apakah itu benar-benar bersih?
Arty memeriksa Ramzel sejenak dari sudut matanya, lalu alis Arty berkerut.
Tidak menyadari alis Arty yang sedikit mengernyit, Alien tua itu menjelaskan botol di tangan Arty.
"Tolong jangan sungkan menerimanya, Penjelajah muda. Ini adalah minuman energi yang hanya bisa dibuat oleh Ras Ramseidon kami, Fetaea! Ini pasti akan menghilangkan rasa lelah anda setelah berpergian jauh-jauh dari rumah."
Pyara menatap minuman energi Fetaea itu dengan mata yang sama saat dia menatap kaos mewah Arty. Memberitahu Arty kalau ini adalah barang yang bagus, meskipun sedikit mencurigakan.
"Terima kasih banyak, Penatua," Arty menerima botol Fetaea tersebut.
Alien tua tiba-tiba menepuk jenggot rapinya, seolah-olah menyadari sesuatu yang dia lupakan.
"Oh benar, kenapa orang tua ini lupa memperkenalkan diri. Nama orang tua ini adalah Ramzel, seorang pemandu lokal Planet Cabang Starllast08T," Alien tua yang memperkenalkan diri sebagai Ramzel kemudian menunjuk orang-orang dibelakangnya, "Lalu mereka semua adalah keponakan dan kerabat dari Planet-planet lain yang sedang berpergian jauh, mereka singgah sejenak di Starllast08T untuk mengisi bahan bakar Kapal Luar Angkasa Opeg42 mereka."
Arty melihat orang dibelakang Ramzel, mereka menyapa Arty dengan sopan menggunakan mata dan lambaian tangan mereka yang kemudian dibalas balik oleh Arty menggunakan gerakan yang sama.
"Penatua Ramzel dan teman-teman dari Planet yang jauh, kalian bisa memanggilku Arty," balas Arty.
Arty berbincang-bincang sejenak dengan Penatua Ramzel dan rombongannya.
Seorang bocah kecil yang penasaran dari Ras Ramseidon bahkan mendekati Arty dan memberikannya kalung yang terbuat dari batu laut, sebagai balasannya Arty mengelus kepala anak kecil itu dan mengendongnya di pelukannya untuk beberapa saat. Ramzel dan rombongan dibelakangnya tidak menghentikan si kecil.
Sampai akhirnya setelah beberapa menit, seorang pria tegap Ras Ramseidon yang tampak menjadi pilot Kapal Luar Angkasa memberitahu mereka kalau bahan bakar kapal sudah diisi. Ramzel dan rombongannya kemudian pamit undur diri.
Tampaknya sebelum pergi mereka perlu untuk mengisi persediaan mereka kembali di Planet Cabang ini dengan bahan-bahan yang segar atau mereka mungkin harus berhenti di Stasiun Luar Angkasa ditengah jalan dan memakan makanan yang kurang enak.
Melihat senyum bocah itu yang bahagia saat tangannya melambai-lambai pada Arty, Arty akhirnya dengan enggan melepaskannya.
Lagipula, lebih baik mendekati anak kecil daripada rubah licik seperti Ramzel.
Ketika rombongan itu pergi, senyum Arty tiba-tiba menghilang. Menatap botol kristal biru ditangannya sejenak, Arty menyimpannya karena kata Pyara itu barang yang cukup berharga dan langka.
Karena itu langka dan berharga, sangat aneh jika itu diberikan secara cuma-cuma hanya karena Arty bersikap sopan. Jika sopan bisa membuatmu menerima harta yang berharga, maka semua penjilat sudah memiliki tanah pribadi, mungkin lebih tepatnya planet pribadi.
Ramzel ini mungkin salah satu mata yang melihat kalau aku memiliki hubungan dengan Run'etl. Aku memang sedikit mencium bau darah asing dari orang tua ini, bukan manusia atau hewan, tapi jelas darah spesies lain. Rombongan dibelakangnya juga bukan orang biasa. Terlepas dari bocah kecil itu yang masih tidak ternoda, hampir mereka semua memberi getaran profesional seperti tentara.
Arty masih belum melihat senjata futuristik Peradaban Luar Angkasa, seperti senjata energi dan teknologi baru yang tidak dikenal, jadi dia tidak tahu bagaimana menemukan bukti mereka melalui pengamatannya bahkan jika itu ditaruh didepan matanya.
Lupakan, Ramzel mungkin melakukan ini untuk memberikanku kesan yang baik untuk masa depan. Lagipula selalu ada kriminalitas di manapun kau berada, bahkan di Peradaban Luar Angkasa yang sangat futuristik. Kriminalitas selalu ada saat seseorang memiliki keinginan untuk merubah hidupnya.
Arty menunjukkan Botol Fetaea kepada Pyara.
"Apakah ini aman?" tanya Arty sambil mengguncang botol.
Namun sebelum Pyara bisa menjawab setelah menyiapkan pidato penjelasannya, dengan mata melotot dia buru-buru menghentikan gerakan tangan Arty dari mengguncang botol.
"Hentikan, Tuan! Botol Fetaea memang minuman berenergi yang sangat efektif dan sehat, namun jika itu diguncang itu akan mengubah sifat cairan menjadi alkohol yang kuat! Cukup kuat untuk membuat mabuk Golem Batu!"
Arty terkejut karena informasi ini, tangannya hampir saja merusak minuman energi yang berharga.
Tunggu, Golem Batu? Bagaimana bisa Golem Batu mabuk? Bukankah dalam cerita fantasi sihir, Golem Batu itu boneka mati yang digunakan Penyihir untuk menjaga pintu mereka? Apakah Golem Batu sendiri mungkin spesies cerdas disini?
Menekan keheranannya pada contoh aneh yang tiba-tiba dibawa Pyara, dia mengaktifkan salah satu fungsi misterius kaos mewahnya untuk menyimpan Botol Fetaea tetap aman dan tidak terguncang bahkan jika dia sedang berguling-guling di lantai.
Dia harus rendah hati dan menghindari menjadi pusat perhatian.
"Pyara, kita terlalu menarik perhatian. Kita harus menyamar," usul Arty pada Pyara.
Kata menyamar tampaknya memicu program tertentu di jaringan Pyara, karena dia tiba-tiba menjadi lebih bersemangat tiga kali dari biasanya. Dia segera setuju.
"Menyamar? Keren!"
Bisakah dia menyamar dengan Android yang tampak sangat mudah menjadi pusat perhatian ini? Arty hanya bisa pasrah.
Arty dan Pyara sampai ke lantai pertama lobi dan segera melihat meja resepsionis yang baru saja dia lewati, Resepsionis cilik yang sedang sibuk tidak menyadari keberadaannya.
Berpikir sejenak, Arty mengaktifkannya mode kerudung jubah pada kaosnya, menutup wajahnya dari terlihat sepenuhnya dari atas, depan bahkan bawah oleh orang lain. Mengeklik tombol lain, kacamata dengan lensa perak muncul di tangan Arty dan dia langsung memakainya. Arty bahkan mengubah warna kaosnya menjadi merah kehitaman untuk tidak menarik perhatian dan mengubah bentuk tubuhnya menjadi lebih kurus.
Kepraktisan dan multifungsional kaos ini membuat Arty ngiler dan gembira.
"Bagaimana denganmu, Pya---" Arty yang melihat kebelakang tiba-tiba berhenti.
Seseorang dengan jubah putih besar yang menutupi seluruh tubuhnya berdiri dibelakang Arty, topeng perak dengan pola bentuk seperti elang menutupi wajah dibalik topeng tersebut. Ada pola segitiga melingkar di tengah jubah yang dijahit dengan benang kuning yang membuat penampilannya sangat misterius namun suci. Itu sangat keren sampai-sampai penyamaran Arty terlihat sangat miskin dan low budget.
"Pyara?" tanya Arty dengan hati-hati dan curiga.
Sebenarnya dengan indera Arty, dia seketika tahu itu Pyara yang dibelakangnya. Dia hanya terkejut darimana Pyara mengeluarkan pakaian dan topeng yang sangat keren itu.
Dua lampu kecil topeng elang menatap Arty sebelum mengangguk secara mekanis, dia memang Pyara.
Kenapa dia bertindak lebih misterius daripadaku?
Berpikir seperti itu, Arty keluar dari lobi dengan Pyara mengikuti dari belakang. Arty merasa menjadi bagian dari organisasi rahasia atau kultus sesat tertentu karena betapa misteriusnya penyamaran Pyara. Namun itu efektif, setidaknya beberapa mata langsung menghindari menatap mereka terlalu lama, takut mencari masalah dengan dua orang misterius ini.
Keluar dari pintu masuk Hotel, Arty sekali lagi melihat pemandangan langit biru yang ramai dengan Kapal Luar Angkasa berbagai bentuk desain dan kendaraan terbang. Dalam mood yang bagus, Arty segera menghindari cahaya matahari dan bersembunyi di bayangan kendaraan dan bangunan Hotel seperti Assassin di game.
Sebenarnya mereka berdua tidak akan keluar dari Hotel, namun berkomunikasi dengan penduduk sekitar yang singgah di Hotel tidak dihitung sebagai keluar dari Hotel jadi ini tidak melanggar aturan yang di jelaskan Run'etl.
Hotel bukanlah satu-satunya bangunan di tempat ini, Arty tidak tahu prinsipnya namun tempat yang dia injak sekarang mirip pulau terbang dalam banyak legenda Asia. Hanya saja, pulau ini murni dibuat dari kontruksi mekanis yang rumit untuk dibuat melayang di udara. Cukup mirip dengan film kartun tertentu yang sering Arty tonton sejak kecil, pulau terbang ini seharusnya seluas beberapa ratus meter atau kilometer.
Merasakan kegelapan gang menyelimutinya, hanya kali ini bangunan disekitarnya ratusan lebih rumit dan megah daripada di Bumi. Arty mengingat hari sebelum dia pulang ke sekolah, dia melewati gang yang gelap untuk menghindari wanita yang berbahaya. Sekarang, dia mencoba memanfaatkan celah dalam peraturan seorang wanita yang jauh lebih berbahaya.
Arty menyentuh dinding gang Hotel, rasanya bukan seperti semen yang kasar namun mulus seperti besi yang amplas tiap hari. Di gang sempit ini, Arty menemukan grafiti dengan gambar-gambar yang aneh yang memiliki ekspresi wajah yang konyol. Gambarannya berupa beragam monster humanoid dengan berbagai ciri, ada yang manusia ada yang berkepala serangga, namun mereka memiliki kesamaan. Mereka mengenakan pakaian rapi dan pistol bercahaya merah di kedua tangan mereka, mereka semua berpose dengan cara yang aneh seperti split atau posisi lilin dan beberapa simbol yang terasa seperti menghina di gambar bersebelahan dengan tokoh-tokoh tersebut.
Itu pemandangan yang kocak bagi mereka yang mengerti, tapi Arty tidak mengerti siapa mereka atau makna ekspresi dan simbol yang digambar.
Namun berbeda bagi Pyara. Pyara menatap gambar ini sejenak, sebelum dia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dengan suara cerianya. Penyamaran misteriusnya hancur seperti debu yang dibawa oleh angin malam.
"Gahahahhah! Aku tidak tahu kalau para Wali Planet Cabang Starllast08T memiliki wajah yang sangat konyol! Tuan, gambar ini kocak habis! Yang menggambar ini jelas seorang genius dan juga revolusioner!"
"Hmmm..." Arty hanya mengangguk pelan, tidak mengerti humor masyarakat asing.
Mengacuhkan Pyara yang tiba-tiba mengeluarkan kamera besar padahal dia seorang Android untuk memotret graffiti didinding, Arty berjalan lebih jauh ke dalam gang. Disana, dia menemukan sebuah bangunan tua tidak jauh dengan lukisan kanvas dipasang di pintu masuknya.
Lukisan kanvas itu memiliki pemandangan alam yang sangat indah, barisan gunung namun dengan warna yang berbeda-beda seolah 4 musim muncul bersamaan, pohon-pohon besar dengan daun hijau kristal seperti zamrud dan danau emas yang dikelilingi banyak hewan kecil maupun besar. Itu pemandangan yang sangat mistik dan damai.
Bahkan Arty yang sejak dulu terbiasa tidak menghias kamarnya, membiarkannya hanya sebuah dinding polos atau beberapa fosil kupu-kupu acak tiba-tiba tertarik untuk memiliki Lukisan ini di kamarnya. Bahkan jika dia tidak bisa menghiasnya pada kamarnya di Bumi, dia bisa menempatkannya di kamar barunya di Planet ini.
Pemandangan itu sendiri tampak seperti fiksi dan jauh dari pemandangan yang ada di Planet Bumi yang biasa Arty lihat, tapi semakin dia melihatnya semakin dia menyukai gaya lukisan ini. Penuh warna namun harmoni.
Sebelum Arty menyadarinya, dia sudah berdiri di depan pintu kayu bangunan tua tersebut.
"..."
Arty Ragu-ragu sejenak, mau masuk atau tidak. Bangunan tua ini kecil dan ditutupi oleh bangunan-bangunan lain yang besar dan tinggi disekitarnya, letak bangunan tua yang terpencil juga membuat bangunan ini tidak bisa menerima sinar matahari atau melihat langit yang biru diatasnya. Jadi apakah ada orang yang tinggal disini?
Pasti ada, harga properti bobrok ini seharusnya mahal karena ini ada di langit!
Percaya pada kebenaran kalau properti mahal tidak akan ditinggalkan. Arty mengetuk pintu kayu didepannya cukup keras.
Teg Teg Teeg-
Suara Arty mengetuk pintu berdengung di gang.
Tiga detik. Enam detik. Sepuluh detik.
Tidak ada yang datang untuk membuka pintu kayu tersebut.
Arty tidak ingin menerobos seperti pencuri, dia hanya ingin tahu apakah Lukisan Kanvas itu milik orang lain. Jika itu dijual, Arty akan berkonsultasi dengan Pyara dan bahkan Run'etl untuk bagaimana cara menghasilkan uang di Peradaban Luar Angkasa, khususnya Planet Cabang Starllast08T ini, kemudian menabung uang untuk membeli lukisan ini.
Jika ini bukan milik siapapun dan sengaja ditinggalkan, Arty akan tanpa malu mengambilnya untuk dirinya sendiri. Bahkan jika itu jebakan.
Menutup matanya, Arty merasakan kalau indera telinga dan penciumannya mulai naik beberapa kali lipat secara misterius ketika indera penglihatannya dimatikan.
Mungkin ini yang dimaksud, menutup satu pintu namun membuka tiga pintu.. hmm, aku lupa dimana aku pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. renung Arty saat dia segera menghindari benang tipis yang berusaha mengikat tubuhnya.
Mundur ke belakang, telinga Arty merasakan getaran di udara. Ada banyak benang tipis yang dirajut di udara, mirip dengan jaring laba-laba namun panjangnya dan jumlahnya bukanlah sesuatu yang bisa diciptakan laba-laba yang Arty kenal. Yang ini lebih tipis, licik dan tajam seperti jebakan yang dibuat oleh seorang Master Jebakan.
Jika Arty tidak menutup matanya, menonaktifkan satu inderanya untuk meningkatkan inderanya yang lain dia mungkin tidak menyadari kalau sebuah untaian benang hanya tinggal berjarak beberapa centimeter dari melumpuhkannya seperti serangga yang terjebak di jaring Laba-laba. Menunggu nasib untuk dimangsa predator.
"... Aku lebih menyukai dipanggil Kupu-kupu, lagipula kepakan sayap Kupu-kupu bisa membuat badai," bisik Arty dengan suara kecil.
Arty menghindari dengan mudah jaring tak terlihat yang mendekatinya, tindakannya yang menutup mata membuat kecepatan benang menjadi lebih agresif dan buas seolah terprovokasi. Namun itu percuma, selama itu bergerak, itu akan menghasilkan getaran di udara, dan Arty bisa menghindarinya. Selama kecepatan benang itu bukan kecepatan pistol atau suara yang mustahil dihindari dalam jarak dekat.
Bergerak kemanapun menemukan celah jebakan dengan telinganya, Arty akhirnya bisa merasakan sepenuhnya seberapa jauh tubuhnya berubah. Dahulu, bergerak dalam kecepatan dan reaksi yang intens seperti ini, Arty hanya bisa bertahan setidaknya selama sepuluh detik sebelum dia kelelahan. Namun sekarang, bahkan setelah tiga puluh detik menghindar, dia tidak merasa kehabisan napas.
Sungguh tubuh yang ajaib, aku ingin tahu apakah aku akan terkena diabetes dan obesitas jika aku mulai makan banyak dengan tubuhku sekarang.
Memikirkan hal yang tidak berguna namun serius ketika dalam situasi ekstrim, Arty merasa sangat bugar. Meskipun dia tidak akan mengambil gerakan mewah flip/salto atau berputar-putar di udara untuk supaya menghindar lebih keren, setidaknya Arty merasa dia bisa menghindari jaring ini beberapa menit penuh sebelum dia khawatir terkena keram otot.
Keram otot itu sangat menyakitkan, khususnya pinggang. Arty sebagai orang Indonesia, merasakan betapa beratnya melakukan pekerjaan tukang bangunan seperti Kuli. Jadi dia tidak ingin sakit itu kambuh lagi padahal usianya masih muda yang nantinya dimasa depan mungkin akan merusak tumbuh kembang tubuhnya.
Saat menghindar, Arty tidak lupa untuk memeriksa keadaan Pyara di belakangnya. Tempat Pyara berdiri sangat tenang dan bahkan tidak ada perlawanan, jelas gadis ini tertangkap oleh jaring bahkan sebelum dia bisa melawan.
Menghindar satu menit penuh, Arty diam-diam berdiri tegak dengan tangan di dagunya. Benang disekitarnya tidak bisa menggapai tubuh Arty karena semua benang berada dalam posisi saling terlilit dan semerawut, mencegah mereka bergerak maju atau mundur.
"... Menggunakan Lukisan Kanvas yang sangat indah untuk umpan, penculik Era Luar Angkasa sangat pintar dan berseni." ucap Arty kali ini dengan nada penuh kekaguman.
Bukankah penculikan ini sangat hebat? Menggunakan Lukisan sebagai umpan? Bahkan Arty tidak memikirkan ide yang begitu brilian, namanya sebagai Arsene Moriarty terasa seperti lelucon.
Arty merasa beberapa khayalan masa kecilnya kembali. Meskipun memalukan, dia harus bangga pada kemampuan observasi dan menganalisis kejahatannya.
Baiklah mari tebak, tindakan selanjutnya seharusnya taktik gerombolan penculik. Sudut 9 meter di samping terlihat seperti tempat yang bagus untuk menjatuhkan ku dari belakang atau mungkin... tembakan bius dari atas? Itu dengan premis mereka ingin menangkap ku hidup-hidup. Jika mereka ingin membunuhku dengan rapi dan cepat, beberapa bom penganggu pendengaran akan sangat efektif dan fatal untuk indera telingaku.
Arty bisa menemukan setidaknya tujuh cara untuk membunuhnya, dan itu mungkin semua secara teori. Ditambah dengan variabel kalau ada teknologi futuristik yang tidak diketahuinya dan keberadaan misterius yang disebut Supers, mungkin Arty bisa menemukan puluhan hingga ratusan cara untuk menjatuhkannya dirinya yang lemah.
Lagipula, Alam Semesta selalu tempat yang berbahaya.
Namun, berbeda dengan analisis kejahatan Arty. Jaring yang mendekatinya tiba-tiba berhenti dan jatuh ke lantai seolah tangan yang mengendalikan mereka memutuskan hubungan dengan jaring.
Siluet tubuh sebesar tiga meter muncul dibelakang bangunan tua, tidak, yang bagian atas hanya setinggi satu meter, namun pemandangan dibawahnya membuat mata Arty seketika melebar. Siluet itu memiliki 8 kaki panjang yang tajam seperti tombak yang mengapit tanah dengan kuat, itu tampak sangat kokoh dan tebal seperti kontruksi biologis yang indah.
Empat mata cantik berwarna emas menatap Arty dari bayang-bayang, seperti predator yang menatap mangsanya.
Melihat sosok yang tidak bergerak karena kaget, siluet itu akhirnya keluar dari bayang-bayang. Menunjukkan sosok cantiknya yang sebenarnya.
Mengenakan jubah putih besar buatan sendiri yang menutupi tubuh dan bagian bawah tubuhnya, seorang Arachne. Monster dengan penampilan bagian atas tubuh wanita cantik namun tubuh bagian bawah laba-laba besar menatap Arty dengan empat mata emas yang bersinar dalam kegelapan.
Namun, melihat makhluk yang begitu indah. Mata Arty juga berbinar dengan cahaya emas yang tidak kalah cerah dalam kegelapan.
Arty akhirnya menemukan Alien yang sesuai dengan apa yang dia ingin pelajari! Dia bersemangat.
Bersujud pada keindahan biologis yang begitu cantik, Arty bersujud pada Nyonya cantik didepannya.
"Nyonya, tolong jadikan saya teman anda! Saya saya Arsene Moriarty!"
Arty kali ini tidak ragu memberitahu nama aslinya.